1. Pengantar

Apresiasi puisi merupakan hasil usaha pembaca dalam mencari dan menemukan nilai hakiki puisi lewat pemahaman dan penafsiran sistematik yang dinyatakan dalam bentuk tertulis. Melalui kegiatan apresiasi ini diharapkan timbul kegairahan dalam diri pembaca (atau lebih luas lagi, masyarakat) untuk lebih memasuki dunia puisi, sebagai dunia yang juga menyediakan alternatif pilihan untuk menghadapi permasalahan kehidupan yang sebenarnya (Sayuti, 2008:365).

Terdapat sejumlah pendekatan yang dapat dipergunakan untuk menguraikan, menafsirkan, dan bahkan menilai puisi. Pendekatan ini terkait dengan keberadaan puisi sebagai karya kreatif. Abrams (dalam Teeuw) memberikan sebuah kerangka yang sederhana tetapi efektif dalam mendekati karya sastra. Karya sastra dapat dipandang dari empat sisi, yaitu dari karya itu sendiri (work), penulis (artist), semesta/lingkungan (universe), dan pembaca (audience). Keempat pandangan itu berimplikasi pada pendekatan-pendkatan yang digunakan untuk mendekati karya sastra, yaitu pendekatan yang menitikberatkan karya itu sendiri (pendekatan obyektif), pendekatan yang menitikberatkan penulis (pendekatan ekspresif), pendekatan yang menitikberatkan semesta (pendekatan mimetik), dan pendekatan yang menitikberatkan pembaca (pendekatan pragmatik) (Teeuw, 1988:50).

Pendekatan yang menitikberatkan pembaca, yang disebut pendekatan pragmatik, menempatkan pembaca sebagai pemberi makna sebuah karya sastra, termasuk puisi. Selden mengemukakan bahwa inti teks itu tidak pernah dirumuskan sendiri, pembaca harus berbuat atas material tekstual agar dapat memproduksi arti (Selden, 1993:114). Meskipun demikian, untuk dapat memberikan makna sebuah karya sastra, terlebih puisi, pembaca tidak dapat semau-maunya.

Puisi yang merupakan karya seni bermedia bahasa harus dipahami sebagai sistem tanda (semiotik) yang memiliki makna berdasarkan konvensi. Bahasa sebagai media puisi sudah memiliki arti sebagai bahan puisi. Oleh karena itu, bahasa disebut sebagai sistem tanda atau semiotik tingkat pertama. Makna bahasa adalah arti yang ditentukan oleh konvensi masyarakat bahasa. Dalam karya sastra bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama ditingkatkan derajadnya menjadi sistem tanda tingkat kedua, maka artinya pun ditentukan oleh konvensi sastra, menjadi arti sastra. Arti sastra ini adalah arti dari arti (meaning of meaning) atau makna (significance). Oleh karena itu, untuk memberi makna puisi haruslah mengetahui konvensi puisi tersebut (Pradopo, 2007:279).

Di antara konvensi puisi itu adalah bahwa puisi merupakan ekspresi tidak langsung, yang dikemukakan oleh Michael Riffaterre. Ia mengemukakan bahwa unsur-unsur (tanda) dalam sebuah puisi sering kelihatan menyimpang dari tata bahasa normal, atau penggambaran normal: puisi tampak menetapkan maknanya hanya secara tidak langsung (Selden, 1993:126).

 2.      Semiotik Michael Riffaterre

Michael Riffaterre dalam bukunya yang berjudul Semiotics of Poetry, mengemukakan bahwa ada empat hal yang harus diperhatikan dalam memahami dan memaknai sebuah puisi. Keempat hal tersebut adalah: (1) ketaklangsungan ekspresi, (2) pembacaan heuristik dan retroaktif atau hermeneutik, (3) matriks atau kata kunci (key word), dan (4) hipogram (hipogram berkenaan dengan prinsip intertekstualitas) (Pradopo, 2007:281).

 

2.1  Ketaklangsungan Ekspresi

Ciri penting puisi menurut Michael Riffaterre adalah puisi mengekspresikan konsep-konsep dan benda-benda secara tidak langsung. Sederhananya, puisi mengatakan satu hal dengan maksud hal lain. Hal inilah yang membedakan puisi dari bahasa pada umumnya. Puisi mempunyai cara khusus dalam membawakan maknanya (Faruk, 2012:141). Bahasa puisi bersifat semiotik sedangkan bahasa sehari-hari bersifat mimetik.

Ketidaklangsungan ekspresi puisi terjadi karena adanya penggantian arti (displacing), penyimpangan arti (distorsing), dan penciptaan arti (creating) (Pradopo, 2007:282).

 

2.1.1        Penggantian Arti (Displacing of Meaning)

Penggantian arti terjadi apabila suatu tanda mengalami perubahan dari satu arti ke arti yang lain, ketika suatu kata mewakili kata yang lain. Umumnya, penyebab terjadinya pergeseran makna adalah penggunaan bahasa kiasan, seperti metafora dan metonimi. Yang dimaksud metafora dan metonimi itu secara umum adalah bahasa kiasan (figurative language), yang meliputi juga simile, personifikasi, dan sinekdoki, metafora, metonimi. Secara khusus, arti metafora adalah kiasan yang melihat sesuatu dengan perantaraan benda lain atau kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Sedangkan metonimi adalah kiasan pengganti nama, misalnya, Sungai Ciliwung diganti namanya dengan Sungai Kesayangan dalam salah satu puisi Toto Sudarto Bachtiar (Pradopo, 2007:282).

 

2.1.2        Penyimpangan Arti (Distorsing of Meaning)

Penyimpangan arti terjadi karena tiga hal, yaitu ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense.

Ambiguitas dapat terjadi pada kata, frasa, kalimat, maupun wacana yang disebabkan oleh munculnya penafsiran yang berbeda-beda menurut konteksnya. Hal ini disebabkan oleh sifat puisi yang berupa pemadatan hingga satu kata, frasa, klausa, ataupun kalimat bermakna ganda: satu “wadah” berisi banyak muatan. Bahkan juga, dalam puisi seringkali dipergunakan ambivalensi, dalam satu kata terkandung dua arti yang berlawanan (Pradopo, 2007:285).

Kontradiksi muncul karena adanya penggunaan paradoks dan ironi. Paradoks adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlawanan atau bertentangan dalam wujud bentuknya. Akan tetapi bila dipikirkan sungguh-sungguh, hal itu wajar saja, tidak bertentangan. Ironi adalah gaya untuk menyatakan sesuatu secara berbalikan. Gaya ini biasanya untuk menyindir atau mengejek, seperti puisi Subagio Sastrowardoyo yang berjudul “Afrika Selatan”. Puisi ini penuh ironi, yang secara keseluruhan berisi suatu gambaran yang berbalikan untuk menyindir atau mengejek bangsa kulit putih yang menduduki Afrika Selatan.

Nonsense adalah kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti tetapi mempunyai makna “gaib” sesuai dengan konteks (Salam, 2009:4). Dalam sastra modern, puisi bergaya mantra dan sufistik banyak mengandung nonsense. Sajak Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “Amuk” salah satu baitnya berupa nonsense untuk menimbulkan makna magis (karena dipergunakan) untuk memanggil Tuhan (Pradopo, 2007:291).

 

2.1.3        Penciptaan Arti (Creating or Meaning)

Penciptaan makna berupa pemaknaan terhadap segala sesuatu yang dalam bahasa umum dianggap tidak bermakna, misalnya “simetri, rima, atau ekuivalensi semantik antara homolog-homolog dalam suatu stanza” (Riffaterre dalam faruk, 2012:141). Penciptaan arti terjadi karena pengorganisasian ruang teks, di antaranya: enjambemen, tipografi, dan homolog.

Enjambemen (run of line) adalah perloncatan kesatuan sintaktis yang terdapat pada baris tertentu ke dalam baris berikutnya, baik dalam bait yang sama maupun ke dalam bait berikutnya (Sayuti, 2008:333). Perlocatan itu menimbulkan intensitas arti atau makna liris.

Tipografi merupakan aspek bentuk visual puisi yang berupa tata hubungan dan tata baris. Dalam puisi tipografi itu dipergunakan untuk mendapat bentuk yang menarik supaya indah dipandang oleh pembaca, juga untuk mengedepankan arti kata, frasa, atau kalimat tertentu melalui susunan yang khas (Sayuti, 2008:329). Tata baris dalam teks biasa barangkali tidak mengandung arti, tetapi dalam sajak akan menimbulkan arti (Salam, 2009:5). Contohnya, puisi ”Tragedi Winka dan Sihka” karya Sutardji Calzoum Bachri. Puisi ini lebih menekankan pada segi tipografi yang disusun secara zig-zag. Puisi ini hanya terdiri dari dua kata: kawin dan kasih. Kedua kata itu diputus-putus dan dibalik secara metatesis, secara linguistik tidak ada artinya kecuali kawin dan kasih itu. Dalam puisi, kata kasih dan kawin mengandung arti konotatif, yaitu perkawinan itu menimbulkan angin-angan hidup. Tipografi zig-zag itu memberi sugesti bahwa perkawinan yang semula bermakna angan-angan kebahagiaan hidup, setelah melalui jalan yang berliku-liku dan penuh bahaya, pada akhirnya menemui bencana. Perkawinan itu akhirnya berbuntut menjadi sebuah tragedi (Pradopo, 2007: 131).

Homolog adalah persejajaran bentuk atau baris. Bentuk yang sejajar itu akan menimbulkan makna yang sama. Contoh, pantun: /Berakit-rakit ke hulu/, /Berenang ke tepian/, /Bersakit-sakit dahulu/, /Bersenang-senang kemudian/, menggunakan homolog yang sampirannya mensugesti isi pantun tersebut (Pradopo, 2007:131).

Di antara ketiga ketidaklangsungan tersebut, ada satu faktor yang senantiasa ada, yaitu semuanya tidak dapat begitu saja dianggap sebagai representasi realitas. Representasi realitas hanya dapat diubah secara jelas dan tegas dalam suatu cara yang bertentangan dengan kemungkinan atau konteks yang diharapkan pembaca atau bisa dibelokkan tata bahasa atau leksikon yang menyimpang, yang disebut ketidakgramatikalan (ungrammaticality).

Dalam ruang lingkup sempit, ketidakgramatikalan berkaitan dengan bahasa yang dipakai di dalam karya sastra, misalnya pemakaian majas. Sebaliknya, dalam ruang lingkup luas, ketidakgramatikalan berkaitan dengan segala sesuatu yang “aneh” yang terdapat di dalam karya sastra, misalnya struktur naratif yang tidak kronologis.

 

2.2  Pembacaan Heuristik dan Retroaktif atau Hermeneutik

Menifestasi semiotik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda-tanda dari tingkat mimetik ke tingkat pemaknaan yang lebih tinggi. Proses semiotik pada dasarnya terjadi di dalam pikiran pembaca sebagai hasil dari pembacaan tahap kedua. Sebelum mencapai tahap pemaknaan, pembaca harus menghadapi rintangan pada tataran mimetik. Proses dekoding karya sastra diawali dengan pembacaan tahap pertama yang dilakukan dari awal hingga akhir teks. Pembacaan tahap pertama ini disebut sebagai pembacaan heuristik sedangkan pembacaan tahap kedua disebut sebagai pembacaan hermeneutik.

Pembacaan heuristik adalah pembacaan sajak sesuai dengan tata bahasa normatif, morfologi, sintaksis, dan semantik. Pembacaan heuristik ini menghasilkan arti secara keseluruhan menurut tata bahasa normatif dengan sistem semiotik tingkat pertama.

Setelah melalui pembacaan tahap pertama, pembaca sampai pada pembacaan tahap kedua, yang disebut sebagai pembacaan retroaktif atau pembacaan hermeneutik. Pada tahap ini terjadi proses interpretasi tahap kedua, interpretasi yang sesungguhnya. Pembaca berusaha melihat kembali dan melakukan perbandingan berkaitan dengan yang telah dibaca pada proses pembacaan tahap pertama. Pembaca berada di dalam sebuah efek dekoding. Artinya pembaca mulai dapat memahami bahwa segala sesuatu yang pada awalnya, pada pembacaan tahap pertama, terlihat sebagai ketidakgramatikalan, ternyata merupakan fakta-fakta yang berhubungan.

Pembacaan hermeneutik menurut Santosa (dalam Uniwati, 2007:42) adalah pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh dan terpadu. Sementara itu, Pradopo (2007:137) mengartikan pembacaan hermeneutik sebagai pembacaan berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat kedua (makna konotasi). Pada tahap ini, pembaca harus meninjau kembali dan membandingkan hal-hal yang telah dibacanya pada tahap pembacaan heuristik. Dengan cara demikian, pembaca dapat memodifikasi pemahamannya dengan pemahaman yang terjadi dalam pembacaan hermeneutik.

Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Artinya, pembacaan itu bergerak secara bolak-balik dari suatu bagian ke keseluruhan dan kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan ini dilakukan pada interpretasi hipogram potensial, hipogram aktual, model, dan matriks. Proses pembacaan yang dimaksudkan oleh Riffaterre (dalam Selden, 1993:126) dapat diringkas sebagai berikut.

(1)   Membaca untuk arti biasa.

(2)   Menyoroti unsur-unsur yang tampak tidak gramatikal dan yang merintangi penafsiran mimetik yang biasa.

(3)   Menemukan hipogram, yaitu mendapat ekspresi yang tidak biasa dalam teks.

(4)   Menurunkan matriks dari hipogram, yaitu menemukan sebuah pernyataan tunggal atau sebuah kata yang dapat menghasilkan hipogram dalam teks.

 

2.3  Matriks atau Kata Kunci (Key Word) dan Model

Secara teoretis puisi merupakan perkembangan dari matriks menjadi model dan ditransformasikan menjadi varian-varian. Dalam menganalisis karya sastra (pu­isi) matriks diabstraksikan berupa satu kata, gabungan kata, bagian ka­limat atau kalimat sederhana (Salam, 2009:7). Matriks, model, dan varian-varian dikenali pada pembacaan tahap kedua.

Matriks bersifat hipotesis dan di dalam struktur teks hanya terlihat sebagai aktualisasi kata-kata. Matriks bisa saja berupa sebuah kata dan dalam hal ini tidak pernah muncul di dalam teks. Matriks selalu diaktualisasikan dalam varian-varian. Bentuk varian-varian tersebut diatur aktualisasi primer atau pertama, yang disebut sebagai model. Matriks, model, dan teks merupakan varian-varian dari struktur yang sama. Kompleksitas teks pada dasarnya tidak lebih sebagai pengembangan matriks. Dengan demikian, matriks merupakan motor atau generator sebuah teks, sedangkan model menentukan tata cara pemerolehannya atau pengembangannya.

 

2.4  Hipogram: Hubungan Intertekstual

Teeuw (dalam Pradopo, 2007:167) mengemukakan bahwa karya sastra ini tidak lahir dalam situasi kosong kebudayaan, termasuk di dalamnya situasi sastranya. Dalam hal ini, karya sastra diciptakan berdasarkan konvensi sastra yang ada, yaitu meneruskan konvensi sastra yang ada, di samping juga sebagai sifat hakiki sastra, yaitu sifat kreatif sastra, karya sastra yang timbul kemudian itu dicipta menyimpangi ciri-ciri dan konsep estetika sastra yang ada. Selalu ada ketegangan antara konvensi dengan pembaharuan.

Sebuah karya sastra, baik puisi maupun prosa, mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini baik berupa persamaan ataupun pertentangan. Dengan demikian, sebaiknya membicarakan karya sastra itu dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum, atau sesudahnya (Pradopo, 2007:167).

Riffaterre dalam Uniwati (2007:44) mengemukakan bahwa sebuah karya sastra baru mempunyai makna penuh dalam hubungannya atau pertentangannya dengan karya sastra lain. Ini merupakan prinsip intertukstualitas yang ditekankan oleh Riffaterre. Prinsip intertekstual adalah prinsip hubungan antarteks. Sebuah teks tidak dapat dilepaskan sama sekali dari teks yang lain. Teks dalam pengertian umum adalah dunia semesta ini, bukan hanya teks tertulis atau teks lisan. Adat-istiadat, kebudayaan, film, drama, dan lain sebagainya secara pengertian umum adalah teks. Oleh karena itu, karya sastra tidak dapat lepas dari hal-hal yang menjadi latar penciptannya, baik secara umum maupun khusus. Bernard dalam Salam (2009:7) mengemukakan bahwa untuk memberikan apresiasi atau pemaknaan yang penuh pada karya sastra, maka sebaiknya karya sastra tersebut disejajarkan dengan karya sastra lain yang menjadi hipogram atau latar belakang penciptaannya.

Sebuah karya sastra seringkali berdasar atau berlatar pada karya sastra yang lain, baik karena menentang atau meneruskan karya sastra yang menjadi latar itu. Karya sastra yang menjadi dasar atau latar penciptaan karya sastra yang kemudian oleh Riffaterre disebut dengan hipogram. Sebuah karya sastra akan dapat diberi makna secara hakiki dalam kontrasnya dengan hipogramnya (Teeuw dalam Uniwati, 2007:44).

Julia Kristeva dalam Pradopo (2007: 167) mengemukakan bahwa tiap teks itu, termasuk teks sastra, merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi teks-teks lain. Secara khusus, teks yang menyerap dan mentransformasikan hipogram dapat disebut sebagai teks transformasi. Untuk mendapatkan makna hakiki dari sebuah karya sastra digunakan metode intertekstual, yaitu membandingkan, menjajarkan, dan mengkontraskan sebuah teks transformasi dengan hipogramnya.

 3. Pemaknaan Puisi“Surabaya” Karya A. Mustofa Bisri Berdasarkan Metode Semiotik Michael  Riffaterre

Puisi yang berjudul “Surabaya” ini adalah karya A. Mustofa Bisri, seorang kyai, budayawan, cendekiawan muslim, yang rajin menulis puisi, cerpen, novel, dan juga senang melukis. Puisi “Surabaya” ditulis oleh A. Mustofa Bisri pada tahun 1993. Berikut puisi tersebut.

 

SURABAYA

(A. Mustofa Bisri)

 

Jangan anggap mereka kalap

jika mereka terjang senjata sekutu lengkap

jangan dikira mereka nekat

karena mereka cuma berbekal semangat

melawan seteru yang hebat

Jangan sepelekan senjata di tangan mereka

atau lengan yang mirip kerangka

Tengoklah baja di dada mereka

Jangan remehkan sesobek kain di kepala

tengoklah merah putih yang berkibar

di hati mereka

dan dengar pekik mereka

Allahu Akbar !

 

Dengarlah pekik mereka

Allahu Akbar !

Gaungnya menggelegar

mengoyak langit

Surabaya yang murka

Allahu Akbar

menggetarkan setiap yang mendengar

Semua pun jadi kecil

Semua pun tinggal seupil

Semua menggigil.

Surabaya,

O, kota keberanian

O, kota kebanggaan

Mana sorak-sorai takbirmu

yang membakar nyali kezaliman ?

mana pekik merdekamu

Yang menggeletarkan ketidakadilan ?

mana arek-arekmu yang siap

menjadi tumbal kemerdekaan

dan harga diri

menjaga ibu pertiwi

dan anak-anak negeri.

Ataukah kini semuanya ikut terbuai

lagu-lagu satu nada

demi menjaga

keselamatan dan kepuasan

diri sendiri

Allahu Akbar !

Dulu Arek-arek Surabaya

tak ingin menyetrika Amerika

melinggis Inggris

Menggada Belanda

murka pada Gurka

mereka hanya tak suka

kezaliman yang angkuh merejalela

mengotori persada

mereka harus melawan

meski nyawa yang menjadi taruhan

karena mereka memang pahlawan

Surabaya

Dimanakah kau sembunyikan

Pahlawanku ?

 

3.1  Pembacaan Heuristik

Dalam pembacaan heuristik ini, puisi dibaca berdasarkan konvensi bahasa atau sistem bahasa sesuai dengan kedudukan bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama. Puisi dibaca secara linier menurut struktur normatif bahasa.

Surabaya, demikian judul puisi tersebut, adalah sebuah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Surabaya merupakan ibukota provinsi Jawa Timur. Jakarta dan Surabaya sama-sama tergolong kota metropolitan, bedanya, Jakarta lebih dikenal sebagai kota pusat pemerintahan Indonesia, Surabaya lebih sering disebut sebagai kota perdagangan.

 

Bait Pertama

Bait pertama puisi “Surabaya” jika dibaca secara heuristik, maka menjadi berikut.

Janganlah menganggap mereka (sedang) kalap, jika meraka menerjang (kekuatan) senjata (tentara) sekutu (yang) lengkap. Janganlah dikira mereka (sedang) nekat, karena mereka cuma berbekal semangat (dalam) melawan seteru (musuh) yang hebat (kuat). Janganlah (men)sepelekan senjata yang (berada) di tangan mereka atau lengan (badan mereka) yang mirip kerangka (sangat kurus). (Namun), tengoklah (semangat) (mem)baja (yang ada) di dada mereka. Janganlah (me)remehkan sesobek kain (yang diikatkan) di kepala (mereka), (tetapi) tengoklah (semangat) merah putih yang berkibar (menggelora) di (dalam) hati mereka, dan (juga) dengar(kanlah) pekik(an) mereka, Allahu Akbar!

 

Bait Kedua

Bait kedua puisi “Surabaya” jika dibaca secara heuristik dapat dinaturalisasikan berikut.

Dengar(kan)lah pekik(an) mereka. Allahu Akbar! Gaungnya menggelegar mengoyak langit (membahana di seluruh kota) Surabaya yang murka (yang bergolak). Allahu Akbar! (Pekikan itu) menggetarkan (hati) setiap (orang) yang mendengar. Semua (rintangan) pun menjadi kecil (mudah diatasi). Semua (musuh/tantangan) pun tinggal seupil (tak berarti). Semua (musuh) menggigil (ketakutan). Surabaya. O, kota (lambang) keberanian. O, kota (yang menjadi) kebanggaan. (Kini), mana sorak-sorai (pekikan) takbirmu yang (mampu dahulu mampu) membakar (memberangus) nyali kezaliman? Mana pekik merdekamu yang (dahulu mampu) menggeletarkan ketidakadilan? Mana arek-arekmu (pemuda-pemudamu) yang siap menjadi tumbal kemerdekaan dan harga diri (martabat) menjaga ibu pertiwi (tanah air/negara) dan anak-anak negeri (bangsa). Ataukah kini semuanya (itu) ikut terbuai (terlena) lagu-lagu satu nada demi menjaga keselamatan dan kepuasan diri sendiri. Allahu Akbar! Dulu Arek-arek (para pemuda) Surabaya tak ingin (tidak berniat) menyetrika (melindas) Amerika, melinggis (alat untuk menggali terbuat dari besi/baja yang runcing) Inggris. Menggada (memukul dengan gada/senjata para penjaga gerbang kerajaan) Belanda, murka (marah) (ke)pada (tentara) Gurka, mereka (para pemuda itu) hanya tak suka (tidak rela) kezaliman yang angkuh merajalela mengotori persada (bumi nusantara), mereka harus melawan (kezaliman itu) meski nyawa yang menjadi taruhan(nya), karena mereka memang (berjiwa sebagai) pahlawan. Surabaya. Di manakah kau sembunyikan Pahlawanku (itu)?

 

Pembacaan heuristik ini baru memperjelas arti bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama. Makna sastra belum terungkap dalam pembacaan tahap ini. Oleh karena itu, perlu dilanjutkan ke tahap pembacaan retroaktif atau hermeneutik.

 

3.2  Pembacaan Retroaktif atau Hermeneutik

Pembacaan retroaktif adalah pembacaan ulang dari awal sampai akhir dengan penafsiran atau pembacaan hermeneutik. Pembacaan ini adalah pemberian makna berdasarkan konvensi sastra (puisi). Puisi menyatakan gagasan secara tidak langsung, dengan kiasan (metafora/metonimi), ambiguitas, kontradiksi, dan pengorganisasian ruang teks (tanda-tanda visual) (Pradopo, 2007:297).

 

Bait Pertama

Bermula dari judul puisi, “Surabaya”, bait pertama mengantarkan pembaca menengok kembali kepada peristiwa heroik yang pernah terjadi di kota Surabaya, tanggal 10 November 1945, yaitu perlawanan bangsa Indonesia terhadap tentara sekutu. Penyair mengajak pembaca untuk tidak meremehkan peristiwa heroik tersebut, mengingat betapa tidak seimbangnya kekuatan antara pemuda-pemuda Surabaya dengan tentara sekutu pada saat itu. Penggunaan oposisi-oposisi pernyataan dalam bait pertama puisi “Surabaya” ini mempertajam ketidakseimbangan kekuatan tersebut, seperti baris “jangan dikira mereka nekat/karena mereka cuma berbekal semangat/melawan seteru yang hebat”, juga baris “Jangan sepelekan senjata di tangan mereka/atau lengan yang mirip kerangka”. Baris-baris tersebut mempertegas dua hal yang kontras, di satu hal merupakan kekuatan yang tangguh dan hal lain adalah kelompok yang rapuh secara fisik.

Berdasarkan logika, kelompok yang rapuh secara fisik tidaklah mungkin berani melakukan perlawanan terhadap kekuatan yang tangguh. Namun, kenyataannya tidak demikian, kelompok yang rapuh tersebut, yaitu para pemuda Surabaya, justru menggelora melakukan perlawanan. Perlawanan mereka bukanlah perlawanan seperti orang yang sedang kalap atau nekat, tetapi perlawanan yang didasari oleh semangat yang luar biasa. Penyair memetaforakan semangat luar biasa tersebut dengan “baja” dalam baris “Tengoklah baja di dada mereka”, juga memetaforakan semangat luar biasa para pemuda Surabaya melawan sekutu semata-mata demi tegaknya kemerdekaan Indonesia, dengan frasa “sesobek kain” dan “merah putih”, seperti pada baris “Jangan remehkan sesobek kain di kepala mereka/tengoklah merah putih yang berkibar di hati mereka”. Gelora perlawanan para pemuda Surabaya semakin membuncah karena keyakinan di hati mereka akan kebesaran Tuhan yang pasti akan menolong kaum yang tertindas, seperti dalam baris “dan dengar pekik mereka/Allahu Akbar!”.

 

Bait Kedua

Bait kedua yang diawali dengan, “Dengarlah pekik mereka/Allah Akbar!”, seolah penyair meyakinkan kepada pembaca bahwa semangat para pemuda Surabaya dalam melakukan perlawanan terhadap musuh memiliki religiusitas yang tinggi, bahwa perjuangan mereka sudah sampai pada tataran totalitas yang mengkristal, yaitu tiada kekuatan yang lebih besar kecuali Allah, Tuhan yang mahabesar. Semangat seperti itu rupanya telah menjalar ke seluruh warga Surabaya sehingga menjelma menjadi kekuatan yang sangat dahsyat, seperti baris “Gaungnya menggelegar/mengoyak langit/Surabaya yang murka/Allahu Akbar/menggetarkan setiap yang mendengar”. Bila suatu keadaan sudah seperti itu, maka semua rintangan mudah disingkirkan, kehebatan musuh menjadi tak berarti, akhirnya musuh sehebat apapun akan sangat takut, seperti baris “Semua pun menjadi kecil/Semua pun tinggal seupil/Semua menggigil”. Kata “seupil” merupakan metafora, untuk menggambarkan kekuatan musuh yang sangat tangguh itu menjadi tak berarti. Upil adalah bahasa Jawa yang berarti tahi hidung.

Pada pertengahan bait kedua ini, penyair seolah membangunkan pembaca dari kekhusyukannya menghayati perjuangan warga Surabaya dalam mengusir tentara sekutu yang hendak memberangus kemerdekaan bangsa Indonesia. Penyair membawa pembaca pada keadaan saat ini, Surabaya, kota yang menjadi simbol keberanian yang membanggakan, telah kehilangan semangat religiusitasnya dalam memerangi kezaliman, seperti dalam baris “Surabaya/O, kota keberanian/O, kota kebanggaan/Mana sorak-sorai takbirmu/yang membakar nyali kezaliman?”. Surabaya, kota yang menjadi simbol perlawanan kesewenang-wenangan ini telah kehilangan semangat perjuangannya dalam menegakkan keadilan, “mana pekik merdekamu/Yang menggeletarkan ketidakadilan?”, dan Surabaya yang berjuluk kota pahlawan ini telah pula kehabisan pahlawan-pahlawannya, yang dahulu setia membela kemerdekaan, menjaga martabat bangsa, seperti baris “mana arek-arekmu yang siap/menjadi tumbal kemerdekaan/dan harga diri/menjaga ibu pertiwi/dan anak-anak negeri”. Kondisi-kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan lunturnya semangat menegakkan keadilan, semangat perjuangan tanpa pamrih, dan nasionalisme warga Surabaya, seperti baris “Ataukah kini semuanya ikut terbuai/lagu-lagu satu nada/demi menjaga/keselamatan dan kepuasan/diri sendiri

Pada bagian akhir bait kedua ini, penyair mengoposisikan keadaan dahulu dengan sekarang. Dahulu, dilandasi religuisitas dan nasionalisme yang tinggi, semangat para pemuda Surabaya melawan sekutu –tentara gabungan Inggris, Belanda, dan Gurka- bukanlah bermaksud memusuhi bangsa Inggris, Belanda, dan orang-orang Gurka, melainkan kezaliman yang mereka perlihatkan secara angkuh di nusantara, seperti dalam baris-baris “Allahu Akbar!/ Dulu arek-arek Surabaya/ tak ingin menyetrika Amerika/ melinggis Inggris/ Menggada Belanda/ murka pada Gurka/ mereka hanya tak suka/ kezaliman yang angkuh merajalela/ mengotori persada”. Semangat melawan kezaliman itulah yang membuat para pemuda dan warga Surabaya harus melakukan perlawanan meski harus bertaruh nyawa. Itulah esensi sosok pahlawan, yakni rela berkorban dalam memerangi kezaliman yang dilakukan oleh siapa pun dan tanpa pamrih apa pun, “mereka harus melawan/ meski nyawa yang menjadi taruhan/ karena mereka memang pahlawan”. Sosok seperti itu, saat ini, sulit ditemukan, meskipun di kota yang banyak melahirkan jiwa-jiwa pahlawan sekalipun, yakni kota Surabaya, seperti baris-baris penutup puisi Surabaya, “Surabaya/ Di manakah kau sembunyikan/ Pahlawanku?

 

3.3  Matriks, Model, dan Varian

Untuk dapat menafsirkan puisi “Surabaya” karya A. Mustofa Bisri secara utuh, haruslah dicari kata kuncinya. Kata kunci puisi ini adalah Surabaya. Surabaya memiliki sejarah heroik dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui peristiwa pertempuran warga Surabaya dengan tentara sekutu pada tanggal 10 November 1945. Untuk itulah maka Surabaya diidentikan dengan kepahlawanan.

Secara keseluruhan puisi ini mengoposisikan dua hal dan keadaan yang berlawanan. Surabaya yang dahulu memiliki pemuda-pemuda dengan semangat membaja melawan para agresor, memiliki warga yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi mempertahankan ibu pertiwi, memiliki semangat religuisitas kuat dalam melawan kezaliman tanpa pamrih apa pun, dioposisikan dengan keadaan sekarang, yakni Surabaya yang telah kehilangan hal-hal tersebut. Oposisi-oposisi tersebut merupakan varian dari matriks yang sama, yang tidak ditemukan secara linier dalam puisi, yaitu esensi pahlawan. Sejatinya pahlawan adalah jiwa yang rela berkorban demi menegakkan keadilan dalam keadaan bagaimanapun, melawan kezaliman yang dilakukan oleh siapapun, membela kebenaran untuk siapapun, dan tanpa berharap apapun selain ridho Allah. Puisi ini memberikan pesan luhur bahwa yang diperlukan sekarang ini adalah bukanlah seorang pahlawan, melainkan jiwa-jiwa pahlawan, yaitu jiwa yang memiliki semangat berkorban tanpa pamrih.

 

3.4  Hipogram: Hubungan Intertekstualitas

Matriks esensi pahlawan, yakni jiwa yang senantiasa rela berkorban demi menegakkan keadilan dalam keadaan bagaimanapun, melawan kezaliman yang dilakukan oleh siapapun, membela kebenaran untuk siapapun, dan tanpa berharap apapun selain ridho Allah ini dapat sekaligus berupa hipogram. Salah satu hipogram tekstual adalah sebuah hadist yang diriwayatkan oleh HR Al-Tirmidzi, “Dari Abi Sa’id al-Khudri, Nabi Saw berkata, “Termasuk jihad yang paling agung adalah menegakkan keadilan di hadapan penguasa yang dzolim (berlaku tidak adil, aniaya).”

4.  Simpulan

Pemaknaan puisi yang berjudul “Surabaya” karya A. Mustofa Bisri dengan menggunakan metode semiotik Michael Riffaterre membuahkan pemahaman yang total puisi tersebut.

Melalui pembacaan heuristik dan retroaktif atau hermeneutik diperoleh matrik puisi yakni esensi pahlawan. Sejatinya pahlawan adalah jiwa yang rela berkorban demi menegakkan keadilan dalam keadaan bagaimanapun, melawan kezaliman yang dilakukan oleh siapapun, membela kebenaran untuk siapapun, dan tanpa berharap apapun selain ridho Allah. Matrik tersebut merupakan hipogram dari sebuah hadist yang diriwayatkan oleh HR Al-Tirmidzi, “Dari Abi Sa’id al-Khudri, Nabi Saw berkata, “Termasuk jihad yang paling agung adalah menegakkan keadilan di hadapan penguasa yang dzolim (berlaku tidak adil, aniaya).”

 

 

REFERENSI

Faruk. 2012. Metode Penelitian Sastra, Sebuah Penjelajahan Awal. Yogyakarta:

            Pustaka Pelajar.

 

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada

            University Press.

 

____________________ .2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan

            Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Salam. 2009. “Pembelajaran Menulis Puisi Dengan Metode Michael Riffaterre”.

Makalah. http://gerbangpendidikan.blogspot.com/2009/01/pembelajaran-menulis-puisi-dengan.html, diunduh tanggal 30 Oktober 2012.

 

Sayuti, Suminto A. 2008. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.

 

Selden, Raman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Terjemahan

            Rachmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

 

Uniwati. 2007. “Mantra Melaut Suku Bajo: Interpretasi Semiotik Riffaterre”.

            Tesis. Semarang: Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

 

http://bdunabawi.blogspot.com/2009/01/jihad-dan-kepahlawanan.htm, diunduh

            tanggal 20 Desember 2012.