(Uki Hares Yulianti

A.    PENDAHULUAN

Pada makalah ini, penulis akan memberikan contoh analisis novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Permasalahan yang diangkat adalah seksualitas perempuan ronggeng yang ada dalam novel. Hal ini dilakukan untuk melihat representasi perempuan sebagai kelas yang ditindas oleh kaum laki-laki. Selain itu, permasalahan yang diangkat berhubungan dengan perlawanan perempuan dari hegemoni patriarki.

 B.     FEMINISME

Kritik sastra feminis merupakan salah satu komponen dalam bidang interdisipliner studi perempuan, yang ada di negara-negara Barat diawali sebagai gerakan sosial. Sejak studi perempuan dianggap bagian dan agenda politik feminis, seluruh interpretasi kritik sastra feminis adalah kebijakan politik. Menurut Belsey dan Moore (Hellwig, 1994:7), pembaca feminis diperoleh dalam proses perubahan relasi gender yang berlaku dalam masyarakat. Ia menganggap tindakan membaca sebagai tempat-tempat dalam memperjuangkan perubahan. Kritik sastra feminis memeriksa bagaimana kaum perempuan dipresentasikan dan bagaimana teks berurusan dengan relasi jender dan perbedaan seksual. Bagaimana pemahman pembaca terhadap teks bergantung pada persoalan yang dipertanyakan oleh kaum perempuan atau kaum laki-laki.

Kritik sastra feminis meliputi penelitian tentang penggunaan teori feminis diharapkan mampu membuka pandangan-pandangan baru terutama berkaitan dengan bagaimana karakter-karakter perempuan diwakili dalam sastra (Ruthven, 1984:30). Selain itu, bagaimana perempuan digambarkan dan bagaimana potensi yang dimiliki perempuan di tengah kekuasaan patriarkhi dalam karya sastra (Ruthven, 1984:40-50).

Kritik sastra feminis memiliki tujuan politik yang terang-terangan dan tidak hanya merupakan tindakan yang melawan proses dekonstruksi. Untuk itu, Ruthven (1984:54) memberikan solusi dengan soft deconstruction: memusatkan konstruksi-konstruksi realitas maskulin dengan pandangan yang memusatkan konstruksi realitas feminis.

Meskipun secara umum, agenda feminisme adalah menciptakan dunia yang adil menganalisis mengapa dan bagaimana kaum perempuan tertindas. Apa yang disebut dengan feminisme gelombang kedua (tahun 1960-an di Eropa dan AS) tidak merupakan suatu gerakan yang homogen, tetapi berbagai dalam tiga golongan besar, yakni feminisme radikal, liberal, dan sosialis (Saptari dan Holzner, 1977:48).

Feminisme pada dasarnya merupakan sebuah topik pembicaraan wanita dengan mengikutsertakan pria sebagai “makhluk” yang selalu dicemburui, sebagai makhluk yang superior (kuat), yang senantiasa menganggap wanita sebagai mahkluk inferior (lemah). Pandangan inilah yang tidak pernah mendudukkan wanita sebagai subjek dalam bidang apapun. Apalagi pembagian kerja yang secara seksual juga tidak menguntungkan. Bidang-bidang kerja domestik akhirnya memarginalkan mereka sebagai makhluk yang lemah, yang hanya dapat bekerja sesuai dengan kodratnya. Pandangan sikap yang masih diskriminatif tersebut masih tampak diberbagai negara di dunia.

Feminisme berasal dari kata feminist (pejuang hak-hak kaum wanita), yang kemudian meluas menjadi feminism (suatu faham yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita). Dalam arti leksikal feminisme berarti gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan kaum pria (Moeliono 1988: 241). Menurut Goefe, feminisme ialah teori persamaan hak antara laki-laki dan wanita dibidang politik, ekonomi, dan sosial, atau gerakan yang terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan kaum wanita (dalam Sugihastuti 2000: 37).

Dalam dunia masyarakat pria, proses mengamati lawan jenis selalu dihubungkan dengan estetika fisik demi melayani nafsu dan rasa ingin tahu. Ini merupakan salah satu perilaku andrticentric “berpusat pada pria” (andro dalam bahasa Yunani berarti pria) atau Phallocentric (pallus merupakan penanda jenis kelamin pria). Dalam masyarakat pria phallocentric, memiliki phallus berarti memiliki kekuasaan dengan kata lain, sistem itu memungkinkan pria menguasai wanita dalam semua bentuk hubungan sosial. Dalam paradigma feminis, situasi seperti itu diekspresikan dengan istilah patriarki. Patriarki merupakan penyebab utama munculnya fenomena-fenomena penindasan hak wanita oleh kaum pria. Konsep ini memandang wanita sebagai kelas kedua setelah laki-laki sehingga muncul dominasi pria atas wanita. Akibat kekuasaan patriarki termanifestasikan dengan apa yang disebut seksisme (dasar ideologi penindasan yang merupakan sistem hirarki seksual dimana laki-laki memiliki superior dan economic privilege (Fakih 1996: 86).

Singkat kata, feminisme menolak ketidakadilan masyarakat patriarki, menolak sejarah dan filsafat sebagai disiplin yang berpusat pada laki-laki. Dalam karya sastra, permasalahan mengenai gender merupakan bentukan dari kebudayaan khusus, yakni bentukan budaya patriarki yang mendudukkan posisi perempuan sebagai inferior sedangkan laki-laki sebagai superior.

Istilah male feminis bagi kalangan feminis di Indonesia masih sangat baru dan belum terdengar akrab di telinga. Persoalannya jelas, feminis di Indonesia dapat dikatakan baru berjalan kurang lebih 15 tahun ini, tepatnya dimulai pada pertengahan tahun 1980-an. Itupun baru berupa pergerakan feminisme dan belum sampai pada taraf studi yang intensif yang berupa pengembangan wacana yang kritis dan analisis sifatnya, apalagi masalah feminis laki-laki (Arivia dalam Subono 2001: 1).

Sebagian kaum feminis berpendapat bahwa laki-laki dapat menyatakan diri mereka feminis sepanjang mereka ikut berjuang bagi kepentingan kaum perempuan. Sekelompok feminis lain beranggapan bahwa laki-laki tidak dapat menjadi feminis karena tidak mengalami diskriminasi dan penindasan sebagaimana dialami kaum perempuan. Oleh karena itu, kaum laki-laki yang ikut berjuang melawan penindasan terhadap perempuan lebih tepat dikatakan sebagai kelompok pro-feminis (male feminis) (Muchtar 1999: 5).

Pandangan male feminis muncul karena adanya gerakan kaum feminisme yang menolak keterlibatan laki-laki dalam penyetaraan masalah gender. Menurut Soenarjati (2000: 4), inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki.

Sejalan dengan nafas filsafat yang telah dihembuskan oleh Haryatmoko, tulisan Donny Gahral Adian mencoba membahas persoalan feminis laki-laki dengan lebih teoritis lagi. Ia lebih jauh mengkolaborasi metafisika kontenporer yang mengkritik metafisika klasik yang melahirkan pemahaman dikotomi dan akhirnya menjagokan rasio ketimbang emosi, laki-laki ketimbang perempuan. Tampak pula pengakuannya bahwa semakin banyak laki-laki intelektual-borjuis yang mempelajari feminisme sebagai sebuah teori yang tidak kalah “menterengnya” dengan teori-teori besar lainnya (Arivia dalam Subono 2001: 3). Pada dasarnya keberadaan tokoh male feminis dan kontra male feminis adalah sebuah keniscayaan, apalagi untuk novel-novel yang mengangkat persoalan perempuan dan berangkat dari dunia feminis.

 C.    TEORI FEMINISME RADIKAL

Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi “perjuangan separatisme perempuan”. Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-Iaki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang “radikal”.

Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utarna penindasan oleh kekuasaan laki-Iaki. Olen karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, rekasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. “The personal is political’ menjadi gagasan anyar yang mampu menjangkau permasalahan prempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan.

Informasi atau pandangan buruk (black propaganda) banyak ditujukan kepada feminis radikal. Padahal, karena pengalamannya membongkar persoalan-persoalan privat inilah Indonesia saat ini memiliki Undang Undang RI no. 23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).

Kelompok feminisme radikal berpandangan bahwa penindasan perempuan berasal dari penempatan terhadap perempuan ke dalam kelas inferior dibandingkan dengan kelas laki-laki dengan menggunakan basis gender. Feminisme radikal bertujuan menghancurkan sistem kelas jenis kelamin. Ia memfokuskan pada akar dominasi laki-laki dan klaim bahwa semua bentuk penindasan adalah perpanjangan dari supremasi (keunggulan) pada laki-laki. Patriarkhi adalah karakteristik yang ada dalam masyarakat. Ia berkeyakinan bahwa persoalan politik dan keterpusutan pada perempuan bias menjadi basis masyarakat di masa depan (Eisenstein dalam Humm, 2002:383-384).

Menurut Atkinson (Humm, 2002:384), system peran laki-laki dan perempuan yang secara politik menindas merupakan model asli dari semua penindasan. Masalah-masalah tertentu menempatkan feminisme radikal berbeda dengan perspektif feminis lainnya, terutama pandangan sosialis, yang akan sentralitas kelas dan pandangan perempuan kulit hitam akan sentralitas ras. Berbeda dengan pendapat Mitchell (Humm, 2002:384-385), mengkritik Firestone secara khusus dari feminisme radikal pada umumnya tidak berbicara mengenai penindasan perempuan dalam cara tertentu secara histories. Hal ini dikarenakan feminis radikal berkaitan dengan seksualitas dan sosialisasi pekerja. Dengan memfokuskan pada kesadaran dan budaya di satu sisi dan ketidaksadaran di sisi lain, feminis radikal menganalkiss struktur psikis, seksual, dan ideologis yang membedakan kedua jenis kelamin dalam kaitannya dengan ketidaksetaraan gender.

Salah satu tema utama dalam tulisan feminis radikal adalah oposisi politik pada kelompok kiri, yang melibatkan perempuan sebagai seksisme. Menurut Morgan (Humm, 2002:385-386), seksisme adalah akar atau penindasan radikal, aliran ini menawarkan model analisis yang secara mendasar berbeda dengan marxisme. Perhatikan bersama mereka (aliran fr) terhadap psikologis perempuan, menyatakan bahwa teori sebelumnya gagal untuk menganalisis dominasi terhadap perempuan sebagai bentuk psikolososial. Sementara itu, aliran feminis radikal memberikan sumbangan terhadap teori feminisme dalam beberapa hal yang berbeda, yakni: (1) mereka menciptakan konsep budaya perempuan di mana institusi alternatif bisa menghasilkan perubahan sosial, suatu konsep yang analog dengan libertarianisme (kebebasan untuk membangun model-model masyarakat utopis (idaman); (2) feminisme radikal adalah teori yang pertama mengkonsepkan kembali secara total realitas dari sudut pandang perempuan; (3) mereka (aliran fr) mengungkapkan bahwa maskulin yang tersembunyi dalam kerangka konseptual dari berbagai pengetahuan tradisional dan dualisme bahwa penggunaan teori politik tradisional untuk menjustifikasi subordinasi perempuan. Mereka bekerja untuk memperjelas ketidaktampakan dengan membawa ke fokus struktur gender masyarakat.

Kaum feminis radikal beranggapan bahwa struktur masyarakat berlandaskan  pada relasi hirarkis  berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki sebagai suatu kategori sosial mendominasi kaum perempuan sebagai kategori sosial yang lain, karena kaum laki-laki diuntungkan dengan adanya subordinasi perempuan. Menurut aliran feminis radikal, dominasi laki-laki itu merupakan model konseptual yang biasa menjelaskan berbagai bentuk penindasan yang lain.

Kaum feminisme radikal terutama menyoroti dua konsep utama, yaitu patriarkhi dan seksualitas. Bagi kaum radikal, ideologi patriarkhi mendefinisikan perempuan sebagai kategori sosial yang fungsi khususnya untuk memuaskan dorongan seksual kaum laki-laki, untuk melahirkan, dan mengasuh anak. Patriarkhi tidak hanya memaksa kaum perempuan menjadi ibu mereka (anak-anak). Ideologi patriarkhi yang mengobyekan seksualitas perempuan tampak dalam wujud kekerasan seksual yang muncul sehari-hari dengan gejala perkosaan, pornografi, iklan seksual, seni kapitalis, dan pornoaksi.

Beberapa feminis radikal memuja atribut biologis perempuan sumber keunggulan daripada inferioritas (kerendahan). Setiap alasan yang ekstrem (perbedaan yang besar) bagi kodrat khusus perempuan menimbulkan resiko sampai dengan jalan yang berbeda dalam kedudukan yang sama dikuasai oleh chauvinis (sifat patriotic yang berlebihan)  bagi laki-laki (Selden, 1996:137).

Kebanyakan feminis radikal menganut pandangan bahwa para perempuan telah dicuci otaknya oleh tipe ideologi patriarkhi ini, yang menghasilkan gambaran  stereotype lelaki yang kuat dan perempuan yang lemah (Selden, 1996:138). Pada permulaan abad ke-19, aliran ini mengangkat isu besar menggugat semua lembaga yang dianggap merugikan perempuan seperti patriarkhi yang dinilai merugikan perempuan, karena ini jelas-jelas menguntungkan laki-laki. Lebih dari itu, di antara kaum feminis radikal ada yang lebih ekstrem, tidak hanya menuntut persamaaan hak dengan laki-laki, tetapi persamaan seks dalam arti kepuasan seksual juga bisa diperoleh dari sesama perempuan, sehingga mentolerir (memaklumi) praktek lesbian (Ramazanoglu via Umar, 2002:66-67).  Menurutnya,  perempuan tidak harus tergantung kepada laki-laki dalam hal pemenuhan kepuasan kebendaan dan kepuasan seksual. Perempuan dapat merasakan kehangatan, kemesraan, dan kepuasan seksual kepada sesama perempuan. Kepuasan seksual dari laki-laki merupakan masalah psikologis. Melalui berbagai latihan dan pembiasaan kepuasan ini dapat terpenuhi dari sesama perempuan (Ramazanoglu via Umar, 2001:67).

Berdasarkan pemikiran itulah, Ramazanoglu (Umar, 2001:67), mengupayakan pembenaran rasional gerakannya dengan mengungkapkan fakta bahwa laki-laki merupakan masalah bagi perempuan. Laki-laki selalu mengeksploitasi fungsi reproduksi perempuan dengan berbagai dalih (argument). Ketertindasan perempuan berlangsung cukup lama dan dinilai sebagai bentuk penindasan yang  sangat panjang di belahan dunia. Penindasan ras, perbudakan, dan warna kulit dapat segera dihentikan dengan resolusi (peraturan), tetapi pemerasan secara seksual sangat susah dihentikan, dan diperlukan gerakan yang lebih mendasar.

Menurut Brownmiller (Fakih, 2001:84), para penganut feminis radikal ini justru muncul sebagai reaksi atau kultur sexism (yang merendahkan perempuan) atau diskriminasi sosial berdasarkan jenis kelamin di Barat tahun 60-an, khususnya dalam melawan kekerasan seksual dan pornografi. Sementara itu, dipertegas oleh Jaggar (Fakih, 2001:85), para penganut feminisme radikal tidak melihat adanya perbedaan antara tujuan individu dan politik, unsur-unsur seksual (biologis). Dalam melakukan analisis tentang penyebab  penindasan terhadap perempuan, mereka menganggapnya akar dari jenis kelamin laki-laki beserta ideologi patriarkhinya. Dengan demikian, kaum laki-laki secara biologis maupun politis adalah bagian dari permasalahan Dari itu aliran feminisme ini menganggap bahwa penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki, seperti hubungan seksual sebagai bentuk dasar penindasan terhadap kaum perempuan. Selanjutnya, menurut Eisenstein (Fakih, 2001:85), bagi mereka patriarkhi merupakan dasar dari ideologi penindasan yang merupakan sistem hierarki seksual di mana laki-laki memiliki kekuatan superior (unggulan) dan privilege (hak istimewa) ekonomi.

Berbeda dengan pendapat Stanley dan Wise (Fakih, 2001:85-86), revolusi terjadi pada setiap perempuan yang telah mengambil aksi untuk mengubah gaya hidup, pengalaman, dan hubungan mereka sendiri terhadap kaum laki-laki. Revolusi dan perlawanan atas penindasan perempuan bisa dalam bentuk yang sangat individual seperti: urusan subyektif personal perempuan. Perintis feminis radikal seperti: Chorlette Perkins Gilman, Emma Goldman, Kate Millet,  dan Margaret Sanger memandang teori feminis radikal kontemporer dikembangkan oleh kelompok di New York pada akhir tahun 1960-an.

 D.    TOKOH-TOKOH FEMINISME RADIKAL

1. Emma Goldman

Emma Goldman (27 Juni 1869 -14 Mei 1940 adalah seorang anarko-komunis yang juga merupakan seorang feminis radikal anarkis kelahiran Lithuania. Emma Goldman, salah seorang simbol pergerakan feminisme. Emma Goldman berimigrasi ke Amerika Serikat pada saat umumya menginjak 17 tahun dan kemudian akhimya ia diasingkan ke Rusia, yang akhirnya membuat ia menjadi saksi mata proses Revolusi Rusia. Emma banyak menghabiskan waktunya di selatan Perancis dimana ia menulis otobiografinya berjudul “Llving my Life”, dan lain sebagainya, sebelum akhirnya ia mengambil peran dalam Perang Saudara Spanyol pada tahun 1936 sebagai perwakilan CNT-FAI di London.

2. Kate Millet

Kate Millet dalam bukunya Sexual Politics (1970) mempergunakan istilah “Patriarkhi” (pemerintahan ayah) untuk menguraikan sebab penindasan wanita. Patriarkhi meletakkan perempuan di bawah laki-laki atau memperlakukan perempuan sebagai lelaki yang inferio. Kekuatan digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam kehidupan sipil dan rumah tangga untuk membatasi wanita. Meskipun ada kemajuan demokrasi, menurut Millet; wanita masih terus dikuasai oleh sistem peranan-kejenisan yang stereotipe yang menguasai mereka sejak usia muda.

Dalam fase awal feminis modern, tulisan tentang kesusastraan (Kate Millett, Germaine Greer, Mary Ellmann) tekanannya sering sangat politis, dalam arti bahwa penulis itu menyatakan perasaan marah atas ketidakadilan dan terlibat dalam meningkatkan kesadaran “ politis” perempuan atas tekanan lelaki.

Hal ini mempengaruhi kesusastraan. Pertama nilai dan konvensi sastra itu sendiri telah dibentuk oleh laki-laki, dan perempuan sering berjuang untuk mengungkapkan urusannya sendiri dalam bentuk yang mungkin tidak sesuai.  Untuk menolak indoktrinasi terhadap pembaca wanita, dalam Sexual Politics, Kate Millett menunjukkan penggambaran seksualitas yang menindas yang dijumpai dalam cerita rekaan ciptaan laki-laki. Buku Millett merupakan kritik yang keras terhadap budaya patriarkal, tetapi beberapa feminis percaya bahwa penulis pria yang dipilihnya tidak mewakili, dan yang lain beranggapan bahwa ia tidak cukup memahami kekuatan imajinasi yang subversif dalam cerita rekaan.

3. Chorlette Perkins Gilman

Charlotte Perkins Gilman salah satu tokoh perempuan Amerika yang penting dalam pergerakan perempuan dengan utopia feminismenya.  Berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai penderita “nervous breakdown” setelah melahirkan putri perempuannya, Gilman mengungkapkan bahwa perempuan di balik “pemanjaan” oleh laki – laki secara lebih luas masyarakat yang didominasi oleh patriarkhi yang dalam cerita ini diwakili oleh suaminya yang dokter, mengalami pemasungan yang akhirnya membawa pada “kegilaan”. Dalam karyanya the ‘yellow wall-paper’ mengungkapkan kondisi tertindas perempuan terutama di akhir abad kesembilanbelas khususnya di Amerika. Kegilaan dalam kisah pendek Gilman ini mengandung multi onterpretasi, namun fokus dari makalah ini adalah menfokuskan pada sudut pandang perempuan si narator yang kegilannya bisa merupakan letupan ketertekanan yang tak dapat ia tahan lagi. Di lain pihak kegilaannya adalah ekspresi kemerdekaanya; hanya dengan kegilaan ia memperoleh kemerdekaan.

 E.     SINOPSIS RONGGENG DUKUH PARUK

Srintil adalah gadis Dukuh Paruk. Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan miskin. Namun, segenap warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan hidupnya. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk sehingga lenyaplah gairah dan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik pada umur belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main di tegalan bersama kawan-kawan sebayanya (Rasus, Warta, Darsun). Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, yang kemudian mereka sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Dengan harapan kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat.

Dalam waktu singkat, Srintil pun membuktikan kebolehannya menari disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Sebagai seorang ronggeng, Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya adalah menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian untuk menolaknya. Srintil telah terlibat atau larut dalam kekuasaan sebuah tradisi, di sisi lain, Rasus merasa mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Oleh karena itu, Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk.

Kepergian Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan, dan kelak dari tempat itulah Rasus mengalami perubahan garis perjalanan hidupnya dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang prajurit atau tentara yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Dengan ketentaraannya itulah kemudian Rasus memperoleh penghormatan dan penghargaan seluruh orang Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak dua orang perampok yang berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan harta kekayaan ronggeng Srintil.Beberapa hari singgah di Dukuh Paruk Rasus sempat menikmati kemanjaan dan keperempuanan Srintil sepenuhnya. Tapi itu semua tidak menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang miskin. Pada saat fajar merekah, Rasus melangkah gagah tanpa berpamitan pada Srintil yang masih pulas tidurnya.
            Kepergian Rasus tanpa pamit sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil bahwa ternyata tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng. Setelah kejadian itu Srintil setiap hari tampak murung dan sikap Srintil yang kemudian menimbulkan keheranan orang-orang disekitarnya. Kebanyakan mereka tidak senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka tetap percaya ronggeng Srintil telah menjadi simbol kehidupan Dukuh Paruk. Dalam kurun waktu tertentu, Srintil tetap bertahan tidak ingin menari sebagai ronggeng, bahkan senang mengasuh bayi Goder (anaknya Tampi, seorang tetangga) dengan gaya asuhan seorang ibu kandung.

Perlawanan atau pemogokan Srintil masih bertahan ketika datang tawaran menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas kesenian menyambut perayaan Agustusan. Kalau pun pada akhirnya runtuh dan pasrah, bukan semata-mata tergugah untuk kembali tampil menari sebagai seorang ronggeng, melainkan mendengar ancaman Pak Ranu dari Kantor Kecamatan. Srintil menyadari kedudukannya sebagai orang kecil yang tak berhak melawan kekuasaan. Sama sekali ia tidak membayangkan akibat lebih jauh dari penampilannya di panggung perayaan Agustusan yang pada tahun 1964 sengaja dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Warna merah dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang menyebut-nyebut rakyat tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya.

Pemberontakan PKI kandas dalam sekejap dan akibatnya orang-orang PKI atau mereka yang dikira PKI dan siapa pun yang berdekatan dengan PKI di daerah mana pun ditangkapi dan di tahan. Nasib itu terjadi juga pada Srintil yang harus mendekam di tahanan tanpa alasan yang jelas. Pada mulanya, terjadi paceklik di mana-mana sehingga menimbulkan kesulitan ekonomi secara menyeluruh. Pada waktu itu, orang-orang Dukuh Paruk tidak berpikir panjang dan tidak memahami berbagai gejala zaman yang berkembang di luar wilayahnya. Dalam masa paceklik yang berkepanjangan, Srintil terpaksa lebih banyak berdiam di rumah, karena amat jarang orang mengundangnya berpentas untuk suatu hajatan. Akan tetapi, tidak lama kemudian ronggeng Srintil sering berpentas di rapat-rapat umum yang selalu dihadiri atau dipimpin tokoh Bakar. Walaupun Srintil tidak memahami makna rapat-rapat umum, pidato yang sering diselenggarakan orang. Yang dia pahami hanyalah menari sebagai ronggeng atau melayani nafsu kelelakian. Tapi hubungan mereka tetap baik.

Hubungan mereka merenggang setelah beberapa kali terjadi penjarahan padi yang dilakukan oleh orang-orang kelompok Bakar. Sakarya merasa tersinggung dengan Bakar, karena Bakar mengungkit-ungkit masa lampau Ki Secamenggala yang dikenal orang sebagai bromocorah. Karena hal itu Sakarya memutuskan hubungan dengan kelompok Bakar. Sakarya tidak hanya melarang ronggeng Srintil berpentas di rapat-rapat umum, tetapi juga meminta pencabutan lambang partai. Akan tetapi, Bakar menanggapinya dengan sikap bersahaja. Dalam tempo singkat, Dukuh Paruk kembali ketradisinya yang sepi dan miskin. Akan tetapi, kedamaian itu hanya sebentar, karena mereka kemudian kembali bergabung dengan kelompok Bakar setelah terkecoh oleh kerusakan cungkup makam Ki Secamenggala. Sakarya menduga kerusakan itu ulah kelompok Bakar yang sakit hati, tetapi kemudian beralih ke kelompok lain setelah menemukan sebuah caping bercat hijau di dekat pekuburan itu. Sayang, mereka tidak mampu membaca simbol itu. Dan Srintil pun semangat menari walaupun tariannya tidak seindah penampilannya yang sudah-sudah.

Ternyata penampilan yang berlebihan itu merupakan akhir perjalanan Srintil sebagai ronggeng. Mendadak pasar malam bubar tanpa penjelasan apa pun dan banyak orang limbung, ketakutan, dan kebingungan, sehingga kehidupan terasa sepi dan mencekam. Berbagai peristiwa menjadikan orang-orang Dukuh Paruk ketakutan, tetapi tidak mengetahui cara-cara penyelesaiannya. Yang terpikir adalah melaksanakan upacara selamatan dan menjaga kampung dengan ronda setiap saat. Keesokan harinya orang-orang Dukuh Paruk melepas langkah Kartareja dan Srintil yang berniat meminta perlindungan polisi di Dawuan. Tapi ternyata harapan berlindung kepada polisi itu berantakan, karena kepolisian dan tentara justru sudah menyimpan catatan nama Srintil yang terlanjur populer sebagai ronggeng rakyat yang mengibarkan bendera PKI.

Srintil pulang ke Dukuh Paruk setelah dua tahun mendekam dalam tahanan politik dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan. Ia berjanji menutup segala kisah dukanya selama dalam tahanan dan bertekad melepas predikat ronggengnya untuk membangun sebuah kehidupan pribadinya yang utuh sebagai seorang perempuan Dukuh Paruk, meskipun tidak mengetahui sedikitpun keberadaan Rasus. Tanpa sepengetahuan Srintil, Nyai Kartareja menghubungi Marsusi. Akibatnya, Srintil mengumpat kebodohan neneknya dan meratapi nasibnya sebagai perempuan yang terlanjur dikenal sebagai ronggeng. Untungah Srintil masih bisa mengelak perangkap Marsusi. Selepas dari perangkap Marsusi, Srintil kembali mendapat tekanan dari lurah Pecikalan agar mematuhi kehendak Pak Bajus. Bajus hendak menikahi Srintil, sehingga Srintil berusaha mencintai Bajus. Tapi Srintil sangat kecewa, karena Bajus ternyata lelaki impoten yang justru hanya berniat menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Srintil pun mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.

 F.     ANALISIS RONGGENG DUKUH PARUK

Tidak dipungkiri, perempuan selalu menjadi daya tarik bagi kaum laki-laki. Kemenarikannya bukan hanya ada pada cantiknya, inteleknya, melainkan lenih fokus pada masalah-masalah seksualnya. Kemenarikan perempuan selain menjadi wacana lisan kaum laki-laki, sering pula melahirkan ide muktakhir para seniman, di antaranya adalah Senima Rupa, Seniman Pertunjukkan, bahkan Seniman Sastra (Pengarang sastra).

Pengarang dalam karya sastranya, baik bergenre prosa: novel, roman, cerpen, maupun puisi sering mengangkat tubuh dan seks perempuan dalam mengkonstruksi ceritanya. Seks dan tubuh perempuan menarik bagi pengarang laki-laki untuk mengembangkan cerita sebagai tema dalam karya sastranya. Hal ini dipandang bahwa seks dan tubuh adalah bagian dari cerita yang sangat berperan penting dalam melahirkan tokoh sekaligus sebagai usaha mengeksploitasi cerita. Eksploitasi perempuan dalam cerita (contoh iklan) berkaitan erat dengan ideologi kapitalisme yang menempatkan perempuan sebagai alat reproduksi. Kapitalisme memandang perempuan berguna semasih menguntungkan bagi kapitalisme (Tri Hastuti Nur, 2003:123). Pada konteks yang tidak berbeda dengan hal itu, seks dan tubuh sering dijadikan sebagai alat yang menguntungkan bagi kapitalisme (dalam hal ini kaum patriarkhi dalam teks cerita). Seks dan tubuh dalam karya sastra ibarat sepasang suami isteri, seks dan tubuh mereka adalah bagian yang mampu membangun kehidupan dari aspek kehidupan lainnya. Walaupun demikian, eksistensi seks dan tubuh perempuan dalam karya sastra pengarang laki-laki, teramat sering mendapatkankritik, bukan saja dari kaum perempuan, laki-laki yang mendekonstruksi hegemoni laki-laki terhadap perempuan pun sering memberi kritik lewat karya sastranya. Lahirlah karya sastra yang memberi kritik sekaligus memberikan motivasi kepada kaum perempuan dalam karya sastranya. Karya sastra seperti novel banyak terbit sekaligus mempopolerkan kepengarangan perempuan, seperti Ayu Utami melalui dua buah novelnya Saman dan Larung, Djenar Maesa Ayu melalui cerpen-cerpennya, dll.

Perempuan memandang laki-laki menghegemoni kaum perempuan memasung kreativitas, dan hanya menjadikan perempuan sebagai pelaku domestik yang lebih dekat dengan dapur dan seks di ranjangnya padahal perempuan memiliki keunggulan intelektual yang tidak kalah ketimbang laki-laki. Yayasan Jurnal Perempuan pernah menerbitkan sebuah pemikiran tentang perilaku domestik perempuan bahwa lingkup domestik merupakan sektor yang statis dan konservatif, berbeda dengan lingkup publik sebagai lingkup yang dinamis dan memilih sumber kekerasan di idang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan, yang semuanya itu bisa menghasilkan serta mengendalikan perubahan sosial.

Terlepas dari maksud kepengarangan, pengarang laki-laki sering mengangkat perempuan sebagai objek dalam karya sastranya, seperti novel (Sugihastuti, 2005: viii). Dalam penceritaannya, tokoh perempuan selalu ditindas oleh kaum laki-laki. Ini sebagai upaya menempatkan atau memposisikan perempuan sebagai objek yang selalu ditindas dan dinomorduakan oleh laki-laki, bahkan dinomortigakan setelah materi, padahal di berbagai pertemuan internasional, Indonesia telah berkomitmen bahwa perempuan adalah individu yang memliki hak dalam reproduksi, hak untuk setara denganlaki-laki, hak untuk mendapatkan pelayanan dan informasi kesehatan yang lenih baik, dan hak untuk bebas dari diskriminasi. Vony Reyneta (2003: 14) mengomentari dskrimasi dari hasil konvensi CEDAW bahwa diskriminasi terhadap perempuan berarti setiap pembedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan, atau penggunaan hak-hak asasi manusi dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang poltik, ekonomi, sosial-budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka atas dasar persamaaan antara laki-laki dan perempuan. Salah satu pengarang laki-laki yang mengangkat perempuan dalam novelnya adalah Ahmad Tohari.

Ahmad Tohari adalah seorang pengarang kelahiran Banyumas 13 Juni 1948. Pengarang ini lebih dekat dengan pengalaman hidup di desanya. Ia lebih banyak mengangkat persoalan budaya, politi, sosial, seni, dan perempuan dalam karya sastranya. Perempuan sebagai kajian tematik dalam novelnya, tidak terlepas dari kasus-kasus perempuan, seperti kekerasan dalam rumah tangga, atau pelecehan seksual (seksual berkenaan dengan jenis kelamin). Seksual juga berkenaan dengan perkara persetubuhan (eksploitasi) antara laki-laki dan perempuan. Seksualitas sebagi ciri, sifat, dan peranan, drongan seks atau kehidupan seks (KBBBI, 1989: 797) oleh laki-laki atau oleh perempuan itu sendiri. Aspek kehidupan seperti itu juga dapat dicermati dalam karya sastranya, yakni novel Ronggeng Dukuh Paruk. Hal ini tidak terlepas daris ebuah konsep sastra mimetis bahwa eksistensi karya sastra tidak terlepas dari peniruan peristiwa dalam kehidupan masyarakat (Yasa, 2005:1). Dengan kata lain, karya sastra sebagai ungkapan pengarang terhadap pengalaman dan kehidupannya (Bonald dalam Mandhita (2004:95). Bahkan tokoh-tokoh kritik feminis, seperti Kate Millet, Simone de Beauvoir, Betty Friedan, dll memandang penting teks sastra. Hal itu dapat dijelaskan bahwa sastra sebagai produk kebudayaan merupakan ilustrasi seluruh kehidupan sosial.

Salah satu karya sastra Ahmad Tohari yanga akn diteliti adalah Ronggeng Dukuh Paruk yang tersusun atas trilogi cerita, yakni Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera Bianglala.

Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel berlatar belakang budaya, dengan perempuan diposisikan sebagai pelaku dalam pemertahanan budaya lokal di daerah tersebut. Pemposisian perempuan sebagai pelaku dalam pemertahan budaya melalui perang ronggeng (penari perempuan yang dapat dikencani lelaki dalam kesenian tradisioanl yang ketika menari diiringi gamelan (dalam KBBI, 1989:753) Lbih didominasi peristiwa-peristiwa seks, seperti jual beli seks dan kawin kontrak. Dalam konteks pelaku laki-laki dalam novel, mendudukkan perempuan sebagai pelaku yang tertindas. Penindasanya terletak pada pemikiran kontradiktif, yakni pemertahanan budaya lokal dan jual-beli tubuh perempuan dalam keadaan bagaimanapun dan kapanpun. Ini adalah sebuah kesenjangan bahakan penindasan terhadap kaum perempuan. Ini adalah upaya pengarang untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa penindasan perempuan ke dalam karya sastranya. Hal itu adalah pandangan-pandangan kaum feminis (perempuan dan kaum laki-laki yang memposisikan diri membaca sebagai perempuan. Culle (dalam Sugihastuti, 2005:15) mengatakan reading is woman mendobrak kaum laki-laki yang menindas perempuan dalam hegemoninya.

  • 1.      Seksualitas Ronggeng Dukuh Paruk dalam Kajian Karya Sastra Feminis pada Trilogi Karya Ahmad Tohari

Novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk ini bercerita tentang seorang tokoh bernama Srintil yang menjadikan profesi ronggeng sebagai jalan pilihan hidupnya di kala usianya yang tergolong masih sangat muda. Profesi ini ia pilih karena sang tokoh memiliki bakat menari sedari kecil. Seperti tergambar pada kutipan di bawah ini:

Siapa yang akan percaya, tak seorang pun pernah mengajari Srintil menari dan bertembang. Siapa yang akan percaya, belum sekali pun Srintil pernah melihat pentas ronggeng. Ronggeng terakhir di Dukuh Paruk mati ketika Srintil masih bayi. Tetapi di depan Rasus, Warta, dan Darsun, Srintil menari dengan baik …(hlm:13).

Meskipun Ahmad Tohari bukanlah seorang pengarang perempuan, akan tetapi pada novel ini beliau begitu menunjukkan kepiawaiannya dalam membuat karya sastra yang berbau feminisme sehingga penciptaan karakter perempuan pada tokoh ini pun menjadi terasa lebih hidup dan mirip dengan realitas yang ada. Hal ini terbukti karena munculnya konflik batin yang dialami oleh tokoh Srintil sebagai seorang ronggeng yang harus menyerahkan keperawanannya di saat usia sebelas tahun pun terenggut karena adanya hukum yang berlaku untuk seorang ronggeng di dukuh paruk, tergambar dalam kutipan berikut:

Srintil mengisak seorang diri. Baginya alangkah lambat waktu berjalan. Dia ingin hari segera menjelang pagi. Dia ingin segera menemukan dirinya telah selesai menjalani bukak-klambu. Tak terpikir lagi soal ringgit emas atau lainnya. Yang dirasakannya sekarang adlah perutnya yang bagai teriris-iris. Ronggeng itu tak menghentikan tangis karena binatang jantan lainya akan segera datang menyingkap kelambu dan mendengus … (hlm: 77-78).

     Novel ini juga mengangkat perempuan dari sisi seksual. Seks digunakan dalam hal pemertahanan budaya di Dukuh Paruk. Pemertahanan budaya denganseksual itu sering dilakukan oleh tokoh antagonis dalam novel. Srintil harus menjual tunuh dan virginitasnya hanya untuk menghormati leluhur yang disebut Ki secamenggala. Jual-beli tubuh (seks dan tubuh Srintil berusia dua belas tahun (di bawah umur). Srintil dalam usia itu belum tahu tentang arti keperawanan atau nikmatnya seks. Srintil tokoh utama, hanya menuruti perintah dukun ronggeng, Nyai Kartareja, walaupun indung telurnya dipijat hingga Srintil tidak hamil atau melahirkan anak. Ini adalah sebuah penindasan dan pemaksaan perempuan terutama untuk mengeruk keuntungan bagi laki-laki atau perempuan yang memeras, pemanfaatan oerempuan terutama seks yang berhubungan dengan persetubuhannya dengan laki-laki untuk keuntungan sendiri atau sebuah kelompok komunitas terhadap perempuan dengan dalil pemertahanan budaya atau menghormati leluhur. Perempuan digunakan sebagai alat untuk kepentingan tertentu. Millet mengatakan bahwa ini sebagai “ politika seksual’. Eksploitasi seksual di dalam novel ini sangat kental (intensif). Hal ini dibuktikan dengan teks-teks cerita dari awal hingga akhir cerita memunculkan kisah berahi dan penindasan terhadap perempuan dari sisi tubuh dan seks.

“Aku menduga keras Srintil mulai dihantui kesadaran bahwa Nyi Kertaraja telah memijat hingga mati indung telurnya, peranakannya. Suami isteri dukun ronggeng itu merasa perlu berbuat demikian sebab hukum Dukuh Paruk mengatakan karier seorang ronggeng terhenti sejak kehamilannya yang pertama….” (Tohari, 2004:90)

      Millet menyampaikan bahwa perempuan sering diangkat dalam sebuah karya sastra sebagai usaha “politika seksual”. Srintil digambarkan sebagai tokoh perempuan yang selelu ditindas dan dimanfaatkan oleh Nyi Kartaraja agar ia bisa hidup dan melangsungkan kehidupannya tanpa harus bekerja. Ini adalah sebuah penindasan dan politisasi perempuan dengan mengatasnamakan buadaya untuk menjual tubuh dan seksual perempuan. “Politika seksual” sering dilakukan tokoh lainnya untuk mengekploitasi seksual Srintil. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan beragam cara dengan alasan-alasan feodal, yakni manut atau patuh terhadap kepada atasan. Hal ini dapat diperjelas dalam kutipan berikut.

“Kamu telah mengecewakan seorang priyayi: suatu hal yang tidak layak dilakukan oleh orang dusun seperti kita ini. Oalah, cucuku, kamu tidak menyadari dirimu sebagai kawula… kita kawula, kita wajib tunduk kepada perintah, bahkan keinginan para penggawa itu. Menampiknya, sama saja mengundang hukum. Nah, beranikah kamu melakukannya?” (Tohari, 2004:162)

Eksploitasi seksusal lain juga mendominasi karya Ahmad Tohari ini. Ekploitasi seksual yang menggambarkan tubuh dan berahi sering diungkap dalam novel ini.

“Rasanya, sebagai anak laki-laki tak ada yang salah pada tubuhku. Melihat Srintil telanjang bulat di hadapanku, aku teringat kambing jantanku bila sedang berahi. Jantung memompa darahku ke segala penjuru. Pada bagian organ tertentu, arteri begitu padat berisi darah hingga mengembung dan menegang. Kehendak alam terasa begitu perkasa menuntunku bertindak.” (Tohari, 2004: 67)

Tubuh perempuan terkadang sangat indah untuk dilukiskan. Akan tetapi, pelukisan itu sering cabul dan merendahkan nilai-nilai keperumpuanan. Tubuh telanjang milik Srintil adalah penggambaran tokoh dengan mengekploitasi seks dan tubuhnya. Laki-laki dapat menikamti tubuh perempuan secara gratis. Ini adalah sebuah bentuk eksploitasi seksual yang dilakukan pengarang untuk menggambarkan tokoh Ronggeng Dukuh Paruk. Ronggeng menurut versi Dukuh Paruk adalah perempuan yang manari dengansemangat berahi yang tinggi. Selain itu, ronggeng harus melayani seks lelaki yang haus ketika istri-istri mereka tidak dapat memuaskan nafsunya. Oleh karena itu, siapa pun perempuan itu, termasuk Srintil harus melalui persyaratan ritual, yakni melalui tahapan ritual bukak klambu. Bukak klambu adalah upacara dalam bentuk sayembara diperuntukkan kepada para lelaki yang ingin menikmati tubuh perawan. Laki-laki yang mengikuti sayaembara ini harus memberikan mas kawin atau harta kepada dukun ronggeng. Setelah itu, laki-laki itu berhak untuk menikmati virginitas seorang perempuan calon ronggeng.

“Bagiku, tempat tidur yang akan menjadi tempat pelaksanaan malam bukak klambu bagi Srintil tidak lebih dari sebuah tempat pembantaian…. Sesudah berlangsung malam bukak klambu, Srintil tidak suci lagi. Soal dia kehilangan keperawanannnya, tidak begitu terasakan….” (Tohari, 2004:53)

Kutipan itu adalah bentuk eksploitasi seksual terhadap Srintil. Nyai Kartareja selaku dukun ronggeng memeras Srintil untuk memperoleh harta dari para lelaki. Ini adalah sebuah penindasan terhadap perempuan. Laki-laki diibaratkan memiliki kekuasaan dan harta. Perempuan hanyalah aset yang bisa dijual dan dibeli. Perempuan adalah sebuah nasib yang tidak dapat menolak kekuasaan laki-laki.

Penindasan dan pemaksaan itu membuat Srintil kasihan kepada laki-laki yang dicintainya. Oleh karena itu, sebelum upacara bukak klambu, ia mempersembahkan perawannya untuk Rasus yang mana pada saat itu, usia Rasus baru empat belas tahun. Persetubuhan laki-laki dan perempuan pun terjadi di belakang rumah Nyai Kartareja. Nyai Kartareja ketika itu terlalu sibuk untuk menawarkan tubuh dan perawan Srintil.

”Srintil?” tegurku dengan suara berbisik. ”Jangan terkejut. Aku Rasus.”

”Oh!” seru Srintil tertahan. Dia cepat bangkit, merangkulku sekuat tenaga. ”Rasus. Dengar, mereka bertengkar di luar. Aku takut, sangat takut. Aku ingin kencing!”

”Sudah kencing?”

”Sudah. Tetapi aku takut. Rasus, kau sungguh baik. Kau ada di sini ketika aku sedang diperjual-belikan.”

”Ya.”

Masih merangkul kuat-kuat, Srintil mengisak. Kubiarkan dia karena aku pun tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kurasakan tubuh Srintil hngat dan gemetar.

”Aku benci, benci. Lebih baik kuberikan padamu. Rasus, sekarang kau tak boleh menolak seperti kaulakukan tadi siang. Di sini bukan pekuburan. Kita takkan kena kutuk. Kau mau, bukan?”

 “Sepatah kata pun aku tak bisa menjawab. Kerongkonganu terasa tersekat. Karena gelap aku tak dapat melihar dengan jelas. Namun, aku merasakan Srintil melepaskan rangkulanku, kemudian sibuk melepaskna pakaiannya.

Tidak berbeda dengan pengalaman tadi siang di Pekuburan Dukuh Paruk…..Aku tak dapat emlihat sosok tubuh Srintil dengan jelas, meski aku yakin saat itu dia sudah telanjang bulat.

……Srintil merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi entahlah karena aku hanya merasa telah memperoleh sebuah pengalaman yang aneh.” (Tohari, 2004: 76)

 

Ronggeng Dukuh Paruk telah mengantarkan kepada masyarakat pembaca tentang gambaran kesalahan pada cara masyarakat memandang seksualitas perempuan.

Resistensi perempuan dalam karya sastra yang bercerita tentang pergulatan perempuan seperti halnya Ronggeng Dukuh Paruh ini, Srintil akan dilihat sebagai bentuk ketertindasan dan kekalahan perempuan dihadapan laki-laki. Srintil dalam paparan tersebut, seakan merepresentasikan seorang perempuan yang tertindas, objek kekerasan seksual, tidak berdaya sekaligus dianggap sebagai sosok yang dipinggirkan, dimarjinalisasi, dilecehkan yang terkesan mengenaskan. Sebuah kontruk identitas monolitik tunggal, sebagai korban budaya patriaki, tidak berpendidikan, terikat tradisi, domestik, dan selalu menjadi korban.

Eksploitasi seksual dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk digambarkan ketika desa Alaswangkel menggelar upacara Gowok. Upacara Gowok adalah uapacara pematangan laki-laki sebelum memasuki masa pernikahan. Oleh karena itu, laki-laki itu harus diajarkan berhubungan seksual dan cara-cara mengatur rumah tangga. Pada masa ini, perempuan lagi-lagi dieksploitasi secara lebih dalam. Perempuan, Srintil, selain harus melayani laki-laki, ia juga harus mengajari laki-laki yang sedang diupacarai untuk berhubungan seksual. Pelajaran yang dilakukan Srintil kepada laki-laki itu dari cara merangkul, mencium, sampai berhubungan seks.

“Seorang gowok akan memberi pelajaran kepada anak laki-laki. Dari keperluan dapur sampai mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat malu pada malam pengantin baru. “ (Tohari, 2004: 201)

Gowok akan mengajari laki-laki yang belum memiliki pengalaman dalam mengarungi rumah tangga, terutama masalah seks. Waras adalah tokoh yang diceritakan sebagai tokoh remaja yang diupacarai. Waras belum memiliki wawasan tentang seks dan persetubuhan. Oleh karena itu, sebelum memasuki masa perkawinan, Waras harus diajarkan seorang Gowok, Srintil.

“Tidak, Kang. Nanti malam kita hanya akan tidur berdua. Aku dan Kakang….

Waras bangkit memeluk Srintil, mendekapnya dan menciuminya. Srintil pasrah saja.” 9Tohari, 2004: 214)

           

Menurut kajian feminis, Srintil adalah perempuan yang selalu didudukkan sebagai pihak yang tertindas oleh kekuasaaan laki-laki dan hegemoni adat yang ada di desa Dukuh Paruk. Srintil sebagai the second sex setelah laki-laki. Srintil tidak dilukiskan sebagai perempuan yang cerdas dan mandiri. Ia dilukiskan sebagai perempuan yang patuh dan penurut. Ia lebih dilukiskan sebagai penguasa ranjang untuk kehausan laki-laki. Ini adalah sebuah penindasan terhadap perempuan.

            Eksploitasi seksual oleh tokoh dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk memberikan dampak kepada tokoh perempuan Srintil. Dampak dominan yang muncul adalah dampak psikologi. Dampak psikologi yang jelas muncul adalah tentang hubungannya dengan laki-laki. Profesi Srintil sebagai ronggeng ternyata tidak selamanya berlangsung. Pada usia keduapuluhtiga, ia mulai sadar bahwa tubuh dan seks adalah hal yang penting bagi perempuan. Ia percaya bahwa kesempurnaan hidup seorang perempuan adalah perkawinan. Srintil mulai sadar bahwa perkawinan adalah sesuatu hal yang sangat penting. Akan tetapi, eksploitasi seksual yang telah dilakukan terhadap dirinya membuat kendala psikologis untuk mrnikah dengan Rasus, laki-laki yang dicintainya. Rasus pun menolak dengan alasan bahwa Srintil adalah seorang ronggeng. Seorang ronggeng berarti adalah sundal. Hal itu tidak tepat untuk dirinya yang menjadi seorang tentara.

            Selain itu dampak lain dari eksploitasi seksual bagi Srintil adalah ia gila. Gangguan psikologi yang parah dialami Srintil adalah gila atau gangguan jiwa. Hal ini disbebkan oleh ketenarannya ketika menari ronggeng dalam kancah pemilu (politik 1965). Ketika itum ia mengabdi kepada tokoh yang terlibat pada pembantaian jenderal-jenderal di Jakarta. Ia pun menjadi tersangka utama dalam pembantaian itu. Anehnya, Srintil tidak mengerti tentang politik. Ia terjebak dalam politik. Ia pun dipenjara.

“Ada suara perempuan mengisak diantara tahanan yang berjejal itu. Dalam sedetik lintasan tidurnya dia menggunting alam nyata dan terbang dalam hidup yang biasa, hidup bersama suami dan anak-anak. Tetapi, ketika tersadar didapati dirinya terbenam dalam ruangan penuh sesak oleh manusia sepenagnggungan, dalam kelengasan udara yang lembab oleh uap air kencing dan keringat. Dia terus mengisak. “ (Tohari, 2004: 248)

Srintil gila. Gangguan jiwa itu lebih disebabkan oleh cinta yang dimilikinya tidak terwujudkan untuk memiliki Rasus atau Bajus. Bajus, lelaki yang juga dicintainya ternyata impoten. Ia pun tidak jadi menikah dengan Bajus. Penderitaan Srintil tidak berakhir disitu, ia sangat terluka, ternyta, Bajus yang impoten menjual dirinya kepada kontraktor ternama asal ibu kota. Inilah yang membuatnya gila. Sementara itu, Rasus tidak menyangka jiak Srintil gila.

“Terasa urat-urat pengikat semua sendi tubuhku melemah. Apa yang terungkap oleh mata amat sulit karena menjadi pengertian dan kesadaran. Srintil yang demikian kusut dengan celana kotor sampai ke lutut serta kaos oblong yang robek-robek. Srintil yang duduk diatas sesuatu, mungkin kotorannya sendiri. Srintil hanya menoleh sesaat kepadaku lalu kembali berbicara sendiri. Dan pelita kecil dalam kamar mandi itu melingkupi citra punahnya kemanusiaan pada diri bekas mahkota Dukuh Paruk itu.” (Tohari, 2004: 395).

Pemposisisan perempuan sebagai pihak kedua (the orther) setelah laki-laki dalam novel Rongeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah pemposisian laki-laki Dukuh Paruk, terutama tetua adat di pedukuhan itu. Laki-laki Dukuh Paruk memandang bahwa perempuan, Srintil, dapat melestarikan budaya ronggeng di Dukuh Paruk. Iru sebagai upaya menghormati leluhur Ki Secamenggala. Jika dicermati lebih dalam lagi, peranan Srintil sebagai seorang ronggeng sebenarnya lebih menekankan pada upaya pemerasan perempuan untuk kekayaan dan kepopouleran (egosime inidividu) agar tetap eksis: Sakarya agar tetap dihormati karena telah sukses mengeksistensikan seorang ronggeng yang sebelumnya sempat punah; Nyai Kartareja dan Kartareja lebih berorientasi pada kekayaan dan kesohoran; materialisme yang tidak tertandingi di pedukuhan itu. Itu tidak lain sebagai bentul politik sosial atas diri Srintil sebagai seorang perempuang Dukuh Paruk yang masih awam (sehingga Srintil hanya menerima saja; pasif) akan seks dan laku-laki.

Di dalam logika bner patriakat ini, lelaki senantiasa diasosiasikan dengan (keunggulan) pikiran, (kemuliaan) jiwa, sementara perempuan dengan tubuh (sebagai destiny), nafsu berahi. Pada tataran sistem sosial, ia diterjemahkan sebagai pembagian kerja: produksi dan reproduksi.

Karya sastra ciptaan Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk-nya ini telah menulis bagaimana tokoh Srintil memutuskan untuk lebih baik menyerahkan keperawanannya kepada Rasus, laki-laki pilihannya, daripada menggadaikannya kepada laki-laki yang telah memberikan pembayaran atas tubuhnya, tergambar pada kutipan berikut:

Unsur-unsur feminisme yang terdapat pada novel ini begitu terasa salah satunya disebabkan karena novel ini mengangkat isu ketimpangan gender. Novel ini mengisahkan relasi antara perempuan dan laki-laki di daerah pedalaman, tepatnya di dukuh paruk. Energi ideologi gender yang diangkat dalam novel ini berlatar kehidupan seorang penari ronggeng di masa isu pemberontakan komunis di Indonesia. Hal tersebut menandakan bahwa pascakolonialisme juga mewarnai cerita dalam novel miliki karya Ahmad Tohari ini. Hal tersebut diceritakan pada bab 5 bagian buku ke dua Lintang Kemusuk Dini Hari, tergambar pada beberapa kutipan di bawah ini:

Pada tahun 1964 itu Dukuh Paruk tetap cabul, sakit, dan bodoh … Pedukuhan yang kecil itu mustahil menghindar dari keruntuhan sistem ekonomi yang sudah lama menggejala secara umum di seluruh negeri … Orang Dukuh Paruk ikut berharap dapat panen, buruh menuai padi. Tetapi berbagai hama datang lebih dulu. Tikus atau walang sangi. Bahkan celeng, yang entah datang dari mana, ikut merusak harapan orang-orang Dukuh Paruk (hlm: 227).

Tetapi pada tahun 1964 itu, ketika paceklik merajalela di mana-mana, ronggeng Dukuh Paruk malah sering naik pentas … (hlm: 228).

Suasana menjadi hening tetap tegang. Semua mata memandang caping hijau itu … dan para perusak yang memakai caping hijau. Pada tahun 1965 itu siapa pun tahu kelompok petani mana yang suka berpawai atau berkumpul dalam rapat dengan tutup kepala seperti itu (hlm: 235-236)

Awal kemarau tahun 1966. Malam yang sangat dingin menyertakan kecemasan yang meluas. Anjing-anjing liar yang beringas karena terangsang bau darah. Atau mayat-mayat yang tidak diurus secara layak. Angin tenggara membawa bau bunga bangkai … suara malam ialah bunyi langkah sepatu yang berat. Dan letupan bedil sekali-kali (hlm: 238-239).

2.      Perlawanan perempuan (ronggeng) dalam hegemoni patriarki pada trilogi cerita Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Kaum feminis dalam novel Rongggeng Dukuh Paruk adalah Srintil dan Rasus. Srintil dan Rasus adalah dua dari masyrakat yang berdiam di Dukuh Paruk. Mereka menentang pelestarian ronggeng di Dukuh Paruk dalam usaha melestarikan kebudayaan yang ada di Dukuh Paruk. Rasus meyakini bahwa budaya ronggeng sebenarnya sebagai sebuah budaya yang cabul. Ketika ia melihat prosesi upacara ronggeng, Rasus sangat membenci upacara itu. Bukan hanya merasa kehilangan Srintil, akan tetapi ia merasa bahwa budaya ronggeng yang diciptakan tetua adat Dukuh Paruk menginjak-injak harga diri perempuan, terutama harga diri emaknya (dalam cerita Catatan Buat Emak). Oleh karena itu, ia membenci prosesi itu. Walau demikian, Rasus tidak dapat berbuat apa karena ia sendiri  masih kanak-kanan. Perlawanan dalam batin Rasus dapat dicermati pada data kutipan teks di bawah ini.

“Kartareja mengangkat tubuh Srintil tingi-tinggi. Menurunkannya kembali dan menciumi ronggeng itu penuh birahi. Penonton bersorak. Mereka bertepuk tangan dengan gembira. Tetapi aku diam terpaku. Jantungku berdebar. Aku melihat tontonan itu tanpa perasaan apapun kecuali kebencian dan kemarahan. Tak terasa tanganku mengepal. Hanya itu, karena aku tak bertindak apa-apa. Dan Kartareja terus menciumi Srintil tanpa peduli puluhan mata melihatnya.” (Tohari, 2004: 48)

….

“Aku hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi.” (Tohari, 2004:51)

            Sementara itu, perlawanan perempuan, Srintil, yang telah menjadi ronggeng dapat dicermati pada kutipan teks berikut ini.

“Srintil menggigit bibir karena bayangan itu bertanya tentang siapa dirinya. Pertanyaan itu sejenak mengambang karena Srintil tak kuasa menjawabnya. Menyusul pertanyaan lain: siapakah yang mengatur diri itu, Nyai Kartareja, para lelaki yang membayarnya, ataukah diri itru sendiri? Srintil memejamkan mata agar leluasa berbicara dengan hatinya. Lama sekali Srintil tetap berdiri tak bergerak. Kerut-kerut pada kulit dahinya menandakan ada pergolakan sedang berlangsung di dalam dirinya.” (Tohari, 2004: 146)

            Srintil sebenarnya ingin melawan ketetapan adat yang ada di Dukuh Paruk. Ia sebenarnya tidak memiliki keinginan untuk menjadi ronggeng. Srintil mulai sadar bahwa menjalani kehidupan sebagai seorang ronggeng hanya menguntungkan dukun ronggeng, Nyai Kartareja. Keuntungan yang Srintil peroleh selama ini hanya memberikan keuntungan bagi Nyai Kartareja. Oleh karena itu, Srintil mulai berpikir untuk melawan perintah Nyai Kartareja. Ia tidak menerima tamu-tamu yang ingin mengajaknya untuk berkencan. Penolakan-penolakan Srintil terhadap perintah Nyai Kartareja dapat dicermati pada data kutipan teks di bawah ini.

“….

Kau bagaimana? Kau cucu Sakarya tidak ingin memiliki kalung sebagus itu?

…..

Dan kamu bertingkah menolak sebuah kalung seratus gram? Merasa sudah kaya? Bila kamu tidak suka kalung itu, mestinya bisa kau ambil untukku. Dan kau layani Pak Marsusi karena semua orang toh tahu kau seorang ronggeng dan sundal.” (Tohari, 2004: 24)

            Srintil mulai sadar bahwa ia adalah perempuan selayaknya perempuan pada umumnya, memiliki suami dan anak. Srintil pun bersikeras untuk tidak meronggeng karena ia telah sadar seorong dengan usianya yang bertambah. Ketika ia pertama diresmikan menjadi seorang ronggeng, Srintil berusia 12 tahun. Pada saat itu ia belum memahami arti sebagai seorang ronggeng. Ia hanya tunduk kepada nasihat-nasihat tatua adat di Dukuh Paruk. Akan tetapi, pada usia ke 18, Srintil baru menyadari hidup seorang ronggeng. Ronggeng tidak lain adalah sundal yang melayani laki-laki secara bergantian. Srintil sadar akan hal itu, akhirnya ia memutuskan untuk tidak melakoni hidup sebagai seorang ronggeng lagi. Akan tetapi, itu tidak lama dilakukan oleh Srintil. Ia kembali meronggeng karena permintaan dari pemerintah, bukan ingin menunjukkan rasa setianya kepada tetua adat di Dukuh Paruk, melainkan ingin mengabdikan dirinya kepada pemerintah melalui pentas ronggeng untuk pagelaran pemilu di desanya.

            Berdasarkan uraian tersebut, perlawanan pertempuran, Srintil, terhadap hegemoni patriarkhi di Dukuh Paruk dilakukan dengan melakukan perlawanan terhadap perintah-perintah kaum yang mengehegemoninya, seperti tetua adat dan Nyai Kartareja sebagai dukun ronggeng. Selain itu, Srintil ingin membuktikan dirinya sebagai perempuan yang kuat. Ketika ia mengetahui bahwa ada sekelompok orang mengintai Dukuh Paruk. Srintil tidak memahami mengenai situasi politik yang berkembang di kecamatannya. Akhirnya, Srintil berinisiatif untuk melaporkan kepada polisi perihal sekelompok orang yang mengintai Dukuh Paruk. Akan tetapi, nasib Srintil sangat buruk. Ia ditangkap oleh polisi dan tentara. Srintil dituduh telah bersekutu dengan para penjahat yang ingin menggulingkan pemerintahan di kecamatan.

“Aku akan pergi ke kantor polisi!” Kata Srintil tiba-tiba.

“Aku akan bertanya kepada mereka apa kesalahan kita.”

Kita yakin tidak bersalah. Kita harus mencari pengayoman. Polisi itu harus memberi pengayoman kepada kita; kawula yang tidak bersalah.” (Tohari, 2004: 239).

3.      Tokoh laki-laki male feminis dan kontra male feminis pada trilogi cerita Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Terlihat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari memunculkan tokoh laki-laki yang male feminis. salah satu tokoh yang menandakan bahwa dia adalah tokoh male feminis, yaitu Rasus. Rasus adalah teman bermain Srintil sebelum menjadi ronggeng. Persahabatan mereka mulai renggang setelah Srintil menjadi ronggeng. Rasus berani berbohong tentang keris dengan mengatakan mendapat wangsit Ayahnya. Perhatikan kutipan berikut:

“Nek, tadi malam aku bermimpi bertemu Ayah. Dalam mimpiku itu Ayah berpesan yang wanti-wantinya harus kulaksanakan, ”kataku dengan hati-hati.

“Apa pesan Ayahmu?” jawab Nenek yang mulai terpancing kebohonganku.

“Soal keris itu, Nek. Kata Ayah keris itu harus kuberikan kepada siapa saja yang menjadi ronggeng di pedukuhan ini. Demikian wangsit Ayah, Nek.” (hlm: 39).

Neneknya percaya dengan mimpi Rasus karena menyebut kata wangsit. Orang Dukuh Paruk menganggap wangsit sebagai bagian dari hukum yang pantang dilanggar. Akhirnya Rasus menyerahkan keris itu kepada Srintil ketika Srintil sedang terlelap. Tidak hanya itu, Rasus pun memperkuat bahwa dia adalah tokoh male feminis. Di saat upacara pemandiaan yang dilaksanakan di depan cungkup makam Ki Secamenggala sedang berlangsung, ada kejadian yang sangat menyesakkan dada Rasus, sehingga membuat Rasus bertindak untuk menolong Srintil ketika semua orang sibuk mengurus Kartareja. Seperti pada kutipan berikut ini:

Apapun tak ku inginkan kecuali segera membawa Srintil menyingkir. Kugandeng tangannya menuruni bukit kecil pekuburan. Srintil tidak kuantarkan pulang ke rumahnya, melainkan kubawa ke rumahku. Suatu keberanian yang tak pernah terbayangkn dapat kulakukan.

Sikap Rasus yang selalu membantu Srintil merupakan peran male feminis. ditambah lagi ketika Rasusu berusaha untuk menyembuhkan Srintil dengan mengajak Srintil untuk berobat. Rasus membawa Srintil ke rumah sakit jiwa. Karena Rasus mempunyai haparan Srintil bisa sembuh dan mereka bisa hidup bahagia. Seperti pada kutipan di bawah ini:

“Srintil akan ku rawat dengan uangku sendiri,” kataku datar dan pasti … (hlm:400).

Tidak hanya Rasus tokoh laki-laki yang dimunculkan Ahmad Tohari sebagai tokoh mael feminis tapi ada tokoh-tokoh lain, seperti Goder, Pak Blegur, dan Partadasim.

Goder  adalah anak Tampi tetangga Srintil. Semenjak Srintil sakit Goder adalah satu-satunya bayi yang dapat mengembalikan semangat hidupnya. Karena pada saat itu Srintil sempat putus asa akibat dirinya mengetahui tidak akan bisa mempunyai seorang anak, setelah Srintil mengetahui semua itu. Untung ada Goder anak Tampi yang memotivasiya untuk tetap semangat hidup. Seperti kutipan di bawah ini:

Makin lama Srintil makin lekat dengan Goder, bayi tampi. Seringkali Srintil menyuruh, jelasnya, mengusir Tampi pulang bila Goder sudah di tangannya. Hasrat meneteki Goder telah berubah menjadi renjana jiwanya, renjana hatinya, dan renjana sistem ragawinya … Ketika kali pertama Srintil sadar teteknya mengeluarkan air susu maka dia berurai air mata. Namun semangat hidupnya bangkit segera (hlm: 139).

Sakum adalah seorang pengiring ronggeng yang menabuhkan gendang di saat Srintil sedang berjoget. Mata Sakum buta, selama ini ia hanya mengandalkan indra pendengarannya, tapi terkadang naluri dan perasaannya lebih dipercaya. Walaupun mata Sakum buta, tapi dia bisa membuat anyaman kukusan dengan baik dan mengiringi Srintil dengan sempurna, sehingga ia bisa menghidupi keluarganya. Seperti kutipan berikut ini:

Sebelum sampai ke tujuan Srintil berhenti di depan rumah Sakum. Hatinya terkesan oleh suasana di situ. Penabuh calung yang buta itu sedang menganyam sebuah kukusan (hlm:163).

Ia dikatakan sebagai peran male feminis karena keikhlasannya dalam membantu Srintil untuk berbelanja di pasar ketika srintil sedang menemani Goder yang terlelap tidur.

Partadasim adalah seorang lelaki dari Peciklan, ia diceritakan sebagai seorang lelaki yang membantu Srintil tanpa imbalan sepeserpun. Pada saat tu Srintil dipaksa untuk pulang bersama Marsusi, dan akhirnya ada Partadasim yang di mintai bantuan oleh Srintil untuk mengantarkannya pulang. Setelah Srintil menjelaskan kejadian yang sebenarnya, akhirnya Partadasim mau mengantarkannya pulang. Karena sikap Partadasim tersebut maka Srintil terbebas dari paksaan Marsusi. Tergambar pada kutipan di bawah ini:

“Kang, sampean mau ke mana?”

“Lha, aku mau pulang.”

“Ke mana?”

“Lha, ya ke Pecikalan. Aku kan orang Pecikalan. Sampean orang Dukuh Paruk, kan?”

“Kebetulan, Kang. Aku minta dengan sangat sampean mau menolongku. Mau?”

“Ya mau saja. Lalu apa tidak salah, karena sampean kan…..kan….kan….” (hlm: 305).

Tokoh male feminis yang terakhir adalah Pak Blegur, ia adalah seorang pejabat proyek yang ditawari Bajus untuk menikahi Srintil. Tapi, hal itu diurungkan oleh Pak Blengur, di karenakan Ia sangat mengerti keadaan Srintil yang telah berhenti melayani nafsu laki-laki. Hal itu tergambar pada kutipan berikut ini:

“Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar.”

“Kata yang mana, Pak?”

“……Aku terkesan oleh citra pada wajahnya. Wajah perempuan jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu rumah tangga. Jus!”

“Ya, Pak.”

“Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi objek petualangan. Jumlah mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil mengundurkan diri dari dunia lamanya.”

“Ya,  pak, ya,” kata Bajus gugup … (hlm: 384-385)

Dari beberapa peran male feminis di atas, peran terbanyak dilakukan oleh tokoh Rasus, karena Ahmad Tohari menitikberatkan peran male feminis pada sosok Rasus.

Dalam roda kehidupan, tokoh laki-laki pun ada yang bersifat kontra male feminis. Sedangkan tokoh yang kontra male feminis salah satunya dapat dilihat dalam sikap Bajus. Bajus adalah orang luar pecikalan yang hendak menikahi Srintil, sehingga Srintil berusaha mencintai Bajus. Tapi Srintil sangat kecewa, karena Bajus ternyata lelaki impoten yang justru hanya berniat menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Seperti pada kutipan berikut ini:

“Anu Srin. Kamu sudah ku perkenalkan dengan Pak Blengur. Percayalah dia orangnya baik. Aku yakin bilakmu minta apa-apa kepadanya, berapapun harganya, akan dia kabulkan. Nanti dia akan bermalam di sini. Temanilah dia, temanilah dia, Srin.” (hlm: 382).

“Kamu orang Dukuh Paruk mesti inget. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu ke rumah tahanan. Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?”

Pintu terbanting dan dikunci dari luar (hlm:383).

Seperti hal nya tokoh mael feminis, tokoh kontra male feminis pun masih ada lagi selain Bajus, yaitu Marsusi, Kartareja, Sakarya, dan lain sebagainya.

Marsusi adalah seorang duda yang ingin mengawini Srintil. Ia selalu mengejar-ngejar Srintil dan memaksanya untuk bersamanya. Tapi, Srintil pun terus menolak, sehingga Marsusi pun geram dan ingin membalas dendam terhadap Srintil. Tapi hal itu diketahu Kartareja. Seperti kutipan berikut ini:

“Tunggu sebentar, Mas,” panggilnya. Laki-laki itu menoleh. Mata Kartareja membulat untuk lebih memahami wajah laki-laki itu. Mula-mula Kartareja ragu.

“Oh, sampean? Ah, meskinya sampean menonton bersama Pak Camat. Tak pantas di sini, bukan?”

“Yah, terkadang orang ingin menyendiri,” jawab Marsusi tenang…

“Pentasmu kali ini sedikit terganggu,” ujar Marsusi.

“Yah, saya maklum. Saya mengerti perasaan sampean. Yang penting sekarangperkara utang-piutang sudah tunai” (hlm: 195).

Kartareja  adalah dukun ronggeng di Dukuh Paruk, ia dan istrinya mengasuh Srintil yang menjadi ronggeng di pedukuhan itu. Sikap Kartareja yang mencerminkan bahwa ia adalah tokoh kontra male feminis, yaitu ketika upacara bukak-klambu. Ia menyuruh istrinya untuk melayani Sulam, dikarenakan seringgit emas. Tergambar pada kutipan berikut:

Oleh suaminya Nyai Kartareja disuruh melayani Sulam yang sedang hilang ingatan. Soal bertayub tak usah ditanyakan kepada istridukun ronggeng itu. Dia sangat pengalaman. Jadilah. Teringat masa mudanya, maka Nyai Kartareja melayani Sulam dengan sepenuh hati. Dia membiarkan dirinya dibawa berjoget, bahkan diciumi oleh Sulam (hlm:74-75).

Sakarya adalah kakek Srintil, ketika ia melihat cucuknya pintar menari. Maka ia memutuskan untuk menjadikan cucuknya seorang penari ronggeng. Ia pun menemui Kartareja untuk menjadikan cucuknya menjadi ronggeng yang sejati. Seperti tergambar dalam kutipan berikut:

Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja … Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-para di atas dapur. Dengan adanya laporan Sakarya tentang Srintil, Dukun ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk.” (hlm: 16).

Pada dasarnya keberadaan tokoh male feminis dan kontra male feminis adalah sebuah keniscayaan, apalagi untuk novel-novel yang mengangkat persoalan perempuan dan berangkat dari dunia feminis.

 

PENUTUP

Munculnya feminisme ini membawa pengaruh terhadap perubahan kaum perempuan atau wanita dalam menyikapi posisi, peran dan fungsinya. Isu-isu serta gagasan-gagasan penyetaraan gender, mempengaruhi kaum perempuan untuk lepas dari 3 posisi dan fungsinya sebagai perempuan, ibu, dan istri. Gagasan-gagasan ini dinilai baik dalam pembebasan hak-hak perempuan yang pada akhir mengalami pergeseran pemikiran atau bahkan melanggar kodratnya sebagai perempuan.

Sebuah novel yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu karya sastra ciptaan sang sastrawan senior ternama, yakni Ahmad Tohari. Beliau merupakan pengarang karya sastra yang produktif. Beliau juga termasuk pengarang yang selalu memperhatikan bahasa sebagai bentuk perkembangan karya sastra dan karya seni. Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu novel karya Ahmad Tohari yang berhasil mencuatkan namanya di jagad karya sastra.

Meskipun Ahmad tohari bukanlah seorang pengarang perempuan, akan tetapi pada novel ini beliau begitu menunjukkan kepiawaiannya dalam membuat karya sastra yang berbau feminisme sehingga penciptaan karakter perempuan pada tokoh ini pun menjadi terasa lebih hidup dan mirip dengan realitas yang ada. Hal ini terbukti karena munculnya konflik batin yang dialami oleh tokoh Srintil sebagai seorang ronggeng. Male feminis dan kontra male feminis dimunculkan Ahmad Tohari sebagai tokoh penolong dan tokoh penghambat bagi tokoh utama dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Kris. 2000. Feminis Laki-Laki dan Wacana Gender. Yogyakarta:  Yayasan Indonesia Tera.

Chamamah S, Siti. 1994.   “Teori Penelitian Sastra.”  Dalam Penelitian Sastra: Tinjauan Tentang Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Yogyakarta:  Masyarakat Poetika Indonesia IKIP Muhammadiyah.   

Djajanegara, Soenarjadi. 2000. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Fakih, Mansour. 2001. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Hellwig, Tinieke. 1994. In The Shadow of Change: Women in Indonesian Literature. USA: The Regents of The University of California.

Humm, Maggie. 2002. Ensiklopedia Feminisme (terjemahan Mundi Rahayu).  Yogyakarta: Penerbit Fajar Pustaka Baru.    

Junus, Umar. 1983. Dari Peristiwa Ke Imajinasi: Wajah Sastra dan Budaya Indonesia. Jakarta: PT Gramedia. 

Kramarae, Cheris and Paula A. Treachler. 1985. A. Feminist Dictionary. London: Sydney Wellington.   

Moeliono, Anton dkk. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra. Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Katarsis.

Subono, Nur Iman. 2001. Laki-laki, Kekerasan Gender dan Feminisme. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan.

Teeuw, A. 1983.  Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.  

Tohari, Ahmad. 2003. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wellek, Rene dan Warren, Austin. 1995. Teori Kesusastraan (terjemahan Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.  

Yasa, I Nyoman. 2012. Teori Sastra dan Penerapannya. Bandung: Karya Putra Darwati