A.    Latar belakang

Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan negara yang sangat urgen bagi pengembangan dan kemajuan suatu bangsa dan negara. Perubahan dalam dunia pendidikan memang selalu dilakukan, baik dalam aspek kurikulum, manajemen, maupun sumberdaya.

Seiring arus global yang membawa perubahan di berbagai bidang, menghendaki adanya peran serta seluruh unsur bangsa. Pendidikan yang berperan sebagai sarana menyiapkan para peserta didik untuk mampu menghadapi perubahan dalam berbagi aspek kehidupan sekarang ini haruslah memberikan pemahaman akan hak dan kewajiban yang sama terhadap semua peserta didik, baik laki-laki maupun perempuan agar mereka mampu mengakses kesempatan yang ada seiring adanya kesempatan dan peluang untuk berperan serta.

Budaya masyarakat yang selama ini lebih memberikan kesempatan kepada pihak laki-laki dan kurang membuka diri kepada kaum perempuan, di era global ini perlu untuk dilakukan perubahan paradigma (mainset) bahwa kaum perempuan juga punya kesempatan yang sama untuk berperanserta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara.

Sampai saat ini telah teridentifikasi sejumlah isu kesenjangan gender dalam pendidikan. Antara lain kurangnya partisipasi peserta didik perempuan, angka buta huruf perempuan yang cukup tinggi, rendahnya ketrampilan perempuan dalam penguasaan teknologi, masih banyaknya kurikulum dan buku ajar yang bias jender, dan masih terdapat kesenjangan manfaat yang diperoleh dari pendidikan antara peserta didik laki-laki dan perempuan. Realitas ini semakin diperburuk oleh manajemen sekolah yang bias jender antara lain dalam hal pengambilan keputusan di tingkat sekolah, dan juga kesenjangan partisipasi orang tua murid melalui Komite Sekolah (Depdiknas, Depag, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, Managing Contractor Program Management – Australia Indonesia Basic Education Program (MCPM-AIBEP), 2008).

Perubahan pola pikir (mainset) masyarakat akan lebih mudah dicapai melalui proses yang terencana, terprogram, dan terukur. Dalam hal ini, dunia pendidikan melalui kebijakan pendidikan yang berperspektif dan responsif jender yang didukung oleh pemegang kebijakan di bidang pendidikan, penyelenggara pendidikan, dan pelaksana – khususnya para pendidik, memegang peran yang sangat penting. Oleh karena itu, di samipng adanya kebijakan pendidikan yang berperspektif dan responsif jender, perencanaan, proses, dan evaluasi yang dilakukan juga harus responsif jender. Para guru sebagai agen pembelajaran dan pendidikan juga harus mampu mengintegrasikan jender ke dalam perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran dan pendidikan.

Buku Panduan Penyusunan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP tahun 2006  mensyaratkan bahwa “Kurikulum harus diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan  mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan gender” (BSNP, 2006). Kebutuhan untuk mengubah kurikulum dan bahan ajar agar menjadi lebih peka gender dinilai sangat mahal dan memerlukan waktu lama. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya terobosan untuk mengurangi bias jender dalam materi dan proses pembelajaran pelajaran di berbagai tingkatan pendidikan, baik formal maupun non formal.

Pada kenyataannya, pengembangan KTSP yang dilakukan oleh satuan pendidikan masih belum mengakomodir upaya mendorong tumbuh kembangnya keadilan dan kesetaraan gender. Hal ini terlihat pada KTSP dokumen II, yang meliputi dokumen silabus dan RPP. Berdasarkan pengalaman penulis mendampingi satuan pendidikan dalam mengembangkan KTSP, hampir semua satuan pendidikan belum mengembangkan silabus maupun RPP yang mencantumkan secara tersurat upaya mengarusutamakan keadilan dan kesetaraan jender.

Dengan KTSP yang demikian, sudah pasti pada tahapan pelaksanaan pembelajaran, upaya untuk menumbuhkembangkan keadilan dan kesetaraan jender tidak tercapai secara optimal. Tidak mengherankan jika masih ditemukan proses belajar mengajar yang tidak menumbuhkan peran yang seimbang antara siswa putra dan putri, tidak terkecuali pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Mata pelajaran bahasa Indonesia sebenarnya merupakan lahan subur bagi upaya pengarusutamaan kesetaraan jender. Melalui aspek keterampilan membaca, berbicara, menyimak, dan menulis baik pada kemampuan berbahasa maupun bersastra; seorang guru dapat mengeksplorasi pembelajaran yang responsif jender. Tentunya, kemampuan guru dalam mengembangkan silabus, RPP, dan pemilihan bahan ajar harus baik dan bermutu.

B.     Konsep Gender

Kata jender berbeda dengan kata seks, meskipun secara bahasa keduanya mempunyai makna yang sama, yaitu jenis kelamin. Menurut M. Siddiq al-Jawi, konsep seks adalah suatu sifat yang kodrati (given), alami, di bawa sejak lahir dan tidak bisa diubah-ubah. Konsep seks hanya berhubungan dengan jenis kelamin dan fungsi-fungsinya saja, misalnya perempuan bisa hamil, melahirkan, menyusui, sementara laki-laki tidak (Hidayatullah, Juli, 2005).

Konsep jender, bukanlah sifat yang kodrati atau alami, tetapi merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural yang telah berproses sepanjang sejarah manusia. Misalnya, bahwa perempuan itu lembut, cantik, emosional, hanya cocok mengambil peran domestik, sementara laki-laki itu kuat, rasional, layak berperan di sektor publik.

Jadi, perbedaan antara konsep seks dan jender adalah bahwa yang pertama berkaitan erat dengan ciri-ciri biologis dan fisik tertentu, sementara identitas jender lebih banyak dibentuk oleh persepsi sosial dan budaya tentang citra baku (stereotip) perempuan dan laki-laki dalam masyarakat.

C.    Kepekaan Gender

Kepekaan jender adalah kemampuan untuk mengenal ketimpangan jender. Yang pada hakikatnya adalah pembedaan-pembedaan dan ketidakseimbangan antara posisi dan peran laki-laki dengan perempuan. Hal ini disebabkan adanya penilaian yang lebih tinggi terhadap salah satu jenis kelamin dalam suatu kelompok masyarakat. Untuk mengenali adanya ketimpangan jender, maka seseorang harus peka jender. Dengan mengetahui kesenjangan jender, kita akan mampu mencari solusi pemecahannya, membangun kembali pola pikir serta perilaku bias jender, sehingga kesenjangan jender dapat diminimalisir.

Setiap orang di manapun mereka berada dapat menjadi agen untuk meminimalisir kesenjangan jender yang terjadi di masyarakat, termasuk pendidik dan sekolah. Oleh karena itu, pendidik dan sekolah mengemban tugas membentuk kepekaan jender kepada siswa didiknya melalui penanaman konsep jender pada siswa. Penanaman konsep jender dapat dilakukan melalui pembelajaran di kelas, pendidik yang selalu menjadi model bagi siswa. Untuk itu, pendidik harus mampu menciptakan kondisi yang ideal bagi perkembangan sosial awal peserta didik. Sebagai model, pendidik mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya membentuk sikap dan perilaku peserta didik.

D.    Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Bahasa Indonesia SMP yang Mengintegrasikan Kesetaraan Gender

Berdasarkan panduan yang diterbitkan BSNP, pengembangan silabus harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Ilmiah, yaitu keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan  dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
  2. Relevan, yaitu cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
  3. Sistematis, yaitu komponen-komponen silabus  saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
  4. Konsisten, yaitu adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.
  5. Memadai, yaitu cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
  6. Aktual dan Kontekstual, yaitu cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
  7. Fleksibel, yaitu keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
  8. Menyeluruh, yaitu komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

Silabus mata pelajaran bahasa Indonesia SMP memuat kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang diperinci ke dalam empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Jumlah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap kelas, sebagai berikut:

Kelas

Semester

Standar Kompetensi

Kompetensi dasar

VII

1

8

18

2

8

17

VIII

1

8

18

2

8

19

IX

1

8

17

2

8

18

Pengintegrasian kesetaraan jender dapat dilakukan pada paparan kegiatan pembelajaran yang tercantum di silabus. Perlu dituliskan secara jelas kegiatan yang menggambarkan proses pembelajaran yang memperhatikan keseimbangan peran siswa putra dan putri. Misalnya, kompetensi dasar Menanggapi unsur pementasan naskah drama, kelas VIII semester 1. Pada kolom Kegiatan Pembelajaran dapat diuraikan sebagai berikut:

–          Siswa dikelompokkan  dengan memperhatikan keseimbangan jumlah antara siswa laki-laki dengan perempuan.

–          Siswa mendengarkan/menonton pementasan drama (model).

–          Siswa mendiskusikan unsur-unsur drama dengan memperhatikan peran tokoh laki-laki dan perempuan.

–          Siswa menanggapi dengan cara memberi pendapat, kritik maupun saran.

Untuk memaksimalkan pencapaian maksud pengintegrasian kesetaraan jender dalam contoh pembelajaran di atas, sudah barang pasti peran guru dalam memilih bahan ajar berupa model drama sangat penting. Guru harus membuat rekaman drama yang memunculkan permasalah yang bisa memicu diskusi siswa tentang peran laki-laki dan perempuan. Jika perlu, guru membuat sendiri naskah dramanya.

Contoh lainnya:

Silabus

Sekolah : SMP / MTs
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : IX/1
Standar Kompetensi : Mendengarkan
1. Memahami wacana lisan  melalui kegiatan mendengarkan berita

Kompe-tensi Dasar

Materi Pokok

Kegiatan Pembela-jaran

Indikator

Penilaian

Alo-kasi Waktu

Sum-ber Bela-jar

Jenis

Ben-tuk

Contoh Instrumen

1.1 Menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi/siaran radio Penyimpulan dialog interaktif dengan tema Gender
  • o Mendengarkan rekaman atau tayangan/siaran dialog interaktif dengan berkelompok campuran peserta didik putra-putri.
  • o Mendiskusikan pokok-pokok dialog
  • o Mendiskusikan tema dialog interaktif
  • Mendiskusikan isi dialog interaktif dengan alasan logis
  • o Menentukan tema dialog interaktif
  • o Menyimpulkan isi dialog interaktif dengan alasan yang logis
  • o Menentukan tema dialog
  • o Menyimpulkan isi dialog dengan alasan yang logis
Tes tertulis :Uraian
  • § Tentukan tema dialog interaktif yang akan diperdengarkan ini!
  • § Simpulkan isi dialog yang kamu dengar dengan juru bicara bergantian antara putra-putri !

5 X 40’

Audio tape recorder

E.     Keterampilan Mengajar Responsif Gender

Guru harus memiliki beberapa keterampilam dasar dalam melaksanakan pembelajaran, yaitu:

  1. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Permasalahan jender muncul pada komponen; (1) penggunaan media, (2) pola interaksi, (3) menimbulkan motivasi, (4) membuat kaitan, (5) meninjau kembali, dan (6) mengevaluasi.
  2. Keterampilan bertanya dasar terdapat pada komponen: (1) pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, (2) pemberian acuan, (3) pemindahan giliran, (4) penyebaran, dan (5) pemberian tuntunan.
  3. Keterampilan mengadakan variasi stimulus terdapat pada komponen: (1) variasi gaya mengajar guru dalam memusatkan perhatian, (2) variasi penggunaan media dan alat bantu pengajaran, (3) variasi pola interaksi dan kegiatan siswa.
  4. Keterampilan memberikan dorongan terhadap partisipasi siswa pada komponen pemberian penguatan verbal berupa kata maupun kalimat.

Contoh-contoh yang sering dilakukan guru tanpa disadari dalam mengajar, yang bisa berdampak kesenjangan jender, antara lain:

  1. Pada waktu memberi motivasi belajar di awal pelajaran, guru kurang memperhatikan kebiasaan siswa perempuan di mana siswa perempuan biasanya kurang dapat menyampaikan pendapat atau mendominasi pembicaraan, sehingga aktivitas di awal pelajaran di dominasi oleh siswa laki-laki.
  2. Dalam mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan membuka pelajaran beberapa kali ditujukan pada siswa tertentu saja yang mendominasi kelas yaitu siswa laki-laki.
  3. Sapaan/teguran pada siswa perempuan dan laki-laki mengarah pada pembedaan stereotipe sering dilakukan guru.
  4. Sikap malu yang ditunjukkan oleh siswa perempuan sering diabaikan oleh guru, sehingga siswa perempuan kurang berkembang rasa percaya dirinya.
  5. Pertanyaan tentang dunia teknik diajukan kepada siswa laki-laki, sedang siswa perempuan lebih banyak diberi pertanyaan pada seputar aktivitas domestik.
  6. Jenis penguatan dengan kata ‘manis’ lebih mendominasi “reinforcement” kepada siswa perempuan, sedang kata ‘bagus’ (yang berarti ganteng) diberikan kepada siswa laki-laki.
  7. Pemberian teguran seperti: siswa perempuan kok pentalitan seperti siswa laki-laki, siswa laki-laki harus dapat menjadi pemimpin sering diucapkan oleh guru.
  8. Peraga berupa gambar suasana rumah selalu dikaitkan dengan perempuan, sedang suasana pabrik, kantor selalu dikaitkan dengan laki-laki.
  9. Dalam pandangan guru masih terlihat adanya pengaruh pandangan dikotomi bahwa perempuan tidak berbakat untuk matematika, teknik. Sedang laki-laki cocok untuk menjadi perawat, sekretaris dan penari.
  10. Dalam pembagian peran yang diberikan guru dalam sandiwara kelas, siswa laki-laki mendapatkan peran pemimpin, kepala kantor, pelindung, tentara, polisi, sedang siswa perempuan mendapat peran ibu rumah tangga, tukang masak, perawat, guru, ‘pembantu’
  11. Guru cenderung mengarahkan gambar bunga kepada siswa perempuan, dan gambar robot, pistol, perang pada siswa laki-laki. (Ida Siti Herawati. 2003)

F.     Peran Buku Teks/Bahan Ajar dalam Pembentukan Pemahaman Gender

Selama ini, buku teks bahan ajar dimaknai sebagai buku pelajaran dalam mata pelajaran tertentu yang disusun untuk maksud dan tujuan instruksional. Sesuai dengan tujuannya, maka buku mempunyai peran yang sangat besar dan bermakna dalam penyampaian pesan-pesan kultur dan budaya. Buku juga berperan sangat besar dalam penanaman ideologi jender terhadap anak, oleh karena itu penyusunan wacana melalui rangkaian kalimat dan gambar yang peka jender menjadi sangat penting karena keduanya merupakan unsur yang saling menunjang dan memiliki makna yang sama pentingnya bagi peserta didik dalam mengorganisir informasi dan konsep-konsep dalam teks tersebut.

Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa gambar (ilustrasi dalam buku) ternyata menjadi media yang dapat menanamkan  ingatan yang kuat pada anak dan diterima lebih konkrit. Semakin mendalam pemahaman tentang teks belajar dan ilustrasi, semakin mendalam pemahaman dan ingatan terhadap informasi yang dipelajari. Oleh karena itu, melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi terhadap teks-teks buku ajar dan ilustrasi yang bias jender menjadi sangat penting. Berikut ini beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian para pendidik berkaitan dengan bahan ajar dan ilustrasi yang responsif jender :

  1. Bahan ajar dan alat peraga yang ditelaah dan dianalisis harus berwawasan jender, sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya ketimpangan jender atau stereotipe jender. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap upaya-upaya pencapaian keadilan dan kesetaraan jender. Bahan ajar yang berwawasan jender adalah:
  • Bahan ajar yang mengajarkan/memperlakukan/menggambarkan keadilan dan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di dalam memperoleh akses manfaat, dan partisipasi dalam berbagai segi kehidupan serta serta penguasaan terhadap sumber-sumber teknologi ilmu pengetahuan dan informasi.
  • Menggambarkan potret perempuan dan laki-laki dalam konteks budaya yang berbeda.
  • Meninggalkan stereotipe jender yang keliru.

Contoh bahan ajar yang demikian:

1)      perempuan dan laki-laki bekerja dalam bidang yang sama;

2)      keluarga gemar membaca;

3)      kerjasama yang saling membantu;

4)      alat peraga; mobil-mobilan hanya untuk anak laki-laki;

5)      boneka untuk anak perempuan.

  • Banyak terjadi kasus-kasus jender dalam bahan ajar yang mencerminkan  stereotipe jender yang masih dominan  dalam masyarakat, yang kurang memperhatikan dinamika yang hidup dalam masyarakat, misalnya

Peran Jender

1)      Peran jender di ranah domestik

a)      anak laki-laki/bapak kekantor, ibu memasak didapur;

b)      sekelompok laki-laki dewasa dan anak-anak sedang membersihkan/mencuci mobil dan sekelompok anak perempuan menata pot bunga;

c)      Bu karto menyulam, Pak Karto membaca koran;

d)     Seorang ayah sedang sibuk memperbaiki sepeda dibantu oleh anak laki-lakinya, sementara ibu sedang merapikan meja makan dibantu anak perempuan.

2)      Peran jender diranah produktif

a)      Ibu bekerja di kantor

b)      Bapak menjual ikan di pasar

3)      Peran reproduktif

a)      Ibu Hamid menjerang air dan memasak nasi

b)      Pak Hamid menyapu halaman

Nilai Jender

Nilai jender yang digambarkan dalam bahan ajar mencerminkan cerminan umum dari pandangan masyarakat yang diharapkan oleh masyarakat terhadap laki-laki dan perempuan. Seorang laki-laki diharapkan tegar, berani, nakal, kuat tenaganya sebaliknya nilai perempuan digambarkan sebagai lembut, kasih sayang, rapih dan menjadi suri teladan.

Contoh :

1)      Nilai laki-laki

Ali, Budi dan Toni terpilih menjadi wakil sekolahnya dalam lomba cerdas tangkas meskipun saingannya cukup berat, Ali dan temannya tidak merasa gentar.

2)      Nilai Perempuan

Rina merasa malu kepada teman sekelasnya, gara-gara ia tidak bisa mengerjakan soal matematika di papan tulis.

  1. Status Gender

Status dalam keluarga masyarakat dan negara, laki-laki diberi label sebagai pekerja pemimpin atau kepala keluarga, pemimpin atau kepala keluarga, pemimpin masyarakat sementara perempuan dilabeli hanya sebagai anggota, pengikut dan partisipan pasip dalam berbagai kegiatan.

Contoh :

1)      kepala sekolah atau dokter digambarkan sebagai sosok laki-laki;

2)      perawat atau guru digambarkan sebagai sosok perempuan.

Penanaman konsep idiologi jender bagi anak dapat dilakukan pada buku teks melalui penyusunan wacana yang berperpekstif jender. Gambar ilustrasi yang ada pada buku teks sangat berpengaruh pada tingkat perkembangan sosial siswa. Penggunaan gambar ilustrasi dapat meningkatkan belajar informasi verbal. Buku teks yang mencerminkan kualitas proses sosial hubungan perempuan dan laki-laki yang setara tanpa adanya tedensi muatan pesan makna yang diskriminatif dan subordinatif, maka secara tidak langsung akan menghasilkan perolehan kualitas mental si pebelajar yang akan menghargai semangat kesetaraan jender.

Oleh karena itu, setiap pendidik harus mampu untuk menelaah teks bahan ajar kemudian merekonstruksi menjadi cerita dan ilustrasi yang responsif jender. Sehingga model pendidikan peka jender bukan menjadikan “Jender dalam Pendidikan” menjadi materi tersendiri, tetapi terintegrasi di dalam setiap mata pelajaran.

G.    Simpulan

  1. Pengintegrasian kesetaraan jender dalam pengembangan KTSP olah satuan pendidikan sangat penting dilakukan guna membentuk karakter peserta didik sebagaimana termuat dalam tujuan pendidikan nasional.
  2. Pengintegrasian kesetaraan jender dapat diterapkan pada pembelajaran bahasa Indonesia SMP melalui pengembangan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, dan pelaksanaan pembelajaran.

H.    Saran

  1. Satuan pendidikan hendaknya berupaya secara maksimal mengintegrasikan kesetaraan jender dalam pengembangan KTSP.
  2. Para guru hendaknya lebih meningkatkan kompetensinya dalam mengimplementasikan pembelajaran yang responsif jender, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya.
  3. Pemerintah hendaknya memfasilitasi program pelatihan peningkatan kompetensi guru dalam implementasi pembelajaran yang responsif jender.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan, 2007. Model Pengembangan KTSP. Jakarta:

Depdiknas RI

——————-. 2007. Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas RI

Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, Dinas Pendidikan

Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, Managing Contractor Program Management – Australia Indonesia Basic Education Program (MCPM-AIBEP).2008. Modul Pembelajaran Responsif Gender.

——————-. 2008. Modul Pendidikan Responsif Gender

Majalah Hidayatullah. 2005. Melacak Akar Gerakan Feminisme. Jakarta:Yayasan

Penerbitan Pers Yayasan Hidayatullah

Iklan