CATATAN KECIL SEJARAH KELAM 1965

Sejarah kelam tragedi kemanusiaan Indonesia yang terjadi di tahun 1965 mewariskan banyak persoalan hingga sekarang. Salah satu persoalan yang belum terjawab dengan tuntas ialah persoalan perihal korban. Persoalan-persoalan tersebut di antaranya berikut ini.

Persoalan pertama, tentang jumlah korban tewas. Jumlah korban tewas peristiwa yang diawali dari diculik dan dibunuhnya enam jenderal serta seorang perwira tinggi Angkatan Darat di Jakarta oleh sekelompok tentara yang bernama “Gerakan 30 September” lalu diikuti pembunuhan massal pada tahun 1965-1966 tidak diketahui dengan jelas jumlahnya. Diperkirakan jumlah korban tewas antara 500.000 hingga 1.000.000 jiwa (Wardaya dalam Scaefer, 2013: 221-222). Bahkan Karni Ilyas dalam Indonesia Lawyer Club (ILC) 29 September 2015, mengutip ucapan Sarwo Edhi, jumlah korban mencapai 3 juta jiwa. Baca lebih lanjut

Iklan

Sang Bapak

Tiga menit. Hanya butuh tiga menit untuk memejamkan mata sembari bersandar di kursi guna melepas kepenatan setelah mengajar. Itulah kebiasaan Pak Joo di setiap jam istirahat. Tempat duduknya di pojok ruang guru yang dekat dengan jendela, membuat angin leluasa menyapa tubuh jangkungnya. Biasanya setelah tiga menit bermeditasi, badan dan pikiran Pak Joo menjadi segar. Mengajar di jam-jam terakhir pun bukan sesuatu yang memberatkan. Seperti hari itu, di jam istirahat pertama.

“Pak Joo, dipanggil Bapak”, suara perempuan menyambar telinga dan membuyarkan kekhusukan Pak Joo. Ini yang kesekian kalinya metidasi Pak Joo tak sampai klimaks karena terganggu oleh suara yang selalu sama, kalimat maupun nada suaranya, terutama tekanan pada kata terakhir. Gangguan ini mulai akrab menyambangi Pak Joo semenjak dia diberi tugas tambahan oleh kepala sekolah untuk menangani masalah sarana prasarana sekolah. Nama keren jabatannya adalah wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana. Pak Joo mengemban tugas itu sejak empat bulan sebelas hari yang lalu. Bermula dari kejadian di pagi itu, ketika sang bapak hendak ke kamar kecil. Entah mengapa kunci kamar kecil kepala sekolah yang hanya satu itu, dan satu-satunya orang yang berhak memegang hanya sang bapak, tiba-tiba macet ketika diputar lalu patah. Padahal sang bapak sudah kebelet. Ditambah lagi sang bapak lupa mengenakan pempers hari itu. Saat itulah Pak Joo melintas. Setelah tahu masalahnya, Pak Joo yang pernah jadi tukang kunci itu, dengan keahliannya bisa membuka pintu kamar kecil dengan cara yang dirahasiakan. Sejak saat itulah, Pak Joo ditunjuk menjadi wakasek bidang sarana prasarana sekolah.

Baca lebih lanjut

Kearifan Lokal dan Kurikulum 2013: Perspektif Pembelajaran Sastra Indonesia[1]

Oleh Suminto A. Sayuti[2]

1/. Keyakinan akan adanya nilai-nilai dedaktis yang terkandung di dalam karya sastra merupakan suatu hal yang sudah relatif mengakar di kalangan masyarakat. Sudah sejak zaman sastra lama hal itu kelihatan menonjol, bahkan sastra pada zaman Balai Pustaka juga dengan sangat jelas menekankan pentingnya aspek pendidikan bagi pembaca. Salah satu pasal persyaratan yang ditetapkan bagi naskah karangan yang dapat diterima dan diterbitkan oleh Badan Penerbit Balai Pustaka berbunyi: “Karangan-karangan yang diterbitkan hendaklah dapat menambah kecerdasan dan memberikan pendidikan budi pekerti.” Baca lebih lanjut

SASTRA MODERN SEBAGAI WAHANA PEMBELAJARAN MORAL DAN KARAKTER [yang terpinggirkan dalam Kurikulum 2013]

(Prof. Dr. Djoko Saryono, M. Pd.)

Abstrak: Makalah ringkas ini memaparkan fungsi sastra sebagai wahana, wadah, dan wahana pembelajaran moral dan karakter. Meskipun bukan merupakan kitab moral dan karakter, cipta sastra relatif fungsional dan baik sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter.  Sikap hati-hati dan cermat serta proporsional sangat diperlukan pada waktu memfungsikan sastra sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter.  Hal tersebut dimaksudkan agar hakikat cipta sastra sebagai karya seni tidak tereduksi menjadi kitab moral dan karakter di samping agar harapan yang berlebihan tidak ditumpukan kepada sastra sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter. Dengan sikap hati-hati, dan proporsional, maka sastra niscaya dapat menjadi pintu masuk memberikan pengalaman etis dan moral bagi para pelajar. Lebih lanjut, hal ini mengimplikasikan bahwa sastra dapat diharapkan sebagai salah satu wahana penanaman moral dan karakter kepada pelajar. Sayang, hal ini dilupakan atau minimal dipinggirkan dalam Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.

Kata kunci: cipta sastra, media, pembelajaran, etika, dan moral

Baca lebih lanjut

TOKOH TEORI RESEPSI SASTRA

1.  Michael Riffaterre (Kompetensi Sastra)

Michael Riffaterre mengembangkan teorinya dalam Semiotics of Peotry (1978). Sepaham dengan kamu Formalis Rusia dalam memandang puisi sebagai sebuah penggunaan bahasa yang khusus. Bahasa umum itu praktis dan dipergunakan untuk menunjuk sesuatu jenis “kenyataan”, sedangkan bahasa puitik berpusat pada pesan sebagai suatu tujuan dirinya sendiri.

Riffaterre berpendapat bahwa pembaca yang berkompeten melampaui arti permukaan. Jika kita memandang sajak sebagai seutas tali, pernyataan kita membatasi perhatian kita kepada “arti”-nya, yang sesungguhnya apa yang dikatakan itu untuk menggambarkan satuan-satuan informasi. Jika kita hanya memperhatikan arti sebuah puisi, kita mereduksinya menjadi seutas tali rangkaian yang tak berhubungan (mungkin tanpa arti).

Baca lebih lanjut

SEBUAH PILIHAN: Menjadi Guru Super, Excellent, atau Good

LouAnne Johnson (2009) membagi kategori guru menjadi tiga rasa dasar, super, excellent, dan good. Memilih menjadi salah satu di antaranya dipengaruhi oleh kekuatan personal, hubungan pertemanan, tujuan profesional, dan prioritas individu seseorang.

Mengajar dengan super membutuhkan energi fisik, emosi, dan mental yang sangat tinggi. Guru-guru super biasanya tiba di sekolah lebih awal dan pulang paling akhir. Mereka juga menghadiri seminar dan melanjutkan pendidikan, sukarelawan bagi kegiatan murid, memberikan diri mereka bagi murid-murid yang membutuhkan bantuan ekstra di dalam maupun di luar kelas. Karena guru super menikmati hubungan yang solid dengan muridnya, maka tidak harus berfokus pada berapa banyak waktu atau energi untuk menerapkan disiplin di kelas-kelas mereka.

Baca lebih lanjut