Tag

,

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Kritik terhadap dunia pendidikan yang mengemuka akhir-akhir ini adalah  pendidikan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, tidak sedikit yang menyebut bahwa pendidikan telah gagal karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang cerdas tetapi bermental dan bermoral lemah. Maraknya tindak kekerasan antar-pelajar, antar-mahasiswa, pelajar dengan mahasiswa maupun pelajar-mahasiswa dengan masyarakat yang sering terjadi memperkuat pendapat tersebut. Selain itu, persoalan-persoalan korupsi, kejahatan seksual, perusakan, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif, perilaku individualis yang menjadi sorotan tajam masyarakat semakin mempertegas sinyalemen kegagalan pendidikan dalam membentuk manusia Indonesia yang berkarakter itu.

Kritik lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah mulai lunturnya semangat kebangsaan. Semangat ke-Bhineka Tunggal Ika-an bangsa Indonesia akhir-akhir ini berada di titik nadir. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultur adalah sebuah fakta. Puluhan suku bangsa, etnis, ras, dan beragamnya agama masyarakat Indonesia dengan berbagai latar belakangnya membawa konsekuensi tersendiri dalam berbangsa dan bermasyarakat.

Multikulturalisme dan karakter bangsa tampaknya berkait erat. Merosotnya karakter bangsa berdampak pada menipisnya semangat kebersamaan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultural. Terkikisnya semangat saling menghargai antar-suku bangsa, etnis, ras, dan antar-pemeluk agama saat ini adalah salah satu indikator bahwa pembentukan manusia Indonesia yang multikultur berkarakter belum berhasil.

Prof. Dr. Farida Hanum, M. Si. dalam makalahnya yang berjudul Pendidikan Multikultural Sebagai Sarana Pembentuk Karakter Bangsa, mengutip pendapat Hasyim Djalal, menyatakan bahwa ada tiga tiang utama jati diri bangsa Indonesia yang tidak boleh digerogoti dengan cara apapun. Pertama, Indonesia sebagai suatu kebangsaan. Hal ini telah dicapai sejak Sumpah Pemuda tahun 1928, yang meneguhkan Indonesia adalah satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Kedua, Indonesia adalah suatu negara yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, ini berarti  manusia-manusia Indonesia telah menyatakan diri hidup dalam satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketiga, Indonesia adalah satu kewilayahan, dalam arti bahwa orang-orang Indonesia telah menjadi satu bangsa yang tinggal di suatu kesatuan wilayah yang meliputi darat, laut, udara, dan kekayaan alam (Hanum, 2009).

Konsep ini haruslah menjadi dasar pijak pendidikan nasional. Pendidikan nasional dikembangkan dengan prinsip menghargai dan memberi ruang perbedaan-perbedaan di masing-masing daerah dan lembaga pendidikan. Meski demikian, segala perbedaan budaya lembaga pendidikan haruslah diikat oleh pembentukan pola pikir, tindakan, dan karakter yang mencerminkan manusia Indonesia.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Selanjutnya dalam pasal 3 disebutkan bahwa, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan pendidikan karakter mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi. Menurut Mendikbud, Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk usia dini, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang (Husaini, 2010:1).

Pendidikan dalam arti yang luas adalah proses pembudayaan anak untuk dibentuk sesuai potensi belajar yang dimilikinya dengan tujuan agar menjadi anggota penuh dari masyarakat yang dapat menghayati dan mengamalkan potensinya, baik secara individu maupun bersama-sama dengan anggota lainnya. Dalam arti praktis, pendidikan merupakan proses penyampaian kebudayaan atau proses pembudayaan yang bertujuan menjadikan anak memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, serta pola-pola perilaku tertentu. Mengacu pada pemahaman arti luas dan arti praktis, pendidikan itu bertujuan untuk mentransformasikan budaya, baik pendidikan di rumah tangga (keluarga), di masyarakat, maupun di sekolah, yang menunjukkan apa yang baik di masyarakat (Sagala, 2006:227).

Paparan di muka menunjukkan bahwa betapa pentingnya pendidikan dalam membentuk karakter manusia Indonesia yang multikultural. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pengembangan model pendidikan karakter yang berbasis multikultural.  Pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural sangat urgen dilakukan mengingat akhir-akhir ini ditengarai terjadi pengikisan karakter manusia Indonesia yang memiliki kultur yang beragam.

B.     Rumusan Masalah

Relevan dengan paparan pada latar belakang di muka, makalah ini merumuskan masalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural?
  2. Bagaimanakah peran guru dalam pengembangan model pendidikan karakter aberbasis multikultural?

C.    Tujuan Penulisan

  1. Mendeskripsikan pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural.
  2. Mendeskripsikan peran guru dalam pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural.

BAB II

LANDASAN TEORETIS

A.    Pendidikan Karakter

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat(Suyanto, 2012).

Menurut Musfiroh, karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) (Kemdiknas, 2010:12).

Secara terminologi (istilah), karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti sehingga karakter bangsa sama dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa (Fitri, 2012:20).

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif (Suyanto, 2012).

Terdapat sejumlah nilai budaya yang dapat dijadikan karakter, yaitu ketakwaan, kearifan, keadilan, kesetaraan, harga diri, percaya diri, harmoni, kemandirian, kepedulian, kerukunan, ketabahan, kreativitas, kompetitif, kerja keras, keuletan, kehormatan, kedisiplinan, dan keteladanan (Fitri, 2012:21).

Untuk mewujudkan karakter-karakter itu tidaklah mudah. Karakter yang berarti mengukir hingga terbentuk pola itu memerlukan proses panjang melalui pendidikan. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Menurut T. Ramli, yang dikutip Kemdiknas, pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang  banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda (Kemdiknas, 2010:13).

Pendidikan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang positif, berakhlak karimah, berjiwa luhur, dan bertanggung jawab. Dalam konteks pendidikan, pendidikan karakter adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi yang positif dan berakhlak karimah sesuai standar kompetensi lulusan (SKL) sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (Fitri, 2012:22).

B.     Pendidikan Multikultural

Sariban dalam makalahnya yang berjudul Pendidikan Multikultural Pembentuk Karakter Keindonesiaan menyatakan bahwa, wacana pendidikan multikultural di Indonesia telah bergaung sejak tahun 2000. Suseno mendefinisikan pendidikan pluralisme sebagai pendidikan yang mengandaikan kita untuk membuka visi pada cakrawala yang lebih luas serta mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita,  sehingga kita mampu melihat ‘kemanusiaan’ sebagai sebuah keluarga yang memiliki perbedaan maupun kesamaan cita-cita. Muaranya adalah terbangunnya nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas (Sariban, 2012).

Wacana pentingnya pendidikan multikultural di indonesia yang digemakan melalui berbagai seminar, simposium, maupun media massa dilatarbelakangi oleh fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak persoalan tentang eksistensi sosial, etnik, dan kelompok keagamaan yang beragam. Persoalan tersebut disebabkan oleh adanya upaya penyeragaman dalam berbagai aspek kehidupan yang dilakukan oleh pemerintah pada masa Orde Baru. Selama Orde baru berkuasa, pemerintah mengabaikan perbedaan yang ada, baik dari segi suku, bahasa, agama, maupun  budayanya (Aly, 2011:98).

Kondisi Indonesia yang multikultural sekaligus multietnis menuntuk sekolah untuk mampu mendobrak enkapsulasi etnis dan penyekat soaial budaya lainnya. Selain itu sekolah diharapkan dapat mengembangkan siswa agar menjadi makhluk yang melek-etnik (ethnic literacy) dan melek kebinekaan budaya. Kebinekaan budaya yang ada dilahirkan oleh berbagai aspek kehidupan, seperti agama, suku, keturunan, kondisi sosial ekonomi, dan tahapan kekuasaan (Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II, 1994:119-120).

BAB III

PEMBAHASAN

A.    Pengembangan Model Pendidikan Karakter Berbasis Multikultural

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, model adalah pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Model pendidikan karakter berbasis multikultural berarti pola atau acuan yang menjelaskan implementasi pendidikan karakter yang berbasis multikultural di sekolah.

Wuryanano (2011:22) menyatakan bahwa karakter dapat dibentuk melalui tahapan pembentukan pola pikir, sikap, tindakan, dan pembiasaan. Karakter merupakan nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum atau konstitusi, adat istiadat, dan estetika. Jika dikaitkan dengan pendidikan, pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.

Dalam rumusan lain dapat didefinisikan bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku atau karakter kepada warga belajar yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Mahaesa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil. Definisi tersebut mengamanatkan bahwa dengan segala perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia, pendidikan di Indonesia bertujuan menjadikan  warga belajar memiliki empat karakter pokok: manusia beragama, manusia sebagai pribadi, manusia sosial, dan manusia sebagai warga bangsa.

Berdasarkan empat karakter pokok tersebut dalam praktik pendidikan di Indonesia, lembaga pendidikan diharapkan mengembangkan pembiasaan berpikir dan bertindak dengan berfokus delapan belas nilai kehidupan. Penanaman nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik. Kedelapan belas karakter tersebut adalah sebagai berikut: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Sariban, 2012).

Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (affective and creativity development) (Kemdiknas, 2010:6).

Nilai-nilai pembentuk karakter yang harus dikembangkan di setiap lembaga pendidikan tersebut pada dasarnya merupakan pembentuk karakter insan kamil secara universal. Di tengah keragaman bangsa-bangsa di dunia, manusia Indonesia haruslah memiliki karakter ke-Indonesiaan. Inilah sebagai penanda bangsa Indonesia yang memiliki identitas diri yang berbeda dengan bangsa lain.

B.     Prinsip-Prinsip Pengembangan Model Pendidikan Karakter Berbasis Multikultural

Pengimplementasian pendidikan karakter berbasis multikultural di sekolah memerlukan strategi yang tepat, efektif, dan partisipatif melibatkan seluruh komponen pendidikan. Ketepatan pemilihan strategi akan memberikan hasil yang optimal dalam membentuk peserta didik yang berkarakter. Dengan demikian upaya pengembangan model-model pendidikan karakter sebagai sebuah strategi pengimplementasian pendidikan karakter berbasis multikultural sangat penting dilakukan.

Pengembangan model pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan karakter sebagai berikut.

  1. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter.
  2. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku.
  3. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter.
  4. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian.
  5. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik.
  6. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses.
  7. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada para peserta didik.
  8. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama.
  9. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter.
  10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter.
  11. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter posisitf dalam kehidupan peserta didik (Kemdiknas, 2010:23).

Pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural hendaklah menerapkan prinsip integratif, kompak, dan konsisten. Pengembangan model yang demikian memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, integratif yaitu mengintegrasikan pendidikan karakter berbasis multikultural ke dalam seluruh kegiatan di sekolah, baik kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, maupun pengembangan diri. Selain itu, mengintegrasikan pula pendidikan karakter berbasis multikultural ke dalam perencanaan program, pelaksanaan, dan evaluasi. Dengan demikian seluruh kegiatan sekolah, mulai dari proses pembelajaran seluruh mata pelajaran di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri yang dilakukan di luar kelas, senantiasa diwarnai oleh pendidikan karakter berbasis multikultural.

Kedua, kompak yaitu seluruh komponen pendidikan di sekolah, termasuk orang tua siswa, memiliki pandangan dan langkah yang kompak dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis multikultural. Komponen pendidikan yang memiliki andil besar dalam penerapan pendidikan karakter antara lain: pendidik, kepala sekolah, tenaga kependidikan, komite sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat. Kekompakan dapat diwujudkan manakala jalinan komunikasi antar-komponen tersebut berlangsung secara baik dan konstruktif.

Ketiga, konsisten yaitu seluruh komponen pendidikan memiliki sikap yang konsisten dalam menerapkan pendidikan karakter berbasis multikultural di sekolah. Perlakuan sekaligus penghargaan yang sama terhadap seluruh siswa tanpa memandang perbedaan status sosial, etnis, agama, dan suku harus secara konsisten diterapkan.

Tiga ciri tersebut bersimultan saling melengkapi untuk mewujudkan pendidikan karakter berbasis multikultural dengan memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan karakter berbasis multikultural ke-Indonesiaan.

Pertama, pendidikan karakter berbasis multikultural sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Prinsip ini menekankan bahwa pendidikan karakter berbasis multikultural harus dimulai dari pengenalan terhadap jati diri sendiri. Penanaman bahwa diri peserta didik merupakan bagian dari warga bangsa merupakan hal penting. Rasa bangga sebagai warga bangsa Indonesia harus menjadi pijakan.

Kedua, pendidikan karakter berbasis multikultural hendaknya dikembangkan agar pembelajar tidak mengembangkan sikap etnosentris kesukuan dan sebaliknya membangun kesadaran hidup dalam lingkup kebangsa-Indonesiaan. Dengan mengembangkan sikap yang non-etnosentris, kebencian dan konflik antaretnis  dapat dihindarkan karena perasaan satu bangsa. Pendidikan pendidikan karakter berbasis multikultural bertujuan  membangun kesadaran yang tidak bersifat egosentris yang mengunggulkan diri dan kelompoknya dan merendahkan kelompok lain. Kesadaran satu bangsa meski berbeda kelompok sosial merupakan hal penting untuk ditumbuhkembangkan sebagai jembatan jiwa nasionalisme.

Ketiga, pendidikan karakter berbasis multikultural dikembangkan secara integratif. Kurikulum pendidikan karakter berbasis multikultural menjangkau seluruh isi pendidikan. Kurikulum pendidikan multikultural harus terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran, seperti bahasa, ilmu pengetahuan sosial, sains, pendidikan jasmani, kesenian, dan mata pelajaran lainnya.

Keempat, pendidikan karakter berbasis multikultural harus menghasilkan sebuah perubahan dalam bentuk perubahan sikap melalui pembiasaan. Praktik pembelajaran didesain dalam suasana masyarakat belajar yang menghargai perbedaan, toleransi, dan tujuan bersama mencintai bangsa dan negara. Untuk mencapai suasana demikian, pembelajaran harus berorientasi pada proses, misalnya bermain peran, simulasi, diskusi, pembelajaran kooperatif, dan pembelajaran partisipatoris.

Kelima, pendidikan karakter berbasis multikultural harus mencakup realitas sosial dan kesejarahan dari agama, etnis, dan suku yang ada. Kontekstualisasi pendidikan multikultural harus bersifat lokal, nasional, dan global. Kebanggaan memiliki nilai kearifan lokal harus ditumbuhkan. Kesadaran nasionalisme harus  menjadi tujuan bersama pendidikan nasional. Kesadaran sebagai warga global dengan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian antarbangsa perlu dikembangkan. Kontekstualisasi semacam ini memiliki makna penting untuk menumbuhkan rasa hormat, toleran, dan menghargai keberagaman dalam lingkup kelompok sosial masyarakat, negara, dan dunia (Sariban, 2012).

C.    Peran Guru Dalam Pengembangan Model Pendidikan Karakter Berbasis Multikultural

Prinsip-prinsip pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural terimplementasikan ke dalam perilaku keteladanan para tokoh yang memiliki pengaruh kuat pada diri peserta didik. Salah satu tokoh acuan peserta didik dalam berperilaku adalah guru. Guru hendaknya bertindak sebagai role mode, suri teladan bagi kehidupan sosial akademis siswa, baik di dalam maupun di luar kelas (Mas’ud, 2003:202).

Pendidikan karakter berbasis multikultural memiliki semangat mengakui dan menghargai perbedaan-perbedaan kultural dan kontribusi-kontribusinya terhadap cara hidup masyarakat. Upaya terpenting dalam menerapkan pendidikan semacam ini adalah melalui pengajaran yang responsif secara kultural. Di sinilahpentingnya peran guru dalam pengembangan model pendidikan karakter tersebut.

Gay dalam Jacobsen (2009) mengemukakan bahwa pengajaran responsif secara kultural (culturally responsive teaching) merupakan pengajaran yang mengakui dan mengakomodasi keragaman kultural di dalam ruang kelas (Jacobsen, 2009:262). Komponen-komponen pengajaran responsif secara kultural mencakup hal-hal sebagai berikut.

  1. Menciptakan lingkungan kelas yang positif di mana seluruh siswa dihargai dan dihormati.
  2. Mengomunikasikan harapan-harapan yang positif untuk pembelajaran seluruh siswa.
  3. Mengakui keragaman kultural dalam diri siswa dan mengintegrasikan keragaman ini ke dalam kurikulum.
  4. Menggunakan strategi-strategi pengajaran yang memberdayakan latar belakang dan kekuatan siswa.

Jelaslah bahwa guru sangat berkepentingan untuk menciptakan suasana dan lingkungan kelas yang membuat seluruh siswa merasa dihargai sehingga memunculkan harapan-harapan positif. Guru multikultural yang efektif secara aktif memperkenalkan keragaman budaya dan menanggapinya di dalam ruang kelas melalui model-model pembelajaran yang melibatkan seluruh siswa dari berbagai latar belakang dan pengalaman.

 

BAB IV

SIMPULAN

 

  1. Pendidikan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang positif, berakhlak karimah, berjiwa luhur, dan bertanggung jawab. Dalam konteks pendidikan, pendidikan karakter adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi yang positif dan berakhlak karimah sesuai standar kompetensi lulusan (SKL) sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Kondisi Indonesia yang multikultural sekaligus multietnis menuntuk sekolah untuk mampu mendobrak enkapsulasi etnis dan penyekat soaial budaya lainnya. Selain itu sekolah diharapkan dapat mengembangkan siswa agar menjadi makhluk yang melek-etnik(ethnic literacy) dan melek kebinekaan budaya. Kebinekaan budaya yang ada dilahirkan oleh berbagai aspek kehidupan, seperti agama, suku, keturunan, kondisi sosial ekonomi, dan tahapan kekuasaan.
  3. Pengimplementasian pendidikan karakter berbasis multikultural di sekolah memerlukan strategi yang tepat, efektif, dan partisipatif melibatkan seluruh komponen pendidikan. Ketepatan pemilihan strategi akan memberikan hasil yang optimal dalam membentuk peserta didik yang berkarakter. Dengan demikian upaya pengembangan model-model pendidikan karakter sebagai sebuah strategi pengimplementasian pendidikan karakter berbasis multikultural sangat penting dilakukan.
  4. Pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural berprinsip integratif, kompak, dan konsisten. Integratif berarti mengintegrasikan pendidikan karakter berbasis multikultural ke dalam seluruh program dan kegiatan sekolah. Kompak berarti seluruh komponen pendidikan memiliki sikap dan pandangan yang sama dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis multikultural. Konsisten artinya seluruh komponen pendidikan memiliki sikap dan pandangan yang konsisten dalam menerapkan pendidikan karakter berbasis multikultural.
  5. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya pengembangan model pendidikan karakter berbasis multikultural melalui pengajaran yang responsif kultural.

DAFTAR PUSTAKA

Aly, Abdullah. 2011. Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren. Yogyakarta:

            Pustaka Pelajar.

Fitri, Zaenul Agus. 2012. Reinventing Human Character, Pendidikan Karakter

            Berbasis Nilai & Etika di Sekolah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Hanum, Farida. 2009. “Pendidikan Multikultural Sebagai Sarana Pembentuk

Karakter Bangsa”. Makalah. Seminar Regional DIY-Jateng yang Diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi di Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta, 14 Desember 2009.

Husaini, Adian. 2010. “Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab”.Makalah.

Program Studi Pendidikan Umum Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Bandung. Bandung, 28 Juli 2010.

Jacobsen, David A., Paul Eggen, Donald Kauchak. 2009. Methods for Teaching.

            Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Panduan Pendidikan Karakter. Jakarta:

            Kemdiknas.

Konvensi Nasional Pendidikan II. 1994. Kurikulum untuk Abad Ke-21. Jakarta:

            Grasindo.

Mas’ud, Abdurrahman. 2003. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik.

            Yogyakarta: Gama Media.

Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring.

http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ (diunduh tanggal 22 November 2012).

Sagala, Syaiful. 2006. Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat, Strategi

            Memenangkan Persaingan Mutu. Jakarta: PT Rakasta Samasta.

Sariban. 2012. “Pendidikan Multikultural Pembentuk Karakter Ke-Indonesiaan”.

            Makalah. www.gurupintar.ut.ac.id (diunduh tanggal 12 November 2012).

Suyanto. 2012. “Urgensi Pendidikan Karakter”.Makalah.

http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html (diunduh tanggal 13 September 2012).

Wuryanano. 2011. Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan. Jakarta: Gramedia

            Pustaka Utama.