Skala kesantunan berarti rentangan tingkatan untuk menentukan kesantunan suatu tuturan. Semakin tinggi tingkatan di dalam skala kesantunan, semakin santunlah suatu tuturan. Sebaliknya, kurang santunlah suatu tuturan yang berada pada tingkatan skala kesantunan yang rendah  (Rustono, 1999:78).

Menurut Leech (1983), terdapat tiga macam skala yang dapat digunakan untuk mengukur kesantunan suatu tuturan. Ketiga skala kesantunan itu adalah skala biaya-keuntungan, skala keopsionalan, dan skala ketidaklangsungan. Skala-skala kesantunan itu berkaitan dengan bidal ketimbangrasaan (Rustono, 1999:78).1.   Skala Biaya-Keuntungan (Cost-benefit scale)

Skala biaya-keuntungan atau skala untung-rugi berupa rentangan tingkatan untuk menghitung biaya dan keuntunan di dalam melakukan suatu tindakan berkenaan dengan penutur dan mitra tuturnya. Makna skala biaya-keuntungan itu adalah semakin memberikan beban biaya (sosial) kepada mitra tutur semakin kurang santunlah tuturan itu. Sebaliknya, semakin memberikan keuntungan kepada mitra tutur, semakin santunlah tuturan itu. Tuturan yang memberikan keuntungan kepada penutur merupakan tuturan yang kurang santun. Sementara itu, tuturan yang membebani biaya (sosial) yang besar kepada penutur merupakan tuturan yang santun.

Contoh:

(1)   Ambilkan tas saya!

(2)   Buka tas itu!

(3)   Jangan tergesa-gesa!

(4)   Rebahkanlah tubuhmu di sofa!

(5)   Nikmatilah hidangan ini!

Berdasarkan contoh tuturan di dalam skala biaya-keuntungan itu dapatlah dinyatakan bahwa tuturan (1) merupakan tuturan yang paling kurang santun karena membebani mitra tuturnya dan memberikan keuntungan kepada penutur. Beban biaya yang yang harus dikeluarkan oleh mitra tutur adalah tenaga dan biaya sosial yang berupa turunnya harga diri mitra tutur. Sebaliknya, tuturan (5) adalah tuturan yang paling santun karena memberikan keuntungan yang lebih kepada mitra tutur dan juga tidak membebani.

 2.  Skala Keopsionalan (optionally scale)

Skala keopsionalan adalah rentangan pilihan untuk menghitung jumlah pilihan tindakan bagi mitra tutur. Makna skala keopsionalan itu adalah semakin memberikan banyak pilihan kepada mitra tutur semakin santunlah tuturan itu. Sebaliknya, semakin tidak memberikan pilihan tindakan kepada mitra tutur, semakin kurang santunlah tuturan itu.

Contoh:

(1)   Belikan pulsa!

(2)   Kalau ada waktu, belikan pulsa!

(3)   Kalau ada waktu dan tidak merepotkan, belikan pulsa!

(4)   Kalau ada waktu dan tidak merepotkan, belikan pulsa, itu kalau kamu tidak berkeberatan!

Dari contoh tuturan di dalam skala keopsionalan itu tampak bahwa tuturan (1) merupakan tuturan yang paling kurang santun karena tuturan itu tidak memberikan pilihan tindakan kepada mitra tuturnya. Tuturan (3) lebih santun jika dibandingkan dengan tuturan (2) karena lebih banyak memberikan pilihan tindakan kepada mitra tuturnya. Tuturan (4) paling santun di antara tuturan-tuturan itu karena memberikan pilihan tindakan yang paling banyak kepada mitra tuturnya.

3.  Skala Ketaklangsungan (indirectness scale)

Skala ketaklangsungan menyangkut ketaklangsungan tuturan. Skala ini berupa rentangan ketaklangsungan tuturan sebagai indikator kesantunannya. Makna skala ketaklangsungan itu adalah semakin taklangsung, semakin santunlah tuturan itu. Sebaliknya, semakin langsung, semakin kurang santunlah tuturan itu.

Contoh:

(1)   Kembalikan bukunya!

(2)   Saya ingin anda mengembalikan bukunya.

(3)   Maukah anda mengembalikan bukynya?

(4)   Anda dapat mengembalikan bukunya?

(5)   Keberatankah anda mengembalikan bukunya?

Atas dasar rentangan skala ketaklangsungan, tuturan itu dapat dinyatakan bahwa tuturan (1) merupakan tuturan yang paling kurang santun karena tuturan itu merupakan tuturan langsung. Jarak tempuh daya ilokusioner menuju tujuan ilokusioner paling pendek. Tuturan (3) lebih santun dibandingkan dengan tuturan (2). Sebabnya adalah jarak tempuh daya ilokusioner menuju tujuan ilokusioner lebih panjang daripada jarak yang dikandung tuturan (2). Tuturan (5) merupakan tuturan yang paling antun di antara tuturan-tuturan itu. Hal itu terjadi karena tuturan itu lebih taklangsung dibandingkan dengan tuturan lainnya. Jarak tempuh daya ilokusioner menuju tujuan ilokusioner juga paling panjang.

REFERENSI

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Terjemahan M. D. D. Oka.

            Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Rahardi, R. Kinjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta:

            Erlangga.

Rustono. 1999. Pokok-Pokok Pragmatik. Semarang: IKIP Semarang Press.