Sebelum membahas perbedaan kalimat berklausa dengan kalimat tak berklausa, terlebih dahulu perlu dipahami pengertian kalimat dan klausa. Dilihat dari segi bentuknya, kalimat dapat dirumuskan sebagai konstruksi sintaksis terbesar yang terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan struktural antara kata dan kata, atau kelompok kata dan kelompok kata yang lain, berbeda-beda. Sementara itu, kedudukan tiap kata atau kelompok kata dalam kalimat itu berbeda-beda pula. Ada kata atau kelompok kata yang dapat dihilangkan dengan menghasilkan bentuk yang tetap berupa kalimat dan ada pula yang tidak (Alwi, dkk., 2000:312).

Antara “kalimat” dan “kata” terdapat dua satuan sintaksis antara, yaitu “klausa” dan “frasa”. Klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata, atau lebih, yang mengandung unsur predikasi sedangkan frasa adalah satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mengandung unsur predikasi (Alwi, dkk., 2000:213).

Kalimat dalam banyak hal tidak berbeda dengan klausa, kecuali dalam hal intonasi akhir atau tanda baca yang menjadi ciri kalimat. Baik kalimat maupun klausa merupakan konstruksi sintaksis yang mengandung unsur predikasi. Dilihat dari segi struktur internalnya, kalimat dan klausa keduanya terdiri atas unsur predikat dan subjek dengan atau tanpa objek, pelengkap, atau keterangan (Ali, dkk., 2000:313).

Perhatikan contoh berikut.

  1. Dia cantik (Subjek + Predikat)
  2. Anak itu makan kue (Subjek + Predikat + Objek)
  3. Mereka berbicara tentang politik (Subjek + Predikat + Pelengkap)
  4. Ayah ada di rumah (Subjek + Predikat + Keterangan)

Bentuk-bentuk di atas sering diacu sebagai kalimat dan juga sebagai klausa, tergantung cara memandangnya. Disebut klausa jika cara pandangnya didasarkan pada struktur internalnya, yaitu adanya subjek dan predikat (tanpa memperhatikan intonasi atau tanda baca akhir). Disebut kalimat jika kita melihat adanya unsur-unsur subjek-predikat lengkap dengan intonasi atau tanda baca akhir.

Dalam bahasa Indonesia, kalimat ada yang terdiri atas satu kata, misalnya Tadi; dua kata, Dia peragawati; tiga kata, Ia sedang belajar; empat kata, dan seterusnya. Sesungguhnya yang menentukan satuan kalimat bukanlah banyaknya kata yang menjadi unsurnya melainkan intonasinya. Setiap satuan kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik (Ramlan dan Putrayasa, 2007:20). Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru (Kridalaksana dalam Putrayasa, 2007:20).

Berdasarkan paparan tersebut, kiranya dapat dipahami bahwa kalimat yang berklausa adalah kalimat yang terdiri dari satuan yang berupa klausa. Perhatikan contoh kalimat berikut.

  1. Dia pergi pukul 6.
  2. Saya sedang mandi.
  3. Dia pergi pukul 6 ketika saya sedang mandi.

Kalimat 1, terdiri atas satu klausa, Dia pergi pukul 6, dengan struktur subjek + predikat + keterangan. Kalimat 2, terdiri atas satu klausa, Saya sedang mandi, dengan struktur subjek + predikat. Kalimat 3, terdiri atas dua klausa, yaitu Dia pergi pukul 6 dengan struktur subjek + predikat + keterangan dan Ketika saya sedang mandi dengan struktur konjungtor + subjek + predikat.

Kalimat tak berklausa ialah kalimat yang tidak terdiri dari klausa. Perhatikan contoh kalimat berikut.

  1. Cepat!
  2. Selamat malam!

Kalimat 1 dan 2, tidak dapat disebut kalimat berklausa karena tidak memenuhi unsur klausa.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Analisis Kalimat (Fungsi, Kategori, dan Peran). Bandung: PT Refika Aditama.