(Jack C. Richards)

PENDAHULUAN

TESOL dirancang dengan cara-cara yang substantif bagaimana pengajaran bahasa secara alamiah dikonsepkan. Seperti pengajaran pada umumnya, pengajaran bahasa dapat dipahami dalam berbagai cara – misalnya, sebagai ilmu, teknologi, kerajinan, atau seni. Perbedaan pandangan mengenai pengajaran bahasa, memengaruhi pada apa yang dianggap penting dalam pengajaran bahasa dan berbeda pula pendekatan-pendekatan yang digunakan guru dalam pengajarannya. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menguji konsep pengajaran yang diusung oleh TESOL dan lebih jauh memikirkan tentang dampak dari pandangan-pandangan yang berbeda untuk pendidikan guru yang mengajar bahasa kedua.

Pada makalah penting tentang hubungan antara pengajaran teori dan pengajaran keterampilan, Zahorik (1986) mengelompokkan konsep pengajaran menjadi tiga kelompok penting: konsep ilmu penelitian, konsep filosofi, dan konsep keterampilan. Saya akan mengambil kategori ini sebagai titik awal, mendeskripsikannya dengan contoh-contoh dari bidang pengajaran bahasa. Saya selanjutnya akan menguji bagaimana setiap konsep pengajaran menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam pemahaman kami pada pengajaran keterampilan yang esensial.

 

KONSEP ILMU PENELITIAN

Konsep ilmu penelitian dari pengajaran bahasa diperoleh dari penelitian yang didukung oleh percobaan dan investigasi empiris. Zahorik memasukkan prinsip-prinsip pembelajaran operasional berikut metode yang diuji dan berfokus pada apa yang dilakukan guru secara efektif sebagai contoh dari konsep ilmu penelitian.

 

OPERASIONALISASI PRINSIP BELAJAR

Pendekatan ini melibatkan pengembangan prinsip-prinsip pengajaran dari penelitian memori, transfer, motivasi, dan faktor lain yang dipercaya sebagai hal yang penting dalam pembelajaran. Ketuntasan belajar dan pemrograman pembelajaran sebagai contoh dari konsep ilmu penelitian dalam pengajaran pendidikan umum. Di dalam TESOL, Audiolingualism, Pengajaran Bahasa Berbasis Tugas, dan Training Pembelajar mewakili penerapan dari penelitian pembelajaran pada pengajaran bahasa.

Audiolingualism berasal dari penelitian pada asosiasi pembelajaran dengan psikologi tingkah laku. Studi laboratorium telah menunjukkan bahwa pembelajaran akan berhasil dimanipulasi oleh tiga elemen yang terindikasi, yaitu: stimulus, yang digunakan untuk memancing tingkah laku; respon, yang dipicu oleh stimulus; dan reinforcement (penguatan), untuk menguatkan bahwa respon yang dilakukan sesuai, sehingga mendorong terjadinya pengulangan respon pada waktu yang akan datang. Penerjemahan ke dalam metode pembelajaran seperti ini mengarah pada metode audiolingual, di mana pembelajaran bahasa dipandang sebagai proses pembentukan tingkah laku di mana pola bahasa target ditampilkan sebagai hafalan dan pembelajarn melalui dialog dan latihan.

Kebanyakan contoh pengembangan metodologi pengajaran dari penelitian pembelajaran dirujuk sebagai pengajaran berbahasa berbasis tugas. Pendukung pengajaran bahasa berbasis tugas menekankan bahwa penelitian akuisisi bahasa kedua menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa melibatkan pembelajar pada kesepakatan makna. Dalam proses bersepakat dengan pembicara bahasa target, pembelajar memperoleh sejumlah input yang diperlukan sebagai fasilitas pembelajaran. Diusulkan bahwa tugas-tugas kelas yang melibatkan kesepakatan makna sebaiknya dirumuskan berdasarkan kurikulum pengajaran bahasa, dan tugas yang dapat digunakan untuk memfasilitasi kegiatan praktis baik bentuk bahasa maupun fungsi komunikatif. Penelitian ditekankan untuk membekali perancang untuk mengetahui jenis tugas apa yang dapat menjadi pilihan yang terbaik untuk memfasilitasi secara khusus fungsi dan struktur bahasa target. Prabhu (1983) berinisiatif melakukan pendekatan ini untuk diterapkan di sekolah-sekolah di India dalam skala besar, mengembangkan silabus dan mengelola materi pengajaran seputar tiga tipe tugas utama: tugas kesenjangan-informasi, tugas kesenjangan-opini, tugas kesenjangan-penalaran.

Pelatihan pembelajar adalah sebuah pendekatan yang menyimpulkan penelitian untuk penggunaan gaya konitif dan strategi pembelajaran yang digunakan para pembelajar dalam penyelenggaraan tugas pembelajaran di kelas yang berbeda. Penelitian ini mungkin melibatkan pengamatan pembelajar, meminta mereka untuk mengintrospeksi tentang strategi pembelajaran mereka atau menyelidik pembelajar dengan cara lain. Salah satu keberhasilan strategi pembelajaran ditandai dengan, strategi tersebut dapat diajarkan pada pembelajar yang lain. Strategi ini dirujuk sebagai pelatihan pembelajar.

 

BERIKUT INI ADALAH PENGAJARAN MODEL TES

Pendekatan ini melibatkan hasil penerpan dari penelitian empiris pada pengajaran. Dalam pendekatan ini pandangan mengenai pengajaran yang baik dikembangkan melalui alasan yang logis dan penelitian sebelumnya, pengajaran yang baik didefinisikan dengan istilah kegiatan spesifik (Zahorik, 1986:21). Sebagai contoh dari penelitian jenis ini adalah seperti yang telah digunakan untuk mengembangkan teori pengajaran yang baik melalui kedua hal, penelitian kelas reguler dan kelas ESL pada pola pertanyaan guru dan pemanfaatan jeda waktu. Long (1984) berpendapat bahwa penelitian ini telah diakui memberikan kontribusi terhadap kualitas interaksi pada kelas bahasa kedua. Penerapan penelitian ini pada kesiapan guru, model pelatihan sederhana yang dikembangkan, yang mana guru diajari tentang perbedaan-perbedaan antara pertanyaan displai, pertanyaan rujukan, dan  pada pemanfaatan waktu jeda setelah pertanyaan. Penggunaan pertanyaan guru dan pemanfaatan  waktu jeda sebelum dan sesudah pelatihan diukur, dan ditemukan bahwa model latihan memberi dampak pada tingkah laku/pola pengajaran, dan pola tersebut memberi dampak pula pada cara pola partisipasi siswa, yang diyakini menjadi signifikan pada pemerolehan bahasa siswa (Long, 1984:vi).

Dengan pendekatan semacam ini bila pola pengajaran seperti pola pertanyaan dan jeda waktu efektif dalam memenuhi perolehan, konsep dari pengajaran yang baik akan teridentifikasi dan tervalidasi.

 

APA YANG DILAKUKAN GURU YANG EFEKTIF

Pendekatan lain untuk meningkatkan teori pengajaran adalah menggunakan prinsip-prinsip pengajaran dari pembelajaran praktis dari guru yang efektif. Hal ini melibatkan identifikasi pada guru-guru yang efektif kemudian mempelajari praktik-praktik pengajaran mereka. Guru efektif ditandai dengan meningkatnya performa siswa pada pencapaian standar hasil tes.

Dalam mempelajari guru yang efektif pada program pendidikan bilingual di California dan Hawai, sebagai contoh, Tikunof (1985) mengamati guru untuk menemukan bagaimana mereka mengelola pengajaran, struktur kegiatan pengajaran, dan memperluas tugas-tugas performa siswa. Guru diwawancarai untuk menentukan tujuan-tujuan dan filosofi pengajaran, dan kebutuhan/tagihan-tagihan yang mereka strukturkan pada tugas kelas. Sebuah analisis dari data kelas menunjukkan bahwa ada hubungan yang jelas antara:

  1. kemampuan guru dalam membuat spesifikasi pengajaran dan keyakinan bahwa siswa-siswa dapat mengerjakan tugas instruksional yang tepat,
  2. pengorganisasian dalam penyampaian pengajaran semacam tugas dan tagihan institusi tercermin dalam intensitas dan kesungguhan dari respon siswa,
  3. kesetiaan konsekuensi siswa dengan hasil yang diharapkan.

Rangkuman dari riset ini (Blum, 1984: 3-6), tentang 12 ciri pengajaran efektif:

  1. Instruksional dipandu oleh kurikulum sebelum perencanaan.
  2. Adanya harapan yang tinggi pada pembelajaran siswa.
  3. Siswa yang cermat diorientasikan pada pembelajaran.
  4. Intstruksional jelas dan fokus.
  5. Pengawasan yang melekat pada kemajuan pembelajaran.
  6. Pemberian pembelajaran ulang bila siswa belum memahami.
  7. Class time’ dignakan untuk pembelajaran.
  8. Adanya rutinitas kelas yang efisien dan lancar.
  9. Instruksional kelompok dibentuk di kelas untuk kebutuhan instruksional.
  10. Standar perilaku kelas tinggi.
  11. Adanya interaksi personal yang positif antara guru dan siswa.
  12. Insentif dan penghargaan untuk siswa digunakan untuk memperoleh tingkatan paling bagus bagi mereka.

Kefektifan dalam pengajaran semacam ini dapat dijadikan panduan bagi guru-guru yang melaksanakan pelatihan. Pendekatan pengajaran yang mencerminkan prinsip-prinsip tersebut telah dinamai sebagai Pengajaran Langsung atau Pengajaran Aktif.

 

KONSEPSI TEORI-FILOSOFI

Pendekatan berikutnya dari teori pengajaran diistilahkan oleh Zahorik “Konsepsi Teori Filosofi”. “Kebenaran teori itu tidak didasarkan pada kondisi pasca-teori atau apa yang dikerjakan. Namun, kebenaran itu didasarkan pada apa yang seharusnya dikerjakan atau apa yang secara moral itu dianggap benar” (Zahorik, 1986: 22). Konsep pengajaran sebenarnya diambil dari apa yang seharusnya dikerjakan adalah hal yang sangat esensial sebagai basis teori/rasionalis dalam sebuah pendekatan, sedangkan yang diambil dari keyakinan adalah apa yang dipandang secara moral benar adalah pendekatan berbasis nilai.

 

PENDEKATAN BERBASIS TEORI

Konsep-konsep yang menggarisbawahi berbagai metode pengajaran dapat dicirikan sebagai pendekatan rasionalis berbasis teori. Pendekatan ini menyarankan agar teori yang mendasari metode disertai alasan yang rasional. Berprinsip dari pemikiran yang sistematis, dari penyelidikan empiris, digunakan untuk memotivasi metode. Konsep pengajaran seperti ini cenderung tidak menggunakan daya dukung dari hasil yang dicapai di kelas seperti: dengan menunjukkan hasil pra dan postes dari metode yang digunakan tetapi lebih bertahan pada argumentasi logis.

Contoh-contoh pendekatan berbasis teori dan rasionalis dalam TESOL adalah Pengajaran Bahasa Komunikatif dan Pendekatan Diam masing-masing pendekatan ini didasarkan pada seperangkat asumsi yang terelaborasi dengan teliti.

Pengajaran bahasa komunikatif, contohnya, muncul sebagai reaksi pada pendekatan berbasis gramatikal pada pengajaran yang diwujudkan dalam pengajaran materi, silabus, dan metode-metode pengajaran di era 1960-an. Faktor pendukung dibentuk Pengajaran Bahasa Komunikatif melalui kritik atas tidak terpenuhinya teori pedagogis dan linguistik yang menggunakan pendekatan berbasis gramatikal. Ini sering dideskripsikan sebagai sebuah ‘pendekatan prinsip’. Pengajaran Bahasa Komunikatif adalah sebuah usaha untuk mengoperasikan konsep kompetensi komunikasi dan mengaplikasikannya ke dalam semua rancangan program mulai dari teori, silabus sampai pada teknik pengajaran. Pendukungnya, bagaimanapun, tidak pernah merasa terdorong untuk menghasilkan bukti yang menunjukkan bahwa pembelajaran lebih berhasil bila metode pengajaran komunikatif dan bahan diterapkan. Teori ini dianggap cukup memberikan justifikasi terhadap pendekatan ini.

Metode seperti Pendekatan Diam, sebaliknya, tidak banyak digunakan dalam teori linguistik sebagaimana juga dari teori pembelajaran. Hal ini lebih didasarkan pada serangkaian pengakuan dan keyakinan sebagaimana pembelajaran terjadi pada orang dewasa. Kelas ini menghasilkan hal yang berbeda dengan metode yang berusaha membuat simpulan pada prinsip-prinsip pembelajaran yang dipopulerkan oleh Gattegno (1982:203).

Gattegno mengambil teori yang menggarisbawahi Pendekatan Diam sebagai bukti diri, tidak hanya teori tidak juga metode telah menjadi subjek dari verifikasi empiris.

 

PENDEKATAN BERBASIS NILAI

Salah satu pendekatan yang berbeda terhadap teori pembelajaran adalah mengembangkan model pembelajaran dari nilai-nilai yang dipegang guru, pembelajar, kelas, dan masyarakat pelaku pendidikan. Cara-cara tertentu yang berlaku dalam pengajaran dan pembelajaran, kemudian dilihat sebagai justifikasi secara terdidik dan kemudian dijadikan dasar dalam pengajaran berbasis praktis. Dalam beberapa situasi, hal ini memengaruhi munculnya pendekatan-pendekatan tertentu pada pengajaran yang dipandang sebagai justifikasi politis (berdampak bagus) dan sebaliknya ada yang dipandang sebagai hal yang tak bermoral, tidak etis, dan bersifat politis (berdampak buruk).

Pendekatan berbasis nilai dalam pendidikan tidaklah sulit untuk diidentifikasi. Sebagai contoh, pendukung “sastra pada kurikulum bahasa” sekolah berbasis pengembangan kurikulum atau guru sebagai pelaku riset merupakan hal yang esensial untuk mewujudkan sistem pendidikan atau nilai sosial dalam justifikasi pendapat mereka.

Contoh yang lain dari pendekatan berbasis nilai dalam metode pengajaran bahasa adalah termasuk “Team Teaching”, pendekatan humanistik, kurikulum berpusat pada pembelajar, movement (pergerakan) dan pengajaran reflektif. “Team Teaching” didasarkan pada pandangan bahwa guru akan bekerja dengan baik ketika mereka bekerja secara kolaboratif dan interaksi kolega pada semua tahap pembelajaran sangat menguntungkan baik untuk guru maupun siswa.

Pendekatan humanistik dalam pengajaran bahasa merujuk pada pendekatan yang menekankan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan, tumbuh sebagai insan yang menghargai diri sendiri dan pemahaman terhadap orang lain, memiliki sensivitas emosi dan perasaan kemanusiaan, dan melibatkan keatifan siswa dalam pembelajaran dan menggunakan cara-cara humanis di mana pembelajaran itu terjadi. Komunitas pembelajaran bahasa kadang-kadang disebut sebagai contoh pendekatan humanis, seperti yang dilakukan oleh Stevick dan Moskowitz.

“Kurikulum Berpusat pada Pembelajar” adalah salah satu istilah yang digunakan dalam merujuk pendekatan pengajaran bahasa, yang berdasarkan keyakinan bahwa pembelajar adalah mandiri, bertanggung jawab sebagai pengambil keputusan. Pembelajar dipandang dapat belajar dengan sebuah cara yang berbeda-beda dan memiliki kebutuhan serta ketertarikan yang berbeda pula. Guru dan program-program bahasa yang bekerja di dalamnya sebaiknya menyiapkan rancangan bagi pembelajar dengan strategi yang efisien, untuk membantu pembelajar dalam mengidentifikasi cara-cara belajar yang mereka sukai, mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk berkompromi dengan kurikulum, mendorong pembelajar untuk merancang tujuan-tujuan mereka, mendorong siswa menentukan tujuan-tujuan yang realistis dalam kurun waktu tertentu dan mengembangkan keterampilan pembelajar dalam evaluasi diri.

Pengajaran reflektif adalah sebuah pendekatan pengajaran yang didasarkan pada keyakinan bahwa guru-guru dapat mengembangkan pemahaman pengajaran dan kualitas pengajaran mereka sendiri dengan cara membuat kritik reflektif terhadap pengalaman-pengalaman mereka. Dalam pendidikan guru, kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan pendekatan reflektif dalam pengajaran bertujuan mengembangkan keterampilan mempertimbangkan proses pengajaran dengan bijaksana, analitis, dan objektif sebagai cara untuk memajukan praktik kelas. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur yang memerlukan guru untuk mengumpulkan data dalam praktik-praktik pengajaran mereka (misalnya melalui audio atau video recording) untuk merefleksikan keputusan yang sudah dibuatnya (misalnya melalui penulisan jurnal), dan untuk menguji asumsi dan nilai-nilai tentang pengajaran (misalnya melalui peer-group discussion atau pengamatan melalui video).

 

KONSEPSI KETERAMPILAN-SENI

Cara lain untuk membuat konsep pengajaran adalah memandang pengajaran itu sebagai seni atau keterampilan dan sebagai suatu yang bergantung pada keterampilan individual guru dan kepribadian. Zahorik (1986: 22), mengkategorikan pendekatan pengajaran ini dengan istilah “inti dari pandangan pengajaran yang baik adalah penemuan dan personalisasi. Guru yang baik adalah orang yang memberi penilaian pada situasi yang memungkinkan dan situasi kebutuhan dan menciptakan dan menggunakan praktik-praktik yang memiliki keseuaian dengan situasi”.

Pendekatan Keterampilan-Seni dalam pengajaran mengembangkan pengajaran sebagai rangkaian yang unik dari keterampilan personal di mana guru menerapkan dalam berbagai cara menurut permintaan situasi yang spesifik. Tidak ada metode yang general, terlebih lagi, guru sebaiknya mengembangkan pendekatan pengajaran yang mengizinkan mereka menjadi diri sendiri, dan melakukan apa yang mereka rasakan paling baik. Keputusan yang diambil guru adalah kompetensi esensial dalam pendekatan ini. Karena guru yang baik dipandang sebagai orang mampu menganalisis situasi, mewujudkan bahwa rentang pilihan-pilihan yang tersedia didasarkan pada lingkungan kelas tertentu, kemudian memilih alternatif yang dirasa paling efektif sesuai dengan lingkungan/situasi.Ini tidak menyangkal tentang nilai-nilai dari pengetahuan tentang metode pengajaran yang berbeda dan bagaimana menggunakannya, tetapi menunjukkan bahwa komitmen untuk metode pengajaran tunggal dapat menghambat potensi penuh yang dimiliki guru sebagai guru.

 

KETERAMPILAN-KETERAMPILAN UTAMADALAM PENGAJARAN

Sebuah isu sentral dalam teori atau konsep pengajaran adalah apa keterampilan penting dari mengajar diasumsikan. Konsepsi Ilmu-penelitian, konsepsi teori-filsafat, dan konsepsi seni-keterampilan merupakan sudut pandang yang berbeda tentang apa mengajar. Ilmu-penelitian menggunakan konsep teori belajar atau belajar penelitian untuk memvalidasi pemilihan tugas pembelajaran dan cenderung mendukung penggunaan strategi pengajaran yang spesifik dan teknik. Guru diharapkan untuk memilih dan memantau kinerja peserta didik pada tugas-tugas untuk memastikan bahwa tugas-tugas yang menghasilkan penggunaan yang tepat dari bahasa atau pilihan strategi pembelajaran. Model pengajaran yang efektif dari pengajaran juga sama filosofi top-down pengajaran, dalam arti bahwa sekali karakteristik pengajaran yang efektif diidentifikasi, guru harus bertujuan untuk menerapkan praktik-praktik seperti di kelas mereka sendiri.

Konsepsi teori-filsafat membutuhkan guru pertama yang memahami teori mendasari metodologi dan kemudian mengajar sedemikian rupa bahwa teori tersebut direalisasikan dalam praktik kelas. Dengan Pengajaran Bahasa Komunikatif, misalnya, pelajaran, silabus, bahan, dan teknik mengajar dapat dinilai sebagai lebih atau kurang spesifikasi untuk apa yang merupakan “pengajaran komunikatif” telah diusulkan, dan kinerja seorang guru “komunikatif.” Dapat dinilai sesuai dengan tingkat “sifat suka bercakap-cakap” ditemukan dalamnya atau pelajarannya. Seperti bijaksana, pandangan Gattegno pada pengajaran, yang membentuk dasar dari Pendekatan Diam, menyebabkan resep seperti apa guru harus dan tidak harus dilakukan di kelas. Keterampilan penting guru perlu mendapatkan adalah mereka yang mencerminkan teori dan semangat pendekatan Pendekatan Diam. Ada sedikit ruang untuk interpretasi pribadi metode.

Pendekatan filosofis atau nilai-berbasis preskriptif yang berbeda dari jalan, karena pilihan sarana pembelajaran dalam hal ini tidak didasarkan pada kriteria pendidikan (misalnya, pada efektivitas atau kriteria belajar) tetapi pada set yang lebih luas dari nilai-nilai yang tidak tunduk dengan akuntabilitas (misalnya, agama, keyakinan politik, sosial, atau pribadi). Seni kerajinan-konsepsi, di sisi lain, lebih “bottom-up” dari atas ke bawah. Guru tidak harus berangkat untuk mencari metode umum pengajaran atau untuk menguasai seperangkat keterampilan mengajar tertentu, tetapi terus-menerus harus mencoba untuk menemukan hal-hal yang bekerja, praktik membuang lama dan mengambil yang papan baru.

Prinsip-prinsip yang berbeda yang mendasari tiga konsepsi mengajar sehingga dapat diringkas dalam pernyataan berikut, dari apa yang harus dilakukan guru sesuai dengan masing-masing konsepsi mengajar.

 

KONSEPSI ILMU-PENELITIAN

Ini melihat keterampilan penting dalam mengajar sebagai berikut:

  • Memahami prinsip-prinsip pembelajaran.
  • Mengembangkan tugas dan kegiatan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran.
  • Memantau kinerja siswa pada tugas untuk melihat bahwa kinerja yang diinginkan tercapai.

 

KONSEPSI TEORI-FILOSOFI

Ini melihat keterampilan penting dalam mengajar sebagai:

  • Memahami teori dan prinsip-prinsip.
  • Pilih silabus, materi, dan tugas berdasarkan teori.
  • Pantau mengajar Anda untuk melihat bahwa itu sesuai dengan teori.

 

KONSEPSI BERBASIS NILAI

Dalam kasus pendekatan berbasis nilai, keterampilan penting dalam mengajar adalah:

  • Memahami nilai-nilai di balik pendekatan.
  • Pilih hanya sarana pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai.
  • Memantau proses implementasi untuk memastikan bahwa sistem nilai sedang dipertahankan.

 

KONSEPSI KETERAMPILAN-SENI

Keterampilan penting dari mengajar dalam pendekatan ini adalah:

  • Perlakukan setiap situasi pengajaran sebagai unik.
  • Mengidentifikasi karakteristik tertentu dari setiap situasi.
  • Cobalah strategi pengajaran yang berbeda.
  • Mengembangkan pendekatan pribadi untuk mengajar.

Sejak tiga konsepsi pengajaran menawarkan perspektif yang sangat berbeda tentang apa keterampilan penting dari pengajaran, itu tidak berarti bahwa mereka hanya dapat dianggap sebagai alternatif, yang bisa ditukar sesuai dengan keinginan saat itu. Eklektisisme bukanlah pilihan di sini, sejak konsepsi yang berbeda dari pengajaran merupakan representasi fundamental berbeda dari apa yang mengajar dan bagaimana guru harus mendekati pekerjaan mereka.

Namun, adalah mungkin untuk melihat ketiga konsepsi sebagai membentuk sebuah kontinum. Guru memasuki profesi guru memerlukan kompetensi teknis dalam mengajar, dan kepercayaan diri untuk mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip terbukti. Konsep Ilmu-penelitian pengajaran juga dapat memberikan titik awal yang baik bagi para guru berpengalaman. Ketika mereka mendapatkan pengalaman, mereka kemudian dapat memodifikasi dan mengadaptasi teori-teori awal pengajaran, bergerak ke arah pandangan yang lebih interpretatif mengajar tersirat dalam konsepsi teori-filsafat. Akhirnya, ketika mereka mengembangkan teori-teori pribadi mereka mengajar, mereka bisa mengajar lebih dari pendekatan keterampilan-seni, menciptakan pendekatan pengajaran sesuai dengan kendala tertentu dan dinamika situasi di mana mereka bekerja. Dengan cara ini, pengembangan guru dapat dilihat sebagai proses yang sedang berjalan penemuan diri dan pembaruan diri, sebagai pendekatan top-down untuk mengajar menjadi lebih digantikan oleh pendekatan bottom-up, atau pendekatan yang memadukan keduanya. Ini bergerak pekerjaan guru di luar rutinitas, menciptakan baik tantangan dan manfaat dari mengajar.

 

REFERENSI

 

Blum, R. E. 1984. Effective schooling practices: A research synthesis. Portland,

            OR:Northwest Regional Educational Laboratory.

 

Gattegno, C. 1982. Teaching foreign languages in schools. New York: Educational

            Solutions.

 

Long, M. H. 1984. The effect of teache rs’ questioning patterns and wait-times.

            Departmentof ESL, University of Hawaii.

 

Prahbu, N. S. 1983. “Procedural syllabuses”. Paper presented at the RELC

            Seminar,Singapore.

 

Tikunoff, W. S. 1985. Developing student functional proficiency for LEP students.

            Portland, OR: Northwest Regional Educational Laboratory.

 

Zahorik, J. A. 1986. “Acquiring teaching skills”. Journal of Teacher Education

            (March-April), 21-25.