Tiga menit. Hanya butuh tiga menit untuk memejamkan mata sembari bersandar di kursi guna melepas kepenatan setelah mengajar. Itulah kebiasaan Pak Joo di setiap jam istirahat. Tempat duduknya di pojok ruang guru yang dekat dengan jendela, membuat angin leluasa menyapa tubuh jangkungnya. Biasanya setelah tiga menit bermeditasi, badan dan pikiran Pak Joo menjadi segar. Mengajar di jam-jam terakhir pun bukan sesuatu yang memberatkan. Seperti hari itu, di jam istirahat pertama.

“Pak Joo, dipanggil Bapak”, suara perempuan menyambar telinga dan membuyarkan kekhusukan Pak Joo. Ini yang kesekian kalinya metidasi Pak Joo tak sampai klimaks karena terganggu oleh suara yang selalu sama, kalimat maupun nada suaranya, terutama tekanan pada kata terakhir. Gangguan ini mulai akrab menyambangi Pak Joo semenjak dia diberi tugas tambahan oleh kepala sekolah untuk menangani masalah sarana prasarana sekolah. Nama keren jabatannya adalah wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana. Pak Joo mengemban tugas itu sejak empat bulan sebelas hari yang lalu. Bermula dari kejadian di pagi itu, ketika sang bapak hendak ke kamar kecil. Entah mengapa kunci kamar kecil kepala sekolah yang hanya satu itu, dan satu-satunya orang yang berhak memegang hanya sang bapak, tiba-tiba macet ketika diputar lalu patah. Padahal sang bapak sudah kebelet. Ditambah lagi sang bapak lupa mengenakan pempers hari itu. Saat itulah Pak Joo melintas. Setelah tahu masalahnya, Pak Joo yang pernah jadi tukang kunci itu, dengan keahliannya bisa membuka pintu kamar kecil dengan cara yang dirahasiakan. Sejak saat itulah, Pak Joo ditunjuk menjadi wakasek bidang sarana prasarana sekolah.

“Ya, sebentar”. Itu jawaban baku Pak Joo sambil menebak-nebak apa kiranya persoalan yang akan dibicarakan oleh sang bapak kepadanya. Sekilas terbayang oleh Pak Joo, suasana yang kaku, ekspresi yang dingin, gaya bicara yang aristokratis, dan berakhir dengan instruksi.

“Kodok ngorek, kodok ngorek, kodok …”, bunyi nada dering ponsel membuyarkan bayangan Pak Joo. Nada dering pesan singkat ini distel secara khusus oleh Pak Joo untuk nomor milik Pak Badrun, bendahara sekolah, karib Pak Joo.

“RINCIAN BELANJA YG KEMARIN DITANYAKAN PAK BOS”, begitu bunyi pesan singkat Pak Badrun yang selalu menggunakan huruf kapital jika ber-SMS.

Jelas sudah, ini yang akan jadi agenda utama “panggilan” tadi. Memang, kemarin Pak Badrun menitipkan selembar kertas berisi rincian belanja pembelian kuas, cat minyak, tinner, dan lain-lain kepadanya untuk disampaikan kepada sang bapak karena Pak Badrun hari ini izin hendak melamar janda kampung sebelah.

Pak Joo segera bergegas menuju ruang sang bapak. Namun, baru tiga langkah ia berhenti. Ditelitinya kembali lembaran kertas titipan Pak Badrun. Bukan masalah tulisan tangan Pak Badrun yang memang jelek meskipun terbaca itu penyebabnya, tetapi kertas yang digunakan.

Kertas yang warnanya setengah putih setengah biru terang itu ternyata kertas bekas. Tepatnya kertas buletin dakwah yang tersisa di bagian belakangnya. Gawat, pikir Pak Joo.

“Sudah lupakah Pak Badrun dengan kebiasaan sang bapak yang selalu njlimet menanyakan huruf demi huruf, angka demi angka, segala hal yang berkaitan dengan dana”, pikir Pak Joo.

Penasaran, dibacanya isi buletin dakwah itu.

AKHLAK. Begitu judulnya.

Apa arti akhlak? Kata Imam Ghazali, akhlak adalah wajah batiniah manusia. la bisa indah dan bisa juga buruk. Akhlak yang baik adalah akhlak yang mampu meletakkan ‘Aqliyyah (kejernihan pikir), Ghadhabiyyah (emosi/kemarahan), Syah-waniyyah (keinginan-keinginan syahwat) dan Wahmiyyah (angan-angan) secara proporsional dalam jiwa manusia, serta mampu meletakkan dan menggunakan secara adil dalam dirinya.

Manusia yang berakhlak baik adalah orang yang tidak berlaku ifrath alias eksesif atau melampau batas dalam menggunakan empat hal di atas, dan juga tidak bersifat tafrith atau menyia-nyiakan/mengabaikannya secara total. la akan sangat adil dan proporsional di dalam menggunakan keempat anugerah Illahi itu.

Dengan kata lain, akhlak yang baik adalah suatu keseimbangan yang sangat adil yang dilakukan oleh seseorang ketika berhadapan dengan empat fakultasnya di atas. la tidak ifrath di dalam menggunakan rasionalitasnya sehingga mengabaikan wahyu, dan juga tidak tafrith sehingga menjadi bodoh. la tidak ifrath di dalam menggunakan ghadhab atau emosinya sehingga menjadi agresor tetapi tidak juga tafrith sehingga menjadi pengecut. la tidak ifrath di dalam syahwatnya sehingga menghambur-hamburkan nafsunya tetapi juga tidak tafrith seperti takut berumah tangga. la mampu meletakkannya secara seimbang sehingga ia membagi secara adil mana hak dunianya dan mana hak akheratnya. Kemampuan itu disebut dengan al-Khuluqul hasan.

Orang yang menyandang sifat ini, di kedalaman jiwanya sudah pasti memantulkan suatu bentuk yang sangat indah secara lahiriah di dalam segala aspek kehidupannya sehari-hari; yang -seperti kata sebuah riwayat- dari pancaran wajahnya akan memantul sebuah energi yang akan mengingatkan orang kepada Allah SWT. Sedang untaian kata-katanya akan menimbulkan aura menambahkan ilmu. Pada setiap orang yang mendengarnya dari akhlak lahiriyahnya bisa menyadarkan orang dari kelalainnya.

Pak Joo berhenti membaca. Didongakkan wajahnya yang mirip Obama itu sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Hmm, Pak Badrun sembrono. Sepertinya sengaja. Ia mau nyindir. Ya, pasti. Siapa lagi kalau bukan pak bos. Dan saya mau dijadikan martir rupanya. Gawat”, gerutu Pak Joo.

Meskipun dalam hati Pak Joo dan hampir semua guru serta staf tata usaha di sekolahnya sependapat bahwa sang bapak memang termasuk orang yang ifrath sekaligus tafrith dalam menggunakan ghadhabnya sehingga suasana di sekolah sungguh gerah, tetapi cara ini belum tentu manjur. Bahkan bisa menjadi bencana. Semua tahu bagaimana reaksi sang bapak setiap kali menerima masukan, apa pun selalu dipandang negatif, mendikte, merongrong kewibawaan, menginjak-injak marwah jabatan, atau bahkan mengganggu stabilitas sekolah.

“Pak Joo”, suara itu mengagetkan Pak Joo. Suara sang bapak yang tak terduga sudah berdiri berjarak sepuluh langkah darinya.

Dengan gugup buru-buru dilipatnya kertas itu meskipun masih ada dua paragraf yang belum sempat dibacanya. Pikiran Pak Joo seolah beku. Tak lagi mampu mencari cara untuk menghindar. Tak satu pun kata yang keluar lewat bibir tebalnya. Wajah Pak Joo seolah tak berdarah, pucat. Ia berusaha tersenyum, tetapi yang muncul justru seringai yang aneh. Sungguh, itu adalah ekspresi terjelek sepanjang hidup Pak Joo. Semakin dekat suara langkah kaki mendekat semakin jelek ekspresi wajah Pak Joo.

“Pak Joo, lain kali kalau saya panggil cepat menghadap. Saya urusannya banyak. Banyak yang harus saya pikirkan. Semua menunggu untuk saya selesaikan. Belum lagi kalau ada undangan rapat mendadak, seperti sekarang ini, saya ditelpon harus segera ke kantor dinas untuk rapat penting. Pak Joo kan guru, tentu tidak memahami pekerjaan dan tanggung jawab sekolah. Lain kali jangan abaikan panggilan saya”, kata sang bapak dengan wajah dingin dan perut yang buncit itu.

“Pak Joo, tolong dicermati!”, instruksi sang bapak.