A. Ingatan

Kata ’ingatan’ merupakan alih bahasa dari kata memory dalam bahasa Inggris meskipun kata ini telah diserap dalam bahasa Indonesia menjadi memori. Su’udi (2011: 63) lebih mengutamakan penggunaan istilah dalam bahasa Indonesia, yaitu ’ingatan’ meskipun disadari bahwa kata ini mempunyai makna luas dan konotasi lain dalam penggunaan sehari-hari. Namun dengan konteks tertentu, kata ’ingatan’ akan dapat dipahami sebagaimana yang dimaksudkan.

Berbeda dengan Su’udi, Darjowidjojo (2008: 269) lebih memilih menggunakan kata memori karena padanannya, ingatan, memiliki makna yang lebih luas daripada memori. Kata ’ingatan’ dapat dikaitkan tidak hanya dengan verba mengingat tetapi juga dengan verba mengingatkan, memperingati, dan memperingatkan sehingga ia ada kaitannya dengan peringatan.

Perbedaan antara penggunaan kata ’ingatan’ dengan ’memori’ sebenarnya tidak terlalu prinsip dipersoalkan karena keduanya memiliki maksud yang sama dalam konteks topik bahasan makalah ini. Namun, pemilihan kata ’ingatan’ lebih menunjukkan sikap bahasa terhadap bahasa Indonesia karena kata ’memori’ merupakan serapan dari bahasa Inggris, memory. Oleh karena itu, dalam makalah ini sengaja digunakan kata ’ingatan’.

a.  Pengertian Ingatan

Ingatan bukan merupakan suatu objek seperti mata, tangan, dan organ tubuh lainnya yang secara kasat mata dapat dilihat. Ingatan merupakan suatu abstraksi yang menunjuk pada suatu himpunan ciri-ciri, kegiatan, dan keterampilan. Ingatan adalah suatu kemampuan untuk mengingat apa yang telah diketahui (The, 1995; de Porter & Hernacki, 1999 dalam Afiatin, 2001: 26).

Su’udi (2011: 64) merangkum beberapa definisi ingatan, menjelaskan bahwa ingatan ’melakukan’ berbagai kegiatan, yaitu menyimpan informasi, memanggil kembali, memilah dan menggunakannya. Dudai dalam Roediger III (2007: 12) mengemukakan bahwa ingatan adalah pencetakan dari pengalaman masa lalu, baik itu fisik, mental atau keduanya.

Beberapa pengertian ingatan yang dikutip menunjukkan bahwa ingatan berhubungan dengan pengalaman yang pernah dialami, dipersepsi, dan disimpan kemudian pada suatu waktu dimunculkan kembali sesuai kebutuhan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses ingatan mencakup tiga tahapan, yaitu proses memasukkan, menyimpan, dan mengingat kembali informasi.

 

b.  Letak Ingatan

Para ahli masih berbeda pendapat tentang letak di mana memori disimpan. Karl Lashley (1980-1958), psikolog Universitas Harvard, banyak disebut sebagai pelopor mengenai tempat memori di otak. Penelitiannya terhadap tikus pada tahun 20-an memperoleh simpulan bahwa memori tidak berada pada suatu titik atau daerah tertentu di otak tetapi banyak bagian dari otak yang terlibat. Donald O. Hebb, Universitas McGill, mendapati bahwa bagian-bagian ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda, meskipun semuanya menopang penyimpanan memori secara utuh (Darjowidjojo, 2008: 272-273).

Penelitian yang dilakukan Wilder Penfield, ahli bedah syaraf, dengan mengoperasi otak pasien yang hanya mendapat anestesi lokal (dan karenanya pasien ini sadar) menunjukkan bahwa lobe temporal tampaknya merupakan daerah di mana memori disimpan. Alat elektronik dengan voltase rendah yang ditusuk-tusukkan pada otak menunjukkan bahwa bila bagian tertentu dari lobe temporal ditusuk, khususnya di daerah sekitar hippocampus, si pasien tidak dapat mengingat benda apa yang ditunjukkan kepadanya. Hal seperti ini tidak terjadi bila yang ditusuk adalah lobe lain, seperti lobe parietal atau lobe frontal.

Bahwa memori tidak terletak pada satu tempat di otak juga dikemukakan oleh ahli-ahli lain. Dengan memakai alat PET Tulving dan Lepage (2000) menunjukkan bahwa memori memang tidak berada di suatu tempat khusus di otak. Penemuan baru yang menarik dari penelitian yang dilakukan oleh Kapur dkk. (1996) dan Cabeza dkk. (1997) adalah bahwa penyimpanan memori dan retrival memori tidak berada pada tempat yang sama. Mereka dapati bahwa penyimpanan memori dilakukan oleh hemisfer kiri, khususnya di korteks prafrontal, korteks cingulate anterior, dan girus parahippocampal. Sementara itu, retrival memori dilakukan oleh hemisfer kanan pada tiga daerah yang sama ini. Pola ini kemudian dikenal dengan nama HERA (Hesmispheric Encoding/Retrival Asymmetry) (Dardjowidjojo, 2008: 273-274).

Untuk memperkaya referensi tentang letak ingatan dalam otak, berikut dipaparkan pendapat Paul McLean yang dikutip oleh de Potter dan Hernacki (2005: 26-28). Menurut Paul McLean, otak manusia terdiri atas tiga bagian dasar, yaitu: batang atau ”otak reptil”, sistem limbik atau ”otak mamalia”, dan neokorteks.

Bagian pertama, batang atau ”otak reptil” mempunyai unsur-unsur yang sama dengan reptilia; inilah komponen kecerdasan terendah manusia. Bagian ini bertanggung jawab atas fungsi-fungsi motor sensor –pengetahuan realistas fisik yang berasal dari pancaindera. Perilaku yang ada dalam otak reptil berkaitan dengan insting mempertahankan hidup, dorongan untuk mengembangkan spesies. Perhatiannya adalah pada makanan, tempat tinggal, reproduksi, dan perlindungan wilayah.

Bagian kedua adalah sistem limbik atau ”otak mamalia”, terletak di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif; yaitu ia menyimpan perasaan, pengalaman, memori, dan kemampuan belajar. Selain itu juga mengendalikan bioritme manusia, seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, detak jantung, gairah seksual, temperatur dan kimia tubuh, metabolisme, dan sistem kekebalan. Sistem limbik merupakan panel kontrol utama manusia yang menggunakan informasi dari indera penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, peraba, dan penciuman sebagai masukannya. Kemudian, informasi itu didistribusikan ke bagian pemikir di dalam otak, yaitu neokorteks.

Bagian ketiga adalah neokorteks yang terletak di bagian atas dan sisi-sisi sistem limbik, yang membentuk 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan bersemayamnya kecerdasan. Inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran, dan sensasi tubuh. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan, perilaku waras, bahasa, kendali motorik sadar, dan ideasi (penciptaan gagasan) nonverbal.

Paparan McLean memperjelas bahwa letak ingatan tidak di satu tempat di otak manusia. Setidaknya ingatan itu berada di wilayah sistem limbik atau ”otak mamalia” dan neokorteks.

 

Tabel Struktur Otak dan Fungsinya

 

No.

Struktur Otak

Fungsi

1

Serebrum

  1. Interpretasi impuls dari organ sensorik 
  2. Inisiasi gerakan otot volumer
  3. Menyimpan informasi (memori) dan membuka kembali ingatan
  4. Intelegensia

2.

Lobus Frontal 

  1. Kontrol gerak volunter dari otot 
  2. Motivasi, agresi, mood
  3. Planning, social judgment, intelegensia.

3.

Lobus Parietal

Pusat pengolahan dan evaluasi informasi sensoris: rasa, raba, tekan, suhu nyeri, kecuali: penciuman, pendengaran, penglihatan.

4.

Lobus Occipital

Penglihatan.

5.

Lobos Temporal

  1. Pendengaran dan penciuman 
  2. Memori

6.

Pons

Relay impuls dari dan ke medula oblongata dan serebrum

7.

Medulla oblongata (batang otak) 

Letak: berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar, muncul dari tulang punggung.

  1. Mengendalikan fungsi-fungsi penyangga kehidupan dasar misalnya pernapasan dan laju denyut jantung. 
  2. Mengontrol tingkat kesiagaan.
  3. Menyiagakan terhadap informasi sensorik yang masuk.
  4. Mengendalikan suhu.
  5. Mengendalikan proses pencernaan.
  6. Menyampaikan informasi dari serebelum.

8.

Cerebellum (otak kecil atau otak belakang) 

Letak : terletak di bawah lobus oksipital serebrum.

  1. Mengendalikan gerakan tubuh dalam ruang 
  2. Menyimpan ingatan untuk respon-respon dasar yang dipelajari.
  3. Mengatur sikap atau posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar. Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

9.

Hipothalamus

  1. Mengontrol suhu tubuh 
  2. Mengontrol rasa haus dan pengeluaran urin
  3. Mengontrol asupan makanan
  4. Mengontrol sekresi hormon-hormon hipofisis anterior
  5. Menghasilkan hormon-hormon hipofisis posterior
  6. Mengontrol kontraksi uterus  pengeluaran susu
  7. Pusat koordinasi sistem saraf otonom utama, kemudian mempengaruhi semua otot polos, otot jantung, kel eksokrin
  8. Berperan dalam pola perilaku dan emosi

10.

Amygdale

Pusat ingatan emosi.

11.

Hippocampus 

Letak: pada bagian medial yang memanjang di lobus temporalis serebrum dan merupakan bagian dari sistem limbik.

  1. Berperan penting dalam ingatan jangka pendek yang melibatkan integrasi berbagai rangsangan terkait dan juga penting untuk konsolidasi menjadi ingatan jangka panjang. 
  2. Hippocampus dan daerah sekitarnya berperan penting dalam ingatan deklaratif (ingatan mengenai fakta-fakta yang sering terbentuk setelah hanya sekali pengalaman).

12.

Gyrus Cingulata, Thalamus, Hippocampus, Nudeus Basal, Prefrontal Cortex, dan Amygdala.

Tiga di antaranya berada di wilayah kulit otak (Thalamus, Cingulate Gyrus, Fornix) yang berperan dalam aktivitas rasional. Sedangkan selebihnya, berada di bagian bawah kulit otak, atau bagian yang berkait dengan emosi.

13.

Thalamus 

Letak: Ini adalah bagian yang terdapat di otak depan.

  1. Mengatur proses masuknya informasi dari luar otak menuju ke kulit otak. 
  2. Mengatur proses terjadinya gerakan organ-organ tubuh lewat koordinasi kulit otak dan otak kecil. Di bagian ini terjadi persimpangan saraf-saraf sensorik yang masuk ke otak.

 

c.  Jenis Ingatan

Para ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda berkenaan dengan pembagian jenis ingatan. Penfield dan Roberts (1959) membagi ingatan ke dalam tiga jenis, yaitu ingatan pengalaman, ingatan konseptual, dan ingatan kata. Squire dan Kandel (1999) menggolongkan ingatan menjadi ingatan deklaratif dan nondeklaratif. Psikolog William James (1841-1910) berpendapat bahwa ingatan dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu ingatan pendek dan ingatan panjang. Sementara itu, Tuvlin dan Lepage (2000) juga membagi ingatan menjadi dua kelompok, yaitu ingatan proskopik (disebut juga ingatan non-episodik) dan ingatan palinskopik (disebut juga ingatan episodik), sedangkan Chafe (1973), berdasarkan bukti-bukti linguistik, menganggap bahwa ingatan itu terbagi atas ingatan permukaan (surface memory), ingatan dangkal (shallow memory), dan ingatan dalam (deep memory) (Dardjowidjojo, 2008: 274-278).

Pembagian ingatan yang paling umum adalah seperti yang dikemukan oleh Su’udi (2011: 67), bahwa dilihat dari sudut kapasitas waktu penyimpanannya, ingatan dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu ingatan sensorial, ingatan jangka pendek (IJPe), dan ingatan jangka panjang IJPa). Pendapat ini sejalan dengan pemikiran Richard Atkinson dan Richard Shiffrin, bahwa ingatan disimpan dalam tiga sistem penyimpanan informasi, yaitu memori sensori (sensory memory), memori jangka pendek (short term memory), dan memori jangka panjang (long term memory) (http://jalurilmu.blogspot.com).

 

1)      Ingatan Sensorial

Ingatan sensorial adalah ingatan yang berkaitan dengan penyimpanan informasi sementara yang dibawa oleh pancaindera. Setiap pancaindera memiliki satu macam ingatan sensorial. Ingatan sensorial adalah informasi sensoris yang masih tersisa sesaat setelah stimulus diambil. Jadi, di dalam diri manusia ada beberapa macam sensori-motorik, yaitu sensori-motorik visual (penglihatan), sensori-motorik audio (pendengaran), dan sebagainya. 

Ingatan sensorial cukup pendek, dan biasanya akan menghilang segera setelah apa yang kita rasakan berakhir. Sebagai contoh, ketika anda melihat. Kita melihat ratusan hal ketika berjalan selama beberapa menit. Meskipun perhatian tertuju oleh sesuatu yang anda lihat, itu segera terlupakan oleh sesuatu yang lain yang menarik perhatian anda di antara sekian banyak yang ditangkap indera penglihatan. Ketika kita mendengar sesuatu, melihat sesuatu, atau meraba sesuatu, informasi-informasi dari indera-indera itu diubah dalam bentuk impuls-impuls neural (bentuk neuron) dan dikirim ke bagian-bagian tertentu dari otak. Proses tersebut berlangsung dalam sepersekian detik.

Sebenarnya ingatan sensorial berkapasitas besar untuk menyimpan informasi, akan tetapi yang disimpan tersebut cepat sekali menghilang, dikatakan bahwa informasi tersebut akan menghilang setelah sepersepuluh detik, lalu akan menghilang sama sekali setelah lewat dari satu detik.

Keberadaan ingatan sensorial mempunyai peran yang penting dalam hidup manusia. Orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Dengan begitu ada proses seleksi dari kesadaran, mana informasi yang diperlukan dan mana yang tidak.

Penggolongan yang paling umum untuk ingatan sensorial adalah: (1) ingatan ikonik, yang mengelola masukan visual; (2) ingatan ekoik, yang mengelola masukan auditif; dan (3) ingatan haptik, yang mengelola masukan raba.

Ingatan sensorial memiliki ciri-ciri: (1) peristiwa yang terjadi di ingatan sensorial tidak terkait dengan perhatian terhadap stimulus/masukan yang dipersepsi; (2) informasi/masukan yang masuk benar-benar khusus untuk tiap jenis indera (informasi berbentuk bunyi ditangkap lewat telinga dan disimpan oleh saraf telinga, informas visual ditangkap lewat mata dan disimpan oleh saraf mata, dan seterusnya); (3) semua ingatan sensorial berlangsung dan bertahan sangat singkat (begitu tilasnya hilang atau berganti dengan masukan yang lain, informasi yang tertangkap tadi tidak bisa dilacak lagi dan hilang selamanya) (Su’udi, 2011: 68).

 

2)      Ingatan Jangka Pendek (IJPe)

Ingatan jangka pendek (IJPe) atau sering disebut dengan short-term memory atau working memory adalah suatu proses penyimpanan ingatan sementara, artinya informasi yang disimpan hanya dipertahankan selama informasi tersebut masih dibutuhkan. IJPe adalah tempat kita menyimpan ingatan yang baru saja kita pikirkan. Ingatan yang masuk dalam ingatan sensorial diteruskan kepada IJPe. IJPe berlangsung sedikit lebih lama dari ingatan sensorial, selama anda menaruh perhatian pada sesuatu, anda dapat mengingatnya dalam ingatan jangka pendek.

Di dalamIJPe ini, ada sebagian materi yang hilang, sebagian lagi diteruskan ke dalam IJPa. Jika kita mengingat kembali akan suatu informasi, informasi dari ingatan jangka panjang tadi akan dikembalikan ke ingatan jangka pendek. Misalnya, pada nomor telepon yang telah anda ulang terus sampai anda bisa menuliskannya, dan nomor tersebut akan tetap tersimpan dalam memori anda selama anda aktif memikirkannya. Jika anda berhenti memberikan perhatian pada itu, maka akan terhapus dalam waktu 10-20 detik. Dalam rangka untuk mengingat sesuatu berikutnya, otak mentransfernya ke ingatan jangka panjang. Proses mengingat nomor telepon, pada kenyataannya, suatu cara untuk memindahkan nomor dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

Jumlah informasi yang bisa disimpan dalam IJPe sangat terbatas,hanya lima hingga sembilan informasi saja yang dapat berada di dalamnya sekaligus. Setiap kali memberikan perhatian ke informasi baru yang berasal dari ingatan sensorial, harus didorong keluar sesuatu yang telah diperhatikan sebelumnya. Misalnya, jika ada sesuatu yang mengganggu konsentrasi seseorang ketika berlatih mengulang nomor telepon sebelum informasi nomor tersebut mencapai ke IJPa, maka informasi akan terlempar keluar dan seseorang tersebut harus melihat dan mengingat kembali.

IJPe terdiri dari tiga unit terpisah; putaran fonologi (phonological loop), gambaran penglihatan-ruang (visuo-spatial sketchpad), dan pelaksana pusat (central executive).Putaran fonologi menyimpan dan mengingat kembali kata-kata yang saat itu sedang dipikirkan. Baddeley (1975) dalam penelitiannya, meminta partisipan mengingat kembali beberapa daftar pendek berisi kata-kata secara berurutan. Ia menemukan bahwa partisipan mampu mengingat kata-kata yang mereka sebutkan dalam dua detik. Kesimpulannya, putaran fonologi dapat menyimpan kata dengan baik dalam dua detik.

Gambaran penglihatan-ruang adalah ketika kita membentuk citra/gambaran mental tentang sesuatu. Gambaran penglihatan-ruang juga berperan dalam tugas-tugas spasial, misalnya mencari jalan memutar dan menentukan jarak. Ingatan jangka pendek bukan hanya sebuah tempat penyimpanan ingatan sementara, tetapi juga lokasi berpikir secara aktif, tempat menyaring, memilah, dan menggabungkan informasi lama dengan informasi yang baru, lalu mengambil keputusan. Proses ini disebut penemuan mental. Penemuan mental merupakan salah satu fungsi terpenting dalam ingatan jangka pendek. Misalnya, bayangkan sebuah segitiga, lingkaran, dan empat persegi panjang. Gabungkan ketiganya, gambarlah objek yang anda ciptakan tersebut. Kini, secara mental anda telah menciptakan objek baru yang mungkin menyerupai atau tidak menyerupai objek yang anda kenal. Proses kreatif ini merupakan versi sederhana seorang seniman atau musisi dalam menciptakan karyanya (http://jalurilmu.blogspot.com).

Ingatan jangka pendek (IJPe) memiliki ciri-ciri: (1) mencakup ingatan tentang segala sesuatu yang ditangkap oleh semua indera; (2) kapasitasnya terbatas (5-9 digit) tetapi dapat ditingkatkan dengan membuat potongan/pengelompokan bermakna; (3) kapasitas menahan informasi hanya beberapa detik, jika menginginkan penahanan yang lebih lama informasi itu harus dipindah ke ingatan jangka panjang (IJPa).

 

 
   

 

 

 

                                                                                    Transfer

                        + PERHATIAN           

                                                                                   

                                                                                            Pengingatan

 

                                                                                   

Bagan 2: Model Atkinson-Shiffrin (1968)

 

Tampak dalam model ini bahwa informasi yang ditangkap oleh ingatan sensorial dapat berpindah ke IJPe jika diberi perhatian. Ketika sudah masuk ke IJPe, jika dilakukan pengulangan, informasi itu dapat masuk ke IJPa. Pada saat informasi di IJPa, orang dapat memanggil kembali informasi, artinya mengingat kembali, baik informasi lepas maupun yang terkait dengan informasi baru yang sedang diterima di IJPe(Su’udi, 2011: 68-69).

 

3)      Ingatan Jangka Panjang (IJPa)

Ingatan jangka panjang (IJPa) atau disebut long term memory adalah suatu proses memori atau ingatan yang bersifat permanen, artinya informasi yang disimpan sanggup bertahan dalam waktu yang sangat panjang. Kapasitas yang dimiliki IJPa ini tidak terbatas. IJPa merupakan gundang informasi yang dimiliki oleh manusia. IJPa berisi informasi dalam kondisi psikologis masa lampau, yaitu semua informasi yang telah disimpan, tetapi saat ini tidak sedang dipikirkan.

Informasi yang disimpan dalam IJPa diduga dapat bertahan dalam waktu yang panjang bahkan selamanya. Kehilangan ingatan pada IJPa ini hanya dimungkinkan apabila seseorang mengalami kerusakan fungsional dari sistem ingatannya.

Proses masuknya informasi ke dalam IJPa tetap melalui tahap ingatan sensorial. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke IJPe. Selanjutnya informasi itu di seleksi sedemikian rupa, mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke IJPa.

Sebelum masuk ke IJPa, informasi yang telah disaring pada IJPe, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Dalam proses ini arti dari informasi dianalisis lebih jauh lagi. Misalnya saat kita mendengar seseorang yang mengatakan, “Atun dihina oleh Nana sampai sakit hati”, maka kita tidak hanya mengerti arti masing-masing kata dalam kalimat tersebut, tetapi kita juga berusaha mengerti apa yang terjadi sebenarnya dari keseluruhan kalimat tersebut. Sebaliknya bila kita mendengar kata-kata lain yang unsurnya sama, seperti “Nana dihina Atun sampai sakit hati”, maka kita tahu bahwa yang terjadi sekarang berbeda dari yang pertama. Dalam kedua kalimat tersebut kalau kita mengingat arti dari kata-kata dalam keseluruhan kalimat itu, maka kita sedang melakukan semantic coding; tetapi kalau kita membayangkan reaksi dari Atun atau Nana dalam peristiwa itu, maka kita melakukan imagery coding.Jadi, IJPa akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat, dan sebagainya.Olehkarena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen.

Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam IJPa adalah untuk diingat selamanya. Hebatnya, ingatan yang telah tersimpan dalam IJPa bisa dimunculkan kembali saat diinginkan. Kemampuan mengenang atau menarik ingatan kembali ini disebut recall memory. Ketika seseorang yang anda sayangi pergi dari sisi anda, mungkin anda akan mengingat kembali kenangan-kenangan yang tersimpan dalam IJPa Anda. Anda dapat mengingat dengan sangat detil bahkan tanpa Anda sadari bahwa Anda telah menyimpan informasi tersebut. Anda mungkin mengenang tempat di mana Anda menghabiskan waktu dengan orang tersebut dengan mengingat pemandangan, bau dan bahkan perasaan dengan akurasi yang mengejutkan (http://jalurilmu.blogspot.com).

Ingatan jangka panjang (IJPa) memiliki ciri-ciri: (1) wadah utama informasi; (2) kapasitasnya dapat dikatakan tak terbatas; (3) kurun waktu bertahannya informasi relatif jauh lebih lama jika dibandingkan dengan ingatan jangka pendek (IJPe), tergantung dari beberapa kondisi, seperti terjadinya pengulangan atau mendapat perlakuan mendalam dengan cara menyimpan informasi secara sistematis (Su’udi, 2011: 70-71).

 

  1. d.      Cara Kerja Ingatan

Ada 3 tahap yang terjadi pada proses ingatan, yaitu proses memasukkan informasi atau pengkodean, proses penyimpanan, dan proses mengingat.

1)      Proses Memasukkan Informasi atau Pengkodean

Pada tahap ini terjadi proses memasukkan informasi yang ada dengan mengubah sifat informasi ke dalam bentuk yang sesuai dengan sifat-sifat organisme, seperti simbol-simbol atau gelombang-gelombang listrik tertentu yang sesuai dengan sifat organisme. Maksudnya, di mana kita mengubah fenomena fisik menjadi kode-kode yang diterima ingatan (misalnya; pendengaran, penglihatan, perabaan dan lain-lain), dan kita menyimpannya ke dalam ingatan kita. Proses ini sangat mempengaruhi lamanya suatu informasi disimpan dalam memori, dan kemampuan/kecepatan setiap individu pada proses ini sangat beragam, ada yang cepat dan ada pula yang lambat.

Ada dua cara pengubahan informasi masuk ke dalam ingatan, yaitu: (a) secara sengaja, proses pengubahan informasi dilakukan dengan sengaja atau dengan kesadaran dimasukkan ke dalam ingatan (contohnya, mengamati sesuatu dengan seksama lalu dengan sengaja memasukkan atau memahaminya ke dalam ingatan); (b) secara tidak sengaja, proses pengubahan informasi terjadi dengan tidak sengaja dimasukkan ke dalam ingatan(contohnya, jika dipukul akan terasa sakitmaka informasi tersebut akan disimpan sebagai pengertian-pengertian).

 

2)      Proses Penyimpanan

Tahap kedua ini disebut juga retensi. Pada tahap ini terjadi pengendapan informasi yang telah terkode dalam suatu tempat tertentu. Ketika kita telah mempelajari sesuatu biasanya akan tersimpan dalam bentuk jejak-jejak (traces) dan bisa ditimbulkan kembali. Jejak-jejak tersebut biasa juga disebut dengan tilas ingatan (memory traces). Walaupun disimpan tetapi jika tidak sering digunakan maka tilas ingatan tersebut bisa sulit untuk ditimbulkan kembali bahkan juga hilang, ketika tilas tersebut hilang maka terjadi suatu fenomena yang kita sebut lupa.

 

3)      Proses Pengingatan Kembali

Proses pengingtatan adalah proses mengingat kembali dari apa yang telah disimpan pada tahap kedua tadi. Mengingat kembali merupakan suatu proses mencari dan menemukan informasi yang disimpan dalam ingatan untuk suatu keperluan atau kebutuhan.

Menurut seorang tokoh psikologi, Hilgard (1975),terdapat tiga jenis proses mengingat ini, yaitu: (a) pertama, recall,yaitu proses mengingat kembal informasi yang dipelajari di masa lalu tanpa petunjuk yang dihadapkan pada organisme (contohnya, mengingat merek sebuah mobil tanpa adanya mobil yang sedang diingatnya tersebut); (b) kedua, recognition,yaitu proses mengenal kembali informasi yang sudah dipelajari melalui suatu petunjuk yang dihadapkan pada organisme (contohnya,mengingat merek mobil ketika melihat bendanya atau bentuk mobilnya); dan (c) ketiga, reintegrative,yaitu proses mengingat dengan menghubungkan berbagai informasi menjadi suatu konsep atau cerita yang cukup komplekas (contohnya,ketika Anda ditanya sebuah nama, misalnya si Pitung, maka akan teringat banyak hal dari nama tersebut karena anda telah menonton filmnya).

Berikut adalah contoh dari tiga proses ingatan yang telah dijelaskan di atas. Suatu saat ketika anda sedang dalam perjalanan melihat sebuah kecelakaan, tabrakan antara motor dan bus. Saat itu anda melihat dengan jelas karena terjadi di depan mata (terjadi proses masuknya informasi lewat mata, telinga, persepsi, lalu diubah menjadi kode, maka telah terjadi proses pertama pengkodean). Kemudian anda menyimpan informasi yang telah terkode ke dalam otak (misalnya, jenis motor, jenis bus, jumlah pengendara motor, dan lain-lain, maka pada tahap ini terjadi proses penyimpanan). Lalu anda menjadi saksi mata kejadian itu dan dimintai keterangan oleh polisi. Di kantor polisi anda menceritakan kronologi kejadian seperti yang telah anda ingat (maka pada saat menceritakan kronologi kejadian tabrakan anda sedang berada dalam proses mengingat kembali, proses pengingatan) (http://jalurilmu.blogspot.com).

 

  1. e.       Lupa

Lupa adalah masalah yang sangat biasa dialami seseorang. Mungkin hal ini sudah menjadi konsekuensi logis dari kemampuan kita sebagai manusia yang memiliki daya ingatan. Hal ini juga yang menunjukkan bahwa setiap orang memiliki daya ingat yang berbeda-beda. Beberapa penyebab terjadi lupa antara lain sebagai berikut.

1)      Aus (Decay Theory)

Teori ini adalah teori yang beranggapan bahwa ingatan yang telah disimpan bisa rusak dan menghilang. Dikatakan bahwa, ingatan menjadi aus dengan berlalunya waktu bila tidak pernah diulang kembali (rehearsal). Informasi yang disimpan dalam ingatan akan meninggalkan tilas ingatan. Berlalunya waktu proses yang berlaku dalam otak mengakibatkan tilas ingatan makin terkikis yang menyebabkan mundurnya daya mengingat.

 

2)      Adanya Penumpukan Ingatan (Interferensi Theory)

Ingatan yang tidak atur dengan baik akan menumpuk di satu tempat dan kusut. Teori interferensi berseberangan dengan Teori Decay dalam hal kerusakan ingatan dalam penyimpanan di otak. Menurut teori ini, Informasi inderawi yang disimpan dalam IJPa masih ada dalam gudang memori (tidak mengalami keausan), hanya saja tilas ingatan bercampur aduk, mengganggu satu sama lain. Hal inilah yang menyebabkan orang bisa lupa. Misalnya, seseorang yang sedang berusaha mempelajari tentang materi pelajaran Biologi, setelah itu ia disuruh mempelajari materi pelajaran Fisika. Saat orang tersebut disuruh kembali mengingat materi pelajaran Biologi, mungkin ia akan kesulitan karena adanya gangguan dari materi Fisika yang dipelajarinya. Bila informasi yang baru kita terima menyebabkan kita sulit mencari informasi yang sudah ada dalam ingatan kita disebut interferensi retroaktif. Sedangkan bila informasi yang baru kita terima sulit diingat karena adanya pengaruh ingatan yang lama disebut proses interferensi proaktif. Saat kita lupa karena interferensi ini berarti terjadi penumpukan ingatan di satu tempat, dan kusut ketika akan dikeluarkan.

 

3)      Represi

Represi adalah proses pemblokiran ingatan tentang suatu kejadian yang menyakitkan atau memalukan oleh alam sadar. Artinya, represi adalah kesengajaan melupakan suatu kejadian oleh seseorang karena kejadian yang dialami dianggap merugikan. Teori tentang penyebab lupa berupa represi ini berangkat dari konsep Sigmund Freud tentang pertahanan ego (ego defences). Jadi secara sederhananya, salah satu penyebab lupa pada seseorang mengenai suatu pengalaman lampau yang dialaminya bisa terjadi karena orang yang bersangkutan menyengaja untuk melupakannya.

 

4)      Ketergantungan Petunjuk (Retrieval Failure)

Satu lagi hal yang dianggap menjadi penyebab lupa, yaitu ketergantungan pada petunjuk. Proses mengingat kembali dari IJPa dibutuhkan suatu petunjuk. Kegagalan mengingat kembali lebih disebabkan oleh tidak adanya petunjuk yang memadai untuk merangsang ingatan tersebut muncul. Dengan demikian, bila syarat tersebut dipenuhi (disajikan petunjuk yang tepat), maka informasi tentu dapat ditelusuri dan diingat kembali. Misalnya, anda pernah mempunyai suatu pengalaman tertentu, anda bisa teringat kembali pengalaman tersebut dengan melihat tempat di mana pengalaman itu terjadi.

Petunjuk yang dimaksud bisa berupa visual (pemandangan misalnya), audio (suara) ataupun bau-bauan. Petunjuk yang diperlukan tidak selalu berasal dari luar. Ada kalanya kita teringat sesuatu ketika suasana hati atau kondisi psikologis kita sama seperti saat kita sedang mengalami sesuatu, sehingga hal itu menyebabkan kita teringat pengalaman masa lampau.

 

5)      Penyaringan

Pada proses terjadinya ingatan, informasi yang masuk tidak serta merta disimpan, melainkan melewati proses penyaringan atau penyeleksian. Pada saat penyaringan ini banyak kesan-kesan yang hilang, menyisakan informasi-informasi yang dianggap penting saja. Proses penyaringan itu menjaga kesanggupan mengingat agar tidak berat. Yang terpilih dari kesan-kesan itu hanya bagian yang relevan saja untuk diolah. Kesan-kesan yang telah disaring itu kemudian baru masuk ke dalam tempat simpanan jangka panjang.

Proses penyaringan ini kemudian di satu sisi mengakibatkan orang menjadi lupa atau gagal mengingat kembali informasi yang masuk ke dalam IJPe tadi karena mungkin sudah tereliminasi oleh ingatan yang lain.

 

6)      Gangguan Fisiologis

Penyebab lupa selanjutnya adalah karena adanya gangguan fisiologis pada sesorang. Salah satu gangguan fisiologis yang mungkin terjadi adalah amnesia. Amnesia adalah gangguan pada otak yang menyebabkan orang lupa masa lalunya. Ada dua penyebab dasar amnesia: (a) organik, di mana terjadi kerusakan pada fungsi-fungsi otak; dan (b) penyebab psikologis.Jenis-jenis amnesia yang umum terjadi adalah:

(a)    Amnesia Traumatik, biasanya bersifat sementara dan terjadi setelah cedera kepala. Durasi dan intensitas amnesia ini terkait dengan jenis cedera yang diterima, tapi memori sering kembali setelah orang yang bersangkutan sembuh.

(b)   Amnesia Disosiatif, umumnya terjadi pada orang yang mengalami peristiwa traumatik seperti pemerkosaan. Pada amnesia ini orang yang bersangkutan akan memblokir kejadian trauma yang dialaminya dari ingatan.

(c)    Amnesia Global, jenis amnesia yang paling total, sering disertai gangguan stres pasca-trauma. Biasanya walaupun pasien sembuh, ingatannya tidak sepenuhnya kembali, pasien kadang-kadang dapat mengalami kilatan ingatan yang spontan, sering dari peristiwa traumatis itu sendiri. Amnesia global yang paling sering terlihat pada orang tua.

(d)   Amnesia Ringan, ini terjadi ketika seseorang mengingat suatu informasi tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana atau kapan ia memperoleh itu.

(e)    Amnesia Anterograde, adalah suatu kondisi di mana seorang individu yang tidak mampu membentuk ingatan baru. Pada orang yang mengalami amnesia ini, ingatannya mengenai pengalamannya yang lama masih ada dan ingatan jangka panjangnya masih berfungsi, tetapi ia tidak dapat memasukkan informasi baru ke dalam IJPa-nya. Amnesia anterograde hampir selalu merupakan akibat langsung dari beberapa bentuk cedera otak cedera atau trauma, namun penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami.

(f)    Amnesia Retrograde, adalah hilangnya ingatan yang bersifat sementara atau permanen pada ingatan yang terjadi sebelum ia mengalami amneisa. Penyebab amensia ini biasanya karena cedera otak. Dalam bentuk yang parah, amnesia jenis ini mengakibatkan sesorang tidak mengenali orang-orang tercinta atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Pada beberapa kasus, pasien amnesia retrogade hanya mengalami amnesia ringan dan hanya tidak ingat kejadian beberapa jam sebelum ia mengalami amnesia.

(g)   Beberapa gangguan fisiologis, seperti dampak alkohol, malanutrisi, dan penyakit Alzheimer’s juga dapat menyebabkan hilangnya memori (http://jalurilmu.blogspot.com).

Diagram berikut lebih menjelaskan uraian tentang lupa

 

 

 

 

 

Jika stimuli/informasi masuk ke ingatan sensorial, tanpa mendapat perhatian khusus, akan terjadi hilangnya informasi tadi atau dalam kehidupan sehari-hari disebut lupa. Sama halnya jika informasi yang sudah masuk ke IJPe tidak diulang-ulang (yang dimaksud dengan diulang, tidak harus benar-benar melakukan hafalan), maka informasi akan hilang. Pengulangan bisa saja terjadi tanpa disengaja, misalnya suatu informasi sering digunakan kembali. Awalnya pasti informasi itu masih hilang timbul, tetapi karena sering dipanggil kembali, dia akan menancap secara lebih kuat di IJPe (Su’udi, 2011: 70).

 

  1. f.       Penelitian-Penelitian Tentang Ingatan

1)      Penelitian Tentang Akurasi Ingatan

Untuk membuktikan akurasi ingatan manusia ini, E. F. Loftus (1975) mengadakan penelitian pada 105 mahasiswa. Pada mahasiswa-mahasiswa ini diperlihatkan sebuah film yang menampilkan sebuah mobil putih yang terlibat kecelakaan. Setelah itu mereka menjawab sepuluh pertanyaan yang berhubungan dengan film tersebut. Sembilan pertanyaan sama untuk semua partisipan dan satu pertanyaan berbeda. Setengah partisipan mendapat pertanyaan, “Seberapa cepat mobil itu melewati gudang?”, bukan “Seberapa cepat mobil itu melintasi jalanan desa?” Tidak ada gudang dalam film itu. Satu pertanyaan yang mengatakan gudang adalah pertanyaan untuk menyesatkan partisipan. Seminggu kemudian partisipan diminta kembali dan diberikan sepuluh pertanyaan tambahan tentang film tersebut. Kali ini peneliti memberikan satu pertanyaan, “Apakah anda melihat sebuah gudang?” kepada semua partisipan.

Hasilnya, partisipan yang sebelumnya mendapat pertanyaan yang mengandung kata gudang menjawab bahwa mereka memang melihat gudang itu sebanyak 17%, sedangkan yang tidak mendapat pertanyaan yang mengandung kata gudang menjawab memang melihat gudang itu sebanyak 3%. Hal ini menunjukkan bahwa memasukkan sesuatu yang sebenarnya tidak dilihat dalam pertanyaan, bisa membuatnya teringat sebagai bagian dari penglihatannya itu kelak di kemudian hari. Artinya, ingatan seseorang bisa dimanipulasi sedemikian rupa hingga ia merasa hal tersebut benar-benar dilihatnya dalam ingatannya. Penelitian ini juga membuktikan bahwa saksi bisa disesatkan dengan sengaja lewat pertanyaan yang diajukan.

Ketepatan atau akurasi ingatan ini juga diteliti pada anak-anak. Ada dua hal yang bisa diteliti perihal ingatan anak-anak; memeriksa keakuratan ingatan orang dewasa tentang masa kecilnya, dan memeriksa keakuratan cerita anak-anak tentang apa yang dialaminya.

Peneliti selain Loftus, Ceci dan Bruck (1993) pernah mengadakan penelitian masalah akurasi ingatan anak-anak ini. Mereka menemukan, umumnya anak mampu mengingat peristiwa dengan sangat akurat jika ditanya dengan cara yang tepat. Namun, mereka juga menyimpulkan bahwa anak sangat mudah dipengaruhi (suggestible). Artinya, seperti orang-orang dewasa dalam studi Loftus, anak-anak bisa dipengaruhi lewat pertanyaan-pertanyaan agar mengingat hal-hal yang sebenarnya tidak mereka alami.

Penelitian mereka dilakukan dengan menyuruh sejumlah orang dewasa berulangkali bercerita kepada murid-murid Taman Kanak-Kanak tentang laki-laki bernama Sam Stone yang sangat kikuk dan sering merusak barang-barang. Lalu, seseorang yang memang bernama Sam itu berkunjung ke TK itu. Dia tidak merusak apa-apa. Sepuluh minggu kemudian anak-anak TK tersebut ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus seperti “saya ingin tahu apakah Sam memakai celana panjang atau celana pendek ketika dia merobek-robek buku itu?”.

Hasilnya, 70% anak ingat bahwa Sam memang telah merobek buku itu dan 45% bahkan melaporkan telah melihat Sam melakukan hal tersebut. Jadi, walaupun sebenarnya ingatan anak-anak sangat baik, tapi ingatan mereka mudah sekali direkayasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyesatkan (http://jalurilmu.blogspot.com).

 

2)      Penelitian Tentang Penguatan Ingatan

Penelitian yang berkaitan dengan penguatan ingatan dilakukan oleh Dr. Ruth Propper. Dalam penelitian tersebut, partisipan diberi bola karet dan diminta untuk meremasnya sekuat mungkin sebelum mengingat sebanyak 72 kata. Mereka meremas bola lagi dua menit kemudian ketika akan mengumpulkan sebanyak mungkin kata yang bisa diingat.

Satu kelompok menggunakan tangan kanannya pada dua tahap, sementara yang lain menggunakan tangan kiri. Kelompok ketiga mengepalkan tangan kanan sesaat sebelum mengingat kata-kata tersebut dan mengepalkan tangan kiri mereka untuk menyebutkannya. Sementara itu, kelompok keempat melakukan kebalikannya. Kelompok kelima memegang bola tetapi tidak meremasnya.

Hasil menunjukkan mereka yang meremas dengan tangan kanan dan diikuti tangan kiri dapat mengingat sebagian besar kata-kata tersebut. Hasil terbaik kedua, yakni mereka yang mengepalkan tangan kanan pada saat bersamaan, sementara mereka yang tidak meremas sama sekali lebih baik daripada mereka yang mendahulukan dengan tangan kiri.

Gerakan mengepalkan tangan kanan mengaktifkan daerah otak yang bekerja untuk menyimpan ingatan, sementara meremas tangan kiri memicu area otak sebagai kunci mendapatkan kembali informasi. Hasil ini menunjukkan gerakan tubuh sederhana, yakni dengan mengubah sementara jalannya fungsi otak, dapat memperkuat ingatan seseorang.

Dr. Propper menyarankan untuk melakukan cara tersebut, terutama bagi mereka yang kesulitan menggunakan pena dan kertas ketika berusaha mengingat daftar belanja ataupun nomor telepon. Meskipun demikian, Propper menyarankan perlu ada penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah tipe memori lainnya bisa ditingkatkan dan apakah jika sesorang yang kidal bisa menggunakan cara tersebut (www.republika.co.id).

 

 

 

  1. 2.      Hafalan

Dardjowidjojo (2008: 281), mengutip pendapat Clark dan Clark (1977: 142) memaparkan hal yang berkaitan dengan ingatan dan hafalan sebagai berikut.

Hafalan adalah juga memori tetapi prosesnya berbeda. Memori bisa terbentuk tanpa kita mengadakan suatu usaha khusus untuk memperolehnya. Kalau seseorang menceritakan kejadian yang terjadi padanya tadi pagi, kejadian itu akan dapat masuk ke dalam memori kita hanya dari mendengarkan cerita itu. Sebaliknya, hafalan hanya akan dapat menjadi memori dengan suatu usaha atau tindakan yang khusus. Seorang aktor harus mempelajari berulang-ulang (menghafalkan) naskah yang akan diucapkannya. Dia menyimpan hafalan itu dalam memorinya.

Sesuatu akan dapat dengan mudah dihafalkan jika bahan itu bermakna. Suatu kalimat yang isinya tidak karuan tidak akan mudah dihafal. Kalimat (1) akan lebih mudah dihafal daripada kalimat (2) karena kalimat (1) lebih masuk akal.

(1)   Kecelakaan itu menewaskan pengendara motor di jalan raya.

(2)   Sumber Kencono sering memakan korban di jalan raya karena masalah kelaikannya.

Suatu bahan juga tidak akan mudah dihafal kalau bahan tersebut tidak gramatikal. Orang akan lebih mudah mengingat kalimat (3) daripada kalimat (4) meskipun jumlah kata-katanya sama.

(1)   Jokowi membagikan KJS kepada warga DKI Jakarta.

(2)   Warga Jokowi membagikan DKI Jakarta kepada KJS.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afiatin, Tina. 2001. ”Belajar Pengalaman untuk Meningkatkan Memori”. Anima,

Psychological Indonesian Journal. Vol. 17. No. 1. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya.

 

Dardjowidjojo, Soenjono. 2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa

            Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

DePorter, Bobbi, dan Mike Hernacki. 2005. Quantum Learning. Penerjemah

            Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.

 

Roediger III, Henry L., Yadin Dudai, dan Susan M. Fitzpatrick. 2007. Science of Memory: Concepts. New York: Oxford University Press.

 

Su’udi, Astini. 2011. Pengantar Psikolinguistik bagi Pembelajar Bahasa

            Perancis. Semarang: Widya Karya.

 

http://jalurilmu.blogspot.com/2011/11/seluk-beluk-ingatan-manusia.html, diunduh

            22 Mei 2013.

 

http://jalurilmu.blogspot.com/2011/11/jenis-jenis-ingatan-memori.html, diunduh

            22 Mei 2013.

 

http://jalurilmu.blogspot.com/2011/11/proses-terjadinya-lupa.html, diunduh 22

            Mei 2013.

 

http://jalurilmu.blogspot.com/2011/11/seberapa-akurat-ingatan-memori-

            manusia.html,  diunduh 22 Mei 2013.

 

www.republika.co.id, diunduh 22 Mei 2013.

Iklan