Hubungan Transaksional

Malam sebenarnya belumlah larut, baru pukul 23.15. Namun hujan yang mengguyur sejak siang hingga Isya membuat banyak orang enggan ke luar rumah. Lorong jalan depan rumah yang membujur tak seberapa panjang terlihat lengang dan sunyi. Ditambah lagi, beberapa lampu penerang jalan yang di pasang di depan rumah warga mati, membuat suasana menjadi tintrim. Semua warga tampaknya terlelap dalam tidur nyenyak.

Oh, tidak! Setidaknya masih ada satu warga yang terjaga, duduk setengah bersila di atas bale bambu di teras rumah sambil sesekali menghisap Sukun klobotnya. Dialah Pakde No, yang biasa dipanggil De No, nama lengkapnya sebenarnya Umar Salam tapi entah mengapa ia dipanggil De No, sungguh tidak nyambung sama sekali.

Sebenarnya terjaganya De No bukanlah disengaja, tapi karena sedang berpikir keras untuk menemukan jawaban yang nalar atas penolakan Lik Mus (nama lengkapnya Mus Lagiono) ketika diajak bareng menghadiri kondangan salah seorang warga yang punya hajat menikahkan putrinya. Padahal jelas Lik Mus dapat undangan. Bahkan dua undangan, walimatul ursy dan resepsi. Yang membuat De No tak habis mengerti adalah alasan Lik Mus, bahwa si sohibul hajat pun dulu tidak hadir waktu diundang pada resepsi pernikahan putra Lik Mus. Hebatnya, acara resepsi Lik Mus sebetulnya telah berlangsung dua tahun lalu. Luar biasa ingatan Lik Mus ini.

Bagi De No, dasar pemikiran Lik Mus itu dianggapnya sebuah paham yang berbahaya, paham keblinger yang mesti diluruskan. Bagi De No, paham seperti itu tidak boleh tumbuh subur di lingkungannya karena tidak nalar. Karena itulah, malam itu De No berpikir keras untuk mencoba menalarinya. Dan sia-sia karena De No memang tidak memiliki referen yang memadai, setidak-tidaknya ia tidak mengikuti perkebangan zaman yang sungguh sangat pesat, menurut pak RT pemikiran De No tidak pernah di-upgrade.

Bagi Lik Mus, keputusannya untuk tidak menghadiri undangan itu adalah logis, bernalar, dan tidak merugikan orang lain. Dulu si sohibul hajat tidak mengadiri undangan Lik Mus, itu berarti Lik Mus tidak menerima sumbangan maka jika sekarang dia tidak menghadiri undangan itu, si sohibul hajat pun merasa tidak dirugikan. Begitulah nalar berpikir Lik Mus. Menurut teman saya yang pernah mengikuti diklat logika di padepokan gunung Merapi, pemikiran Lik Mus dikenal sebagai paham hubungan transaksional, atau transaksionalism.

Hubungan transaksional merupakan hubungan yang didasarkan pada perhitungan untung dan rugi, baik secara material maupun nonmaterial. Secara sederhana dapat dirumuskan, jika melakukan atau memberikan sesuatu harus mendapatkan balasan yang setara atau kalau bisa lebih.

Paham ini sebenarnya bukan barang baru. Paham ini sudah beranak pinak seiring dengan tumbuh suburnya perilaku hedonis di masyarakat. Himpitan ekonomi, tuntutan kebutuhan, sempitnya lapangan kerja, gencarnya promosi konsumtif, dan menipisnya keimanan membuat paham ini mudah bersemayam di qolbu seseorang. Jika sudah demikian, maka model-model pemikiran Lik Mus di atas bukanlah hal asing di lingkungan kita. Bahkan telah merambah ke berbagai bidang, seperti sosial, politik, hukum, pemerintahan, ekonomi, budaya, olah raga dan bahkan agama. Tidak heran jika kemudian muncul kasus Gayus, Century, politik uang, joki napi, dan banyak kasus hukum lainnya.

Ya, kegalauan De No bisa dimengerti. Karena ia tahunya memberi dan melakukan sesuatu haruslah didasari oleh keinginan untuk membantu atau menolong sesama secara ikhlas, lillahi ta’ala, jauh dari rasa pamrih. Seperti kata Pak Cik, tokoh kepala sekolah dalam film Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, yang mengajarkan kepada murid-muridnya agar berusaha dapat memberi sebanyak-banyaknya dan bukan berharap menerima sebanyak-banyaknya.

Nuwun,