1.  Michael Riffaterre (Kompetensi Sastra)

Michael Riffaterre mengembangkan teorinya dalam Semiotics of Peotry (1978). Sepaham dengan kamu Formalis Rusia dalam memandang puisi sebagai sebuah penggunaan bahasa yang khusus. Bahasa umum itu praktis dan dipergunakan untuk menunjuk sesuatu jenis “kenyataan”, sedangkan bahasa puitik berpusat pada pesan sebagai suatu tujuan dirinya sendiri.

Riffaterre berpendapat bahwa pembaca yang berkompeten melampaui arti permukaan. Jika kita memandang sajak sebagai seutas tali, pernyataan kita membatasi perhatian kita kepada “arti”-nya, yang sesungguhnya apa yang dikatakan itu untuk menggambarkan satuan-satuan informasi. Jika kita hanya memperhatikan arti sebuah puisi, kita mereduksinya menjadi seutas tali rangkaian yang tak berhubungan (mungkin tanpa arti).

Unsur-unsur (tanda) dalam sebuah puisi kelihatan menyimpang dari tata bahasa normal atau penggambaran normal. Puisi tampak menetapkan maknanya hanya secara tidak langsung dan dalam berbuat begitu “mengancam gambaran realitas kesusasteraan”.

Untuk memahami “arti” puisi hanyalah dibutuhkan kompetensi linguistik biasa. Namun untuk menghadapi “ketidakgramatikalan” yang sering dijumpai dalam pembacaan sebuah sajak, diperlukan “kompetensi sastra”. Pembaca dipaksa untuk mengungkap suatu makna tingkat kedua (yang lebih tinggi) yang akan menerangkan ciri-ciri ketidakgramatikalan teks itu.

Apa yang terutama akan diungkap adalah suatu matriks struktural, yang dapat direduksi ke dalam sebuah kalimat tunggal atau bahkan kata. Matriks itu hanya dapat disimpulkan secara tidak langsung dan tidak secara nyata hadir sebagai sebuah kata atau pernyataan dalam sajak itu.

Sajak dihubungkan dengan matriksnya dalam bentuk pernyataan biasa, klise, kutipan, atau asosiasi konvensional. Versi ini disebut “hipogram”. Matriks itulah yang akhirnya memberi kesatuan sebuah sajak.

Proses pembacaan sajak Riffaterre dapat diringkaskan berikut.

  • Mencoba membaca untuk “arti” biasa.
  • Menyoroti unsur-unsur yang tampak tidak gramatikal dan yang merintangi penafsiran mimetik yang biasa.
  • Menemukan “hipogram” (atau kebiasaan) yang mendapat ekspresi yang diperluas atau yang tidak biasa dalam teks.
  • Menurunkan “matriks” dari “hipogram”, yaitu menemukan sebuah pernyataan tunggal atau sebuah kata yang dapat menghasilkan “hipogram” dan teks itu.

2.  Jonathan Culler (Konvensi Pembacaan)

Jonathan Culler menyatakan bahwa suatu teori pembacaan harus mengungkap operasi penafsiran yang dipergunakan pembaca. Berbeda pembaca menghasilkan penafsiran yang berbeda. Bermacam-macam penafsiran itulah yang harus diterangkan oleh teori. Sekalipun pembaca mungkin berbeda tentang pemahaman arti, tetapi mungkin sekali mereka mengikuti perangkat konvensi penafsiran yang sama.

Contohnya adalah dasar asumsi Kritik Sastra Baru, yaitu tentang kesatuan, pembaca yang bermacam-macam mungkin menemukan kesatuan dengan cara yang berbeda dalam sebuah teks tertentu tetapi bentuk dasar arti yang mereka cari (bentuk kesatuan) mungkin sama.

Sekalipun mereka mungkin tidak merasa dipaksa untuk menerima kesatuan pengalaman kita dalam dunia yang nyata, dalam hal sajak kita sering  berharap menemukannya.

Bermacam-macam penafsiran timbul karena ada beberapa model kesatuan yang mungkin dibawa seseorang, dan dalam sebuah model yang khusus ada beberapa penerapannya, misalnya model kesatuan tematik. Tingkat pembacaan yang berbeda mungkin sekali menerima konvensi penafsiran yang sama.

Culler dalam Structuralist Poetics  mengemukakan bahwa teori tentang struktur teks atau genre tidak mungkin karena tidak ada bentuk “kompetensi” yang mendasari yang menghasilkannya. Kita hanya dapat berbicara tentang kompetensi para pembaca memberikan arti tentang apa yang mereka baca. Para penyair dan novelis menulis atas dasar kompetensi ini: mereka menulis apa yang dapat dibaca. Agar dapat membaca teks sebagai kesusateraan kita harus memiliki suatu “kompetensi sastra”.

Culler mengakui bahwa konvensi yang dapat diterapkan pada satu genre tidak dapat diterapkan kepada yang lain. Konvensi penafsiran akan berbeda dari satu periode ke periode yang lain. Sebagai strukturalis, Culler yakin bahwa teori berurusan dengan sistem arti yang statis, sinkronis, dan bukan dengan teori yang historis diakronis.

3.  Norman Holland dan David Bleich (Pembaca Psikologi)

Norman Holland, sepaham dengan teori yang berpandangan bahwa setiap anak menerima kesan “identitas pertama” dari ibunya. Orang dewasa mempunyai sebuah “identitas tema” yang seperti tema musik, dapat bervariasi tetapi tetap merupakan suatu struktur pusat dari identitas stabil. Ketika kita membaca suatu teks, kita memprosesnya sesuai dengan tema identitas kita.

Kita mempergunakan karya sastra untuk melambangkan dan akhirnya meniru kita sendiri. Kita menyusun kembali karya itu untuk menemukan ciri strategi diri kita untuk menguasai ketakutan yang dalam dan keinginan yang membentuk kehidupan psikis kita. Mekanisme pertahanan yang terbentuk dalam diri pembaca harus didamaikan untuk memberi jalan masuk kepada teks itu.

David Bleich dalam bukunya, “Kritik Sastra Subyektif” (1978), setuju dengan pergeseran paradigma, dari paradigma obyektif ke paradigma subyektif dalam teori kritik. Ia menyatakan bahwa para filosof ilmu pengetahuan modern (terutama T.S. Kuhn) secara benar telah menolak keberadaan dunia fakta yang obyektif: “Pengetahuan dibuat oleh orang dan tidak ditemukan”, karena “obyek pengamatan tampak berubah oleh laku pengamatan”.

Ia menegaskan bahwa kemajuan “pengetahuan” ditentukan oleh keperluan komunitas. Ketika kita berkata bahwa “ilmu pengetahuan” telah mengganti “ketakhayulan”, maka yang kita gambarkan bukan perjalanan dari gelap ke terang melainkan penukaran paradigma karena keperluan masyarakat  yang mendesak, konflik dengan kepercayaan lama dan tuntutan kepercayaan baru.

Menurut Bleich, penguasaan bahasa anak-anak memungkinkan untuk menetapkan kontrol pengalaman yang subyektif. Kita dapat memahami kata-kata lain hanya sebagai “laku bermotivasi” –sebagai cara menetapkan pencapaian benda yang mempunyai kepentingan bagi pembicara.  Tiap ucapan menunjukkan sebuah maksud dan tiap laku penafsiran sebuah ucapan adalah suatu pemberian arti.

Kita akan dapat lebih mengerti seni jika kita bertanya –”Motif apakah yang mereka pakai untuk menciptakan kisah pengalaman yang simbolik?, Apakah kesempatan-kesempatan individual dan komunal bagi jawaban dan kreativitas mereka?” Kritik sastra subyektif didasarkan pada perkiraan bahwa “setiap motivasi yang paling penting bagi manusia adalah memahami dirinya sendiri”.

Dalam eksperimen di kelasnya, Bleich, dibimbing untuk membedakan antara: (1) “jawaban” spontan pembaca terhadap sebuah teks, dan (2) “arti” yang diatributkan pembaca kepadanya. Yang kemudian itu biasanya dihadirkan sebagai suatu penafsiran “obyektif” tetapi perlulah dikembangkan dari respon subyektif pembaca.

REFERENSI

Selden, Raman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Terjemahan Rachmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Iklan