(Aris Margono)

A. Latar Belakang

Fakta sejarah ataupun fakta yang ada dalam sastra sering membuat perdebatan tentang keberadaannya. Ada sekelompok ilmuwan yang memandang fakta sejarah  atau fakta dalam karya sastra itu ada atau hanya mimesis, tetapi ada yang memandang itu ada dan benar-benar nyata. Bahkan yang lebih radikal lagi mengatakan bahwa sastra itu adalah realitas dan fakta. Kedua pandangan ini sama benar dan tergantung dari sudut pandang atau paradigmanya, (Dwi Susanto, 2012: 35).

Berkat perjuangan para feminis, wanita mengalami banyak perbaikan di berbagai bidang  kehidupan. Feminisme sebagai gerakan mulanya berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan diekploitasi (Fakih, 2012: 99). Untuk itu mereka berusaha mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut.

Banyak tokoh yang membahas masalah feminisme, diantaranya adalah Yulia Kristeva. Dalam konteks Barat, khususnya Amerika Serikat, Julia Kristeva mengkategorikan tiga fase feminis; Feminisme Liberal yang memperjuangkan kesetaraan hak, fase Feminisme Radikal yang menolak tatanan simbolik yang didominasi pria demi mengukuhkan perbedaan itu sendiri, dan fase Feminis Ketiga yang menggoyahkan dikotomi antara maskulin dan feminin.

Di Indonesia kita mengenal R.A. Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita. R.A Kartini menulis surat kepada sahabatnya di Belanda bagaimana perlakuan bangsanya terhadap perempuan. Surat-surat tersebut menceritakan tentang penolakannya terhadap sistem yang telah berakar di adatnya.

Namun faktanya, banyak perempuan yang rela menerima kodratnya dan melakoni keadaan itu dengan pasrah. Tapi, banyak pula perempuan yang merasa dinomorduakan dan ingin melepaskan diri dari “ikatan” itu, salah satunya Anisa.  Anisa adalah tokoh utama pada novel “Perempuan Berkalung Sorban” karya Abideh El Khalieqy.

Novel “Perempuan Berkalung Sorban” mengangkat tradisi kehidupan pesantren di Indonesia khusunya di pulau Jawa. Melalui tokoh Anisa tergambar dengan jelas perjuangan kaum perempuan dalam memperjuangkan kesamaan hak dan perjuangan hidup dalam mencapai cita-citanya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang diajukan dalam makalah ini adalah :

  1. Siapakah Yulia Kristeva ?
  2. Bagaimana feminisme liberal menurut Yulia Kristeva ?
  3. Bagaimana analisis novel Perempuan Berkalung Sorban  karya Abidah El Khalieqy Berdasarkan persfektif feminisme liberal Yulia Kristeva ?

C. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui siapakah Yulia Kristeva.
  2. Untuk mengetahui feminisme liberal menurut Yulia Kristeva.
  3. Untuk menjelaskan analisis novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy berdasarkan persfektif feminisme liberal Yulia Kristeva.

D.  Yulia Kristeva

Julia Kristeva (lahir 1941) adalah seorang teoretikus, ahli linguistik, kritikus sastra, dan filsuf yang berdarah Bulgaria. Selain itu, Kristeva juga seorang psikoanalis dan novelis. Kristeva lahir di Bulgaria namun hidup dan berkarya di Paris sejak pertengahan tahun 1960-an. Ia menggunakan teori Marxis dan formalisme Rusia, bersama dengan strukturalisme dan psikoanalisis untuk menciptakan pendekatan yang eklektik terhadap pertanyaan-pertanyaan seputar subyektivitas. Kristeva pernah bekerja bersama Derrida dan para filsuf lain di dalam kelompok Tel Quel. Sejak itu, teori-teori Kristeva tentang teks-teks sastra, kreativitas, dan bahasa, kemudian diperluas ke dalam bidang politik, seksualitas, filsafat, dan tema-tema linguistik. Beberapa karyanya mengambil tema filsafat feminis, estetika, studi kebudayaan, dan psikoanalisis. Karya Kristeva yang paling menunjukkan sistematika pemikiran filsafatnya adalah “La Révolution du langage poétique” ( http://www.kristeva.fr/ ).

E. Feminisme Liberal Menurut Yulia Kristeva

Kristeva mengemukakan suatu tuntutan atas nama wanita terhadap arus yang tidak ditekan dan tidak menekan sebagai suatu kekuatan yang membesarkan. Penyair avant-grade, pria atau wanita, memasuki Tubuh. Ibu dan menolak “Nama Ayah”. Mallarme, misalnya, dengan menghancurkan hukum sintaksis, merongrong Hukum-Ayah, dan mengidentifikasikannya dirinya dengan ibu melalui penemuan arus semiotik yang “maternal”.

Kristeva melihat revolusi puitik ini sebagai berhubungan erat dengan revolusi politik pada umumnya dan pembebasan feminis pada khususnya. Gerakan feminis harus menemukan sebuah “bentuk anarkisme” yang akan berkorspondensi dengan wacana avant-grade”. ( Selden, 1993: 153).

(Menurut Djayanegara (2003:1) feminisme muncul pertama kali di Amerika Serikat. Munculnya gerakan ini disebabkan protes kaum perempuan yang merasa tidak dianggap ada oleh laki-laki saat itu.  Deklarasi kemerdekaan Amerika saat itu menyebutkan bahwa “all men are created equal” (semua laki-laki diciptakan sama) tanpa menyebut perempuan. Para feminis merasa bahwa pemerintah tidak mengindahkan kepentingan-kepentingan perempuan.

Aliran feminisme liberal ini muncul sebagai kritik terhadap teori liberal yang pada umumnya menjunjung tinggi nilai otonomi, persamaan dan nilai moral serta kebebasan individu, namun pada saat yang sama dianggap mendiskrimanasikan kaum perempuan. (Fakih, 2012: 81).

Menurut Fakih (2012: 82), asumsi dasar feminisme liberal berakar pada pandangan bahwa kebebasan (freedom) dan kesamaan (equality) berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Kerangka kerja feminis liberal dalam memperjuangkan persoalan masyarakat tertuju pada ‘kesempatan yang sama dan hak yang sama’ bagi setiap individu, termasuk di dalamnya kesempatan dan hak kaum perempuan. Kesempatan dan hak yang sama itu penting bagi mereka dan karenanya tidak perlu pembedaan kesempatan antara laki-laki dan perempuan. Asumsinya, karena perempuan adalah mahluk rasional juga.

Mereka mengusahakan perubahan kedudukan perempuan dalam masyarakat dengan mengubah hukum. Mereka percaya bahwa perempuan telah ditindas oleh hukum yang dibuat oleh laki-laki. Dengan mengubah hukum (misalnya, dengan mengizinkan perempuan memilih, mempertahankan milik mereka sendiri setelah perkawinan, untuk cerai), tempat perempuan di masyarakat harus berubah seterusnya ( Smith, Linda dan William Rapper; 229).

Beberapa pendapat di atas memperkuat gagasan yang dikemukakan oleh Yulia Kristeva mengenai feminisme liberal. Jadi dapat dapat disimpulkan bahwa feminisme liberal menurut Yulia Kristeva merupakan sebuah aliran yang menghendaki persamaan nilai (equality) dan kebebasan (freedom). Para feminis menuntut  kesempatan yang sama dan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Beberapa hal mendasar yang menjadi ciri feminisme liberal yaitu, (1) kebebasan individu, (2) persamaan nilai moral, (3) kesempatan yang sama dan hak yang sama bagi setiap individu (freedom and equality).

F. Analisis Novel Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El Khalieqy

     Berdasarkan Persfektif Feminisme Liberal Yulia Kristeva

Tokoh utama cerita ini bernama Anisa. Anisa adalah anak seorang kiai yang memiliki sebuah pesantren. Anisa digambarkan sebagai gadis yang cerdas dan pemberani. Meskipun Anisa anak perempuan, tetapi ia ingin mempunyai  kebiasaan dan kehebatan seperti anak laki-laki.  Tampak pada kutipan berikut:

“ O…jadi rupanya kamu yang punya inisiatif bocah wedhok. Kamu yang mengajari kakakmu jadi penyelam seperti ini ya? Kamu yang membujuk kakakmu jadi pengembara? ”

            “ Hanya ke blumbang dekat sawah, soalnya lek Khundori tidak ada. Tadinya mau belajar naik kuda sama dia. ”

            “ Siapa yang mau belajar naik kuda? Kau, bocah wedhok? ”

            “ Iya. Memangnya kenapa , Pak? Tidak boleh? Kak Rizal juga belajar naik kuda.”

            “ Ow….ow….ow…jadi begitu. Apa Ibu belum mengatakan padamu kalau naik kuda hanya pantas dipelajari oleh Kakakmu Rizal, atau Kakakmu Wildan. Kau tahu, mengapa? Sebab kau ini anak perempuan, Nisa. Nggak pantes, anak perempuan kok naik kuda, pecicilan, apalagi keluyuran mengelilingi lading, sampai ke belumbang segala. Memalukan! Kau ini sudah besar bodoh juga, hehh!!” tasbih bapak bergerak lamban, mengenai kepalaku. (hal 6 – 7)

Larangan ayahnya agar Anisa tidak belajar naik kuda, tidak kluyuran mengelilingi lading karena ia bocah wedok sehingga tidak pantes melakukan semua itu ternyata tidak menyurutkan keinginan di hati Anisa untuk bisa hebat seperti laki-laki, kalau perlu bisa mengendalikan laki-laki. Seperti tampak pada kutipan berikut:

Tetapi keinginanku untuk belajar naik kuda telah melampaui nada tertinggi dari kemarahan bapak. Keinginan itu terus menggedor pintu yang disekat oleh batasan-batasan di ruang hatiku. Kubayangkan kembali kisah lek Khudhori tentang Hindun binti Ataba, yang mahir naik kuda dan menderap kian kemari sampai pada putri Bundur, yang memimpin pasukan Raja Kamaruzzaman, dan para lelaki perkasa yang membeo seperti anak ayam di belakang ekor induknya, tak sadar aku mengguman.

            “ Apapun yang terjadi …..aku harus bisa. Aku mesti belajar naik kuda. Aku tetap akan belajar naik kuda. Naik kuda.” (hal 8)

Nasihat bijaksana dari ibunya juga tidak mampu menggoyahkan gejolak pemikiran Anisa. Menurutnya wanita itu harus hebat dan dihormati seperti laki-laki. Seperti pada kutipan berikut:

“ Anakku, Nisa.  Di dunia ini, semua yang diciptakan oleh Allah, apa saja jenis kelaminnya, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya sama baiknya, sama bagusnya, sama enaknya. Sebab Allah juga memberikan kenikmatan yang sama pada keduanya. Tinggal bagaimana kita mensyukurinya. Jadi laki-laki, enak. Jadi perempuan juga enak.”

            “ Tapi aku pingin belajar naik kuda dan pergi ke kantor.”

            “ Apa hebatnya naik kuda dan pergi ke kantor, Nisa?”

            “ Jika aku naik kuda, semua orang mendongak kearahku jika bicara denganku. Aku juga bisa memimpin pasukan perang seperti Aisyah atau Putri Budur, sehingga para laki-laki perkasa menjadi tunduk di belakangku,” aku tertawa geli, “ dan jika aku pergi ke kantor, bajuku wangi dan rapi tidak seperti lek Sumi yang seharian di dapur, badannya bau dan bajunya kedodoran. Jika aku ke kantor, semua orang melihatku dengan hormat, tidak menutup hidung jika aku lewat seperti mereka menutup hidung deket lek Sumi, karena bau bawang dan terasi. Dan di akhir bulan aku menerima gaji.” (hal 15)

Selain ingin punya kebiasaan yang hebat seperti anak laki-laki, Anisa juga haus ilmu. Ia berusaha menambah wawasannya. Anisa bersekolah dan menambah ilmu di pesantren milik ayahnya. Namun ayah dan kedua saudara laki-laki Anisa tidak menyukai hal ini. Menurut mereka perempuan tidak harus bersekolah tinggi. Tetapi Anisa tidak mau menyerah begitu saja. Anisa kemudian belajar dengan Mbak May. Mbak May adalah siswa pintar di Pesantren milik ayahnya. Selain pintar, Mbak May juga pernah menjadi pemenang MTQ tingkat Kabupaten.

Selain pada Mbak May, Anisa juga belajar dengan Lek Khudhori. Lek Kudhori adalah saudara jauh dari ibu Anisa. Ia baru saja lulus dari pondok pesantren ternama di Jawa Timur. Sementara ini, sambil menunggu keberangkatannya ke Kairo atas beasiswa yang diterimanya, ia tinggal di rumah Anisa karena kedua orang tuanya sudah meninggal.

Lek Khudhodri lah yang banyak mengajari Anisa tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Anisa begitu sangat mengagumi pamannya itu. Selain pintar dan berwawasan luas, alim dan penuh pengertian, wajahnya juga tampan rupawan, dan yang lebih penting lagi ia  menyayangi Anisa.

Kedekatan Anisa dengan pamannya semakin memupuk pikiran kritis dan keberanian Anisa. Cerita tentang wanita-wanita hebat pada masanya yang sering diperdengarkan lek Kudhori pada Anisa sewaktu lek Khudhori mengajarinya naik kuda atau pun waktu memancing di blumbang, juga ketika mengajaknya berjalan-jalan ke kota selalu membayang dan mensugesti pikiran Anisa. Seperti tampak pada peristiwa saat Anisa mengkritisi penjelasan guru di kelasnya:

Di dalam kelas, selagi aku masih merenung-renung perkataan Rizal, pak guru bahasa Indonesia menyuruhku mengulangi kalimat:

            A-yah per-gi ke kan-tor

            I-bu me-ma-sak di-da-pur

            Bu-di ber-ma-in di ha-la-man

            A-ni men-cu-ci pi-ring

            “ Ulangi sekali lagi, lebih keras dan jelas! ” Perintah pak guru.

            “ Bapak pergi ke kantor,” teriakku lantang kemudian terdiam. Aku berfikir sejenak kemudian bertanya, “ Apa ke kantor itu termasuk urusan laki-laki, Pak Guru? ”

            Pak guru terkejut. Aku juga ikut terkejut. Demikian juga teman-temanku.

            “ Bagaimana, Nisa? Apa yang kamu tanyakan tadi? ”

            “ Kakak saya pernah bilang, katanyamereka sedang membicarakan urusan laki-laki. Apa ke kantor merupakan urusan laki-laki, Pak Guru? ”

            “ O, tentu. Pergi ke kantor adalah urusan laki-laki, seperti Bapak, Paman, Kakak atau Kakek dulu juga pergi ke kantor, sebelum pensiun. Ayo sekarang dilanjutkan lagi bacanya. Pelan, keras dan jelas ya… ”

            “ Ibu belanja ke pasar.” Aku kembali berteriak kemudian, lagi-lagi terdian dan berfikir sejenak lalu bertanya.

            “ Tetapi Ibunya Dita juga pergi ke kantor, Pak guru, dan tidak pernah ke pasar.”

            “ Oya? Siapa itu Dita? Temannya Nisa?”

            “ Tetangga saya, Pak.”

            “ Baik. Baik . jadi anak-anak, memang ada seorang Ibu yang juga pergi ke kantor, mungkin karena suaminya meninggal sehingga si ibu harus mencari nafkah sendiri untuk….”

            “ Tetapi Ayahnya Dita belum meninggal, Pak. Ayahnya Dita memiliki banyak burung dan setiap harinya memberi makan burung dan mengajarinya kalimat…rejeki nomplok, rejeki nomplok, rejeki nomplok.” (hal 10-11)

            “ Baiklah anak-anak,” pak guru mencoba menguasai suasana, “ dalam adat istiadat kita, dalam budaya nenek moyang kita, seorang laki-laki memiliki kewajiban dan seorang perempuan juga memiliki kewajiaban. Kawajiban seorang laki-laki, yang terutama adalah bekerja mencari nafkah, baik di kantor, di sawah, di laut atau dimana saja asal bisa mendatangkan rejeki yang halal. Sedangkan seorang perempuan, mereka juga memiliki kewajiban, yang terutama adalah mengurus urusan rumah tangga dan mendidik anak. Jadi memasak, mencuci, mengepel. Demikian juga memandikan anak, menyuapi, mengganti popok dan menyusui, itu kewajiban seorang perempuan. (hal 12)

Tidak hanya pada guru di sekolahnya. Penjelasan dari kiai Ali, guru mengaji di pondok ayahnya juga didebatnya. Seperti pada kutipan berikut:

Setelah memberi keterangan betapa pentingnya para rermaja putri mengetahui hak dan kewajiban mereka sebagai muslimah, baik sebagai anak, seorang murid, anggota masyarakat, warga Negara dan lebih-lebih seorang istri kelak di kemudian hari, ustadz Ali mulai mensitir sebuah hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat nabi bernama Abdullah bin Mas’ud r.a yang berbunyi; Perempuan mana saja yang diajak suaminya untuk berjimak lalu ia menunda- nunda hingga suaminya tertidur, maka ia kan dilaknat oleh Allah.” Kemudian lanjutanya, “ perempuan mana saja yang cemberut di hadapan suaminya, maka dia dimurkai Allah sampai ia dapat menimbulkan senyum suaminya dan meminta keridlaannya.

            “ Bagaimana jika istrinya yang mengajak ke tempat tidur dan suami menunda-nunda sampai isteri tertidur, apa suami juga dilaknat Allah, Pak Kiai?”

            “ Tidak. Sebab tak ada hadis yang mengatakan seperti itu. Lagi pula, mana ada seorang isteri yang mengajak terlebih dahulu ke tempat tidur. Seorang isteri biasanya pemalu dan bersikap menunggu.”

            “ Bagaimana jika kenyataannya ada seorang isteri yang terbuka dan mengajak lebih dulu dan tidak suka bersikap menunggu.”

            “ Perempuan seperti itu biasanya tidak disukai laki-laki karena terlalu agresif. Nanti laki-laki bisa minder menghadapinya. Sebaiknya seorang isteri adalah pemalu dan bersikap menunggu. (hal 80-81)

            Aku tak tahan dengan dua gambaran yang terus mengikutiku, taman impianku yang remaja dan penuh cita-cita dan taman impian yang mulia dan keharusan untuk mengikuti kitab-kitab tua. Pastilah kedua impian itu takkan bisa selaras mengingat perbedaan yang begitu jauh. ( hal 85)

Sampai pada suatu ketika, lek Khudhori melanjutkan pendidikan ke Kairo dan lanjut lagi ke Berlin. Anisa merasa sedih karena tidak ada paman yang membimbingnya lagi. Sepeninggal lek Khudhori, Anisa yang masih duduk di bangku kelas V SD dijodohkan dengan laki-laki bernama Samsuddin, putra seorang kiai sahabat ayahnya.

Anisa yang waktu itu masih belia tak berdaya menolak keinginan orang tuanya. Sekarang Anisa sudah menjadi istri Samsuddin, laki-laki yang baru satu jam lalu dilihatnya. Pernikahannya dengan Samsuddin merupakan neraka bagi Anisa. Samsuddin berperangai buruk, kejam, menyiksa Anisa lahir batin. Samsuddin juga berselingkuh dengan wanita yang pantas dijadikan ibunya yaitu Mbak Kalsum. Mbak Kalsum yang kemudian dinikahinya dan hidup serumah dengan Anisa.

Meskipun demikian lilin harapan di hati Anisa tidak padam. Dalam kondisi yang begitu terpuruk, Anisa masih meminta pada sumainya yang kejam menyiksa dirinya agar diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanwawiah. Anisa selalu mengingat nasehat lek Kudhori bahwa satu-satunya cara agar ia tetap bangkit adalah terus belajar dan belajar. Melanjutkan sekolah sampai Sarjana. Seperti tergambar dalam kutipan berikut:

Dunia boleh menderaku,  Samsudin boleh memperkosaku setiap malam, selagi aku masih bodah dan kurang pendidikan. Tetapi pada saatnya, semua akan dimintai pertanggungjawaban dan semuanya pula telah tersedia balasan. Tunggulah sampai lidahku fasih menjawab semua persoalan dunia. Ketika otakku menjadi panah dan hatiku bagai baja. Aku pasti datang, dan akan berbicara lantang untuk menagih seluruh hutang-hutang yang tak pernah kau bayangkan, seberapa besar kau harus membayarnya.

Maka, sekalipun sudah hampir dua minggu aku absen dari panggilan guru , ku paksakan diri ini untuk kembali ke sekolah Tsanawiyah. Dengan penuh keyakinan bahwa segalanya akan berubah ketika lautan ilmu itu telah berkumpul di sini, dalam otakku. Atas nama kecintaanku pada lek Khudhori, atas nama ilmu dan atas nama perubahan, aku bergegas masuk ke dalam kelas. Kulahap semua yang diajarkan guru dengan sepenuh hati dan kemampuan pikiranku. Tiga tahun berlalu dan kini aku telah lulus dengan menduduki ranking kedua setingkat kabupaten. (hal 112-113)

Meskipun sudah bersuami Anisa belum hamil. Anisa selalu berdoa agar jangan hamil dulu. Dengan begitu ia bisa melanjutkan sekolah ke tingkat Aliah.

Kebrutalan Samsuddin semakin menjadi. Perilakunya sama sekali tidak mencerminkan kalau dirinya putra seorang kiai. Titel sarjana hukum yang dia miliki kontras dengan prilakunya yang seperti orang yang tidak tau hukum atau aturan. Untuk memancing kecemburuan Anisa, ia sering membawa peremuan ke rumah berganti-ganti. Juga pernah suatu hari sewaktu pulang dari sekolah, Anisa mendapti Samsuddin  dan Kulsum terengah-engah di ruangan tengah tanpa selembar kain menutupi. Rupanya Samsuddin ingin menunjukkan pada Anisa bagaimana caranya bermain di taman surga dan ia menawari Anisa untuk bergabung jika mau. Tidak puas sampai di situ, belakangan Samsuddin tidak pernah pulang, rupanya ia sedang asyik dengan Denok ganjen penjual jamu yang rumahnya di ujung desa.

Kepulangan lek Kudhori setelah menyelesaikan pendidikannya di Kairo dan Berlin dirasakan seperti tiupan angin surga bagi Anisa di tengah panasnya kepungan api neraka yang ditebarkan oleh Samsuddin. Pikiran dan keberanian Anisa sudah bulat, ia sudah tidak tahan dan akhirnya minta cerai, walaupun Samsuddin tidak menyetujuinya. Seperti tampak pada kutipan berikut :

“Nisa, bukankah suamimu akan datang juga untuk bertemu Lekmu,“ tanya Ibu masih penasaran dengan Samsuddin.

“Kalau ia punya nyali,” jawabku singkat.

“Apa yang kau katakana , Nisa? Mengapa nada bicaramu selalu seperti itu jika membicarakannya. Dia itu suamim, Nisa. Jangan berkata sembarangan!?”

“Tetapi aku tidak pernah sekalipun bermimpi mendapatkan suami seperti itu. Aku tidak pernah kenal, lihat wajah, apalagi punya rencana untuk menjadi istrinya. Aku tidak pernah menjadi istri siapapun, sebab aku tidak merasa telah menikah atas kemauan dan pilihanku sendiri.”

“Nisa! Hentikan kata-katamu. Kalau tidak, bapakmu yang akan menanganimu.”

“ Tangan Bapak tidak lebih kuat dari hakku untuk menentukan nasibku. Ibu, Aku kini bukan Nisa yang dulu lagi. Aku sudah menstruasi berkali-kali, sudah dewasa dan…”

“ Subhanallah! Kau benar bahwa kini kau telah berubah, Nisa. Kau benar-benar telah menjadi anak mursal kini. Inikah yang kau dapat setelah sekian buku kau kunyah-kunyah dengan bangga itu? ” Ibu berang. (hal 160)

Mulanya kedua orang tua Anisa marah mendengar perkataan Anisa mengenai  suaminya. Tapi setelah mereka mendengar cerita jujur Anisa yang diperkuat oleh lek Kudhori  tentang prilaku suaminya yang sering menyalahi hukum agama, mereka menjadi sedih dan shock. Seperti tampak pada kutipan berikut:

Cuti yang kuminta dari sekolahan adalah satu minggu. Dan kini telah empat hari aku pergi dari rumah Samsuddin. Lek Kudhori menyarankan sebaiknya aku segera pulang, namun bapak mendadak sakit. Aku mendengar dari ibu, bapak terserang darah tinggi. Setelah mendengar semua penjelasan ibu mengenai kenyataan pernikahanku dengan lelaki pilihannya.

Setelah melewati beberapa kali pembicaraan antara keluarga Anisa dan keluaraga Samsuddin  akhirnya Anisa resmi cerai dari suaminya. Seperti dalam kutipan berikut:

Maka, ketika percerian itu berlangsung dengan tenang, kutatap langit di atasku dengan seluruh hamburan cahaya bintang-bintang. Bunga bermekaran mengirim wangi mrasuki sanubari, mengangkatku jauh melayang ringan menjemput purnama dan udara kebebasan. (hal 190)

Untuk mengisi hari-harinya setelah berstatus janda, Anisa kembali bersekolah dan menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan di luar kampus. Seperti tampak pada kutipan berikut:

Sekali pun Rizal dan Wildan juga di Yogya, aku tidak mau tinggal bersama mereka. Aku ingin merasakan kemerdekaan hidup yang mengobsesi sekian lama dalam benakku. Toh aku sudah dewasa kini. Dengan kuliah, aku menaikan jenjang pendidikan setapak demi setapak bersama ilmu yang merasuki otak. Membentuk pola pikir dan kepribadianku. Dengan organisasi, aku mempelajari cara berdebat, berpidato dan menejemen kata untuk menguasai massa, juga hobby dengan banyak orang yang lebih lama kuliahnya. Dengan menulis, aku belajar menata seluruh gagasan yang kudapat baik dari kuliah maupun organisasi, ditambah pengalaman dan perenunganku sehari-hari dalam kehidupan nyata. Karena pada dasarnya mobilitasku begitu tinggi, semua aktivitas itu masih terasa kurang. Aku pun mengikuti kursus bahasa di salah satu college yang memiliki reputasi internasional.

   Lengkapanya jam demi jam kulalui dengan keterpesonaan ilmu dan kehausan untuk mendalami segala sesuatu. Kerinduanku pada rumah, juga pada lek Khudhori menjadi berkurang. Sekalipun begitu, di malam-malam yang senyap, bayangannya selalu muncul dan menyapaku untuk memberi pertanyaan baru, apakah kau sudah siap, Nisa? Dan aku akan menjawab, belum. Sebentar lagi, lek. Besoknya bayangan itu akan datang lagi dengan pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama pula. Hingga pada suatu saat, aku merasa bahwa lek Khudhori telah habis kesabaran menungguku yang tengah asyik menguyah-nguyah ilmu. (hal 203)

Benar saja, suatu saat lek Khodri melamar Anisa untuk jadi istrinya. Anisa tidak langsung memberi jawaban, ia minta waktu satu minggu untuk memikirkannya. Seperti terdapat pada kutipan berikut:

“ Nisa. Sekarang ini aku merasa, tak ada lagi yang meski kita tunggu. Kurasakan pula, kebutuhanku untuk itu telah sampai pada tingkatan wajib. Bagaimana menurut pendapat Nisa?”

Kini aku yang gelagapan. Sebenarnya aku belum siap dengan rencana pernikahan yang kedua kali. Sekalipun mencintainya, tak berarti bahwa aku ingin cepat-cepat menikah dengannya, terlebih saat aku tengah berada dalam puncak kegairahan untuk kuliah dan berorganisasi. (hal 212)

“ Beri aku waktu satu minggu untuk memikirkannya, Lek.  Bukankah waktu satu minggu tidak terlalu lama. Dan perlu lek ketahui…”

“ Tentang apa? “

“ Bahwa aku mencintaimu, Ahibbak, Lek. I love you so much. “ (hal 213)

Seminggu kemudian  Anisa memberi keputusan menerima pinangan lek Kudhori. Kemudian lek Kudhori  melamar kepada orang tua Anisa. Mereka pun menikah. Dari pernikahan ini Anisa memiliki seorang anak dan hidup bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena lek Kudhori meninggal akibat ditabrak sebuah mobil yang diduga pelakunya adalah Samsuddin yang tidak menyukai kebahagiaan itu. Seperti tampak pada kutipan berikut:

Ibu terus berkata-kata dan membuatku ikut pada pembicaraannya tetapi pikiranku kosong, tidak di sini dan tidak di mana-mana. Kosong dan hampa. Jiwa pun terasa tidak menempati raganya. Ada yang terasa hilang dan aku tidak tahu, ke mana dan apa yang hilang tersebut. Baru ketika Mahbub masuk ke kamar dan memanggil-manggil bapaknya, hatiku tergetar begitu hebat, serasa tersengat aliran listrik. Darahku mendesir-desir dan seluruh energi di tubuhku bangkit untuk meneriakkan pembrontakan dari semua kondisi yang tengah berlangsung.

Tidak. Mas Kudhori tidak mati. (hal 312)

Kemudian kudekap Mahbub dan kubisikkan kata-kata dari dasar kepedihan hatiku.

“ Sayang, katakan pada bapak bahwa Mahbub sangat mencintainya. Ayo aktakan di telinganya, “ aku meminta.

Mahbub menuruti kata-kataku. Lalu sekali lagi aku memintanya untuk mengucapkan salam kepada bapaknya. Ia pun menuruti permintaanku. Itulah salam terakhir kami yang bersinggungan dengan fisik. Sedangkan jiwa kami tak pernah meninggalkannya sendiri di alam sana. Terutama Mahbub yang semakin hari semakin pandai menyambung aura bapaknya setelah terputus dari aktivitas dunia. (hal 313)

Sepeninggal suaminya, Anisa tetap tegar dan semangat menjalani kehidupan. Melihat masa depan Mahbub putranya, membuat matanya jernih dari mendung dan debu dunia. Seperti tampak pada kutipan berikut:

    Aku tersenyum bangga. Kuletakkan buku yang sedari tadi kubaca di sisinya. Lalu kucium dahinya dengan lembut. Selembut embun pagi yang menetes dari langit biru. Mengisi jadwal dan kewajiban hari-hariku untuk tetap melangkah, memerdekakan kaumku yang masih saja dianggap lemah. Agar mereka selalu hadir dan mengalir di tengah zaman. Membawa kemudi. Panji Matahari. (hal 314)

G. Kesimpulan

Feminisme liberal menurut Yulia Kristeva merupakan sebuah aliran yang menghendaki persamaan nilai (equality) dan kebebasan (freedom). Para feminis menuntut  kesempatan yang sama dan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Beberapa hal mendasar yang menjadi ciri feminisme liberal yaitu, (1) kebebasan individu, (2) persamaan nilai moral, (3) kesempatan yang sama dan hak yang sama bagi setiap individu (freedom and equality)

Melalui tokoh Anisa, novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy menyuarakan tuntutan dan perjuangan kaum feminis untuk mendapatkan (1) kebebasan individu, (2) persamaan nilai moral, (3) kesempatan yang sama dan hak yang sama bagi setiap individu (freedom and equality).

Tuntutan dan perjuangan tersebut dapat dilihat melalui peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

  1. Anisa ingin pandai naik kuda seperti kakaknya Wildan dan Rizal. Anisa membayangkan, jika pandai naik kuda, ia bisa memimpin pasukan perang seperti Aisyah atau Putri Budur, sehingga para laki-laki perkasa menjadi tunduk di belakangnya.
  2. Anisa ingin pergi ke kantor, bajunya wangi dan rapi, tiap bulan dapat gaji dan dihormati. Ia tidak ingin seperti lek Sumi yang seharian di dapur, badannya bau dan bajunya kedodoran, bau bawang dan trasi.
  3. Anisa mempertanyakan penjelasan ustadz Ali bahwa saat perempuan diajak suaminya untuk berjimak lalu ia menunda-nunda hingga suaminya tertidur, maka ia kan dilaknat oleh Allah. Bagaimana kalau istri yang meminta dan suami menunda-nunda apakah suami juga akan dilaknat oleh Allah?
  4. Sewaktu masih kelas V SD, Anisa dinikahkan dengan Samsuddin, anak dari sahabat ayahnya. Meskipun sudah menjadi istri Samsuddin, Anisa minta untuk tetap melanjutkan sekolahnya ke Tsanawiyah. Anisa tidak segera hamil sehingga bisa melanjutkan lagi ke Aliah.
  5. Pernikahannya dengan Samsuddin hanya memberi kesengsaraan dan penderitaan bagi Anisa. Setelah dirasa sudah tiba pada waktunya, Anisa minta cerai meskipun Samsuddin tidak mengijinkannya.
  6. Setelah menjadi janda Anisa keasyikan mengunyah-ngunyah ilmu di bangku kuliah dan sibuk dalam berorganisasi.
  7. Anisa menerima lamaran lek Kudhori, sosok lelaki idamannya. Ia hidup bahagia dan dikaruniai seoarang anak yang diberi nama Mahbub. Kebahagiaanya tidak berlangsung lama. Suaminya meninggal akibat mobilnya ditabrak oleh seseorang yang diduga Samsuddin. Dia tidak rela melihat Anisa hidup bahagia. Anisa tidak mau larut dalam kesedihannya, ia tegar dan tetap semangat menghadapi masa depan bersama putranya Mahbub, serta melangkah mantap berjuang untuk memerdekaan kaumnya yang dianggap lemah.

H. Saran

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disarankan bahwa perempuan di Indonesia, kususnya di lingkungan pesantren yang masih merasa belum mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam meperoleh hak-haknya, maka harus memperjuangkannya. Dalam rangka memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan atas hak-haknya,  hendaknya perempuan tidak melupakan  kodratnya. Dengan demikan, apa yang diperjuangkannya akan berhasil dan keharmonisan dalam kehidupan tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Budianta, Melani. (2002 ). Pendekatan Feminis Terhadap Wacana: Sebuah Pengantar. In I. D. Aminuddin, Analisis Wacana: Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi (pp. 199-217). Yogyakarta: Kanal.

El Khalieqy, Abidah. 2009. Perempuan Berkalung Sorban. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Djayanegara, Soenardjati. 2003. Kritik Sastra Feminis. Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Fakih, Mansour. 2012.  Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

http://www.kristeva.fr/  (diunduh tanggal 12 Desember 2012).

Suryopati, Mohammad. A. 2011. Teori Sastra Kontemporer dan 13 Tokohnya. Yogyakarta: IN AzNa Books.

Susanto, Dwi. 2012. Pengantar Teori Sastra. Yogyakarta: CAPS.

Teeuw. A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: PT. Karya Nusantara.

Smith, Linda dan William Rapper. Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang. Terjemahan Pardono Hadi. Yogyakarta; Penerbit Kanisius. Cet V. 2004.