Ardikan Novi Setyomurdian dan Uki Hares Yulianti)

PENGANTAR

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan,  kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan atau asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan, berhuruf Latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!); sementara itu di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-), dan spasi.

 

            Kalimat merupakan satuan dasar wacana. Artinya, wacana hanya akan terbentuk jika ada dua kalimat, atau lebih yang letaknya berurutan dan berdasarkan kaidah kewacanaan. Dengan demikian, setiap tuturan, berupa kata atau untaian kata, yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan di atas pada suatu wacana atau teks, berstatus kalimat.

Dilihat dari bentuknya, kalimat dapat dirumuskan sebagai konstruksi sintaksis terbesar yang terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan struktural antara kata dan kata, atau kelompok kata dan kelompok kata yang lain, berbeda-beda. Sementara, kedudukan tiap kata atau kelompok kata dalam kalimat itu berbeda-beda pula. Antara “kalimat” dan “kata” terdapat dua satuan sintaksis antara, yaitu “klausa” dan “frasa”. Klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang mengandung unsur predikasi, sedangkan frasa adalah satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mengandung unsur predikasi.

            (1) a. Ibu pergi ke pasar

                  b. Ibu pergi

            (2) a. Masalah itu menyangkut masa depan kita.

                  b. *Masalah itu menyangkut.

            Kecuali dalam hal intonasi akhir atau tanda baca yang menjadi ciri kalimat yang telah disinggung di depan, kalimat dalam banyak hal tidak berbeda dari ciri klausa. Baik kalimat maupun klausa merupakan konstruksi sintaksis yang mengandung unsur predikasi. Dilihat dari segi struktur internalnya, kalimat dan klausa keduanya terdiri atas unsur predikat dan subjek dengan atau tanpa objek, pelengkap, atau keterangan. Perhatikan contoh berikut.

            (3) a. Dia cantik (Subjek + Predikat)

                  b. Anak itu makan kue(subjek + Predikat + Objek)

                  c. Mereka berbicara tentang politik (Subjek + Predikat + Pelengkap)

                  d. Ayah ada di rumah (Subjek + Predikat + Keterangan)

Bentuk-bentuk pada (3) sering diacu sebagia kalimat dan juga sebagai klausa bergantung pada cara memandangnya. Bentuk-bentuk itu disebut klausa jika cara pandangnya didasarkan pada struktur internalnya. Setiap konstruksi sintaksis yang terdiri atas subjek dan predikat (tanpa memperhatikan intonasi dan tanda baca akhir) adalah klausa. Bentuk-bentuk pada (3) itu disebut kalimat jika melihat adanya unsur-unsur subjek-predikat lengkap dengan intonasi atau tanda baca akhir.

            Di samping konstruksi seperti pada (3) di atas, terdapat konstruksi sintaksis yang mengandung dua unsur predikat atau lebih. Dalam hal demikian, konsep kalimat dan klausa terasa perlu dibedakan. Perhatikan contoh berikut.

            (4) a. Dia pergi pukul 6.

                  b. Saya sedang mandi.

                  c. Dia pergi pukul 6 ketika saya sedang mandi.

Ketiga konstruksi pada contoh (4) itu merupakan kalimat karena masing-masing tidak menjadi bagian dari konstruksi yang lebih besar. Kalimat (4a) terdiri atas satu klausa dengan struktur ‘subjek + predikat + keterangan’; kalimat (4b) juga terdiri atas satu klausa dengan struktur ‘subjek + predikat’. Pada (4c) terdapat dua klausa, yaitu Dia pergi pukul 6 dengan struktur ‘subjek + predikat + keterangan’ dan Ketika saya sedang mandi dengan struktur ‘konjungtor + subjek + predikat’. Kalusa yang terakhir ini merupakan bagian dari konstruksi sintaksis lebih besar yaitu klausa Dia pergi pukul 6, yang berfungsi sebagai keterangan tambahan terhadap bentuk pukul 6. Klausa Dia pergi pukul 6 yang lebih besar pada (4c) itu lazim disebut klausa utama atau induk kalimat, sedangkan klausa ketika saya sedang mandi disebut klausa subordinatif atau anak kalimat. Sementara itu, kalimat (4a) dan (4b) yang masing-masing hanya terdiri atas satu klausa disebut kalimat tunggal, sedang kalimat (4c) yang terdiri atas dua klausa, disebut kalimat majemuk.

 

 

 

 

           

1. HUBUNGAN ANTARKLAUSA

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, sebuah kalimat dapat mengandung satu klausa atau lebih. Saat ini kita akan membicarakan kalimat yang mengandung dua klausa atau lebih. Pembicaraan ini menyangkut berbagai hubungan yang terdapat antara satu klausa dengan klausa yang lain dalam kalmat majemuk setara dan bertingkat.

 

Hubungan antarklausa yang disebut di atas ditandai dengan kehadiran konjungtor (kata hubung) pada awal salah satu klausa tersebut.

Perhatikan contoh berikut:

(5) Pardi tinggal di daerah kumuh, dan kakanya tidak bias membantunya.

(6)   Dia menyarankan kepada kami supaya kami menunggu.

(7)   Tamu tadi tidak menyebutkan di mana dia tinggal.

 

Pada kalimat (5), klausa Pardi tinggal di daerah kumuh dihubungkan dengan klausa kakaknya tidak bisa membantunya dengan konjungtor dan. Pada kalimat (6) dan (7) hubungan antarklausa masing-masing ditandai oleh supaya dan di mana.

 

2. HUBUNGAN KOORDINASI DAN SUBORDINASI

            Kalimat majemuk setara maupun bertingkat mempunyai dua klausa atau lebih yang saling berhubungan. Ada dua cara untuk menghubungkan klausa dalam sebuah kalimat majemuk, yaitu koordinasi dan subordinasi.

 

2.1. Hubungan Koordinasi

            Koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang setara dalam struktur konstituen kalimat. Hasilnya adalah satuan yang sama kedudukannya. Hubungan antara klausa-klausanya tidak menyangkut satuan yang membentuk hierarki karena klausa yang satu bukanlah konstituen dari klausa yang lain.

Perhatikan contoh berikut:

(8)  a. Pengurus Dharma Wanita mengunjungi panti asuhan.

 b. Mereka memberi penghuninya hadiah.

 c. Pengurus Dharma Wanita mengunjungi panti asuhan dan mereka memberi    

     penghuninya hadiah. 

Kalimat (8a) dan (8b) digabungkan dengan cara koordinasi sehingga terbentuk kalimat majemuk setara (8c). Oleh karena klausa-klausa dalam kalimat majemuk yang disusun secara koordinasi mempunyai kedudukan yang setara atau sama, maka klausa-klausa itu semuanya merupakan klausa utama.

 

2. Hubungan Subordinasi

            Subordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih sehingga terbukti kalimat majemuk yang salah satu klausanya menjadi bagian dari klausa yang lain. Jadi, klausa-klausa dalam kalimat majemuk yangdisusun secara subordinasi itu tidak mempunyai kedudukan yang setara. Dengan kata lain, dalam kalimat majemuk yang disusun melalui subordinasi terdapat klausa yang berfungsi sebagai konstituen klausa yang lain. Hubungan antara klausa-klausa itu bersifat hierarkki.

(9) a. Orang tua itu mengataan (sesuatu)

b. Anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati.

c. Orang tua itu mengatakan bahwa anak gadisnya mencintai pemuda itu sepenuh hati.

 

Klausa (9a) dan (9b) digabungkan dengan cara subordinasi sehingga terbentuk kalimat majemuk bertingkat (9c). Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa klausa utama orang tua itu mengatakan digabungkan dengan klausa subordinatif anak gadisnya mencintai pemuda itu dengan sepenuh hati dengan menggunakan konjungtor bahwa. Dalam struktur kalimat (9c) klausa subordinatif menduduki posisi objek (O). Dengan kata lain, klausa subordinatif itu merupakan klausa nominal karena menduduki fungsi yang biasa diduduki oleh nomina. Selain konjungtor bahwa, klausa nominal yang disubordinasi dapat pula ditandai oleh konjungtor berupa kata tanya seperti  apakah (atau tidak).

(10)a. Saya dengar bahwa dia akan berangkat besok.

b. Saya tidak yakin apakah dia akan datang (atau tidak).

c. Saya tahu di mana anak itu tinggal.

 

Klausa subordinasi dapat pula berbentuk klausa adverbial dalam arti klausa itu berfungsi sebagai keterangan. Klausa yang digunakan  untuk menggabungkan klausa adverbial dengan klausa utama dapat dikelompokkan berdasarkan jenis-jenis klausa adverbial sebagai berikut:

  1. Konjungtor waktu: setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, selagi, seraya, selama, sehingga, sampai, sambil, dll
  2. Konjungtor syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala
  3. Konjungtor pengandaian: andaikan, seandainya, andaikata, sekiranya
  4. Konjungtor tujuan: agar, supaya, biar
  5. Konjungtor konsesif: biarpun, meskipun, sungguhpun, sekalipun, walaupun, kendatipun
  6. Konjungtor pembandingan atau kemiripan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, sepertinya, bagaikan, laksanak, alih-alih, daripada, ibarat
  7. Konjungtor sebab atau alasan: sebab, karena, oleh karena
  8. Konjungtor hasil atau akibat: sehingga, sampai-sampai
  9. Konjungtor cara: dengan, tanpa
  10. Konjungtor alat: dengan, tanpa

 

Kalimat majemuk bertingkat dapat pula disusun dengan memperluas salah satu fungsi sintaktisnya (fungsi S, P, O, dan Ket) dengan klausa. Perluasan itu dilakukan dengan menggunakan yang. Perhatikan contoh berikut:

(11)a. Paman saya yang tinggal di Bogor meningal kemarin.

b. Paman saya guru, yang mengajar di beberapa sekolah.

c. Saya membaca buku yang mengisahkan perjuangan Pangeran Diponegoro.

d. Pemerintah membangun jalan raya di daerah transmigrasi yang menampung transmigran dari Jawa dan Bali.

 

Dalam kalimat (11a) fungsi S (Paman saya) diperluas dengan klausa yang tinggal di Bogor. Dalam kalimat (11b) fungsi P (guru), yang merupakan predikat dalam kalimat nominal, diperluas dengan klausa yang mengajar di beberapa sekolah. Dalam kalimat 1(1c) fungsi O ( buku) diperluas dengan klausa yang mengisahkan perjuangan Pengeran Diponegoro. Dalam kalimat (11d) fungsi Ket (di daerah transmigrasi) diperluas dengan klausa yang menampung transmigran dari Jawa dan Bali.  Klausa perluasan dengan yang yang disematkan dalam klausa utama disebut sebagai klausa relatif dan berfungsi sebagai keterangan bagi fungsi sintaktis tertentu. Kalimat (11a) merupakan kalimat majemuk bertingkat  dengan klausa relatif keterangan subjek .

 

            Kalimat majemuk bertingkat dapat pula terbentuk bila dua proposisi diperbandingkan, satu dinyatakan  pada klausa utama dan satunya lagi pada klausa subordinatif. Klausa subordinatif ini disebut klausa perbandingan. Klausa perbandingan biasanya dibentuk dengan mengunakan bentuk lebih atau kurang  bersama-sama dengan konjungtor dari(pada), dan sama ….. dengan. Perhatikan contoh berikut:

(12)     a. Dia bekerja lebih lama daripada istrinya (bekerja).

b. Saya berbicara kurang fasih dalam bahasa daerah daripada (saya

    berbicara (fasih)) dalam bahasa Indonesia.

c. Kapitalisme sama berbahayanya dengan komunisme (berbahaya).

 

3. CIRI-CIRI HUBUNGAN KOORDINASI DAN SUBORDINASI

3.1. Ciri sintaktis hubungan koordinasi

Ada empat ciri hubungan koordinasi.

1. Hubungan koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih seperti yang sudah dibicarakan pada contoh di atas. Di samping itu salah satu klausa yang dihubungkan oleh kongjungtor koordinatif dapat berupa kalimat majemuk.

Perhatikan contoh berikut:

(13) Saya mengetahui kedatangannya, tetapi tidak mengetahui tujuan serta maksud kedatangannya.

2. Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh koordinator dan, atau, dan tetapi tidak dapat berubah.Apabila posisi diubah, perubahan itu mengakibatkan munculnya kalimat majemuk setara yang tidak berterima. Perhatikan kalimat berikut ini.

(14) Dalam pengungsian itu saya sering melihat orang ditembak musuh dan mayatnya dibuang begitu saja.

(15) Anak itu hanya tiga tahun mengenal neneknya, tetapi hampir-hampir menjadikannya tokoh legendaris.

(16) Saudara harus meminjam uang di bank atau menjual rumah Saudara.

 

Apabila urutan posisi klausa pada kalimat di atas diubah, yaitu dengan meletakkan klausa yang diawali oleh koordinator pada awal kalimat, maka perubahan itu akan mengakibatkan kalimat-kalimat tersebut tidak berterima seperti terlihat pada contoh berikut:

(17)           *Dan mayatnya dibuang begitu saja, dalam pengungsian itu saya sering  melihat orang ditembak musuh.

(18)           *Tetapi hampir-hampir menjadikannya tokoh legendaris, anak itu hanya tiga tahun mengenal neneknya.

(19)           *Atau menjual rumah untuk memperoleh uang tunai, Saudara harus meminjam uang dari bank.

 

3.Urutan klausa yang tetap dalam hubungan koordinasi yang telah dibicarakan di atas berhubungan erat dengan pronominalisasi. Acuan kataforis (pronomina yang mendahului nomina yang diacunya)  tidak diperoleh dalam hubungan koordinatif. Perhatikan contoh berikut:

(20)           Dia suka lagu keroncong, tetapi Hasan tidak mau membeli kaset itu.

Dalam kalimat (20) di atas, pronominal dia tidak mengacu pada Hasan. Walaupun kalimat (20) berterima, hubungan antara pronomina dia dan nomina nama diri Hasan bukanlah hubungan kataforis.

 

4.Sebuah koordinator dapat didahului oleh koordinator lain untuk memperjelas atau mempertegas hubungan antara kedua klausa yang digabungkan. Perhatikan contoh berikut:

(21)           Sidang mempertimbangkan usul salah seorang peserta dan kemudian menerima dengan suara bulat.

(22)           Terdakwa itu tidak menunjukkan penyelasannya dan malah mengancam hakim yang memimpin sidang.

 

3.2. Ciri-Ciri Sintaktis Hubungan Subordinasi

Ada tiga ciri sintaktis dalam hubungan subordinatif.

  1. Subordinasi menghubungkan dua klausa yang salah satu di antaranya merupakan bagian dari klausa yang lain seperti telah dibicarakan sebelumnya. Di samping itu, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat pula berupa kalimat majemuk. Perhatikan contoh berikut ini.

(23)            Ketua partai itu tetap menatakan kebanggaannya karena ternyata partainya masih dapat meraih hampir empat belas juta suara pemilih setelah suara itu dihitung ulang.

 

  1. 2. Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh subordinator dapat berubah. Perhatikan contoh berikut ini.

(24)           Para  pejuang itu pantang menyerah selama hayat masih dikandung badan.

(25)           Penguasa itu harus membayar pajak walaupun perusahaannya mengalami kerugian.

(26)           Kita jangan bertindak sebelum atasan kita mengambil keputusan.

Urutan klausa-klausa dalam kalimat (24), (25), dan (26) dapat diubah, yaitu dengan meletakkan klausa yang diawali oleh subordinator pada awal kalimat. Hasilnya sebagai berikut.

(27) Selama hayat masih dikandung badan, para pejuang itu pantang menyerah.

(28) Walaupun perusahaannya mengalami kerugian, penguasaha itu harus

   membayar pajak.

(29) Sebelum atasan kita mengambil keputusan, kit jangan bertindak.

  1. Tanda koma dalam bahasa tulis atau jeda panjang dalam bahasa lisan yang diletakkan di antara klausa yang berawal dengan subordinator dan klausa utama seperti tiga kalimat di atas bersifat wajib.

Hubungan subordinatif memungkinkan adanya acuan kataforis. Dalam kalimat berikut ini pronomina dia mengacu pada nomina nama diri Hasan walaupun tidak harus demikian.

(30) Walaupun dia suka lagu keroncong, Hasan tidak mau membeli kaset itu.

(31) Meskipun mereka tidak puas, para demonstran itu dapat memahami

   kebijakan perusahaan.

 

3.3. Ciri-Ciri Semantis Hubungan Koordinasi

Klausa-klausa yang dihubungkan oleh koordinator tidak menyatakan perbedaan tingkat pesan. Perhatikan contoh berikut.

(32)  Orang tua itu putus asa dan bunuh diri.

(33)  Pemuda itu bekerja keras dan berhasil.

 

Dalam kalimat (32) informasi yang dinyatakan dalam klausa Orang tua itu putus asa mempunyai peranan yang sama pentingnya dengan informasi yang diberikan oleh klausa (orang tua itu) bunuh diri. Kedua klausa itu mengisyaratkan adanya hubungan sebab akibat.

            Ciri semantis dalam hubungan koordinasi ditentukan oleh makna dari macam koordinator yang kita pakai dan makna leksikal ataupun gramatikal dari kata dan klausa yang kita bentuk. Koordinator dan, misalnya, menyatakan gabungan antara satu klausa dengan klausa lainnya. Sebaliknya, koordinator  tetapi menyatakan pertentangan. Makna leksikal dari frasa putus asa dan bunuh diri pada (32) dan bekerja keras dan berhasil (33) menyatakan hubungan sebab akibat.

 

3.4. Ciri-Ciri Semantis Hubungan Subordinasi

Ada dua ciri semantis pada hubungan subordinasi. Pertama, dalam hubungan subordinasi, klausa yang mengikuti subordinator memuat informasi atau pernyataan yang dianggap sekunder oleh pemakai bahasa, sedangkan klausa yang lain memuat pesan utama kalimat tersebut. Perhatikan contoh berikut ini.

(34) Orang tua itu bunuh diri karena putus asa.

(35) Pemuda itu berhasil karena ia belerja keras.

 

Dalam kalimat (34) pesan atau informasi klausa pertama lebih diutamakan daripada klausa kedua. Dengan kata lain, matinya orang tua itu (dengan bunuh diri) lebih diutamakan, sedangkan keputusannya dianggap sebagai keterangan tambahan. Demikian pula dalam kalimat (35) keberhasilan pemuda itu lebih diutamakan daripada kerja kerasnya.

            Kedua, anak kalimat yang dihubungkan oleh subordinator umumnya dapat diganti dengan kata atau frasa tertentu, sesuai dengan makna anak kalimat itu. Jika anak kalimat itu menyatakan waktu, kata atau frasa yang mengacu pada waktu dapat dipakai sebagai pengganti. Bandingkan  (a) dan (b) pada contoh  kalimat berikut. Pada (b) anak kalimat telah diganti dengan kata atau frasa.

(36)a. Kami harus pergi sebelum ia datang.

b. Kami harus pergi pukul lima.

            (37)a. Dia menyatakan bahwa ia akan datang

                  b. Dia menyatakan hal itu.

 

4. HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK SETARA

            Seperti sudah disampaikan sebelumnya, klausa yang terdapat dalam kalimat majemuk setara dihubungkan oleh koordinator seperti dan, serta, lalu, kemudian, tetapi, padahal, sedangkan, baik ….. maupun…., tidak…… tetapi…., dan bukan…… melainkan….   Dalam bagian ini akan dibicarakan hubungan sematis antarklausa yang mempergunakan koordinator seperti itu.

            Seperti dinyatakan sebelumnya, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk setara ditentukan oleh dua hal, yaitu arti koordinator dan arti klausa-klausa yang dihubungkan. Perhatikan contoh berikut ini.

(38)a. Engkau harus menjadi orang kaya dan tetap rendah hati.

b. Engkau harus menjadi orang kaya, tetapi tetap rendah hati.

            (39)a. Pengurus KUD harus berwibawa dan tidak sombong.

                  b. Pengurus KUD harus berwibawa, tetapi tidak sombong

Kalimat (38a) dan (38b) terdiri atas klausa-klausa yang sama. Demikian pula dengan kalimat (39a) dan (39b). Perbedaan antara kalimat (38a) dan (38b) adalah pada koordinator yang digunakan. Kalimat (38a) menggunakan koordinator dan sedangkan kalimat (38b) menggunakan koordinator tetapi.

            Perbedaan koordinator yang digunakan untuk menggabungkan klausa klausa ke dalam masing-masing kalimat itu berpengaruh terhadaparti hubungan semantisnya. Kalimat (38a) menyiratkan hubungan semantis yang mengabungkan suatu pernyataan dengan pernyataan lainnya. Akan tetapi kalimat (38b) menyatakan arti semantis yang kontras, yaitu karakteristik orang kaya yang dikontraskan dengan orang yang rendah hati.  

Dalam kalimat (39b) tersebut arti hubungan semantis kontras terasakan sebagai syarat. Sebagaimana halnya dengan kalimat (38a) dan (38b), perbedaan koordinator pada kalimat (38a) dan (38b) menyebabkan arti hubungan semantis pada kedua kalimat tersebut.

            Arti hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk setara juga ditentukan oleh arti klausa-klausa yang dihubungkan. Perhatikan contoh kalimat berikut.

(40)a.   Pemilihan umum baru saja berlalu dengan tertib dan sebagian besar rakyat

      Indonesia telah menggunakan hak pilihnya.

b. *Pemilihan umum baru saja berlalu dengan tertib dan sebuah kalimat luas  

      terdiri atas dua klausa atau lebih.

 

Kalimat (40a) terdiri atas dua klausa Pemilihan umum baru saja berlalu  dengan tertib dan klausa sebagian besar rakyat Indonesia menggunakan hak pilihnya.Keterkaitan makna memungkinkan kedua klausa tersebut digabungkan untuk membentuk kalimat majemuk setara (40a) yang secara gramatikal benar dan berterima. Kalimat (40b) terdiri atas klausa Pemilihan umum baru saja berlalu dengan tertib dan klausa sebuah kalimat luas terdiri atas dua klausa atau lebih.Arti kedua klausa tersebut tidak memungkinkan digabungkannya menjadi kalimat majemuk setara sehingga kalimat (40b) secara gramatikal benar tetapi tidak berterima secara semantis.

            Jika dilihat dari segi arti koordinatornya, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk setara ada tiga macam: (1) hubungan penjumlahan, (2) hubungan perlawanan, dan (3) hubungan pemilihan. Tiap hubungan itu berkaitan erat dengan koordinatornya.

 

4.1. Hubungan Penjumlahan

Yang dimaksud dengan hubungan penjumlahan ialah hubungan yang menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, atau proses. Hubungan itu ditandai oleh koordinator dan, serta, atau baik …. maupun….. Kadang-kadang koordinator bersifat manasuka, yakni boleh dipakai dan boleh tidak. Jika kita perhatikan konteksnya, hubungan penjumlahan dapat dinyatakan (1) sebab-akibat, (2) urutan waktu, (3) pertentangan, atau (4) perluasan.

 

(1) Penjumlahan yang menyatakan Sebab-Akibat

Dalam hubungan ini, klausa kedua merupakan akibat dari klausa pertama.

(41) Pengaruh Revolusi Bolsyewik makin tertanam dalam dirinya, dan dari situ idenya tentang revolusi sebagai perjuangan untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari cengkeraman kaum kapitalis-kolonialis berkembang cepat.

(42) Baik ayah maupun ibunya tidak setuju kalau Aminah menikah sebelum dia selesai sekolah.

 

(2) Penjumlahan yang Menyatakan Urutan Waktu

Klausa kedua merupakan urutan dari peristiwa yang terjadi pada klausa  pertama. Koordinator yang dipakai antara lain adalah dan, kemudian, dan lalu. Perhatikan contoh.

(43) Ibu hanya mengangguk-angguk dan air matanya terus mengalir.

(44) Mereka datang menitipkan anaknya, lalu pergi begitu saja.

 

 

 

 

(3) Penjumlahan yang Menyatakan Pertentangan

Klausa kedua menyatakan sesuatu yang bertentungan dengan apa yang dinyatakan dalam klausa pertama. Koordinator yang dapat dipakai adalah, misalnya sedangkan dan padahal.

(45) Ia selalu makan yang enak-enak, sedangkan anak dan istrinya kelaparan.

(46) Rambutnya sudah banyak yang memutih, padahal ia masih muda.

 

(4) Penjumlahan yang Menyatakan Perluasan

Klausa kedua memberikan informasi atau penjelasan tambahan untuk melengkapi pernyataan pada klausa pertama. Koordinator yang dapat dipakai adalah misalnya, dan, serta, baik… maupun ….. Perhatikan contoh berikut ini.

(47) Sampai saat itu saya kagum atas kemahirannya dan kekaguman saya    

 bertambah dengan kemampuannya mengatasi tantangan hidup.

(48) Dia menggeleng dan mengatakan “tidak” serta memalingkan muka.

 

 

4.2. Hubungan Perlawanan

Yang dimaksud dengan hubungan perlawanan ialah hubungan yang menyatakanbahwa apa yang dinyatakan dalam klausa pertama berlawanan, atau tidak sama dengan apa yang disampaikan dalam klausa kedua. Hubungan itu ditandai dengan koordinator tetapi, melainkan, dan namun.

            Hubungan perlawanan ini dapat dibedakan atas hubungan yang menyatakan (1) penguatan, (2) implikasi, dan (3) perluasan.

 

1. Perlawanan yang Menyatakan Penguatan

Klausa kedua memuat informasi yang menguatkan dan menandaskan informasi yang dinyatakan dalam klausa pertama. Dalam klausa yang pertama biasanya terdapat tidak/bukan saja ataupun tidak/bukan hanya, tidak/bukan sekadar dan klausa kedua terdapat tetapi/melainkan juga. Perhatikan contoh.

(49)Masalah kemiskinan tidak hanya masalah nasional, tetapi juga masalah  kemanusiaan.

(50) Dunia anak kampung tidak hanya bebas, melainkan juga lebih terbuka.

 

 

2. Perlawanan yang Menyatakan Implikasi

Klausa kedua menyatakan sesuatu yang merupakan perlawanan terhadap implikasi klausa pertama. Koordinator yang umumnya dipakai adalah tetapi. Perhatikan contoh berikut ini.

(51) Suami istri itu sudah lama kawin, tetapi belum juga dikaruniai putra.

Dalam kalimat (51) implikai klausa Suami istri itu sudah lama kawin ialah bahwa orang yang sudah lama kawin biasanya mempunyai anak, sedangkan klausa kedua menyatakan perlawanan dari implikasi tersebut.

Selain dengan tetapi, perlawanan yang menyatakan implikasi dapat juga dinyatakan dengan menggunakan konjungtor jangankan. Perbedaannnya ialah bahwa jangankan tidak digunakan di antara dua klausa, tetapi di awal klausa pertama. Perhatikan contoh.

(52) Jangankan disuruh melawan, membantah pun dia tidak berani.

(53) Jangankan berjalan, duduk pun belum bisa.

 

3.   Perlawanan yang Menyatakan Perluasan

Berlainan dengan hubungan yang menyatakan hubungan perluasan pada kalimat majemuk setara yang memakai dan, hubungan perluasan yang memakai tetapi menyatakan bahwa informasi yang terkandung dalam klausa kedua hanya merupakan informasi tambahan untuk melengkapi apa yang dinyatakan klausa pertama, dan kadang-kadang malah memperlemahnya. Perhatikan contoh berikut.

(54)   Adat dipertahankan agar tidak berubah, tetapi unsur-unsur dari luar yang dianggap baik perlu dimasukkan.

(55)   Bung Karno dan Bung Hatta kadang-kadang berselisih pendapat, tetapi keduanya tetap bersatu dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

 

4.3. Hubungan Pemilihan

Yang dimaksud dengan hubungan pemilihan ialah hubungan yang menyatakan pilihan di antara dua kemungkinan atau lebih yang dinyatakan oleh klausa-klausa yang dihubungkan. Koordinator yang dipakai untuk menyatakan hubungan pemilihan itu ialah atau. Hubungan itu sering juga menyatakan pertentangan.

(56) Dalam keadaan seperti itu dia terpaksa membunuh musuh atau dibunuh musuh.

(57) Dia sedang melamun atau sedang memikirkan pacarnya?

Kalimat (56) adalah contoh yang memiliki hubungan pemilihan yang menyatakan pertentangan, sedangkan kalimat (57) kalimat yang memiliki hubungan pemilihan yang tidak menyatakan pertentangan.

 

5. HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT

Seperti halnya dengan kalimat majemuk setara, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat juga ditentukan oleh macam koordinator yang dipakai dan makna leksikal dari kata atau frasa dalam klausa masing-masing. Perhatikan hubungan semantis kedua klausa pada contoh berikut.

(58) Saya mau mengawinimu karena kamu adik Habibi.

(59) Saya mau mengawinimu meskipun kamu adik Habibi.

Klausa-klausa yang ada pada (58) dan (59) persis sama. Akan tetapi, karena koordinator yang dipakai berbeda, yakni karena dan meskipun mempunyai makna yang berbeda. (59) menyatakan penyebabab dan (59) hubungan konsesif.

            Tentu saja kedua kalimat di atas dapat diterima karena makna leksikal masing-maisng kata  pada masing-masing klausa adalah koheren.

            Hubungan semantis antara klausa subordinatif dan klausa utama banyak ditentukan oleh jenis dan fungsi klausa subordinatif. Berikut adalah beberapa macam hubungan semantis yang ada antara klausa subordinatif dan klausa utama: (a) waktu, (b) syarat, (c) pengandaian, (d) tujuan, (e) konsesif, (f) pembandingan, (g) sebab atau alasan, (h) hasil atau akibat, (i) cara, (j) alat, (k) komplementasi, (l) atribut, (m) perbandingan.

 

5.1. Hubungan Waktu

Klausa subordinatif ini menyatakan waktu terjadinya peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa utama. Hubungan waktu itu dapat dibedakan lagi menjadi (a) waktu batas permulaaan, (b) waktu berurutan, dan waktu batas akhir terjadinya peristiwa atau keadaan.

(60  Sedari saya masih di SD, saya suka pelajaran bahasa (batas permulaan)

(61) Begitu dia datang, dia memelukku serta mencium pipiku. (bersamaan)

(62) Seusai melantik menteri, Presiden menghadiri makan siang bersama. (berurutan)

(63) Yanto mengurus adik-adiknya hingga bapaknya pulang dari kantor. (batas akhir)

 

5. 2. Hubungan Syarat

Hubungan syarat terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan syarat terlaksananya apa yang disebut dalam klausa utama. Subordinator yang lazim dipakai adalah jika(lau), kalau, dan asal(kan). Di samping itu, subordinator kalau, apa(bila), dan bilamana juga dipakai jika syarat itu bertalian dengan waktu. Perhatikan contoh berikut.

(64) Jika Anda mau mendengarkannya, saya tentu senang sekali menceritakannya.

(65) Ini hanya dilakukannya dalam keadaan darurat kalau waktu memang mendesak.

(66) Hatiku bertambah ciut apabila/bilamana aku teringat bahwa akulah yang tertua.

 

5.3. Hubungan Pengandaian

Hubungan pengandaian terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan andaian terlaksanannya apa yang dinyatakan klausa utama. Subordinator yang lazim dipakai adalah seandainya, andaikata, andaikan, dan sekiranya. Perhatikan contoh berikut.

(67) Seandainya anggota kelompok menerima norma itu, selesailah seluruh   

        permasalahan.

Di samping itu, lazim pula dipakai subordinator jangan-jangan jika hubungan pengandaiannya menggambarkan kekhawatiran seperti terlihat pada contoh berikut.

(68) Sudah dua hari ia tidak masuk, jangan-jangan ia sakit.

Jika pengandaian itu berhubungan dengan ‘ketidakpastian’, subordinator yang digunakan adalah kalau-kalau.

(69) Ia menengok ke luar kalau-kalau anaknya sudah datang.

 

5.4. Hubungan Tujuan

Hubungan tujuan terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatnya menyatakan suatu tujuan atau harapan dari apa yang disebut dalam klausa utama. Subordinator yang biasa dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah agar, supaya, untuk, dan biar. Subordinator biar terbatas pemakaiannya pada ragam informal. Perhatikan contoh berikut.

(70) Saya sengaja tinggal di kota kecil agar dapat mengetahui kehidupan di sana.

(71) Anggota DPR itu pergi ke daerah malapetaka untuk memperoleh gambaran yang

        lebih jelas

(72) Kami pergi biar dia bebas berbuat sesukanya.

 

5.5. Hubungan Konsesif

Hubungan konsesif terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya mengandung pernyataan yang tidak akan mengubah apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Subordinator yang biasa dipakai adalah walau(pun), meski(pun), sekalipun, biar(pun), kendati(pun), sungguh(pun),dan biarpun. Perhatikan contoh berikut.

(73) Walaupun/meskipun hatinya sangat sedih, dia tidak pernah menangis.

(74) Perjuangan berjalan terus kendatipun musuh telah menduduki hampir semua

        kota.

 

Perlu dicatat bahwa dalam ragam baku subordinator walaupun/meskipun tidak diikuti oleh tetapi. Dengan demikian kalimat (1) tidak dapat diubah menjadi berikut.

(75) *Walaupun/meskipun hatinya sangat sedih, tetapi dia tidak pernah menangis.

 

Bentuk seperti betapapun, siapa pun, ke mana pun, dan apa pun dapat dipakai pula sebagai penghubung konsesif. Perhatikan contoh berikut.

(76) Dia melepaskan Toni pergi betapapun besar cintanya.

(77) Tuti selalu ikut ke mana pun ibunya pergi.

 

5.6. Hubungan Pembandingan

Hubungan pembandingan terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan pembandingan, kemiripan, atau preferensi antara apa yang dinyatakan pada klausa utama dengan yang dinyatakan pada klausa subordinatif itu. Subordinator yang biasa dipakai adalah seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana, daripada, dan alih-alih. Perhatikan contoh berikut.

(78) Pak Hamid menyayangi semua kemenakannya seperti dia menyayangi anak kandungannya sendiri.

(79) Daripada menganggur, cobalah engkau bekerja di kebun.

(80) Alih-alih naik kereta api, ia memilih naik pesawat terbang.

 

5.7. Hubungan Penyebaban

Hubungan penyebaban terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan sebab atau alasan terjadinya apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Subordinator yang biasa dipakai adalah sebab, karena, dan oleh karena. Perhatikan contoh berikut.

(81) Pusat Penelitian Kependudukan terpaksa menangguhkan beberapa rencana

        penelitian sebab belum ada tenaga pelaksana yang siap.

Jika hubungan penyebaban itu menggambarkan ciri makna ‘hanya karena…, maka…’ subordinator yang digunakan adalah mentang-mentang. Perhatikan contoh berikut.

(82) Mentang-mentang kaya, barang yang tidak diperlukan pun kamu beli.

 

5.8. Hubungan Hasil

Hubungan hasil terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan hasil atau akibat dari apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Hubungan ini biasanya dinyatakan dengan memakai subordinator seperti sehingga, sampai(-sampai), dan maka. Perhatikan contoh berikut.

(83) Biaya pengobatannya sungguh mahal sampai-sampai semua perhiasan istrinya

        sudah habis terjual.

(84) Kami tidak setuju, maka kami pun protes.

 

5.9. Hubungan Cara

Hubungan cara terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama. Subordinator yang sering dipakai adalah dengan dan tanpa. Perhatikan contoh berikut.

(85) Elly Pical mencoba bertahan dengan menghindar.

(86) Pencari intan bekerja tanpa memperhatikan bahaya di sekelilingnya.

 

5.10. Hubungan Alat

Hubungan alat terdapat pada kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan alat yang dinyatakan oleh klausa utama. Subordinator yang dipakai sama dengan yang dipakai untuk hubungan cara, yakni dengan dan tanpa. Perhatikan contoh berikut.

(87) Dia menangkap ikan dengan mempergunakan kail.

(88) Mereka membersihkan Monas tanpa memakai peralatan modern.

 

5.11. Hubungan Komplementasi

Dalam hubungan komplementasi, klausa subordinatif melengkapi apa yang dinyatakan oleh verba klausa utama atau oleh nomina subjek, baik dinyatakan maupun tidak. Subordinator yang sering dipakai adalah bahwa. Hubungan itu akan lebih jelas jika kita perhatikan contoh berikut.

(89) Penulis perlu menekankan di sini bahwa isi bukunya belumlah sempurna.

(90) Berkas riwayat hidupnya menunjukkan bahwa dia pernah menjadi pelajar

        teladan.

 

Dalam kalimat (89) klausa subordinatif melengkapi makna verba predikat klausa utama menekankan. Dalam kalimat (90) klausa subordinatif melengkapi verba predikat menunjukkan.

Jika susunan kalimat cukup terang, kata penghubung bahwa dalam bahasa yang tidak formal sering dihilangkan, seperti dalam contoh berikut.

(91) Saya dengar (bahwa) Pak Amir akan pindah.

Dalam ragam tak resmi sering digunakan konjungtor kalau alih-alih bahwa.

Bandingkan contoh berikut.

(92)a. Di koran disebutkan kalau bank itu tidak sehat

b. Di koran disebutkan bahwa bank itu tidak sehat.

Jika makna atau proposisi yang terkandung dalam klausa subordinatif berhubungan dengan ketidakpastian, pertanyaan, atau jawaban yang tersirat, maka klausa subordinatifnya berbentuk klausa tanya yang ditandai oleh (a) kata tanya seperti apa, siapa, mengapa, atau bagaimana yang bisa diikuti oleh partikel –kah, atau (b) gabungan kata seperti dengan siapa, untuk apa, atau ke mana. Bentuk-bentuk ini sekaligus berfungsi sebagai penghubung klausa utama dan klausa subordinatif. Berikut berapa contoh.

(93) Dia belum tahu apakah dia akan berangkat ke seminar itu.

(94) Kami tidak tahu dengan siapa kami harus berunding.

 

Kalimat eksklamatif juga dapat menjadi klausa subordinatif sejenis itu seperti terlihat pada contoh berikut.

(95) Dia membuktikan alangkah cantiknya gadis Bali itu.

 

Isi pernyataan atau pertanyaan, selain dinyatakan dalam bentuk klausa subordinatif dapat juga dinyatakan dalam bentuk kutipan langsung. Dalm hal ini, kutipan tersebut biasanya mendahului verba yang menyatakan cara pengujarannya. Verba itu sendiri berbentuk dasar tanpa afiks. Pada contoh berikut terlihat bahwa verba yang menggambarkan pengujaran itu ialah jawab, tulis, dan hardik.

(96) “Saya belum mau kawin,” jawab gadis itu.

(97) “Bulan depan saya akan pulang,” tulis Adi dalam suratnya.

(98) “Cepat keluar,” hardik orang itu.

 

5.12. Hubungan Atributif

Hubungan aributif ditandai oleh subordinator yang. Ada dua macam hubungan atributif: (a) restriktif, dan (b) takrestriktif. Klausa yang dihasilkan sering pula disebut “klausa relatif” dengan kedua macam hubungan di atas.

a. Hubungan Atributif Restriktif

Dalam hubungan seperti ini, klausa relatif mewatasi makna dari nomina yang menerangkannya. Dengan kata lain, bila ada suatu nomina yang mendapat keterangan tambahan yang berupa klausa relatif-restriktif, maka klausa itu merupakan bagian integral dari nomina yang diterangkannya. Dalam hal penulisannya perlu diperhatikan benar bahwa klausa relatif macam ini tidak dibatasi oleh tanda koma, baik di muka maupun di belakangnya.Perhatikan contoh berikut.

(99)   Pamannya yang tinggal di Bogor meninggal kemarin.

(100) Pemegang gelar MBA yang kuliah hanya enam bulan harus menanggalkan  

          gelarnya.

Pada kalimat (99) tampak bahwa klausa relatif yang tinggal di Bogor, yang tidak ditulis di antara dua tanda koma, mewatasi makna kata pamannya. Artinya, si pembicara mempunyai beberapa paman; yang meninggal kemarin adalah yang meninggal di Bogor.

 

b. Hubungan Atributif Takrestriktif

Berbeda dengan klausa yang restriktif, kalusa subordinatif yang takrestriktifhanyalah memberikan sekadar tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya. Jadi, ia tidak mewatasinomina yang mendahului. Karena itu, dalam penulisannya klausa ini diapit oleh dua tanda koma. Perhatikan kontras makna dan cara penulisan antara klausa restriktif dan takrestriktif berikut ini.

(101)a.Istri saya yang tinggal di Bogor meninggal kemarin.

b.Istri saya, yang tinggal di Bogor, meinggal kemarin.

Klausa relatif yang tingal di Bogor pada (a) tidak diapit oleh tanda koma, sedangkan pada (b) diapit oleh dua tanda koma. Makna dari kedua kalimat ini pun berbeda. Kalimat (a) menyiratkan bahwa si pembicara mempunyailebih satu istri dan yang meninggal adalah istri yang tinggal di Bogor. Sebaliknya, dengan klausa relatif yang takrestriktif, kalimat (b) menyatakan bahwa istrinya hanya satu. Klausa yang tinggal di Bogor hanya sekadar memberi keterangan tambahan di mana istrinya tinggal.

 

5.13. Hubungan Perbandingan

Hubungan perbandingan terdapat dalam kalimat majemuk bertingkat yang klausa subordinatif dan klausa utamanya mempunyai unsur yang sama yang tarafnya sama (ekuatif) atau berbeda (komparatif). Klausa subordinatif perbandingan selalu mengalami pelepasan. Unsur yang dilesapkan adalah unsur yang menyatakan sifat yang terukur yang ada pada klausa utama dan klausa subordinatif.

  1. Hubungan Ekuatif

Hubungan ekuatif muncul bila hal atau unsur pada klausa subordinatif dan klausa utama yang diperbandingkan sama tarafnya. Bentuk yang digunakan untuk menyatakan hubungan ekuatif adalah sama…. dengan atau bentuk se-.

(102)    a. Gaji istrinya sama besar dengan gaji saya (besar)

            b. Gaji istrinya sebesar gaji saya.                   

b. Hubungan Komparatif

Hubungan komparatif muncul bila  hal atau unsur pada klausa subordinatif dari klausa utama diperbandingkan berbeda tarafnya. Bentuk yang digunakan untuk menyatakan hubungan komparatif adalah lebih/kurang… dari(pada). Perhatikan contoh berikut.

(103) Dia lebih cepat mengetik dengan komputer daripada (dia mengetik) dengan

          mesin tik.

(104) Pembantu saya lebih senang menonton film India daripada film barat.

 

 

 

5.14. Hubungan Optatif

Hubungan optatif terdapat dalam kalimat majemuk bertingkat yang klausa utamanya menyatakan ‘harapan’ agar apa yang dinyatakan dalam klausa subordinatif dapat terjadi. Subordinator yang lazim digunakan adalah semoga, moga-moga dan mudah-mudahan.

(105) Kita berdoa mudah-mudahan kemalangan ini segera diatasi.

 

6. PELESAPAN

Penggabungan dua klausa baik secara subordinatif maupun koordinatif dapat mengakibatkan terdapatnya dua unsur yang sama dalam satu kalimat. Pengulangan unsur yang sama itu merupakan suatu redundansi dari segi informasi. Salah satu alat sintaktis untuk mengurangi taraf redundansi itu adalah pelesapan atau elipsis, yaitu penghilangan unsur tertentu dari satu kalimat atau teks.

(106) Ayahnya datang ke pesta itu, tetapi ibunya tidak (datang ke pesta itu).

(107) Karena (Pak Andi) sakit, Pak Andi tidak masuk kantor.

 

 

DAFTAR BACAAN

 

Alwi, Hasan, et all.1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.