1.      Pengantar

Menurut Junus (1989: xvii) stilistika lebih dapat dipahami sebagai linguistik yang digunakan untuk mengkaji pemakaian bahasa dalam karya sastra karena adanya ‘keistimewaan’ di dalamnya. Kata kunci dari pernyataan Junus tersebut adalah keistimewaan dalam konteks pemakaian bahasa, khususnya dalam bidang sastra. Keistimewaan bahasa dalam sastra terjadi karena adanya konsep licentia poetarum (kebebasan penyair atau pengarang dalam menggunakan bahasa) atau karena pengarang mempunyai maksud tertentu (Supriyanto, 2011: 2-3).

Turner dalam Pradopo (2007: 94), mengemukakan bahwa stilistika adalah bagian linguistik yang memusatkan perhatian pada variasi dalam penggunaan bahasa. Pradopo (2007:93) memperluas jangkauan variasi penggunaan bahasa tidak hanya pada bidang kesusasteraan tetapi juga penggunaan bahasa pada umumnya. Namun demikian, sebenarnya terdapat perbedaan antara bahasa sastra dengan bahasa sehari-hari. Wellek dalam Supriyanto (2011: 3) mengemukakan bahwa pemakaian bahasa sehari-hari lebih beragam sedangkan bahasa sastra merupakan hasil penggalian dan peresapan secara sistematis dari seluruh kemungkinan yang dikandung oleh bahasa itu.

Kajian stilistika sebenarnya lebih mengkaji penggunaan bahasa dalam karya sastra karena memiliki kekhasan di bandingkan dengan bahasa sehari-hari. Kekhasan tersebut salah satunya berupa gaya penulisan. Seorang pengarang menggunakan bahasa sebagai sarana untuk menuangkan ide atau gagasannya dengan gaya atau ekspresi yang khas. Supriyanto (2011: 4) mengemukakan bahwa deskripsi bahasa dalam teks dapat diketahui dari ciri penggunaan bahasanya, yang lazim disebut gaya bahasa.

Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu. Hartoko dan Rahmanto (1986: 137) mengatakan bahwa gaya bahasa itu cara yang khas dipakai seseorang untuk mengungkapkan diri (gaya pribadi). Gaya bahasa itu cara ekspresi kebahasaan dalam prosa dan puisi. Tujuannya adalah untuk memunculkan efek tertentu, yaitu efek estetis. Di dalam puisi yang ingin dimunculkan tentu saja efek kepuitisannya.

Jenis-jenis gaya bahasa itu berkaitan dengan unsur-unsur bahasa atau aspek-aspek bahasa, yaitu: (a) intonasi, (b) bunyi, (c) kata, dan (d) kalimat. Akan tetapi, karena intonasi itu hanya ada dalam bahasa lisan, maka sulit diteliti.

Pradopo (1999: 95), memerinci jenis-jenis gaya bahasa tersebut sebagai berikut. Gaya bunyi, yang meliputi kiasan bunyi, sajak (rima), onomatepo, orkestrasi, dan irama. Gaya kata meliputi, yang meliputi (a) bentuk kata (morfologi), (b) arti kata (semantik): diksi, bahasa kiasan, gaya citraan, dan (c) asal-usul kata (etimologi). Gaya kalimat, yang meliputi gaya bentuk kalimat dan sarana retorika. Di samping itu, dapat disebut gaya wacana yang merupakan ekspresi khusus.

2.      Stilistika Puisi “Salju” Karya Wing Karjo

Wing Karjo adalah seorang penyair kelahiran Garut tanggal 23 April 1937. Ia termasuk penyair angkatan 1950-an. Penyair yang pernah belajar di Jakrta dan Paris (1963-1967) ini meninggal di Jepang pada tanggal 19 Maret 2002. Ia sempat mengajar di IKJ, Fakultas Sastra Unpad, dan di sebuah universitas di Jepang. Kumpulan puisinya berjudul Selembar Daun (1974), Sajak-sajak Modern Prancis dalam Dua Bahasa (1972), Perumahan (1975), dan Pangeran Cilik yang merupakan karya terjemahan (Waluyo, 2002: 102)

Berikut adalah puisi karya Wing Karjo yang berjudul “Salju”. Puisi ini bertema renungan hidup tentang belum ditemukannya tujuan dan jalan hidup yang pasti.

              Salju

Ke manakah pergi

            mencari matahari

                        ketika salju turun

                                    pepohonan kehilangan daun

 

Ke manakah jalan

            mencari lindungan

                        ketika tubuh kuyup

                                    dan pintu tertutup

Ke manakah lagi

            mencari api

                        ketika bara hati

                                    padam tak berarti

 

Ke manakah pergi

            selain mencuci diri

a.      Gaya Bunyi

Puisi “Salju” ditulis dengan memperhatikan gaya bunyi yang ketat. Tampak sekali pengaturan gaya bunyi yang tertata dengan apik sehingga memunculkan orkestrasi yang indah dan kuat untuk mendukung penciptaan suasana yang dikehendaki.

Bait pertama, Ke manakah pergi / mencari matahari / ketika salju turun / pepohonan kehilangan daun, didominasi bunyi-bunyi a, i, u yang merupakan bunyi-bunyi efoni, dan bunyi sengau un.

Bait kedua, Ke manakah jalan / mencari lindungan / ketika tubuh kuyup / dan pintu tertutup, didominasi bunyi a, i, u. Selain bunyi efoni tersebut, juga bunyi t, p, yang merupakan bunyi kakofoni juga muncul dalam bait kedua ini. Bunyi kakofoni t dan p sangat kuat memunculkan suasana yang buntu bagi si aku dalam menemukan lindungan, juga suasana hidup yang terasa sangat berat.

Bait ketiga, Ke manakah lagi / mencari api / ketika bara hati / padam tak berarti, kembali bunyi-bunyi efoni a dan i mendominasi. Bunyi-bunyi ini selain memunculkan suasana ringan juga memberi makna keinginan si aku untuk menemukan kembali semangat hidupnya.

Bait keempat, Ke manakah pergi / selain mencuci diri, yang didominasi bunyi a dan i, memunculkan suasana kepasrahan dan keteguhan hati untuk menyucikan diri, kembali ke jalan Illahi Robbi.

Bunyi-bunyi yang ada di dalam puisi “Salju” selain menimbulkan orkestrasi yang indah juga bermakna untuk memunculkan atau membangun suasana yang dekehendaki penyair. Suasana itu memperkuat makna puisi.

Selain pengaturan bunyi efoni dan kakofoni, tampak jelas penataan rima dalam puisi “Salju”. Bait pertama berima akhir, a, a, b, b. Bait kedua, berima akhir a, a, b, b. Bait ketiga berima akhir, a, a, a, a. Bait terakhir berima, a, a. Bait pertama sampai dengan ketiga, mirip dengan metrum pantun. Namun, bait terakhir tidak menampakkan metrum pantun.

Hal lain yang berkitan dengan gaya bunyi dalam puisi “Salju” adalah pola tipografinya. Tampak sekali, tipografi puisi disusun seperti tangga, bertrap-trap. Trap-trap itu dapat dimaknai sebagai tangga dalam kehidupan, yang bisa digunakan untuk meluncur ke bawah atau naik menuju puncak. Itulah hakikat hidup, berupa pilihan untuk menuju arah yang benar atau justru memilih arah yang salah.

Melalui pengaturan rima itu, irama pun menjadi terbangun dengan indah. Ritme pun tercipta indah pula. Inilah kekuatan pengaturan bunyi pada puisi “Salju”.

b.      Gaya Kata

Analisis stilistika berdasarkan gaya kata dapat dilihat dari bentuk kata, asal-usul kata, diksi, makna kata, dan majas. Dilihat dari bentuk kata yang digunakan dalam puisi “Salju”, diketahui bahwa kata-kata dasar sangat mendominasi dalam puisi ini. Pergi,  matahari, salju, turun, ketika, daun, jalan, tubuh, kuyup, pintu, lagi, api, bara, hati, pergi, diri, adalah kata-kata yang digunakan dalam puisi ini. Penggunaan kata-kata tak berimbuhan ini menimbulkan makna kelugasan dan kemurnian.

Dilihat asal-usul kata yang digunakan, puisi “Salju’ banyak menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan alam dan diri manusia. Salju, pintu, daun, matahari, bara, hati, api, pepohonan, adalah kata-kata yang berkaitan dengan alam dan organ manusia. Tidak terdapat kata-kata yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing. Kata-kata tersebut juga sangat akrab dengan pembaca sehingga tidak terlalu sulit mencari acuannya.

Penggunaan kata-kata yang sangat dekat dengan lingkungan pembaca itu sekaligus memberi pemahaman bahwa penyair sengaja memilih kata-kata tersebut untuk menunjukkan bahwa apa yang diungkapkan dalam puisi “Salju” bukanlah hal yang asing dan di luar diri pembaca. Kegelisahan diri ketika kehilangan semangat, pegangan hidup, dan tekanan hidup yang amat berat adalah hal-hal yang biasa dan bisa dialami oleh siapa pun.

Kata-kata bermakna kias dalam puisi “Salju” antara lain: salju,  matahari, jalan, daun, kuyup, tertutup, bara hati, padam. Kata-kata tersebut bermakna kias, seperti: matahari melambangkan semangat, salju melambangkan kebekuan hati, jalan melambangkan petunjuk, dan lain-lain.

c.       Gaya Kalimat

Gaya kalimat yang menonjol dalam puisi “Salju” adalah penggunaan bentuk kalimat retoris, kalimat tanya yang tak memerlukan jawaban langsung. Tiap bait selalu diawali dengan kata tanya “Ke manakah”. Gaya kalimat retoris yang dominan dalam puisi ini dimaksudkan oleh penyair untuk ‘meneror’ pembaca untuk merefleksi diri. Teror itu semakin memuncak hingga di bait akhir. Puncak dari teror itu ialah kepasrahan diri dan kembali ke jalan Tuhan.

Selain penggunaan kalimat retoris, penggunaan pola kesejajaran tiap bait dengan selalu diawali kata “Ke manakah” merupakan gaya kalimat lainnya. Pola kesejajaran ini memberi kesan kekonsistenan pikiran dan gagasan penyair. Penyejajaran ini juga memunculkan keindahan.

 

3.      Simpulan

Puisi “Salju” karya Wing Karjo memiliki gaya yang khas. Gaya itu adalah gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat. Di antara ketiga gaya tersebut, gaya bunyi sangat kuat dalam puisi ini. Selain gaya bunyi, gaya kalimat juga menjadi kekuatan lainnya dari puisi ini.

Gaya bunyi dan gaya kalimat dalam puisi ini bersinergi memunculkan suasana perenungan hidup dalam mencari ketenangan hidup. Bahwa pada akhirnya, kepasrahan dan kembali ke jalan Tuhan adalah pilihan utama untuk menuju ketenangan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. “Penelitian Stilistika Genetik: Kasus Gaya

Bahasa WS Rendra dalam Balada Orang-Orang Tercinta dan Blues untuk Bonnie”. Humaniora No. 12. Yogyakarya: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada

            University Press.

Sayuti, Suminto A. 2008. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.

Supriyanto, Teguh. 2011. Kajian Stilistika dalam Prosa. Yogyakarta: Elmatera

            Publishing.

Junus, Umar. 1989. Stilistika Satu Pengantar. Selangor: Percetakan Dewan

            Bahasa dan Pustaka.

Hartoko, Dick dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yograkarta:

            Kanisius.

Waluyo, Herman J. 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.