1. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran sastra di sekolah memiliki peran penting dalam pembentukan watak peserta didik yang berkarakter. Rahmanto (2005:24) mengemukakan bahwa seseorang yang telah banyak mendalami berbagai karya sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan yang tak bernilai. Lebih lanjut, seseorang akan mampu menghadapi masalah-masalah hidupnya dengan pemahaman, wawasan, toleransi, dan rasa simpati yang lebih mendalam.

Pembelajaran sastra di sekolah mencakup genre puisi, prosa, dan drama. Pembelajaran apresiasi drama sebagai salah satu pembelajaran sastra di sekolah, saat ini kurang mendapatkan perhatian yang memadai dibandingkan pembelajaran puisi dan prosa. Di bandingkan dengan puisi dan prosa, drama sebenarnya lebih mudah dipahami, lebih mudah dipetik nilai moral yang terkandung di dalamnya, juga lebih menarik dinikmati.

Pembelajaran apresiasi drama di sekolah saat ini lebih menonjolkan pembahasan drama secara teoretis, mengapresiasi drama berdasarkan naskah yang dibaca, dan jarang meresepsi drama pementasan maupun berekspresi melalui sebuah pementasan drama. Akibatnya, pembelajaran apresiasi drama menjadi kurang menarik, tidak merangsang timbulnya daya kreativitas dan imajinasi, serta kurang kontekstual. Hal-hal tersebut berdampak pada rendahnya kualitas pembelajaran apresiasi drama dan kurang tercapainya peran pembelajaran apresiasi drama di sekolah, yaitu sebagai salah satu pembentuk karakter peserta didik.

Salah satu penyebab kurangnya perhatian pembelajaran apresiasi drama di sekolah adalah kurang tersedianya sumber dan bahan pembelajaran yang sesuai. Sumarjo (1988:76) menekankan perihal pemilihan bahan ajar, bahwa bahan pembelajaran yang dipilih harus sesuai dengan tingkat usia maupun lingkungan siswa. Pendapat tersebut sangat tepat mengingat beragamnya latar belakang dan kultur peserta didik. Hal ini menuntut kecermatan pendidik dalam memilih bahan pembelajaran drama yang mampu memperkuat ikatan kebangsaan peserta didik yang multikultural.

Relevan dengan masalah tersebut, perlu kiranya diciptakan bahan pembelajaran apresiasi drama yang berkonteks multikultural dan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, mudah penggunaannya, dan menarik. Salah satu alternatif yang dapat menjadikan bahan ajar menarik adalah dengan mengemasnya dalam basis multimedia.

 

  1. 2.      Kajian Teoretis

2.1  Apresiasi Drama

Apresiasi adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (Effendi, 2002). Kata menggauli atau mengakrabi biasanya berkaitan dengan hubungan sosial, misalnya kita berusaha mempererat hubungan dengan teman atau tetangga baru. Oleh sebab itu, apresiasi sastra pun seyogianyalah dipahami sebagai usaha mempererat hubungan antara kita sebagai pembaca karya sastra dan karya sastra itu sendiri sehingga terjalin hubungan yang bersifat emosional, imajinatif, dan intelektual.

Apresiasi memiliki tingkatan-tingkatan, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi. Apresiasi tingkat pertama terjadi apabila kita mengalami pengalaman yang tertuang di dalam karya sastra. Kita terlibat secara imajinatif, emosional, dan intelektual dengan karya sastra. Apresiasi tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual kita bekerja lebih giat, misalnya dengan mencermati karya satra sebagai sebuah bangunan utuh yang di dalamnya terdiri atas paduan unsur-unsur. Apabila kita menyadari pula bahwa ada kaitan antara karya sastra dengan aspek-aspek di luarnya, misalnya dengan mengaitkannya pada aspek kehidupan, maka kita telah sampai pada tingkat tertinggi (Rusyana, 1980).

Berdasarkan penjelasan mengenai apresiasi, dapat simpulkan bahwa kegiatan apresiasi menitikberatkan pada daya intelektual. Apabila kita dapat mengkaji dan mengkritik sastra, maka hal itu menunjukkan bahwa kita telah memiliki kompetensi sastra khususnya kemampuan kognitif. Apabila setelah mengkaji dan mengkritik sastra itu terjadi perubahan sikap dalam diri kita, misalnya kita menjadi orang yang peka terhadap perasaan orang lain, maka kita  telah sampai pada kompetensi afektif sastra. Dengan demikian, titik berat dari apresiasi terletak pada pengembangan sikap dan nilai kita terhadap karya sastra.

Apresiasi drama dapat disimpulkan sebagai upaya mengkaji drama untuk memahami, menghargai, dan menumbuhkan kepekaan pikiran kritis dan perasaan yang baik.

 

2.2  Drama Konteks Multikultural

Karya sastra dan kehidupan merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam kedirian masing-masing sebagai sesuatu yang eksistensial (Suyitno, 1986:3). Hal itu mengandung pengertian, karya sastra dan kehidupan nyata selain memiliki otonomi tersendiri, keduanya memiliki hubungan timbal balik. Keberangkatan pengarang dalam menciptakan karya sastra diilhami oleh fenomena kehidupan.

Membicarakan keterkaitan antara sastra dengan kehidupan Rudolf Unger (dalam Wellek, 1990:141) menyatakan, sastra bukanlah filsafat yang diterjemahkan dalam bentuk pencitraan, melainkan ekspresi atau sikap umum terhadap kehidupan. Lebih lanjut Unger menjelaskan, permasalahan yang digarap sastra antara lain (1) masalah nasib, yakni hubungan antara kebebasan dan keterpaksaan, semangat manusia dan alam; (2) masalah keagamaan; (3) masalah mitos dan ilmu gaib; (4) masalah yang menyangkut konsepsi manusia, hubungan manusia dengan kematian dan konsep cinta; dan (5) masalah masyarakat dan keluarga.

Damono (1984:1) mengatakan dalam karya sastra tersirat gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri merupakan kenyataan sosial. Dalam hal ini kehidupan mencakup (1) hubungan antarmasyarakat, (2) antarmanusia, (3) antarmasyarakat dengan orang-seorang, dan (5) pantulan hubungan orang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Dalam karya sastra tersimpan nilai-nilai budaya, bahkan yang berasal dari masa lalu yang jauh. Nilai-nilai tersebut telah teruji dalam perjalanan waktu baik yang bersifat umum maupun yang khas berupa pandangan hidup. Karya sastra juga merekonstruksikan pengalaman yang sedang dijalani dalam suatu susunan yang terpahami.

“Dengan memasuki segala macam situasi dalam karya sastra, orang pun akan dapat menempatkan diri pada kehidupan yang lebih luas daripada situasi yang nyata. Lewat sastra orang meresapi secara imajinatif kepentingan-kepentingan di luar dirinya dan mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lain, berganti-ganti menurut wawasan pengarang dan apa yang dihadapinya (Sayuti, 1991:121)”

 

Sehubungan dengan hal di atas, Yus Rusyana (1991:108) menegaskan bahwa dalam sastra bukan saja menyajikan makna yang dialami oleh pengarang sebagai perseorangan, melainkan juga menyajikan susunan makna yang terdapat dalam hubungan seseorang dengan lainnya di masyarakat. Hal itulah yang memberikan penegasan bahwa nilai-nilai dalam karya sastra sebagai suatu kesatuan yang kompleks.

Istilah drama mengacu pada dua pemahaman, yaitu drama sebagai sebuah teks dan drama sebagai pertunjukan. Waluyo (2001:1) menyatakan bahwa drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas, drama adalah potret kehidupan manusia, potret suka duka, pahit manis, hitam putih kehidupan manusia, sedangkan Wiyanto dalam Harahap (2012: 13) menyatakan bahwa drama adalah kisah hidup dalam masyarakat yang diproyeksikan di atas panggung, disajikan dalam bentuk dialog dan gerak berdasarkan naskah.

Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik (Mahfud, 2011:75).

Kondisi Indonesia yang multikultural sekaligus multietnis menuntut sekolah untuk mampu mendobrak enkapsulasi etnis dan penyekat sosial budaya lainnya. Selain itu sekolah diharapkan dapat mengembangkan siswa agar menjadi makhluk yang melek-etnik (ethnic literacy) dan melek-kebinekaan budaya. Kebinekaan budaya yang ada dilahirkan oleh berbagai aspek kehidupan, seperti agama, suku, keturunan, kondisi sosial ekonomi, dan tahapan kekuasaan (Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II, 1994:119-120).

Pengembangan wawasan siswa agar menjadi insan yang melek-etnik dan melek-kebinekaan dapat dilakukan melalui pembelajaran, yaitu pengajaran yang responsif secara kultural. Gay dalam Jacobsen (2009) mengemukakan bahwa pengajaran responsif secara kultural (culturally responsive teaching) merupakan pengajaran yang mengakui dan mengakomodasi keragaman kultural di dalam ruang kelas. Komponen-komponen pengajaran responsif secara kultural mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) menciptakan lingkungan kelas yang positif di mana seluruh siswa dihargai dan dihormati; (2) mengomunikasikan harapan-harapan yang positif untuk pembelajaran seluruh siswa; (3) mengakui keragaman kultural dalam diri siswa dan mengintegrasikan keragaman ini ke dalam kurikulum (Jacobsen, 2009:262). Pengintegrasian keragaman kultur ke dalam kurikulum salah satunya melalui penyediaan bahan-bahan pembelajaran yang berkonteks multikultural.

Bahan pembelajaran drama yang berkonteks multikultural merupakan bahan pembelajaran yang isinya mengakomodasi keragaman kultur yang ada di masyarakat.

 

2.3  Apresiasi Drama Konteks Multikultural

Keluasan dan kedalaman segala hal yang terkandung dalam karya sastra mengindikasikan muncul keanekaragaman. Keanekaragaman tersebut dapat berupa berbagai pandangan hidup, sikap dan pola pikir, dan juga keragaman pokok persoalan yang ditampilkan. Bahkan bila dihubungkan dengan realitas sosial, keberagaman tersebut juga menyangkut latar sosial budaya yang ditampilkan maupun menjadi setting dari karya yang dihasilkan. Aspek-apsek tersebut di atas itulah yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan pengajaran sastra.

Dengan melihat hal tersebut dapat disimpulkan bahwa karya sastra dapat dijadikan sebagai sarana mengembangkan sikap menghargai perbedaan pada diri anak didik. Dengan membaca, memahami, mengapresiasi karya sastra siswa akan berhadapan dengan fenomena nyata yang begitu luas, dalam, dan beraneka ragam. Keluasan, kedalaman, dan keankeragaman tersebut tentu dapat dihubungkan dengan realitas masyarakat Indonesia yang homogen. Pada akhirnya siswa akan mengambil sikap dan menjatuhkan pilihan, berdasarkan pemahaman yang dimilikinya.

Melalui karya sastra, termasuk drama di dalamnya, siswa dapat belajar mengenal dan memahamai keragaman budaya di Indonesia. Karya sastra menyediakan informasi keragaman budaya yang melatari kelahirannya. Untuk mengenal budaya Jawa, siswa dapat dihadapkan dengan karya-karya Umar Kayam seperti Para Priyayi atau Jalan Menikung. Latar budaya Jawa juga ditemui dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suyadi. Aspek kultural masyarakat Kalimantan terekam dengan baik dalam novel Upacara karya Korie Layun Rampan. Pengenalan budaya Bali dapat dilakukan melalui penelaahan novelet karya Oka Rusmini yang berjudul Sagra. Novel Chairul Harun yang berjudul Warisan jelas sekali menyuarakan ke-Minangkabau-an dalam konteks ke-Indonesia-an. Bahkan untuk mengenal budaya China dapat dimulai dengan membaca novelet Bibi Giok karya Zarra Zetira, novel Miss Lu karya Naning Pranoto, dan karya terkenal dari Remy Silado yang sudah difilmkan berjudul Cau Bau Kan (Darma, 2001).

Pembelajaran apresiasi drama konteks multikultural dapat dilakukan melalui pengkajian drama-drama yang ada. Untuk tingkatan SMP, drama-drama realis tampaknya lebih tepat sebagai bahan apresiasi. Kita dapat memahami kultur masyarakat Bali melalui drama karya Putu Wijaya yang berjudul Bila Malam Bertambah Malam, latar budaya masyarakat Jawa kelas pinggiran dapat ditemui dalam drama-drama karya Bambang Widoyo yang dipentaskan Teater Gapit Surakarta,  Leng, Suk. Drama-drama karya Arifin C. Noer, N. Riantiarno, Teguh Karya juga memiliki kandungan nilai multikultural yang baik untuk membentuk karakter kebangsaan peserta didik.

2.4  Pembelajaran Drama di SMP

Pembelajaran apresiasi drama di sekolah dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan, yaitu pembelajaran teks drama yang termasuk sastra, dan pementasan drama yang termasuk bidang teater. Di SMP, sebagaimana termuat di dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, pembelajaran drama terdapat di kelas VIII dan IX sebanyak enam standar kompetensi dan sebelas kompetensi dasar. Di kelas VIII pembelajaran drama meliputi kegiatan menanggapi unsur pementasan, bermain peran, dan menulis naskah drama sederhana, sedangkan di kelas IX meliputi kegiatan membahas dan menilai sebuah pementasan drama dan menulis naskah drama.

 

Tabel 1

SK dan KD Pembelajaran Drama di SMP Kelas VIII

No.

Aspek / Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

Mendengarkan

5. Mengapresiasi  pementasan drama

5.1  Menanggapi unsur pementasan drama  

5.2  Mengevaluasi pemeran tokoh dalam  pementasan drama

2.

Berbicara

6.  Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran

6.1   Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa

6.2       Bermain peran dengan cara improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis siswa   

3.

Membaca

7.  Memahami  teks drama dan novel remaja

7.1   Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama

4.

Menulis

8.      Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama

8.1   Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide 

8.2      Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama

 

 

 

 

Tabel 2

SK dan KD Pembelajaran Drama di SMP Kelas IX

No.

Aspek / Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

Berbicara

14.  Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama  

14.1 Membahas pementasan drama yang ditulis siswa 

14.2 Menilai mementasan drama yang dilakukan oleh siswa

2.

Menulis

16.  Menulis naskah drama     

16.1 Menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang sudah dibaca

16.2 Menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata

 

 

2.5  Bahan Pembelajaran Berbasis Multimedia

Pembelajaran merupakan sebuah sistem yang mengintegrasikan berbagai komponen menjadi satu fungsi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam pembelajaran. Salah satu komponennya disebut sebagai komponen dasar yang meliputi enam komponen yaitu: (a) peserta didik; (b) lulusan yang berkompeten seperti diharapkan; (c) proses pembelajaran; (d) pendidik; (e) kurikulum; dan (f) bahan pembelajaran/bahan pembelajaran (Suparman, 2012:38).

Bahan pembelajaran disusun berdasarkan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan strategi pembelajaran untuk setiap tujuan pembelajaran. Bahan pembelajaran merupakan komponen yang sangat terkait erat dengan isi setiap mata pelajaran dan harus relevan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan strategi pembelajaran (Suparman, 2012:43).

Richard yang dikutip Zulaeha (2010), memberi batasan materi atau bahan pembelajaran sebagai suatu komponen yang dalam program pembelajaran, mungkin berupa textbook, paket dari sekolah, sesuatu yang dibuat sendiri oleh guru, yang dipakai sebagai dasar untuk memberikan masukan (input) bagi siswa di dalam kelas (Zulaeha, 2010:5).

Multimedia dimaknai sebagai suatu sistem komunikasi interaktif berbasis komputer yang mampu menciptakan, menyimpan, menyajikan dan mengakses kembali informasi berupa teks, grafik, suara, video atau animasi (Gayestik dalam Soenarto, 2011). Dengan teknologi komputer saat  ini, sudah memungkinkan untuk menyimpan, mengolah dan menyajikan kembali sumber suara dan video dalam format digital. Hackbart mendefinisikan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) sebagai suatu program pembelajaran yang mencakup berbagai sumber yang terintegrasi berbagai unsur media dalam program komputer. Program tersebut secara sengaja dirancang dalam bagian-bagian dan secara terstruktur memberi peluang untuk terjadinya interaktivitas antara pengembang dengan penggunanya secara fleksibel, sehingga terjadi proses belajar (Soenarto, 2011).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan pembelajaran drama berbasis multimedia adalah bahan pembelajaran yang mencakup berbagai sumber yang terintegrasi dari berbagai unsur media dalam program komputer. Komponen bahan pembelajaran multimedia meliputi berikut ini.

 

2.5.1        Suara (Sound)

Dalam teknologi multimedia, sound card memepunyai peranan yang sangat penting dalam pembuatan suatu apalikasi multimedia. Dengan menggunakan sound card komputer dapat mengolah data suara dalam bentuk analog dan diubah ke dalam bentuk digital dan disimpan ke dalam file bertipe data suara. Beberapa format standar suatu file ini antara lain: waveform (WAV), MIDI (Musical Instrument Digital Interface), dan sebagainya.

Sumber suara diperoleh dengan peralatan: mikropon, Open Reel Videotape, kaset audio, Compact Disk, kaset video, MIDI instrument.

 

2.5.2        Gambar (Image)

Pada dasarnya sebuah format gambar dapat dipresentasikan ke dalam dua tipe, yaitu bitmap dan vector. Perbedaan dari kedua format ini adalah file bitmap berisikan informasi warna RGB dalam setiap pixelnya. Pada vector tidak berisikan informasi RGB. File bitmap dapat dilihat langsung keanekaragaman warna yang dapat disimpannya. Tetapi dengan semakin banyaknya informasi warna yang disimpan akan semakin banyak  jumlah byte memori yang akan digunakan untuk menyimpan file bitmap tersebut.

Sumber gambar dapat diperoleh dengan peralatan scanner, kamera, dan sebagainya. Banyak software yang dapat digunakan untuk mengolah sumber gambar, antara lain: Corel Draw, Adobe Photoshop.

 

2.5.3        Animasi (Animation)

Animasi merupakan perubahan gambar satu ke gambar berikutnya sehingga dapat membentuk suatu gerakan tertentu. Animasi menunjukkan sebuah seni dari gambar grafik yang menirukan gerakan dan juga berisikan penyamaan suara. Animasi mempunyai dua tipe yang berbeda, yaitu cast based dan frame based.

Animasi cast based disebut juga dengan animasi obyek, yaitu sebuah bentuk animasi dimana tiap-tiap obyek obyek dalam tampilan merupakan elemen tersendiri yang mempunyai susunan gambar, bentuk, ukuran, warna dan kecepatan. Sebuah naskah tampilan diawasi oleh penempatan dan pergerakan obyek dalam tiap-tiap frame animasi.

Animasi  frame based adalah sebuah layar atau frame yang ditunjukkan dalam kecepatan yang berurutan. Perubahan layar dari frame satu ke frame yang lain akan menghasilkan animasi. Tiap-tiap frame dapat dirubah menjadi entitas yang unik, sebab perubahan ini digambarkan dalam gambar yang terlihat untuk periode waktu tertentu. Beberapa program yang dapat digunakan untuk mengolah animasi, antara lain: Flash Macromedia, Swift 3D, Swish, Adobe After Effect.

 

2.5.4        Video

Dalam dunia komputer multimedia, video merupakan elemen yang menjadi syarat untuk dihadirkan sebagai kelengkapan dalam sebuah aplikasi multimedia. Pemasukan data video analog akan dimasukkan ke 5 dalam sebuah komputer harus dilengkapi dengan sebuah card tambahan dengan nama video card.

Sumber video dapat diperoleh dengan peralatan, antara lain: video camera analog, video camera digital, dlsb. Pengolahan sumber suara dapat dilakukan dengan beberapa software, antara lain: Movie Capture, Movie Editor, MPEG Encoder, VCD Creator, Adobe Premiere, dan lain-lain. Software Movie Capture digunakan untuk mengambil data audio/video yang akan dibentuk video VCD. Software Movie Editor, untuk memproses (pemotongan frame, perubahan unsur warna, terang gelapnya sajian video) data  audio/video yang akan dibentuk Video CD. Software MPEG Encoder digunakan untuk menterjemahkan format data file audio/video ke bentuk standar video CD dengan format MPEG (Motion Picture Experts Group).

 

2.5.6        Teks (Text)

Selain elemen-elemen multimedia di atas, teks merupakan bagian dari multimedia yang tidak boleh ditinggalkan, karena teks dapat membantu melengkapi informasi yang dibutuhkan oleh pengguna yang tidak dapat disampaikan hanya dengan menggunakan tampilan-tampilan gambar yang menarik. Sehingga untuk penyampaian informasi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teks. Dengan penggabungan dari tampilan gambar, suara,video dan teks tersebut dapat dihasilkan suatu informasi yang interaktif dan komunikatif.

 

2.5.7        Interaktivitas

Rob Phillips (dalam Soenarto) menjelaskan makna interaktif sebagai suatu proses pemberdayaan siswa untuk mengendalikan  sumber belajar. Dalam konteks ini sumber belajar yang dimaksud adalah belajar dengan menggunakan bahan pembelajaran berbasis  komputer. Klasifikasi interaktif dalam lingkup multimedia pembelajaran bukan terletak pada sistem hardware, tapi lebih mengacu pada karakteristik belajar siswa dalam merespon stimulus yang ditampilkan layar monitor komputer. Kualitas interaksi siswa dengan komputer sangat  ditentukan oleh kecanggihan program komputer (Soenarto, 2011).

 

 

2.6      Kecerdasan Emosi Siswa

Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam perkembangan siswa adalah kecerdasan emosional (Natawidjadja dalam Zulaeha, 2007:13). Kecerdasan emosional atau afektif merupakan kemampuan memecahkan masalah berdasarkan segi sosial pada belahan otak kanan. Kenyataan membuktikan bahwa tidak semua masalah dapat diatasi dengan kemampuan intelektual atau kognitif dalam kehidupan sehari-hari. Siswa membutuhkan kemampuan emosional atau afektif pula dalam mengatasi masalah sosial.

Bahaudin dalam Sakdanur (2005: 48) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan untuk mengendalikan emosi sehingga memberikan dampak atau hasil yang positif terhadap kita ataupun orang lain.

Menurut Goleman, yang dikutip oleh Mami Hajaroh (2013: 4-5) dalam makalah “Kecerdasan Emosi dan Aplikasinya dalam Pebelajaran Pendidikan Agama Islam”, terdapat lima kecerdasan emisonal.

  1. Mengenali Emosi Diri

Kesadaran mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi.

Mengenali emosi diri merupakan dasar kecerdasan emosional. Orang-orang yang memiliki keyakinan lebih tentang perasaanya adalah pilot yang andal bagi mereka, karena mereka memiliki kepekaan lebih terhadap perasaan yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi.

  1. Mengelola Emosi

Menangani perasaan agar dapat terungkap secara tepat.

Kecakapan ini tergantung pada kemampuan mengenali emosi diri. Termasuk dalam kecakapan ini adalah bagaimana menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang tidak cakap dalam keterampilan ini akan terus-menerus melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dalam keterampilan ini dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan keruntuhan dalam kehidupan.

 

 

  1. Memanfaatkan Emosi Secara Produktif

Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting kaitannya dengan perhatian, memotivasi diri sendiri, menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Mengendalikan emosi diri meliputi menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Disamping itu mampu menyesuaikan diri dalam flow (hanyut dalam pekerjaan) memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang yang memiliki ketrampilan ini jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.

  1. Mengenali Emosi Orang Lain (Empati)

Empati merupakan kemampuan yang juga bergantung kepada kesadaran diri emosional. Empati merupakan keterampilan bergaul yang mendasar. Orang yang empatik jauh lebih mampu menangkap sinyal sosial yang tersebunyi, yang mengisyaratkan apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

  1. Membina Hubungan

Sebagian besar seni membina hubungan merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan sosial ini menunjang popularitas kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan dengan orang lain. Mereka adalah bintang-bintang pergaulan.

 

 

  1. 3.      PENUTUP

 

Pembelajaran sastra di sekolah sudah seharusnya mendapat perhatian yang serius karena menjadi salah satu tumpuan dalam penanaman dan pengembangan karakter peserta didik. Wujud perhatian yang serius itu tampak pada proses pembelajaran yang berkualitas. Kualitas pembelajaran akan berdampak pada tercapainya tujuan pembelajaran sastra dalam membentuk karakter sebagaimana yang diamanatkan dalam tujuan pendidikan nasional.

Pembelajaran apresiasi drama sebagai bagian dari pembelajaran sastra di sekolah saat ini dirasa masih kurang memperoleh perhatian para guru. Hal ini tampak pada proses pembelajaran yang masih bersifat teoretis dan lebih menekankan pada pembahasan secara tekstual naskah drama. Kurangnya perhatian itu dapat dipahami karena masih sedikit bahan pembelajaran yang sesuai untuk pembelajaran apresiasi drama.

Pembelajaran apresiasi drama berperspektif multikultural sudah saatnya dikedepankan seiring dengan era globalisasi dengan transformasi sosial budaya dan perubahan nilai kehidupan yang berkecenderungan global. Sebagai sebuah paham, multikulturalisme merupakan suatu pandangan yang menganggap keanekaragaman budaya sebagai realitas fundamental dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu penyediaan bahan pembelajaran apresiasi drama konteks multikultural sangat mendesak dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosilogi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas.

            Jakarta: Depdikbud.

 

Darma, Budi. 2001. “Sasra dan Pluralisme”. Makalah SEMNAS di Fakultas

            Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, Oktober 2001.

 

Effendi, S. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

Hajaroh, Mami. 2013. “Kecerdasan Emosi dan Aplikasinya dalam Pembelajaran

            Agama Islam”. Makalah.Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Harahap, Safihatul Hasanah. 2012. “Kajian Semiotik dan Nilai Moral Pementasan

Drama Ah, Matjam-Matjam Maoenja Karya Moliere Serta Kemungkinan Pemanfaatannya Sebagai Bahan Ajar Mata Kuliah Kajian Drama Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Medan”. Tesis. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

 

Jacobsen, David A., Paul Eggen, Donald Kauchak. 2009. Methods for Teaching.

            Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Konvensi Nasional Pendidikan II. 1994. Kurikulum untuk Abad Ke-21. Jakarta:

            Grasindo.

 

Mahfud, Choirul. 2011. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar

            Isi. 2006. Jakarta: Kemdiknas.

 

Rahmanto, B. 2005. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang. 

 

—————–. 1991. Untuk Meningkatkan Pengajaran Sastra bagi Pengembangan

Budaya Bangsa Diperlukan Pengalaman Membaca Hasil Sastra yang Bermakna. Makalah Semnas Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta : FPBS IKIP Yogyakarta.

 

Sakdanur. 2005. “Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Kinerja

Kepala Sekolah: Survey di SLTP Riau Daratan Provinsi Riau”. Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 1. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

 

Sayuti, Suminto A. 1991. Peranan Sastra dalam Kehidupan Kita. Makalah Semnas

            Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta : FPBS IKIP Yogyakarta.

 

Soenarto, Sunaryo. 2011. “Multimedia Pembelajaran”. Makalah. http://staff.uny.

            ac.id (diunduh tanggal 6 Desember 2012).

 

Sumardjo, Jakob. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Suparman, M. Atwi. 2012. Desain Instruksional Modern. Jakarta: Erlangga.

Suyitno. 1996. Sastra Tata Nilai dan Eksesgesis. Yogyakarta: Penerbit Hanindita.

 

Waluyo, H. J. 2001. Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita

            Graha Widya.

 

Zulaeha, I., Fathur Rokhman, dan Abdurrachman Farid. 2010. “Pengembangan

Inovasi Pembelajaran dan Materi Ajar Bahasa Berbasis Information Communication and Technology (ICT) yang Berorientasi pada Kebutuhan Kompetensi Komunikatif Siswa”. Penelitian Hibah Pasca. Semarang: Universitas Negeri Semarang.