Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A.

(Rektor UIN Jakarta)

            Saya berharap artikel ini bisa menjadi tip bagi guru atau praktisi pendidikan. Tapi sesungguhnya juga bagi kita semua, bahwa komunikasi akan efektif kalau dilakukan dengan sepenuh hati. Artinya, hatinya penuh dengan ketulusan dan kesungguhan. Pekerjaan apapun yang tidak menyertakan hati akan terasa hambar. Hati ini di sini memiliki konotasi positif, hati yang bening sesuai dengan kodratnya.

            Bagi seorang guru, ketika datang ke sekolah setidaknya mesti memiliki tiga bekal primer. Pertama, mesti siap dengan materi yang akan diajarkan. Tanpa kesiapan dan penguasaan materi, apa yang hendak disampaikan pada siswa? Ini juga berlaku bagi seorang dosen. Terlebih ketika menghadapi siswa atau mahasiswa yang kritis, guru atau dosen yang miskin penguasaan materi pasti akan ketahuan dan menurunkan wibawanya di depan kelas. Guru atau dosen yang baik tak kalah rajin belajarnya ketimbang siswa atau mahasiswanya. Hanya saja cara belajarnya berbeda. Tapi prinsipnya, guru atau dosen yang berhenti belajar, maka dia juga harus berhenti mengajar.

            Hubungan guru-murid jauh berbeda dari hubungan antara montir dan kendaraan  rusak yang hendak diperbaiki. Sehebat-hebat dan semahal-mahal harga mobil mutakhir, tak akan mampu mengalahkan kepintaran montirnya sekalipun gajinya rendah karena mobil adalah benda mati, tidak tumbuh dan tidak berkembang. Tetapi yang dihadapi seorang guru adalah anak-anak dengan potensi besar dan bakat berbeda-beda. Anak-anak datang dengan mimpi, cita-cita besar dan membawa harapan orangtuanya untuk membangun masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu seorang guru, termasuk orangtua, mesti menjadi pendengar dan pemerhati yang baik bagi anak-anak. Mesti selalu menambah wawasan tentang perkembangan psikologi anak dan berbagai temuan metode yang baru dan cocok untuk diterapkan pada anak-anak.

            Bekal kedua bagi seorang guru ketika masuk kelas adalah ketrampilan menerapkan metode pembalajaran yang tepat, efektif dan menyenangkan. Saya sendiri punya pengalaman, pernah memperoleh seorang dosen yang ilmunya dalam dan luas dalam mata kuliah yang dipegang, tetapi mengajarnya kurang efektif. Tidak menarik dan tidak efisien. Miskin dalam aspek metodenya. Jadi guru yang baik bukan saja yang menguasai materi ajar, tak kalah pentingnya adalah metode pengajarannya sehingga anak-anak akan senang menerimanya.

            Dalam sebuah penelitian psikologi pembelajaran disebutkan, jika suasana belajar menyenangkan maka daya serap anak akan meningkat, bahkan berlipat. Coba saja perhatikan, belajar bahasa sambil menyanyi hasilnya akan lebih baik ketimbang model hafalan yang menjemukan. Ini berlaku terutama bagi anak-anak. Anak-anak biasanya lebih cepat pintar diajar guru privat-professional ketimbang diajar orangtua sendiri yang mudah  marah-marah tidak sabaran. Dalam suasana bosan dan tegang, otak akan menciut, daya serapnya sedikit.

            Berdasarkan prinsip di atas maka terkenal konsep joyful learning. Sebuah pembelajaran yang menyenangkan, tetapi bukan berarti santai, tidak serius. Yang ditekankan adalah metodenya menyenangkan agar materi yang telah disiapkan terserap secara optimal.  Sejalan dengan konsep ini ruang kelas pun hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga terrasa indah dan nyaman. Ruang kelas yang semrawut dan  warna cat temboknya kusam akan mempengaruhi pikiran dan hati siswa juga ikut semrawut.

            Bekal ketiga, di samping penguasaan materi dan metode, adalah kesiapan mental berupa cinta pada anak-anak. Seorang guru yang baik ketika masuk ruang kelas mesti dengan hati. Dengan energi dan vibrasi cinta pada anak-anak. Mengajar tanpa hati akan terasa hambar. Anak-anak pun tidak akan mendengarkan dengan hati. Kita semua pasti punya pengalaman, guru-guru yang mengajar dengan hati pasti kesannya akan lebih mendalam sekalipun telah berlalu puluhan tahun.

            Oleh karena itu pandai-pandailah mengatur dan menjaga hati. Ketika dari rumah atau di jalanan muncul rasa kesal, misalnya, maka ketika kaki menginjak halaman sekolah mesti mampu menata hati agar rasa kesal itu tidak terbawa masuk ruangan kelas. Mengajar dengan hati kesal pengaruhnya akan dirasakan langsung oleh anak-anak. Akan dirasakan oleh teman-teman sejawat. Pengaruhnya akan terlihat pada airmukanya, pada tutur katanya dan pada perilakunya yang ujungnya proses dan suasana pembelajaran tidak efektif.  Oleh karena itu penting sekali seorang guru memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dan psikologi komunikasi. Bahwa dalam komunikasi yang berlangsung tidak sekedar tukar-menukar kata dan ide tetapi faktor emosi akan sangat mempengaruhi.

The Best Among the Worst

            Kultur politik Indonesia persis tercermin dalam lomba panjat pohon pinang yang amat digemari rakyat tiap memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Di sana tak ada pemenang sejati, karena konsep kemenangan hanyalah akibat kejatuhan yang lain dan itu pun dengan cara menginjak sesama teman sendiri.

            Selama kultur semacam itu masih dipertahankan, selama itu pula prestasi politik bangsa tidak akan pernah meningkat, bahkan menurun. Di sana tersedia batang pinang yang licin dan tidak begitu tinggi ukurannya, namun peserta lomba yang terdiri dari beberapa kelompok amat sulit mencapai puncaknya. Berulang kali tiap kelompok berjuang memanjatnya untuk meraih hadiah yang telah digantung di pucuk batang. Tak ada pemenang yang berhasil tanpa pernah gagal, badan kotor, jatuh, bahkan ada yang terkilir. Sementara itu penonton bertepuk tangan.

            Dari segi pendidikan mental permainan itu cukup bagus untuk melatih apa yang disebut adversity quotient (AQ), yaitu daya juang untuk meraih sukses yang memiliki moto: how to make a challenge becomes opportunity. Namun, bila model lomba itu dipraktikkan dalam politik Indonesia, sungguh amat menyayat nurani. Sepertinya kultur politik di Indonesia sudah macam lomba panjat pinang, yaitu sebuah perebutan dan persaingan antarkelompok partai politik untuk meraih posisi puncak, dan tidak pernah menghasilkan pemanjat sejati.

            Kelompok yang menang semata hanya diuntungkan kelompok lain yang sudah lelah dan jatuh. Mental demikian berbeda dari mental pendaki gunung (climber) yang berjuang menaklukkan puncaknya yang tinggi, tidak sependek pohon pinang. Tragisnya, dalam lomba panjat pinang kelompok yang meraih kemenangan adakalanya berebut hadiah. Persis partai-partai pemenang pemilu yang berhasil masuk kabinet lalu berebut departemen yang dikategorikan “basah”.

            Implikasinya, karir sebagai penguasa dijalani sebagai pengusaha. Karenanya, yang kemudian dipertengkarkan adalah bagaimana membagi BUMN di antara partai politik yang duduk di kabinet. Konsep demokrasi untuk kesejahteraan rakyat berganti menjadi  kleptokrasi untuk memperkaya diri dan partainya.

            Mungkin sekali mental kita yang selalu ingin mencuri dipengaruhi proses pendidikan yang salah sejak kecil. Menurut teori psikologi kognitif, apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang, merupakan resultante dari berbagai informasi yang diterima yang berlangsung berulang-ulang. Dengan demikian apa yang sering dilihat dan didengar sejak kecil pada urutannya akan membentuk karakter seseorang. Dalam konteks ini, kita pantas merenung ulang berbagai tradisi yang berperan membentuk karakter bangsa. Tidak saja menggemari lomba panjat pinang, sejak kecil anak-anak sekolah sudah diracuni dongeng Kancil Mencuri Ketimun. Kancil digambarkan sebagai hewan yang cerdas, lincah, dan licik, amat pintar mencuri dan menipu, dan selalu lihai berkelit dari hukuman. Karena itu, di mata anak-anak kancil merupakan sosok menarik dan dikagumi. Proses sosialisasi dan internalisasi nilai “kancil” ini pada urutannya membentuk persepsi bahwa mencuri itu seni dan kepintaran yang merupakan keunggulan seseorang.

            Kalau analisis psikologis ini benar, maka wajar para pemimpin bangsa ini banyak yang senang mencuri, bahkan merasa bangga jika berhasil dan pandai berkelit seperti kancil dalam cerita itu. Karena itu, perlu dipertimbangkan untuk mengubur dongeng bagi kanak-kanak “kancil sang pencuri” yang dulu kira-kira dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian dan kecerdikan kaum pribumi (yang lemah, kecil) melawan penjajah (yang jauh lebih kuat, berkuasa).

            Kebusukan politik sudah begitu akut sehingga perilaku politisi kita tak ubahnya seperti kepiting. Apa yang khas dari kepiting? Jika Anda berhasil menangkap banyak kepiting lalu ditaruh di dalam panci atau keranjang tak usah khawatir kepiting tak akan pergi meski tidak ditutup. Jika ada kepiting dalam keranjang yang hendak keluar memisahkan diri, kepiting lain akan menyeret dan menahannya dari belakang. Perilaku saling menyandera dan menjegal juga terlihat dalam panggung politik kita. Jadi “politisi kepiting” akan bersemboyan “Kalau korupsi partaiku terbongkar, maka korupsi yang dilakukan partai lain juga harus terbongkar.”

            Tentu saja saya tidak sampai hati dan tidak punya bukti administratif untuk mengatakan, teman-teman saya bagai “politisi kepiting” yang solider dalam hal korupsi. Atau menyebut mereka bagai kancil yang cerdik, namun suka mencuri. Tidak juga tega memberi predikat politisi kita sebagai rombongan pemanjat pohon pinang yang memperoleh kemenangan setelah diri dan kawannya babak belur dan seluruh badan kotor.  Tapi rasanya tidak berlebihan, siapapun yang menang dalam persaingan politik saat ini bukan karena pada dasarnya mereka baik secara otentik, tetapi karena yang lain jauh lebih buruk. The best among the worst.

Agama dan Etika Publik

Bagi kritikus dan sekaligus pembela teori modernisasi seperti Jurgen Habermas, kehadiran agama dalam wacana publik akan menghalangi diskursus yang diharapkan berlangsung secara rasional, sejajar, dan masing-masing individu memiliki kebebasan atau otonomi berekspresi. Otonomi dan kebebasan serta kesejajaran adalah mantra dalam masyarakat modern untuk menciptakan relasi sosial yang egaliter dan saling menghargai hak asasi masing-masing warga negara demi menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera. Dalam negara dan masyarakat modern, agama dianggap tidak cocok masuk ke wilayah politik dan publik. Salah satu alasan kemunculan negara modern di Eropa bahkan didorong oleh konflik antarpemeluk agama yang berdarah-darah pada abad ke-17.

Negara modern dan sekuler lahir untuk menyelesaikan konflik antarkomunitas pemeluk agama yang masing-masing cenderung eksklusif, sulit melakukan dialog secara transparan dan sejajar.Yang satu merasa lebih benar dan lebih dekat pada Tuhan ketimbang yang lain. Paradigma modernisasi sebagai anak kandung abad pencerahan itu telah mengubah wajah dunia, namun berbagai harapan, janji, dan prediksi yang ditawarkan ternyata meleset. Secara teknis hidup memang menjadi jauh lebih nyaman dan mudah.

Produk-produk teknologi modern telah memanjakan hidup, namun juga merusak ekologi alam dan sosial. Tokoh-tokoh pendukung negara modern mengutuk konflik dan perang antaragama yang berdarah- darah yang diwariskan lintas generasi lalu ditawarkan sebuah solusi berupa ideologi sekularisme-humanisme. Namun sangat ironis ternyata negara sekuler sangat kritis terhadap perang agama, juga telah mengobarkan perang dunia pertama dan kedua yang tak kalah sengitnya daripada perang agama sebelumnya. Masuk abad-21 ini peran agama kembali menguat, masuk ke ranah publik dan politik.

Agama memberikan nilai, makna, dan arah kehidupan, lalu sistem pemerintahan mengatur relasi kehidupan warganya. Problemnya adalah bagaimana agar keduanya tidak saling menindas dan menegasikan. Negara memerlukan agama dan agama memerlukan negara. Pengalaman di Barat, dunia Arab dan Indonesia sangat jelas, agama memiliki andil besar bagi kelahiran negara dan peradaban. Dengan demikian sangat naif jika negara tidak memberi apresiasi dan wadah agama sebagai kekuatan moral dan acuan hidup warganya untuk meraih hidup bermakna.

Dengan banyaknya parpol yang mengusung semangat keagamaan, para politisi yang ingin merebut kekuasaan puncak tentu saja sangat berkepentingan untuk meraih dan memberi akomodasi tokoh-tokoh agama dalam jabatan politik pemerintahan dan legislatif. Mengapa? Karena tokoh-tokoh agama itu memiliki massa. Dalam era demokrasi, suara menjadi barang komoditas politik yang diperebutkan. Makanya tokoh-tokoh agama memiliki posisi tawar tinggi (bargaining power), sehingga para politisi tidak segan membeli dengan uang maupun konsesi jabatan struktural bagi mereka.

Termasuk juga pada kalangan selebritis. Praktik politik di atas membawa implikasi yang sangat jauh bagi penegakan etika publik dan profesionalitas penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintah dalam membuat kebijakan lalu dipengaruhi dan dibayangi oleh kepentingan komunal yang merasa telah diberi konsesi oleh pemenang pemilu. Lebih jauh lagi, aspirasi dan tokoh komunal keagamaan tidak selalu sejalan dengan prinsip dan rasionalitas penyelenggaraan negara modern. Atau bahkan tokoh-tokoh agama itu ketika duduk dalam jabatan publik tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan standar yang diperlukan. Situasi demikian mesti dipecahkan agar agenda pembangunan negara (state building) tidak terganjal dan aset bangsa serta negara menguap tidak produktif. Secara teoritis Pancasila merupakan ijtihad filosofis, teologis, dan politis sangat cemerlang yang diwariskan oleh bapak-bapak pendiri bangsa. Dalam ideologi Pancasila aspirasi agama dan agenda negara modern diintegrasikan.

Agama menyuplai nilai-nilai transenden dan humanis sebagai acuan hidup setiap warga negara, lalu negara yang memiliki kewajiban dan mandat untuk mengatur kehidupan publik. Sayangnya, Pancasila belum dihayati dan dikawal sebagai paradigma peradaban yang dijabarkan setiap silanya oleh UUD dan berbagai peraturan pemerintah menjadi garis besar serta garis kecil haluan dan agenda pembangunan bangsa.

Dalam konteks ini peran polisi menjadi sangat strategis mewakili negara untuk mengatur warganya serta memberi rasa aman, jangan sampai diambil alih atau disaingi oleh kelompok-kelompok komunal keagamaan maupun etnis-kedaerahan.

*Makalah disampaikan pada Studium General PPs Universitas Negeri semarang (UNNES), pada hari Sabtu, 15 September 2012