(Suharyono)

 1.  Pendahuluan

Naratologi merupakan cabang struktualisme yang mempelajari struktur naratif dan bagaimana struktur tersebut mempengaruhi persepsi pembaca. Naratologi berasal dari kata naratio dan logos (bahasa Latin). Naratio berarti ‘cerita, perkataan, kisah, hikayat’, sedangkan logos berarti ‘ilmu’.  Naratologi juga disebut teori wacana (teks) naratif. Dan, baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif, diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan (Ratna, 2011: 128).

Menurut Todorov,  telaah teks sastra meliputi (1) aspek semantik: hubungan sintagmatik dan paradigmatik, (2) aspek verba: modus, kala, sudut pandang, penuturan, dan (3) aspek sintaksis (dalam Zeimar dkk., 1985). Dalam makalah ini, analisis teori naratologi strukturalis Todorov terhadap cerpen “Abacadabra” karya Danarto,  dibatasi hanya pada aspek verba.

Karya sastra tidak tergantung dari ‘apa’ yang diceritakan, melainkan ‘bagaimana’ cara menceritakannya (Ratna, 2011: 157). Oleh karena itu, cerita harus diceritakan kembali sehingga menjadi penceritaan, sebagai alur, plot (Ratna, 2011:159). Hal itu sejalan dengan teori formalisme rusia yang membedakan antara fobula ‘cerita’ dengan sjuzet ‘alur’ (Syuropati, 2011) yang sejajar dengan konsep Todorov, yaitu histoire dan discours (Ratna, 2011, 136).

Berdasarkan pendapat Ratna di atas, dalam karya sastra, bagaimana ‘penceritaan’ merupakan hal yang lebih penting daripada apa ‘cerita’. Itulah sebabnya, banyak pengarang yang mengambil tema sama tetapi kualitas karya yang dihasilkannya berbeda-beda karena penceritaannya berbeda-beda.

Cerpen Danarto yang berjudul “Abacadabra” menjadi menarik untuk dianalisis berdasarkan teori naratologi strukturalis Todorov karena, menurut Th. Sri Rahayu Prihatmi, misalnya, yang mengomentari kumpulan cerpen Danarto berjudul Godlob (1987) ini, “Cerpen ini meramu dua dunia: dunia nyata sehari-hari dan sebuah dunia yang di luar batas logika, konvensi, dan indera.” Dan,dunia yang di luar batas logika, konvensi, dan indera  pada cerpen “Abacadabra”—yang merupakan salah  satu dari kumpulan cerpen ini—sangat  memukau, karena penuturan atau  penceritaannya yang luar biasa.

 

 2.  Aspek Verba  dalam Cerpen “Abacadabra” Karya Danarto

 

Cerpen “Abacadabra” karya Danarto ini akan dianalisis menurut aspek verba sesuai dengan teori Tzvetan Todorov, salah satu pengembang teori naratologi strukturalis. Menurut Todorov, aspek verba meliputi kategori modus, kategori kala, kategori sudut pandang, dan kategori penuturan (penceritaan).

 

2.1  Kategori Modus

Kaktegori modus merupakan kelahiran peristiwa yang diceritakan dalam  teks. Kategori ini mengambil gaya cerita yang ada dalam teks. Biasanya suatu teks menggunakan (a) gaya langsung dan (b) gaya  tidak langsung.

Gaya langsung merupakan gaya ujaran yang dituturkan langsung oleh pelaku atau tokoh, baik secara dialog maupun monolog. Adapun gaya tak langsung merupakan gaya ujaran yang diucapkan oleh tokoh “aku” ataupun oleh pencerita sebagai orang ketiga.

Gaya cerita dalam cerpen “Abacadabra” menggunakan baik  gaya langsung maupun gaya tidak langsung. Gaya langsung dalam cerpen “Abacadabra” ditunjukkan dengan dialog berikut.

“Harus hitam di atas putih, Hamlet,” kata Hoeatio.

“Nih, saya kasih merah di atas putih,” jawab Hamlet sambil menuliskan dengan darah dari lukanya.

 

Selain dengan dialog, gaya cerita langsung dalam cerpen itu juga menggunakan monolog:

“Saudara-saudara pembaca yang budiman. Terima kasih atas perhatian Saudara-saudara. Di sini Hamlet bicara. Mudah-mudahan kita senantiasa bisa berhubungan. Saudara tahu keadaan saya ‘kan. Dan benda sebesar telur yang bercahaya-cahaya itu, O, hiya saya lupa, saya juga melihat orang-orang di dunia, di tubuhnya benda sebesar telur itu bercahaya-cahaya. Ada yang tubuhnya lebih jelas tampak dari telurnya. Bayi-bayi dan orang tualebih jelas tampak telurnya.”

Adapun gaya tidak langsung dalam cerpen “Abacadabra” pada paparan atau pembuka (hlm. 1) diucapkan oleh orang ketiga:

Jika itu sabda Tuhan, suruhlah batu menggoyangkannya. Jika itu kebenaran, suruhlah pohon menyanyikannya. Jika itu kata bertuah, suruhlah manusia membikinnya. Biarlah tahta terhampar dan perdana menteri bersujud, jika angin berhembus, niscaya udara di kamar pengap juga. Biarlah lari kuda menyibak di antara obor dan anjing-anjing menyalak, jika tak ada binatang buruan apa mau dikata. Hujan pagi hari, enak bagi pegawai. Hujan sore hari, enak bagi pengantin baru. Hujan malam hari, enak bagi maling. ….

Akan tetapi, selanjutnya (pada hlm. 8) gaya tak langsung dalam cerpen itu diucapkan oleh orang pertama (pengarang, Danarto):

“Para pembaca sekalian, saya penulis karangan ini menghentikan karangan saya sampai di sini saja. Saudara Hamlet yang mengalami peristiwanya secara langsung akan menceritakan seluruh pengalamannya langsung kepada Saudara-saudara. Jadi, Saudara-saudara mendapatkan dari tangan pertama. Kepada Saudara Hamlet waktu kami serahkan dan kepada Saudara-saudara pembaca saya ucapkan selamat mengikuti. Sementara itu, saya juga mengikuti terus.”

Bahkan, gaya tak langsung dalam cerpen itu juga diucapkan oleh orang pertama (tokoh utama, Hamlet):

“Saudara-saudara pembaca yang budiman. Terima kasih atas perhatian Saudara-saudara. Di sini Hamlet bicara. Mudah-mudahan kita senantiasa bisa berhubungan. Saudara tahu keadaan saya ‘kan. ….”

 

2.2  Kategori Kala

Kategori ini menyinggung hubungan antara dua jalur waktu, yaitu jalur waktu dalam warna fiksi dan jalur waktu dalam alam fiktif yang lebih rumit. Di dalam kategori ini juga terdapat pengaluran  yang digunakan dalam cerita. Menurut Sudjiman (1988), pengaluran adalah pengaturan urutan peristiwa pembentuk cerita.

Pengaluran cerpen “Abacadabra” adalah sebagai berikut.

  1. Di bazaar Teheran, Hamlet terhuyung di balairung menemui sahabatnya, Horatio. Ia menebah dadanya yang terkena sabetan pedang Laertes.
  2. Di Tawangmangu, seorang presiden membagi zakat fitrah. Orang-orang miskin dan gelandangan berebutan. Horatio menarik lengan Hamlet dan berteduh di air mancur.
  3. Di dekat air mancur, Hamlet mengagumi seni patung. Di situ, ia mengatakan kepada Horatio bahwa ia akan menghapus kasta.
  4. Hamlet bercerita, ketika Gertrude, ibunya, menjelang ajal, ibunya menggunakan bahasa (Jawa) halus.
  5. Sebuah halaman yang luas penuh dengan kolam-kolam air mancur dengan patung-patung air. Air mancur menghadirkan warna-warni dan pelangi. Tiap patung air diiringi musik. Semuanya digerakkan oleh computer. Terlalu jauh “perjalanan” Hamlet dan Horatio. (Hamlet merupakan sandiwara yang ditulis olehWilliam Shkespeare (1599-1601)).
  6. Hamlet bersiap-siap untuk mati. Horatio bersimpuh berdoa dengan mata tertutup. Hamlet teringat Ophelia, kekasihnya.
  7. Hamlet meninggal. Pengarang (Danarto) menceritakan perjalanan roh  ke alam baka. Ruang dan waktu menjadi relatif.
  8. Pengarang mewawancarai (roh) Hamlet, antara lain tentang mengapa Horatio tidak mendengar pada saat dipanggil  Hamlet setelah meninggal.
  9. Pengarang mengusulkan agar Hamlet sendiri yang secara langsung bercerita kepada pembaca.
  10. Hamlet menceritakan roh yang mirip sebutir telur. Hamlet juga bercerita tentang patung cahaya dan patung suara, juga tentang makanan “rohani”.
  11. Hubungan pengarang  dengan Hamlet putus. Tiba-tiba ada layar putih seperti layar televisi. Di layar itu kelihatan Hamlet terkapar di lambung perut itu, di semesta. Hamlet bergerak-gerak. Hamlet dikelilingi oleh Hamlet Kekekalan, Hamlet Kebaikan, Hamlet Kejahatan, dan Hamlet Manasuka.
  12. Hamlet merangkak-rangkak keheranan. Ia takjub seperti cermin ia menatap keempat wajah itu persis wajahnya.
  13. Hamlet menanyakan, siapakah dirinya. Keempat Hamlet menjawab bahwa Hamlet bernama Hamlet Kokot Bolot. Hamlet Kekekalan, Hamlet Kebaikan, Hamlet Kejahatan, dan Hamlet Manasuka merayu, mengajak Hamlet Kokot Bolot agar ikut dengan salah satu. Tiba-tiba Hamlet Kokot Bolot lenyap.
  14. Hamlet meronta-ronta di atas tempat tidur rumah sakit umum pusat ditunggui Horatio.
  15. Hamlet hidup kembali karena darahnya yang beracun sudah diganti dengan darah segar.

 

2.3  Kategori Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dari mana cerita disampaikan (Minderop, 2005: 87). Sudut pandang memiliki banyak variasi dan kombinasi, tetapi ada empat variasi mendasar yang berbeda: (a) sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama, (b) sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan,  (c)  sudut pandang orang ketiga serba tahu, dan (d) sudut pandang orang ketiga terbatas.

Penentuan sudut pandang adalah penentuan siapa yang bercerita di dalam cerita. Dalam cerpen “Abacadabra”, pengarang menggunakan sudut pandang yang berganti-ganti. Awalnya, pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Hamlet kemudian mengatur dirinya lurus-lurus. Kedua tangannya berkatupan di dadanya, yang kanan di atas yang kiri, kepalanya diusahakan setegap mungkin. Matanya dipejamkannya. Darah dari lukanya mengalir terus. Kelihatannya ia sudah mantap betul. Horatio bersimpuh tertunduk. Ia berdoa matanya tertutup.

Selanjutnya, pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama.

Saudara pembaca, saya tadi sampai di mana? O, hiya, sampai pada diri saya sendiri. Tetapi bagi saya aneh sekali bentuk ini, seperti telur tetapi rasanya saya punya dua kaki sepuluh jari untuk berjalan dan dua tangan sepuluh jari untuk memegang. ….

Cerita berikutnya, pengarang kembali menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu hingga pada akhir cerita.

Hamlet tampak bergerak-gerak, dua buah benda sebesar telur, bergerak, cekatan sekali, saling menghampiri, putih cemerlang bercahaya-cahaya, saling menjauhi, kemudian saling menghampiri lagi dengan kecepatan penuh kedua benda itu membentur tubuh Hamlet, astaga, di depannya berdiri empat orang yang wajahnya persis tampang Hamlet.

 

2.4  Kategori Penuturan

Penuturan atau pengujaran atau penceritaan, menurut Sudjiman (1988), merupakan penyajian cerita. Ada lima teknik penceritaan, yakni (a) teknik pemandangan, (b) teknik adegan, (c) teknik montase, (d) teknik kolase, dan (e) teknik asosiasi.

Teknik pemandangan merupakan penyajian cerita dengan latar fisik yang luas dan umum; lakuan digambarkan juga secara umum, sedangkan jangka waktu yang panjang dikisahkan dalam satu kalimat atau satu paragraf. Teknik adegan merupakan penyajian cerita sebagaimana lakuan dalam drama atau film. Teknik montase merupakan penyajian cerita dengan memotong dan menyambung peristiwa lepas-lepas seperti mengedit sebuah film. Teknik kolase merupakan penyajian cerita dengan memotong, menempel,  dan membentuk berbagai peristiwa menjadi sebuah sebagaimana memotong, menempel, dan membentuk kertas, karcis, koran, dan sebagainya menjadi sebuah karya seni. Adapun teknik asosiasi merupakan penyajian cerita dengan mengaitkan peristiwa, perumpamaan, kata mutiara dengan  mengubung-hubungkannya.

Kelima teknik penceritaan di atas ternyata digunakan pengarang untuk menuturkan cerpen “Abacadabra”. Teknik pemandangan dipakai pengarang untuk menceritakan atau memaparkan sebagaimana tergambar pada paragraf pembuka cerpen.

Teknik adegan dipakai pengarang, misalnya,

…. Ketika lebaran tiba, seorang presiden menebarkan zakat fitrah dari sisa piring nasinya dan orang-orang gelandangan dan orang-orang miskin rakyatnya yang belum sempat dibikin kaya menghambur berebutan.  ….

Dalam penceritaan di atas diungkapkan adegan  seorang presiden membagi zakat fitrah, sementara orang-orang gelandangan dan orang-orang miskin berebutan.

Teknik montase juga banyak digunakan pengarang dalam menuturkan cerpennya, misalnya peristiwa di bazaar Teheran Hamlet terhuyung karena terkena sabetan pedang Laertes, tiba-tiba disambung dengan gemericik air terjun di Tawangmangu, harga rokok, hingga pembagian zakat fitrah tadi. Sulit membedakan antara teknik montase, teknik kolase dan teknik asosiasi, namun ketiga teknik itu terlihat dalam contoh di atas.

Yang unik dari cerpen “Abacadabra” tersebut adalah lewat penuturannnya, pengarang kadang mengambil jarak dengan pembacanya, dengan menampilkan tokoh pencerita memberikan komentar:

Saudara pembaca, saya kira saya akhiri saja sampai di sini laporan pandangan mata saya. Sampai jumpa di lain kesempatan.

 

3.   Penutup

Aspek verba dalam naratologi strukturalis Tzvetan Todorov tidak sepenuhnya dapat digunakan untuk mengkaji atau menganalisis cerpen “Abacadabra” karya Danarto. Hal itu disebabkan oleh (1) penceritaan atau penuturan cerpen tersebut yang meramu dua dunia: dunia nyata sehari-hari dan sebuah dunia yang di luar batas logika, konvensi, dan indera, (2) paradoks yang diciptakan pengarang agar mengambil jarak dengan menampilkan pelaku menjadi pencerita yang berkomentar. Barangkali hal itu ditujukan agar pembacanya tidak tegang dan tetap kritis.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Danarto. 1987. Godlob. Jakarta: PT Pustaka Grafitipers.

Pradopo, Rahmat Djoko. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini.Yogyakarta: Gajah Mada University

Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Antropologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Selden, Roman. 1993. Panduan Pembacaan Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada Univercity Pers.

Sudjiman, Panuti. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jata.

Syuropati, Mohammad A. 2011. Teori Sastra Kontemporer & 13 Tokohnya. Bantul: IN AzNa Books.

Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.

Teuw, A. 1983. Sastra dan Ilmu sastra, Pengantar Teori sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh KS Zaimar. Jakarta: Djambatan.

Zaimar, Okke K. S. 2008. Semiotik dan Penerapannya dalam Karya sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.