(Dwi Juminar Tanti)

PENDAHULUAN

Pendekatan Marxis terhadap sastra  mencakup bidang yang sangat luas. sebelum dikaitkan dengan sastra, Marxisme merupakan teori yang erat kaitannya dengan ekonomi, sejarah, masyarakat, dan revolusi. Di balik bermacam-macam ciri teori-teori sastra Marxis terdapat satu dasar pemikiran, yaitu bahwa setiap karya sastra dapat dipahami setepat-tepatnya hanya dalam ruang lingkup kajian realitas dalam arti luas. menurut konsep pemikiran Marxis, semua teori kajian sastra yang yang bersifat khusus, yang memisahkannya dari masyarakat dan sejarah (Redyanto, 2005).

Teori Marxis mempunyai pandangan yang berbeda dengan teori-teori lain. Hal ini dapat dibuktikan dengan kemampuannya dalam merumuskan konsep tetntang cara memandang dunia sebagi sebuah struktur. Hal ini dapat dirunut dari konsep pemikiran Marx, yaitu falsafah historic-materialism dan dialectica. Menurut falsafat itu, struktur ekonomi masyarakat sangat menentukan kehidupan sosial, politik, intelektual, dan kebudayaan. Falsafah ekonomi Marx menerangkan bahwa pertentangan kaum borjuis melawan kaum proletar pasti melahirkan revolusi yang menghancurkan sistem kapitalis sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas. Pandangan inilah yang member pengaruh paling kuat terhadap teori sastra Marxis. Unsur lain yang mempengaruhi pemikiran Marx tentang sastra adalah konsep ideologi.  Pertama, ideologi Marxisme cenderung berlawanan dengan realitas objektif. Kedua, Marx secara mutlak menempatkan sastra dalam super-structure ideologi, yang sejajar dengan agama, filsafat, politik, dan undang-undang.

Konsep-konsep tersebut kemudian mendasari munculnya model-model teori hubungan sastra dengan realitas sosial: (1) model refleksi, (2) model penciptaan, (3) model genetik, (4) model pengetahuan negatif, dan (5) model landasan bahasa (Redyanto, 2005).

1)      Model Refleksi

Merupakan salah satu teori yang paling berpengaruh dalam kajian hubungan sastra dengan realitas sosial. Model ini diajukan oleh Goerge Lukacs, seorang ahli pikir Hungaria yang memiliki peran penting dalam estetika Marxis modern.

2)      Model Penciptaan

Model ini diperkenalkan oleh Pierre Macherey, seorang ahli pikir Marxis dari Prancis. Ia menganggap pengarang bukan sebagai pencipta tetapi sebagai orang yang menangani genre sastra, konvensi, bahasa, dan ideology yang sudah tersedia, allau mengolahnya sebagai teks sastra.

3)      Model genetik

Disebut model genetik karena menyentuh asal-usul, sebab-akibat, dan penentuan. Model ini diajukan oleh Lucien Goldmann, ahli pikir sosiologi asal Rumania.

4)      Model Pengetahuan Negatif

Model ini merupakan wujud kritik Theodore Adorno terhadap pemikiran realisme sosialis George Lukacs. Adorno menganggap Lukacs telah terperangkap dalam pandangan dialektik pra-Marxis yang salah karena Lukacs menilai karya sastra bersifat vulgar-materialist sebagai refleksi realitas objektif. Menurut Adorno karya sastra selalu berada dalam jarak tertentu. Jarak itu memberi sudut pandang bagi manusia untuk menilai kebenaran.

5)      Model Landasan Bahasa

Model ini diperkenalkan oleh kelompok Mikhail Bakhtin. Dasar yang dipakai para ahli teori ini adalah fakta bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Mereka melihat bahasa sebagai sarana kebendaan yang dipakai manusia berinteraksi dalam masyarakat, dan mereka melihat bahwa ideologi terdiri atas bahasa dalam bentuk lambing-lambang linguistik.

Dalam makalah ini, penulis lebih mengutamakan penerapan model genetik pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA. Novel tersebut dikaji menurut teori yang diajukan oleh salah satu tokoh Marxisme strukturalis yaitu Lucien Goldmann. Goldmann berpendapat bahwa karya sastra sebagai wakil dari golongan masyarakatnya yaitu mewakili pandangan dunia sang penulis. Dari cerita dunia rekaan novel, pembaca dapat mengetahui konflik-konflik masyarakat pada masa tertentu.

KAJIAN MODEL GENETIK (Lucien Goldmann) TERHADAP NOVEL “TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK” KARYA HAMKA

 

Model-model teori Marxis diantaranya adalah model genetik. Model genetik merupakan model yang mengenai asal-usul, sebab-akibat, dan penentuan. Versi modern dan menarik adalah model yang diajukan oleh Lucien Goldmann, ahli pikir soiologi asal Rumania. Goldmann sangat mengagumi hakikat pemikiran bahwa makna objektif selamanya tidak pernah jelas, walaupun bagi pencetusnya sendiri (Redyanto, 2005).

Goldmann adalah seorang tokoh Marxis yang beraliran Marxisme-strukturalis. Ia juga terkenal sebagai tokoh aliran strukturalis genetik. Menurut Goldmann, studi karya sastra harus dimulai dengan analisis struktur. Menurut Goldmann, struktur kemaknaan itu mewakili pandangan dunia (vision du monde) penulis, tidak sebagai individu, tetapi sebagai wakil golongan masyarakatnya. Dalam arti ini, karya sastra dapat dipahami asalnya dan terjadinya (genetic) dari latar belakang struktur sosial tertentu (Teeuw, 1988). Pengarang menciptakan karya berdasarkan pada keadaan dunia sekitarnya. Pengarang yang lahir dari lingkungan masyarakat Minang, lebih mengemukakan kehidupan masyarakat Minang. Pernyataan tersebut dapat diterapkan pada kutipan berikut ini.

“Sesudah hampir enam bulan ia tinggal di dusun Batipuh, bilamana ia pergi duduk-duduk ke lepau tempat anak muda-muda bersendau gurau, orang bawa pula dia bergurau, tetapi pandangan orang kepadanya bukan pandangan sama rata, hanya ada juga kurangnya. Sehingga lama-lama insaflah dia perkataan mak Base seketika dia akan berlayar, bahwa adat orang di Minangkabau lain sekali. Bangsa diambil dari ibu. Sebab itu, walaupun seorang anak berayah orang Minangkabau,  sebab di negeri lain bangsa diambil dari ayah, jika ibunya orang lain, walaupun orang Tapanuli atau Bengkulu yang sedekat-dekatnya, dia dipandang orang lain juga. Malang nasib anak yang demikian, sebab dalam negeri ibunya dia dipandang orang asing, dan dalam negeri ayahnya dia dipandang orang asing pula”.

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini menceritakan tentang keadaan masyarakat pada zamannya. Kehidupan pengarang yang dianggap sebagai cermin dari cerita novel ini, menjadi unsur genetik yang melatarbelakangi kehidupan novel tersebut tercipta. Adat istiadat yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakatnya merupakan kepercayaan yang diagung-agungkan oleh masyarakat setempat.

Cerita novel ini, merupakan gambaran kehidupan pengarangnya sendiri, yaitu HAMKA. HAMKA adalah orang Minangkabau yang mempunyai kedudukan terpandang dilingkungannya. Melalui novel ini, beliau ingin memperkenalkan adat istiadat yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Goldmann yang sastra sebagai wakil keadaan masyarakatnya bukan sebagai pandangan penulis semata. Pada masa itu, pertentangan terhadap pernikahan kepada orang yang tak bersuku Minang sangatlah ditolak. Menurut para ketua suku, pernikahan dengan orang yang tidak mempunyai ibu yang bersuku Minang sama halnya akan membunuh garis keturunan. Berikut kutipannya.

“Tak usah engkau berbicara. Rupanya engkau tidak mengerti kedudukan adat istiadat yang diperturun penaik sejak dari ninik yang berdua, Datuk Perpatih Nan Sebatang dan Datuk Ketemanggungan yang dibubutkan layu, yang dikisarkan mati. Meskipun ayahnya orang Batipuh, ibunya bukan orang Minangkabau, mamaknya tidak tentu entah dimana, sukunya tidak ada: tidak ada peprpatihnya, tidak ada ketemanggungannya. Kalau dia kita terima menjadi suami anak kemenakan kita, kemana kemenakan kita hendak menjelang iparnya, kemana cucu kita berbako, rumit sekali soal ini”.

Goldmann berpendapat bahwa karya sastra timbul dari kesadaran dan perilaku sosial. Pendekatan biografi yang menghubungkan karya sastra dengan kehidupan pribadi pengarang tidak terpusat pada teks, tetapi untuk menghubungkan struktur karya sastra dengan struktur mental kelompok sosial pengarang. Asal-usul struktur mental karya sastra terletak pada perilaku sosial, dan perilaku sosial tidak timbul dari hasrat individu melainkan dari kelompok individu yang menyatu (Redyanto, 2005).

Pendapat Goldmann tersebut dapat diterapkan pada cerita novel  Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.  Dalam cerita novel ini, dikisahkan tentang dua insan muda-mudi yang dirundung cinta, tetapi cinta itu mendapat pertentangan karena Zainuddin (nama pemuda tersebut) hanyalah seorang anak pisang yang tidak bersuku, sedangkan Hayati (gadis yang dicintai Zainuddin) adalah wanita bersuku dari keluarga terpandang.

Pertentangan muncul dari kelompok keluarga Hayati yang bersuku Minang. Cerita ini diciptakan oleh pengarang yang juga seorang bersuku Minang. Jadi, bisa diartikan cerita ini hadir karena aplikasi berdasarkan pada struktur mental dunia kelompok sosial pengarang. Kemudian Hayati terpaksa menikah dengan pemuda yang berpenghasilan cukup, dari keluarga terpandang dan jelas asal-usul keluarganya. Semakin jelas terlihat bahwa pandangan kelompok sosial terhadap bibit, bebet, bobot dalam memilih calon pendamping hidup sangat dipermasalahkan. Cinta tak bisa mengalahkan peraturan adat yang telah disepakati.

“Namanya Aziz, anak dari Sutan Mantari, seorang termasyhur dan berpangkat semasa hidupnya. Karena menurut adat yang biasa, tentu kita kaji lebih dahulu, hereng dengan gendeng, rebut nan mendingin, renggas nan melanting, dikaji adat dan lembaga…”

“Menyelidiki dari manakah asal usul Aziz, adakah dia peranakan orang dari luar Minangkabau, karena maklumlah di kota Padang Panjang orang telah banyak bercampur gaul. Seorang diantara yang hadir, Sutan Muncak gelarnya, mengatakan bahwa dia telah menyelidiki silsilah orang itu, rupanya asal dari Batu sangkar juga, berbelahan ke Pariangan Padang nan Panjang, tinggal di Padang Panjang sejak pasar lama bertukar dengan pasar baru”.

“Lalu diuji pula kekayaannya, hartanya yang berbatang, sawah nya yang berbintalak, dikaji sasap jerami, pendam pekuburan, bekas-bekas harta yang telah dibagi dan yang belum dibagi di negerinya. Karena memang nyata dia  orang asal, patut dijeput kita jeput, patut dipanggil kita panggil. Memskipun adat nan usali tidak boleh menerima menantu di luar kampong sendiri, aturan ini dikecualikan terhadap kepada menantu orang berasal-usul, orang berbangsa, atau orang alim besar ternama”.

Struktur mental erat kaitannya dengan vision du monde (pandangan dunia), yaitu ungkapan pemikiran, perasaan, dan perilaku kelompok-kelompok dalam masyarakat yang berorientasi pada interaksi manusia secara menyeluruh, baik kelompok sosial revolusioner maupun reaksioner. “Pandangan dunia” ini mengungkapkan dirinya sebagai struktur mental yang menyatu dengan falsafah agung kelompok sosial itu. Teori ini melihat karya sastra bukan sebagai ungkapan pribadi pengarang, tetapi sebagai ungkapan aspirasi kelas sosial yang dianut pengarang (Redyanto, 2005). Hal ini tercermin pada pendapat tokoh lain (Muluk) tentang perangai Aziz (calon suami Hayati). Perilaku atau kebiasaan Aziz yang selalu menganggu rumah tangga orang lain dan menggoda anak bini orang memang sangat memalukan. Perilaku Aziz yang tidak pantas itu tidak diketahui oleh keluarga Hayati. Mereka hanya mengetahui tentang silsilah Aziz yang keturunan orang terpandang dan kaya. Keburukan Aziz terselamatkan oleh kedudukan keluarganya yang terpandang baik dan berbudi pekerti. Peraturan adat sudah ditetapkan. Ketentuan itu tidak bisa dikalahkan dengan materi yang mereka anggap mampu membuat hidup mereka bahagia.

“Si Aziz anak Sutan Mantari, ibu bapanya orang Padang Panjang ini, karena dia berkerabat dengan orang berpangkat-pangkat, dia mendapat pekerjaan yang agak pantas. Tetapi perangainya…Masya Allah! Penjudi, penganggu rumah tangga orang, sudah dua tiga kali terancam jiwanya karena mengganggu anak bini orang. Syukur ada uang simpanan simpanan ayahnya yang akan dihabiskannya, kalau tidak tentu sudah tekor kas di kantor tempat dia bekerja, tetapi dia dapat menutup malu. Apa yang lebih berkuasa di dunia ini, lain dari uang?”

Berdasar kutipan di atas, pernyataan Goldmann telah terbukti yang menurutnya sastra bukan sebagai ungkapan pribadi pengarang tetapi sebagai ungkapan aspirasi kelas sosial yang dianut pengarang. Kebiasaan buruk Aziz yang terkuak oleh Muluk sewaktu bercerita kepada Zainuddin itu membuktikan bahwa pengarang tidak menyampaikan secara pribadi fakta tersebut melainkan menggunakan tokoh lain untuk mendeskripsikan watak tokoh Aziz.

PENUTUP

Lucien Goldmann adalah seorang tokoh Marxisme strukturalis yang mengakui sastra adalah wakil dari keadaan golongan masyarakatnya yang bersifat struktur kemaknaan dari pandangan dunia penulis. Dalam arti ini, karya sastra dapat dipahami asalnya dan terjadinya (genetic) dari latar belakang struktur sosial tertentu. Oleh karena itu, Goldmann memaknai karya sastra menurut genetiknya, yaitu karya sastra dipandang dari asal-usulnya. Asal-usul karya sastra dapat dimaknai dengan keadaan dunia sekitar pengarang yang menyebabkan pengarang menciptakan karya tersebut.

SINOPSIS

Novel ini menceritakan kisah cinta sepasang remaja yang penuh rintangan. Seorang pemuda keturunan Minang, anak perkawinan campuran Minang-Mengkasar bernama Zainuddin mencintai wanita Minang dari Batipuh yang bernama Hayati. Percintaan mereka tidak direstui oleh keluarga Hayati. Hal itu karena Zainuddin hanyalah seorang anak pisang yang tidak bersuku, sedangkan Hayati adalah wanita bersuku dari keluarga terpandang. Zainuddin diusir secara halus oleh paman Hayati dari Batipuh, Minangkabau. Esok paginya, ketika Zainuddin akan berangkat menuju Padang Panjang, ia bertemu Hayati di tengah perjalanan. Hayati sengaja menunggu Zainuddin untuk mengucapkan salam perpisahan. Pada kesempatan itu, Hayati berjanji akan tetap mencintai Zainuddin dan setia menunggu sampai kapan pun. Mereka berdua bersepakat untuk saling berkirim surat.

Tak lama, Hayati dilamar oleh Aziz, kakak Khadijah. Khadijah adalah sahabat Hayati dari Padang Panjang. Bersamaan dengan itu, Zainuddin pun melamar Hayati melalui surat. Namun, setelah diadakan rapat ninik-mamak, lamaran Azizlah yang diterima. Hal itu berdasarkan pertimbangan bahwa Aziz berasal dari keluarga termasyur dan berpangkat, apalagi punya pekerjaan tetap. Kemudian, dikirimlah surat penolakan lamaran kepada Zainuddin. Khadijah pun mengirim surat kepada Zainuddin yang isinya memberitahukan bahwa Hayati akan segera menikah dengan Aziz sehingga Khadijah meminta Zainuddin untuk melupakan Hayati.
Awalnya Zainuddin menyangka Hayati dipaksa menikah dengan Aziz, namun setelah menerima surat dari Hayati yang mengatakan bahwa Hayati menerima lamaran Aziz atas kemauannya sendiri, Zainuddin merasa kecewa. Ia tidak menyangka, Hayati akan melupakan janjinya. Akhirnya, ia jatuh sakit selama dua bulan.

Setelah sembuh, sahabat karib Zainuddin, Muluk, memberinya saran untuk mencari kesibukan agar bisa melupakan Hayati. Kemudian, untuk mengobati kesedihannya, ia pergi ke Pulau Jawa ditemani Muluk. Di sana ia mengembangkan bakat mengarangnya. Kariernya di Surabaya sukses. Ia menjadi sastrawan dan dramawan terkenal. Sementara itu, Hayati juga berada di Surabaya mengikuti suaminya bekerja. Suatu hari mereka bertemu dengan Zainuddin pada acara pertunjukkan sandiwara dari Club Anak Sumatera. Sejak pertemuan itu, Zainuddin bersahabat baik dengan Aziz dan Hayati.

Makin hari Aziz mulai menunjukkan kelakuan buruknya. Bahkan, Aziz kadang-kadang berani menyakiti hati Hayati. Bisa dikatakan rumah tangga mereka nyaris berada di jurang perpecahan. Aziz senang berjudi dan main perempuan sehingga ia dipecat dari pekerjaannya dan rumahnya disita. Karena tidak ada tempat terdekat yang bisa dituju, mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin untuk sementara. Aziz pergi ke Banyuwangi untuk mencari pekerjaan dan menitipkan Hayati sampai ia mendapat pekerjaan. Tak lama, datang berita tentang Aziz bunuh diri di sebuah hotel. Di dekat mayat Aziz ditemukan surat untuk Zainuddin. Isinya menerangkan bahwa Aziz ingin mengembalikan Hayati kepada Zainuddin.

Zainuddin tidak bisa menerima Hayati sebagai istrinya karena Hayati pernah mengkhianati dan menyakitinya. Meskipun Hayati telah meminta maaf dan bersikeras akan tetap tinggal di rumah Zainuddin, Zainuddin tetap pada pendiriannya.
Akhirnya, Hayati dipulangkan ke kampung halamannya. Sebelum pergi dari rumah Zainuddin, Hayati berusaha menulis surat untuk Zainuddin. Kemudian, ia diantarkan oleh Muluk sampai ke pelabuhan. Sebelum naik kapal van der wijck, ia menitipkan surat itu kepada Muluk.

Setelah membaca surat Hayati, Zainuddin menyadari bahwa cinta Hayati masih tulus. Ia pun berniat akan mengajak Hayati kembali ke rumahnya. Zainuddin segera menyusul Hayati. Akan tetapi, sirnalah harapannya Karena kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam. Akibat kecelakaan itu, Hayati meninggal. Tak lama, Zainuddin pun jatuh sakit sampai akhirnya meninggal, menyusul cinta sejatinya.

BIOGRAFI PENGARANG

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA adalah seorang ulama, sastrawan, sejarawan, dan juga politikus yang sangat terkenal di Indonesia. Buya HAMKA juga seorang pembelajar yang otodidak dalam bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Hamka pernah ditunjuk sebagai menteri agama dan juga aktif dalam perpolitikan Indonesia. Hamka lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun.

Hamka juga diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. Beliau dibesarkan dalam tradisi Minangkabau. Masa kecil HAMKA dipenuhi gejolak batin karena saat itu terjadi pertentangan yang keras antara kaum adat dan kaum muda tentang pelaksanaan ajaran Islam. Banyak hal-hal yang tidak dibenarkan dalam Islam, tapi dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Putra HAMKA bernama H. Rusydi HAMKA, kader PPP, anggota DPRD DKI Jakarta. Anak Angkat Buya Hamka adalah Yusuf Hamka, Chinese yang masuk Islam.

HAMKA di Sekolah Dasar Maninjau hanya sampai kelas dua. Ketika usia 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Sejak muda, HAMKA dikenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberi gelar Si Bujang Jauh. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu tentang gerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin. Saat itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi dan training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.

HAMKA bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan. Pada tahun 1929 di Padang Panjang, HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957- 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.

Sejak perjanjian Roem-Royen 1949, ia pindah ke Jakarta dan memulai kariernya sebagai pegawai di Departemen Agama pada masa KH Abdul Wahid Hasyim. Waktu itu HAMKA sering memberikan kuliah di berbagai perguruan tinggi Islam di Tanah Air.

Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia. Pada 26 Juli 1977 Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali, melantik HAMKA sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudian meletakkan jabatan itu pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

HAMKA aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat dan kebatinan sesat di Padan g Panjang. Mulai tahun 1928 beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929 HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.

Pada tahun 1955 HAMKA beliau masuk Konstituante melalui partai Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum. Pada masa inilah pemikiran HAMKA sering bergesekan dengan mainstream politik ketika itu. Misalnya, ketika partai-partai beraliran nasionalis dan komunis menghendaki Pancasila sebagai dasar negara. Dalam pidatonya di Konstituante, HAMKA menyarankan agar dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kalimat tentang kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknyan sesuai yang termaktub dalam Piagam Jakarta. Namun, pemikiran HAMKA ditentang keras oleh sebagian besar anggota Konstituante, termasuk Presiden Sukarno. Perjalanan politiknya bisa dikatakan berakhir ketika Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 1959. Masyumi kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Meski begitu, HAMKA tidak pernah menaruh dendam terhadap Sukarno. Ketika Sukarno wafat, justru HAMKA yang menjadi imam salatnya. Banyak suara-suara dari rekan sejawat yang mempertanyakan sikap HAMKA. “Ada yang mengatakan Sukarno itu komunis, sehingga tak perlu disalatkan, namun HAMKA tidak peduli. Bagi HAMKA, apa yang dilakukannya atas dasar hubungan persahabatan. Apalagi, di mata HAMKA, Sukarno adalah seorang muslim.

Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA dipenjarakan oleh Presiden Soekarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.

Pada tahun 1978, HAMKA lagi-lagi berbeda pandangan dengan pemerintah. Pemicunya adalah keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur selama puasa Ramadan, yang sebelumnya sudah menjadi kebiasaan.

Idealisme HAMKA kembali diuji ketika tahun 1980 Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara meminta MUI mencabut fatwa yang melarang perayaan Natal bersama. Sebagai Ketua MUI, HAMKA langsung menolak keinginan itu. Sikap keras HAMKA kemudian ditanggapi Alamsyah dengan rencana pengunduran diri dari jabatannya. Mendengar niat itu, HAMKA lantas meminta Alamsyah untuk mengurungkannya. Pada saat itu pula HAMKA memutuskan mundur sebagai Ketua MUI.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid). Pada 1950, ia mendapat kesempatan untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab. Sepulang dari lawatan itu, HAMKA menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum menyelesaikan roman-roman di atas, ia telah membuat roman yang lainnya. Seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura. Setelah itu HAMKA menulis lagi di majalah baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita.

Setelah peristiwa 1965 dan berdirinya pemerintahan Orde Baru, HAMKA secara total berperan sebagai ulama. Ia meninggalkan dunia politik dan sastra. Tulisan-tulisannya di Panji Masyarakat sudah merefleksikannya sebagai seorang ulama, dan ini bisa dibaca pada rubrik Dari Hati Ke Hati yang sangat bagus penuturannya. Keulamaan HAMKA lebih menonjol lagi ketika dia menjadi ketua MUI pertama tahun 1975.

HAMKA dikenal sebagai seorang moderat. Tidak pernah beliau mengeluarkan kata-kata keras, apalagi kasar dalam komunikasinya. Beliau lebih suka memilih menulis roman atau cerpen dalam menyampaikan pesan-pesan moral Islam.

Ada satu yang sangat menarik dari Buya HAMKA, yaitu keteguhannya memegang prinsip yang diyakini. Inilah yang membuat semua orang menyeganinya. Sikap independennya itu sungguh bukan hal yang baru bagi HAMKA. Pada zamam pemerintah Soekarno, HAMKA berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagi Presiden Soekarno. Otomatis fatwa itu membuat sang Presiden berang ’kebakaran jenggot’. Tidak hanya berhenti di situ saja, HAMKA juga terus-terusan mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu. Maka, wajar saja kalau akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Bahkan majalah yang dibentuknya ”Panji Masyarat” pernah dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul ”Demokrasi Kita” yang terkenal itu. Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno. Ketika tidak lagi disibukkan dengan urusan-urusan politik, hari-hari HAMKA lebih banyak diisi dengan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Pada tanggal 24 Juli 1981 HAMKA telah pulang ke rahmatullah. Jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, bahkan jasanya di seantero Nusantara, ter masuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Atas jasa dan karya-karyanya, HAMKA telah menerima anugerah penghargaan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo (tahun 1958), Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (tahun 1958), dan Gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia

Pandangan sastrawan, HAMKA yang juga dikenal sebagai Tuanku Syekh Mudo Abuya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo tentang kepenulisan. Buya HAMKA menyatakan ada empat syarat untuk menjadi pengarang. Pertama, memiliki daya khayal atau imajinasi; kedua, memiliki kekuatan ingatan; ketiga, memiliki kekuatan hapalan; dan keempat, memiliki kesanggupan mencurahkan tiga hal tersebut menjadi sebuah tulisan.

Kitab Tafsir Al-Azhar merupakan karya gemilang Buya HAMKA. Tafsir Al-Quran 30 juz itu salah satu dari 118 lebih karya yang dihasilkan Buya HAMKA semasa hidupnya. Tafsir tersebut dimulainya tahun 1960.

HAMKA meninggalkan karya tulis segudang. Tulisan-tulisannya meliputi banyak bidang kajian: politik (Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret, Urat Tunggang Pancasila), sejarah (Sejarah Ummat Islam, Sejarah Islam di Sumatera), budaya (Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi), akhlak (Kesepaduan Iman & Amal Salih ), dan ilmu-ilmu keislaman (Tashawwuf Modern).

http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah

DAFTAR PUSTAKA

HAMKA. 2001. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: Bulan Bintang.

Noor, Redyanto. 2005. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo.

Selden, Raman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini, terj. Rachmat Djoko Pradopo.  Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Syuropati, Mohammad A. 2012. 7 Teori Sastra Kontemporer & 17 Tokohnya. Yogyakarta: In Azna Books.

Teew, A. 1983. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.