Pendidikan dalam arti yang luas adalah proses pembudayaan anak untuk dibentuk sesuai potensi belajar yang dimilikinya dengan tujuan agar menjadi anggota penuh dari masyarakat yang dapat menghayati dan mengamalkan potensinya, baik secara individu maupun bersama-sama dengan anggota lainnya. Dalam arti praktis, pendidikan merupakan proses penyampaian kebudayaan atau proses pembudayaan yang bertujuan menjadikan anak memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, serta pola-pola perilaku tertentu. Mengacu pada pemahaman arti luas dan arti praktis, pendidikan itu bertujuan untuk mentransformasikan budaya, baik pendidikan di rumah tangga (keluarga), di masyarakat, maupun di sekolah, yang menunjukkan apa yang baik di masyarakat (Sagala, 2006:227).

Manusia dan masyarakat sebagai objek pendidikan dalam pertumbuhannya tidaklah berubah ketika ia berada di suatu tempat dan kemudian berada di tempat lain. Semua proses hidup yang dialaminya, baik di rumah tangga, di masyarakat atau di sekolah, akan mengisi skema dalam pikirannya. Hal itu akan mewarnai perilakunya dan pada akhirnya menjadi sistem nilai dalam hidupnya. Pengalaman ini akan membentuk dirinya sebagai anggota masyarakat yang diwujudkan dengan cara berpikir, berbicara, bergaul, menganalisis, dan lain sebagainya.

Chaplin (1989:179) mengatakan, pengalaman (experience) adalah suatu kejadian yang telah dialami, totalitas dari kesadaran sekarang, dan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari praktik atau usaha belajar. Pemahaman tentang pengalaman ini mulai dari bentuk yang sederhana, yaitu suatu kejadian yang dialami, sampai pada kompleks, yaitu hasil dari usaha belajar. Sebagian pakar menyebutkan bahwa apa yang ditampilkan oleh sekelompok masyarakat itu adalah kebudayaan sebagaimana yang dikatakan oleh A. B. Taylor, bahwa kebudayaan adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, seni, hukum, kepercayaan, moral, adat, dan apa saja kemampuan-kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Manan dalam Sagala, 2006:222). Pendapat ini dipertegas oleh Bouman yang mengemukakan bahwa kebudayaan adalah cara hidup dari suatu masyarakat (Ali, 1993).

Perilaku dan kreativitas masyarakat yang menggambarkan kebudayaan itu bukan sekadar tarian, nyanyian, cagar budaya, atau ekspresi seni lainnya, tetapi juga bagaimana cara masyarakat itu berpikir, menganalisis, mengambil keputusan, mematuhi hukum, norma, etika, yang semua itu terlihat dalam performannya sebagai akumulasi dari proses pematangan dan pendidikan di keluarga dan di masyarakat melalui jalur pendidikan formal di sekolah sebagai suatu sistem nilai (Sagala, 2006:223).

 

Pendidikan dan Pembentukan Karakter Peserta didik

Sasaran satuan pendidikan pada dasarnya adalah peserta didik sebagai bagian dari anggota masyarakat dengan suatu kriteria nilai budaya sebagaimana yang diinginkan anggota masyarakat. Pendidikan bertujuan tidak sekedar proses alih budaya atau alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga sekaligus sebagai proses alih nilai (transfer of value). Hal ini berarti bahwa pendidikan, di samping proses pertalian dan transmisi pengetahuan, juga berkenaan dengan proses perkembangan dan pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat.

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat (Suyanto, 2012). Menurut Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) (Kemdiknas, 2010).

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Selanjutnya dalam pasal 3 disebutkan bahwa, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan (Suyanto, 2012).

Menyadari pentingnya karakter, dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan dalam rangka pembentukan karakter peserta didik pada lembaga pendidikan formal (sekolah), informal (keluarga), dan nonformal (masyarakat). Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Panduan Pendidikan Karakter. Jakarta:

            Kemdiknas.

Sagala, Syaiful. 2006. Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat, Strategi

            Memenangkan Persaingan Mutu. Jakarta: PT Rakasta Samasta.

Suyanto. “Urgensi Pendidikan Karakter” sebagai makalah yang diunggah di

http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html dan diunduh pada tanggal 13 September 2012 pukul 10.39 WIB.

Iklan