(Prof. Dr. Djoko Saryono, M. Pd.)

Abstrak: Makalah ringkas ini memaparkan fungsi sastra sebagai wahana, wadah, dan wahana pembelajaran moral dan karakter. Meskipun bukan merupakan kitab moral dan karakter, cipta sastra relatif fungsional dan baik sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter.  Sikap hati-hati dan cermat serta proporsional sangat diperlukan pada waktu memfungsikan sastra sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter.  Hal tersebut dimaksudkan agar hakikat cipta sastra sebagai karya seni tidak tereduksi menjadi kitab moral dan karakter di samping agar harapan yang berlebihan tidak ditumpukan kepada sastra sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter. Dengan sikap hati-hati, dan proporsional, maka sastra niscaya dapat menjadi pintu masuk memberikan pengalaman etis dan moral bagi para pelajar. Lebih lanjut, hal ini mengimplikasikan bahwa sastra dapat diharapkan sebagai salah satu wahana penanaman moral dan karakter kepada pelajar. Sayang, hal ini dilupakan atau minimal dipinggirkan dalam Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.

Kata kunci: cipta sastra, media, pembelajaran, etika, dan moral

Unsur penting dalam utile tidak lain adalah moral. Baik dalam sastra Barat maupun sastra Indonesia selepas abad kesembilan belas, ada kecenderungan untuk tidak menonjolkan moral sebab penonjolan moral pada umumnya akan mengurangi nilai estetika karya sastra. Begitu pembaca diberi tahu mengenai moral karya sastra yang dihadapinya, apalagi kalau penonjolan itu bersifat menggurui, unsure dulce atau kenikmatan akan berkurang. [Budi Darma, 2004, Pengantar ke Teori Sastra, Jakarta, Pusat Bahasa, hlm. 20-21].

 

Dengan keberadaan, kedudukan, dan keadaan di dunia modern seperti sekarang, dapatkah atau mungkinkah sastra modern khususnya teks cipta sastra modern digunakan sebagai wahana pembelajaran etika dan moral?; jika dapat atau mungkin, bisa efektifkah penggunaan cipta sastra modern sebagai wahana pembelajaran etika dan moral? Ini pertanyaan penting untuk dicermati. Sebabnya, sekalipun sering mengandung muatan moral dan karakter, bukankah suatu karya sastra, apalagi cipta sastra modern, jelas bukan kitab atau naskah etika dan moral?; bukankah karya sastra [lebih-lebih cipta sastra modern] tidak atau jarang sekali dimaksudkan sebagai kitab rujukan atau panduan etika dan moral? Bahkan sekarang misi dan visi etis dan moral tertentu biasanya sudah tidak menjadi pertimbangan, sumber utama atau obsesi proses kreatif sang sastrawan. Dengan bahasa Horatius, proses kreatif sastra tidak lagi berdasarkan paradigma dulce et utile [kenikmatan estetis dan kegunaan etis-moral]. Hal itu jelas berbeda dengan sastra lama yang memang dihajatkan sebagai sarana pedagogis etis-moral oleh pengarangnya sebagaimana tampak pada Serat Cabolek, Tripama, Wirid Hidayat Jati, dan Wedatama. Sastra lama milik berbagai pemangku budaya lokal, misalnya, memang dicipta atas dasar paradigm dulce et utile. Oleh karena itu, apakah penggunaan atau pemanfaatan sastra modern sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter tidak membebani, malah mungkin memperkosa sastra? Jangan-jangan sastra modern disikapi sebagai kitab moral dan karakter sehingga substansi atau hakikat kesastraannya tenggelam hilang; sehingga dulce-nya tenggelam dan utile-nya dominan.

Lagi pula, bukankah pembelajaran moral dan karakter lebih membutuhkan contoh dan teladan nyata, faktual, dan empiris, bukan sekadar kata-kata, petuah, petitih, dan contoh imajinatif-fiksional seperti dalam sastra modern? Tidakkah terlalu verbalistis, simplistis dan reduktif [menyederhanakan dan menyepelekan] kalau pembelajaran moral dan karakter bermediakan sastra modern? Hal ini penting disadari dan direnungi bersama. Mengapa demikian? Sebabnya, bukankah moral dan karakter pertama-tama mengutamakan dan mengharuskan praksis atau tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari manusia, bukan pengetahuan dan pemahaman semata? Bukankah banyak orang yang menghayati, mengetahui, dan memahami dengan sangat baik ihwal moral dan karakter, tetapi tindakan-tindakannya tidak etis dan bermoral dalam konteks sosial? Di sini kata dan perbuatan tak seiring-sejalan-seirama. Ini semua menunjukkan bahwa tindakan etis dan bermoral dapat tumbuh dan berkembang baik berkat kebiasaan atau praksis berkelanjutan, bukan karena khotbah dan cerita semata yang diketahuinya. Konsekuensinya, penumbuhan dan pengembangan sikap dan tindakan etis dan bermoral membutuhkan pembelajaran yang nyata dan konkret di lapangan dan di dalam banyak bidang, bukan di kelas dan di dalam bidang sastra semata. Karena itu, sekali lagi, efektifkah penggunaan sastra sebagai wahana pembelajaran etika dan moral? Akan tetapi, jika memang tidak efektif dan manjur, bukankah Horatius [Horace] sudah menyatakan bahwa sastra berfungsi dulce et utile [memberi kenikmatan literer-estetis dan kegunaan etis-moral-spiritual] sejak lebih seribu tahun lalu? Dalam masa modern sekarang, bukankah Budi Darma – sastrawan, budayawan, kritikus sastra, dan gurubesar sastra terkemuka kita – juga acap mengatakan bahwa ajaran-ajaran etis-moral tetap berpancaran dan berpijar-pijar dalam sastra modern yang baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dicoba dijawab dalam makalah ringkas ini. Makalah ringkas ini mencoba menguraikan kemungkinan-kemungkinan dan batas sekaligus keterbatasan efektivitas sastra modern sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter.  Dengan kata lain, makalah ringkas ini lebih banyak terfokus pada permasalahan [problematika] penggunaan sastra sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter, bukan pada teknik dan prosedur penggunaan sastra sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter.  Secara berturut-turut dibeberkan dalam makalah ringkas ini (1) kompleksitas keberadaan sastra modern, (2) urgensi pendidikan etika khususnya pembelajaran moral dan karakter, dan (3) kemungkinan dan batas sekaligus keterbatasan penggunaan sastra sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter.  Uraian disajikan secara konseptual-ringkas tanpa banyak ilustrasi dan contoh yang kongkret-operasional.

 

HAKIKAT CIPTA SASTRA

Perlu disadari bersama bahwa sastra – baik sastra modern maupun sastra lama – sangat sukar dirumuskan secara lengkap dan memadai. Setiap rumusan selalu luput atau gagal menangkap semua kompleksitas fenomena sastra sebab fenomena sastra selalu berubah atau berkembang secara berkelanjutan serentang perubahan waktu. Hampir semua rumusan tentang sastra yang telah dibeberkan baik oleh pakar, awam maupun seniman selalu terbatas sebab hanya mampu menangkap sebagian fenomena sastra. Oleh sebab itu, berdebat ihwal definisi atau rumusan tentang sastra merupakan kegiatan kurang produktif, kurang banyak berguna-bermanfaat, bagi keberadaan dan kehidupan sastra. Cukuplah dikatakan di sini bahwa kodrat sastra merupakan ciptaan (works) kreatif [inovatif-inventif] manusia yang terekspresikan ke dalam bahasa khas, yang mengedepankan [malah mungkin menomorsatukan] sifat estetis atau keindahan dengan mengandung karakteristik dan fungsi tertentu. Tanpa bahasa, sebuah ciptaan kreatif akan kehilangan identitas sebagai sastra. Bahasa di sini telah menjadi conditio sine qua non bagi eksistensi sastra, misalnya cerita Ramayana dapat disebut sastra berkat kehadiran bahasa sebab kalau yang hadir gambar akan membuat cerita Ramayana disebut komik. Demikian juga tanpa keindahan sastra, sebuah ciptaan kreatif-inovatif-inventif akan kehilangan identitas sebagai sastra. Entitas keindahan atau estetis sastra di sini juga telah menjadi conditio sine qua non bagi keberadaan sastra, misalnya peristiwa pergolakan politik tahun 1965 yang dirangkai menjadi cerita dapat disebut sastra berkat kehadiran keindahan seni di dalamnya karena kalau yang hadir logika dan objektivitas dengan presisi tinggi akan membuat peristiwa pergolakan politik tahun 1965 disebut ilmu atau kajian ilmiah.

Sampai sekarang sudah ada bermacam-macam karakteristik sastra yang dikemukakan oleh sastrawan, ahli sastra, dan atau ahli kebudayaan. Beberapa di antaranya yang penting adalah bahwa sastra (1) berada dalam dimensi simbolis atau pengetahuan waknawai kebudayaan dengan tetap berhubungan tak terpisahkan dengan dimensi sosial dan material kebudayaan, (2) menekankan stilisasi, simbolisasi, dan metafora serta konotasi [bukan proposisi, denotasi dan linieritas] baik dalam struktur maupun suprastruktur, (3) sangat mengutamakan dan menghargai otentisitas, keunikan, partikularitas, dan intersubjektivitas [bukan keumuman, keteraturan, keempirisan, dan objektivitas ilmiah], (4) menekankan kebebasan, keterbukaan, bahkan kemerdekaan tafsir dan penciptaan [bukan kepastian dan ketertutupan penciptaan dan tafsir], (5) merupakan wujud sekaligus hasil olah intelektual manusia yang sifatnya imajinatif, literer, dan afektif-kognitif [bukan yang rasional-empiris dan positif], (6) diciptakan dengan pandangan, paham, dan sikap tertentu, dan (7) selalu terkait-terikat dengan konteks kehidupan manusia [sebab sastra tak mungkin tercipta dari kekosongan]. Beberapa karakteristik tersebut menjadikan sastra berbeda dengan wujud, bentuk, dan hasil olah intelektual manusia lainnya, misalnya filsafat dan ilmu pengetahuan ilmiah.

Dengan karakteristik tersebut, dalam kehidupan manusia di manapun dan di dalam kebudayaan apapun, karya sastra selalu memiliki kedudukan dan fungsi tertentu, bahkan diberi kedudukan dan fungsi tertentu oleh manusia baik sebagai makhluk personal maupun makhluk sosial. Karya sastra bisa jadi memiliki fungsi spiritual, edukatif, etis-moral, politis, ekonomis, rekreatif, dan sebagainya dalam kehidupan manusia secara personal dan atau sosial. Karya sastra bisa juga diberi fungsi sebagai afirmasi, diagnose, kritik, alternative, bahkan negasi atas sesuatu [misalnya, politik, sosial, etika-moral, psikologi, dan agama] oleh manusia baik sebagai pencipta maupun penikmat sastra. Tampaknya, tidak ada karya sastra yang diciptakan dan eksis tanpa fungsi sama sekali; karya sastra selalu memiliki fungsi tertentu sekalipun mungkin berubah-ubah dalam rentangan waktu berbeda. Apapun fungsi yang diemban oleh karya sastra dan bagaimanapun perubahan fungsi karya sastra, manusia – dalam hal ini sastrawan – terus-menerus mencipta karya sastra dan manusia lain – dalam hal ini masyarakat penikmat sastra – akan terus-menerus menggauli karya sastra. Dengan kata lain, kreativitas sastra dan apresiasi sastra terus-menerus berlangsung dalam kehidupan manusia sejak dulu, sekarang, dan masa akan datang.

Uraian tersebut mengimplikasikan betapa sangat kompleks kedudukan dan eksistensi [keberadaan] karya sastra. Kompleksitas substansi, karakteristik, dan fungsi tersebut jelas menimbulkan keanekaragaman [identifikasi dan kategorisasi atau klasifikasi] karya sastra. Sampai sekarang kategorisasi atau klasifikasi karya sastra sudah sangat banyak sehingga ragam karya sastra juga sudah banyak sekali. Ada sastra lisan, ada sastra tulis. Ada sastra serius, ada sastra populer. Ada sastra lokal atau daerah, ada sastra nasional, dan ada sastra asing. Ada sastra ‘asli’, ada sastra terjemahan. Ada sastra bertendens, ada sastra tidak bertendens. Masing-masing kategorisasi tersebut mengandung sekian banyak paham, bentuk, jenis, dan variasi karya sastra sehingga kenyataannya terdapat banyak sekali wujud dan hasil karya sastra. Hal ini menunjukkan betapa beranekaragam dan majemuknya karya sastra yang telah ada dalam kehidupan manusia.

Berdasarkan uraian tersebut dapatlah diketahui bahwa dalam sepanjang kehidupannya, (1) ada karya sastra yang mengandung muatan-muatan moral dan karakter secara tebal-kental, (2) ada karya sastra yang berfungsi atau diberi fungsi moral dan karakter, (3) ada karya sastra yang berfungsi dan diberi fungsi edukatif, (4) ada karya sastra yang dijadikan sebagai wahana penyimpan dan perawat norma-norma moral dan karakter, dan (5) ada karya sastra yang relatif [cukup] efektif sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter.  Sastra lisan, sastra klasik atau sastra lama, sastra ‘keraton’, dan sastra ‘kanon’ yang ada di Indonesia dan di tempat-tempat lain di luar negeri selalu ada yang memenuhi hal-hal tersebut di atas. Akan tetapi, segera harus disadari bahwa hal sebaliknya juga selalu ada. Harus disadari bersama bahwa di dunia ini juga (1) ada karya sastra yang [sama sekali] tidak mengandung muatan moral dan karakter, tetapi (2) ada karya sastra yang tidak berfungsi dan tidak diberi fungsi moral dan karakter, (3) ada karya sastra yang tidak berfungsi dan diberi fungsi edukatif, (4) ada karya sastra yang tidak dijadikan wahana penyimpan dan perawat norma-norma moral dan karakter, dan (5) ada karya sastra yang tidak efektif untuk wahana dan wahana pembelajaran moral dan karakter.  Mahabharata, Ramayana, Wulang Reh, Wedhatama, La Galigo, Malin Kundang, dan Syair Perahu memang sarat dengan muatan moral dan karakter, kental fungsi etis, moral, dan edukatif, dan terkesan kuat menjadi penyimpan norma moral dan karakter sehingga karya-karya sastra tersebut relatif efektif sebagai wahana atau wahana pembelajaran moral dan karakter.  Akan tetapi, novel Karmila (Marga T), Telegram (Putu Wijaya), dan Jangan Ambil Nyawaku (Titi Said) tentu kurang efektif sebagai wahana atau wahana pembelajaran moral dan karakter sebab tiga karya sastra modern tersebut kurang kuat muatan etika dan moralnya; kurang kuat fungsi etis, moral, dan edukatifnya. Meskipun demikian, memang harus disadari bahwa setiap karya sastra modern yang baik atau bagus tidak pernah hampa dari suara-suara etis dan moral. Setiap karya sastra yang baik senantiasa menyuarakan soal-soal moral dan karakter walaupun tidak secara langsung dan hanya secara naratif, hanya secara literer. Novel Dokter Zhivago (Boris Pasternak), kwatrin Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), dan Seratus Tahun Kebisuan (Gabriel Marcia Marques) – sebagai contoh – menyuarakan pesan etis dan moral yang amat kuat sekalipun merupakan sastra modern. Karya-karya Hemingway, Leo Tolstoy, Yukio Mishima, Yasunari Kawabata, Muhammad Iqbal, dan Gabrial Marques juga menyuarakan pesan-pesan etis dan moral yang tebal-kental.

 

PEMBELAJARAN MORAL DAN KARAKTER MELALUI SASTRA

Tidak ada yang memungkiri bahwa pendidikan moral dan karakter sekarang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Wacana tentang perlunya pendidikan budi pekerti dan pendidikan karakter bangsa bagi anak-anak muda yang berkembang belakangan ini merupakan bukti bahwa sekarang kita membutuhkan, bahkan sangat membutuhkan pendidikan moral dan karakter.  Mengapa demikian? Sebabnya, pendidikan moral dan karakter telah dipandang sebagai resep jitu atau obat mujarab untuk membereskan persoalan atau menyembuhkan penyakit yang melilit bangsa Indonesia. Di samping itu, etika dan moralitas juga dipandang dapat memperkuat dan memajukan kehidupan bangsa yang bersih dan santun. Untuk itu, pendidikan khususnya pembelajaran moral dan karakter ini perlu dilaksanakan baik dalam rumah/keluarga, masyarakat maupun sekolah. Pembelajaran moral dan karakter ini harus mengutamakan contoh-contoh dan teladan-teladan nyata, bukan khotbah dan retorika, agar mencapai sasaran yang diinginkan, yaitu terbentuknya manusia etis dan bermoral tanpa harus menjadi moralis.

Pertanyaan kita: Bagaimanakah pembelajaran moral dan karakter dapat kita laksanakan dengan efektif dan baik serta mencapai sasaran, yaitu terbentuknya manusia etis dan bermoral? Secara khusus, bagaimanakah pembelajaran moral dan karakter dilaksanakan di sekolah? Pengalaman bertahun-tahun menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran moral dan karakter tidak mudah, terbukti sangat sulit. Setidak-tidaknya ada dua sebab utama. Pertama, sebagaimana sudah disinggung di muka, pembelajaran moral dan karakter membutuhkan teladan dan contoh nyata secara ajek karena ia lebih merupakan praksis, bukan teori; perilaku nyata, bukan pengetahuan dan pemahaman semata-mata. Penjelasan-penjelasan teoretis yang informatif sering tidak banyak berguna, bahkan sering menjadi indoktrinasi moral dan karakter semata. Kedua, kurikulum sekolah Indonesia sudah sangat padat-sesak sehingga tidak mungkin lagi memunculkan mata pelajaran pendidikan moral dan karakter secara mandiri. Penciptaan mata pelajaran pendidikan moral dan karakter tentu hanya menambah beban siswa, bahkan juga guru dan kepala sekolah, malah membuat semua warga sekolah stres atau depresi. Oleh karena itu, pembelajaran moral dan karakter tidak mungkin disajikan secara terpisah dan tersendiri meskipun dalam hal tertentu bisa juga, misalnya melalui program Pengembangan Diri. Pembelajaran moral dan karakter hanya mungkin dan paling baik disajikan secara terpadu dengan mata pelajaran lain dan menggunakan strategi yang lebih banyak mendorong siswa membentuk sikap-sikap etis-moral dan tindakan-tindakan etis dan bermoral.

Untuk itu, pendekatan terpadu dapat dipertimbangkan untuk dipakai sebagai pendekatan pembelajaran moral dan karakter di sekolah. Dengan pendekatan terpadu, pembelajaran moral dan karakter dipadukan dan disatukan dengan pelbagai mata pelajaran yang ada. Salah satunya adalah mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, materi-materi moral dan karakter dapat dipadukan dan disisipkan ke dalam materi-materi bahasa dan sastra. Dengan materi bahasa dan sastra siswa bisa diajak melakukan apresiasi, refleksi, dan kontemplasi persoalan-persoalan etis dan moral yang tercermin dalam karya sastra yang menjadi materi-ajar. Misalnya, dengan diminta membaca novel Belenggu [Armijn Pane], siswa diajak melakukan refleksi dan kontemplasi persoalan etis dan moral yang dilakonkan oleh Tono, Tini, dan Yah. Oleh karena itu, pemilihan materi bahasa dan sastra harus dilakukan secara hati-hati, tepat, dan cermat serta berdaya guna. Dalam hubungan ini materi bahasa perlu dipilih yang fungsional untuk memberikan pengalaman etis dan moral. Demikian juga materi sastra perlu dipilih yang cocok dan tepat untuk memberikan pengalaman etis dan moral; materi sastra harus bisa mendorong siswa untuk melakukan refleksi dan kontemplasi persoalan etis dan moral. Harus disadari benar bahwa tidak semua materi bahasa dan sastra cocok dan fungsional untuk memberikan pengalaman etis dan moral karena tidak semua karya sastra modern bermuatan moral dan karakter yang memadai.

Selain itu, strategi pembelajaran berbasis proyek [project based learning], pembelajaran berbasis masalah [problem based learning], dan dimensi belajar Marzano dapat dipakai sebagai strategi pembelajaran moral dan karakter di sekolah dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dengan strategi pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah, siswa tidak diberi materi bahasa dan sastra yang bermuatan moral dan karakter semata-mata, tetapi siswa diajak bersama-sama membuat suatu proyek yang berkenaan dengan pengalaman etis dan moral di dalam bahasa dan sastra di samping diajak menghayati, merenungkan, dan mengambil kesimpulan atas persoalan etis dan moral yang terdapat dalam karya sastra yang menjadi materi ajar. Misalnya, siswa diajak bersama-sama menghayati, membaca, dan menelaah suatu karya sastra yang memberikan pengalaman moral dan karakter, misalnya Salah Asuhan, Belenggu, dan Atheis, kemudian diajak merenungkan dan membatinkan persoalan etis dan moral yang ada dalam ketiga novel, dan selanjutnya diajak menyusun suatu proyek untuk menerapkan pengalaman etis dan moral yang telah diperolehnya, serta terakhir siswa diajak menerapkan rancangan proyek yang telah disusun tersebut. Setelah itu, siswa dapat diminta membuat laporan tentang penerapan pengalaman-pengalaman etis dan moral dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian mendiskusikannya. Dengan cara seperti ini, sastra modern dapat efektif menjadi wahana dan wahana pembelajaran moral dan karakter di sekolah. Hal ini mengimplikasikan bahwa sastra modern tetap bisa menjadi wahana pembelajaran moral dan karakter asalkan dipilih dan ditetapkan berdasarkan persyaratan yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran moral dan karakter di samping disajikan dan ditanamkan kepada siswa dengan cara atau siasat yang cocok, tepat, dan manjur.

 

PEMINGGIRAN DALAM KURIKULUM 2013

Peran dan fungsi sastra sekaligus pembelajaran sastra sebagai wahana pembentukan moral dan karakter sebagaimana diuraikan di atas, sayang sekali kurang memperoleh tempat atau ruang memadai dalam Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Paling tidak sastra dan pembelajaran sastra Indonesia mengalami peminggiran dalam Kurikulum 2013 karena hasrat berlebihan atau menggebu-gebu hendak menanamkan karakter yang dilakukan oleh para pembuat kebijakan Kurikulum 2013. Jika ditelaah secara cermat, semua Permendikbud yang bersangkutan dengan bahasa Indonesia – terutama bersangkutan dengan standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, dan kompetensi dasar bahasa Indonesia – maka dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia dan pembelajaran bahasa Indonesia pun kurang memperoleh ruang dan peluang yang memadai dan leluasa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia, apalagi ruang dan peluang sastra dan pembelajaran sastra Indonesia. Secara superlatif bahkan bisa dikatakan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus pembelajaran bahasa Indonesia telah hilang atau tenggelam karena hanya menjadi “kuda tunggang” karakter, dalam hal ini sikap spiritual dan sosial yang memperoleh porsi demikian luar biasa. Oleh karena itu, tantangan bagi Kurikulum 2013, sudikah membuka ruang dan peluang lebih luas bagi sastra dan pembelajaran sastra Indonesia? Sebagaimana diuraikan di muka, sastra dan pembelajaran sastra Indonesia pun bisa menjadi wahana efektif penanaman moral dan karakter kepada siswa!

 

PENUTUP

Moral dan karakter sangat penting bagi semua orang termasuk para siswa atau siswa, lebih-lebih sekarang moral dan karakter harus dimiliki dan ditindakkan oleh semua orang. Karena itu, penanaman moral dan karakter perlu dilaksanakan melalui pembelajaran di sekolah. Hal ini mengimplikasikan betapa pentingnya pembelajaran moral dan karakter.  Agar pembelajaran moral dan karakter tidak menjadi mata pelajaran baru dan bersifat indoktrinatif atau teoretis yang dapat membebani siswa, ia hendaknya diintegrasikan atau dikomplementasikan dengan berbagai materi atau mata pelajaran dalam kompetensi tertentu. Berdasarkan beberan di muka terlihat bahwa sastra modern [Indonesia] dan pembelajaran sastra [Indonesia] dapat dijadikan wahana, wadah, dan wahana pembelajaran moral dan karakter sekalipun cipta sastra bukanlah kitab moral dan karakter.  Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, minimal cipta sastra modern dapat dijadikan wahana apresiasi, refleksi, dan kontemplasi persoalan etis dan moral. Hal ini perlu disertai dengan catatan bahwa sikap hati-hati dan cermat sangat diperlukan agar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia tidak jatuh ke arah pembelajaran moral dan karakter pada satu pihak dan pada pihak lain agar pembelajaran moral dan karakter tidak dianggap identik atau sama dengan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Jadi, pemfungsian atau penggunaan bahasa dan sastra Indonesia sebagai wahana, wadah, dan wahana pembelajaran moral dan karakter perlu dilakukan secara hati-hati dan penuh kesadaran supaya hakikat bahasa dan sastra sebagai karya seni atau estetis tetap terjaga, tidak tereduksi menjadi karya etika atau moral. Akan tetapi, sungguh sayang, Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia telah melupakan sastra, setidak-tidaknya meminggirkan sastra, sebaliknya memuja-muja teks-teks yang tak mudah dipahami dan tak jelas arahnya.

 

DAFTAR RUJUKAN

Bertens, K. 2013. Etika. Jakarta: Penerbit Kanisius.

Bohlin, Karen E. 2005. Teaching Character Education through Literature: Awakening the Moral Imagination in Secondary Classrooms. London: RoutledgeFalmer.

Cassirer, Ernst. 1983. Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Darma, Budi. 2004. Pengantar ke Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.

Saryono, Djoko. 2011. Keberaksaraan, Tradisi Baca-Tulis, dan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Tidak Diterbitkan.