1.      Pengertian dan Objek Kajian Semantika

1.1  Pengertian Semantika

Pengertian semantika dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya Kridalaksana (2001: 193) memberi pengertian semantika sebagai sebuah sistem dan penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau bahasa pada umumnya.

Ekowardono (2013: 2), mengemukakan bahwa semantika  adalah ilmu bahasa yang mengkaji makna bahasa, sedangkan menurut Keraf (1984: 129), semantik adalah bagian dari tatabahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan dari arti suatu kata.

Pengertian semantika juga dikemukakan oleh Verhaar (2006: 13), bahwa semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna. Menurut Leech (2003: 19), semantik merupakan studi tentang makna dalam pengertian yang luas yaitu ‘semua yang dikomunikasikan melalui bahasa’. Filsuf Perancis, Ricoeur (2012: 30), mendefinisikan semantik sebagai ilmu tentang kalimat, langsung fokus pada konsep makna (yang dalam tahapan ini sinonim dengan meaning).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semantik adalah ilmu bahasa yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, serta hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut.

1.2  Objek Kajian Semantika

Objek kajian semantika adalah satuan bahasa yang memiliki atau menyatakan makna. Yang termasuk satuan bahasa yang memiliki makna adalah kata, klitik, leksem, frase, klausa, kalimat, dan wacana, sedangkan satuan bahasa yang tidak memiliki makna tetapi menyatakan makna adalah morfem (Ekowardono, 2013: 4).

Subroto (2011) mengemukakan bahwa semantik mengkaji arti bahasa (arti lingual) yang bersifat bebas konteks atau tidak terikat konteks. Arti bahasa pada dasarnya adalah bentuk pengetahuan yang tersimpan di dalam dan terstruktur di dalam bahasa, dikuasai secara lebih kurang sama oleh para pengguna bahasa, serta digunakan dalam komunikasi secara umum dan wajar. Arti itu tersimpan di dalam bahasa maksudnya adalah bahwa bahasa sebagai sistem tanda lingual (tanda bahasa) merupakan paduan dari aspek bentuk (formal aspect ofthe sign) dan aspek arti (semantic aspect of the sign). Berdasarkan rumusan itu, untuk menjadi bahasa kita tidak hanya menerima rentetan bunyi bahasa yang kosong melompong (tanpa sesuatu yang terkandung di dalamnya) atau rentetan huruf tanpa sesuatu yang dapat ditangkap di dalamnya. Demikian pula sebaliknya, untuk menjadi bahasa suatu ide atau gagasan atau keinginan itu perlu dibungkus secara bersistem dalam wujud rangkaian bunyi bahasa.

Berdasarkan dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa objek kajian semantika adalah satuan bahasa berupa tanda bahasa (tanda lingual) yang memiliki atau menyatakan makna.

2.      Pengertian Semiotika

Ferdinand de Saussure dalam Teew (1988) menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan yang bertugas untuk meneliti berbagai sistem tanda disebut semiologi atau ilmu tanda (Teew, 1988: 46-47). Menurut Ricoeur (2012), semiotika adalah ilmu tentang tanda, bersifat formal sampai batas dissosiasi bahasa ke dalam bagian-bagian pokoknya (Ricoeur, 2012: 30), sedangkan Pradopo (2007) memberi pengertian semiotika sebagai ilmu yang mempelajari sistem tanda-tanda (Pradopo, 2007:121). Ekowardono (2013) memperjelas pengertian semiotika dengan memberikan batasan objek kajiannya, bahwa semiotika mengkaji tanda bahasa bahasa yang bersifat nonbahasa (Ekowardono, 2013:3)

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, disimpulkan bahwa semiotika adalah ilmu bahasa yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda bahasa yang bersifat nonbahasa (nonlingual).

3.      Persamaan dan Perbedaan Semantika dan Semiotika

Sebagaimana disebut di bagian sebelumnya, bahwa semantika dan semiotika merupakan ilmu bahasa yang memiliki kajian yang sama. Persamaan semantika dan semiotika adalah keduanya merupakan ilmu bahasa yang mengkaji makna tanda (Ekowardono, 2013: 2-3).

Meskipun demikian, terdapat perbedaan di antara keduanya. Perbedaan itu tampak pada objek kajiannya. Ekowardono (2013) mengemukakan bahwa semantika mengkaji makna tanda bahasa, yaitu tanda yang terbentuk dari bunyi bahasa (yang dihasilkan oleh alat bicara dan proses artikulasi) yang tersusun menurut sistem tertentu dan bermakna (Ekowardono, 2013: 2-3). Sementara itu Subroto (2011) mengemukakan bahwa semantika mengkaji arti bahasa (arti lingual) yang bersifat bebas konteks atau tidak terikat konteks (Subroto, 2011). Semiotika mengkaji makna tanda nonbahasa, bisa juga berupa bunyi dan gerakan (Ekowardono, 2013: 2-3). Objek semiotik -tanda- semata bersifat virtual (Ricoeur, 2012: 29).

4.      Contoh dalam Bahasa Indonesia Tanda Bahasa (Linguistik)

Berikut adalah contoh tanda bahasa (linguistik/lingual) yang menjadi objek kajian semantika.

Bunyi bahasa atau ujaran [kursi] adalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan melalui proses artikulasi yang memiliki makna. Satuan bermakna itu disebut kata. Makna itu dinyatakan oleh tanda itu sendiri, yang mengacu kepada maujud di luar tanda itu, tanpa melalui penafsiran. Bunyi bahasa [kursi] di dalamnya terkandung bentuk pengetahuan ‘perabot rumah tangga, ada tempat duduknya, ada sandarannya, ada kakinya, dipakai untuk duduk’. Makna yang ada pada kata disebut makna leksikal.

5.      Contoh dalam Bahasa Indonesia Tanda Nonbahasa (nonlinguistik/nonlingual)

Berikut adalah contoh tanda bahasa nonbahasa (nonlinguistik/nonlingual) yang tidak menjadi objek kajian semantika.

Siulan merupakan tanda nonbahasa meskipun dihasilkan oleh alat ucap manusia. Siulan tidak dihasilkan melalui proses artikulasi. Makna yang muncul dari siulan merupakan makna yang diperoleh dari proses penafsiran. Siulan dapat ditafsirkan maknanya ‘menggoda, mengagumi, memanggil, bersenandung, menirukan suara burung, dan lain-lain’.

DAFTAR PUSTAKA

Ekowardono, B. Karno. 2013. Handout Mata Kuliah Semantika. Semarang: Prodi

            Pendidikan Bahasa Indonesia PPs UNNES Semarang.

Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah.

Kridalaksana, Harimurti . 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

            Utama.

Leech, Geoffrey. 2003. Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada

            University Press.

Ricoeur, Paul. 2012. Teori Interpretasi. Yogyakarta: Ircisod.

Subroto, D. Edi. 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik. Surakarta:

            Cakrawala Media.

Teew, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT Girimukti Pasaka.

Verhaar, J.W.M. 2006. Azas-Azas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada

            University Press.