Sejarah kelam tragedi kemanusiaan Indonesia yang terjadi di tahun 1965 mewariskan banyak persoalan hingga sekarang. Salah satu persoalan yang belum terjawab dengan tuntas ialah persoalan perihal korban. Persoalan-persoalan tersebut di antaranya berikut ini.

Persoalan pertama, tentang jumlah korban tewas. Jumlah korban tewas peristiwa yang diawali dari diculik dan dibunuhnya enam jenderal serta seorang perwira tinggi Angkatan Darat di Jakarta oleh sekelompok tentara yang bernama “Gerakan 30 September” lalu diikuti pembunuhan massal pada tahun 1965-1966 tidak diketahui dengan jelas jumlahnya. Diperkirakan jumlah korban tewas antara 500.000 hingga 1.000.000 jiwa (Wardaya dalam Scaefer, 2013: 221-222). Bahkan Karni Ilyas dalam Indonesia Lawyer Club (ILC) 29 September 2015, mengutip ucapan Sarwo Edhi, jumlah korban mencapai 3 juta jiwa.

Persoalan kedua, tentang korban hidup, baik yang berada di dalam negeri maupun yang di luar negeri. Persoalan yang belum terjawab terkait korban hidup ini adalah tentang kejelasan keterkaitan mereka dengan G30S maupun dengan PKI. Tidak sedikit korban hidup yang ada di dalam negeri tidak mengetahui sesungguhnya peran maupun keterkaitan mereka dengan G30S dan PKI meskipun mereka telah dipenjara puluhan tahun. Sementara itu, korban hidup yang berada di luar negeri mengalami ketidakjelasan status kewarganegaraan setelah pemerintah waktu itu mencabut kewarganegaraan mereka karena dianggap terlibat dan memiliki keterkaitan dalam peristiwa tersebut meskipun belum ada proses hukum. Mereka lalu hidup di negeri orang tanpa status kewarganegaraan. Mereka kemudian dikenal sebagai orang-orang eksil. Gus Dur menyebutnya sebagai ‘orang-orang kelayaban’. Jumlah mereka tidak sedikit. Dalam disertasinya yang berjudul “Transformasi Identitas dan Pola Komunikasi Para Pelarian Politik Tragedi 1965”, Ari Junaedi menyebutkan jumlah mereka mencapai 2.000 orang yang tersebar di India, Vietnam, Korea Utara, dan sebagian besar di Eropa Barat. Para eksil tersebut terdiri dari mahasiswa yang ditugaskan ikatan dinas dari pemerintah Indonesia, delegasi Indonesia yang muhibah ke luar negeri dan mereka yang memiliki pilihan politik yang berbeda. Untuk melanjutkan kehidupan mereka di sana, para eksil tersebut ada yang melanjutkan pendidikan, bekerja, membuka usaha dan berkeluarga dengan warga negara asing atau sesama keluarga eksil. Sejumlah para eksil bahkan mengharumkan nama negara `barunya` seperti Dr. Manuaba yang menjadi peletak pengembangan nuklir di Hongaria, Dr. Warunojati, peneliti di Max Planc Institute Jerman yang juga penyusun kamus Melanesia, Bambang lulusan Institut Pertelevisian Cekoslovakia yang pernah menjabat Direktur WDR serta Prof. Ernoko Adiwasito maha guru ilmu ekonomi di Venezuela (www.antaranews.com). Tahun 2000-an, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengutus Yusril Ihza Mahendra untuk menyiapkan proses pengembalian kewarganegaraan para eksil dan meminta mereka kembali ke tanah air. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan di beberapa negara dengan para eksil, rencana itu surut seiring dengan jatuhnya Presiden Gus Dur (Lola Amaria dalam “Dialog Para Eksil yang Terhenti” yang dimuat Kompas, Minggu, 4 Oktober 2015).  Selama ini keberadaan mereka kurang mendapat perhatian dalam setiap pembicaraan yang berkaitan dengan implikasi tragedi kemanusiaan 1965. Pembicaraan yang berkaitan dengan implikasi tragedi 1965 lebih banyak memokuskan pada implikasi di dalam negeri.

Persoalan ketiga, tentang “siapa sesungguhnya yang disebut sebagai korban”. Peristiwa 1965 bukanlah peristiwa tunggal yang berdiri sendiri. Peristiwa pembunuhan massal orang-orang PKI dan simpatisannya tahun 1965/1966 ini merupakan akumulasi dari peristiwa-peristiwa lain sebelumnya yang bernuansa benturan ideologi, baik dalam skala kecil maupun besar. Marzani Anwar, Peneliti Utama pada Balai Litbang Agama Jakarta, Koordinator Penelitian “Pelanggaran HAM oleh PKI” Komnas HAM Tahun 2005, melakukan pengkajian bentuk tindakan kekerasan yang dilakukan oleh PKI. Penghimpunan data melalui dua sumber, yakni sumber primer, di mana data diperoleh melalui wawancara dengan saksi yang masih hidup. Sumber sekunder berupa informasi melalui buku, catatan, dokumen, dan naskah tertentu berisi pengayaan informasi dan verifikasi kejadian di sekitar gerakan atau aksi oleh PKI. Berikut tulisan Marzani Anwar yang dimuat di www.republika.co.id tanggal 30 September 2015.

Tercatat terdapat beberapa aksi penculikan, penganiayaan, dan pembunuhan terhadap lawan politk, tokoh agama, dan orang-orang sipil tak berdosa. Di antaranya, penculikan dan penghilangan paksa empat orang di Klaten dan hingga kini tidak ketahuan kuburannya.

‘Peristiwa Kanigoro’, di Kanigoro, Kediri, Jawa Timur, tempat dilangsungkannya acara mental-training oleh Pelajar Islam Indonesia (PII). Saat itu, pada 13 Januari 1965, di tengah acara, anggota PKI melakukan penggerebekan di pagi hari setelah peserta melaksanakan shalat Subuh. Saat itu, orang-orang PKI serta-merta datang dan serempak menyerbu lokasi mental-training. Mereka mengambil buku-buku, termasuk Alquran di masjid, lalu dinjak-injak. Para peserta, termasuk panitia, 150-an orang, digiring dengan tangan diikat satu sama lain, dipaksa berjalan empat kilometer sambil diintimadasi, diancam, serta diteror.

Peristiwa “Cemethuk” Banyuwangi. Informasi didapat dari kesaksian Maedori, saksi mata yang berhasil meloloskan diri dari usaha pembunuhan oleh PKI, kemudian memberikan kesaksian mengenai peristiwa “Cemethuk” Banyuwangi. Aksi PKI di Banyuwangi berkaitan langung dengan G30S/PKI di Jakarta. Mereka diberi makanan yang sudah dicampuri racun, kemudian satu per satu dibunuh, dan mayatnya dimasukkan ke sumur yang sudah disiapkan. Ada tiga lubang pembantaian. Satu lubang besar berisi 40 mayat dan dua lainnya masing-masing 11 mayat.

Pembantaian di Blitar Selatan atas pengungkapan di buku Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai tulisan Soegiarso Soerojo, di halaman 331-332. Di antaranya mengungkapkan kasus kekejaman PKI, seperti di Rejotangan, Ngunut, Kaliwadi, dan Bojolangu. Mereka melakukan praktik intimidasi terhadap rakyat dan merampok harta kekayaan penduduk, membunuh orang tak berdosa, dengan sasaran utama golongan beragama.

Kasus pembantaian di Kediri diungkap berdasar kesaksian Ibu Yatinah (69 tahun), anak kandung korban bernama Sarman. Peristiwanya terjadi pada 18 September 1948 sewaktu menghadiri rapat pamong di kelurahan, tiba-tiba ia dicegat segerombolan orang kemudian dibawa paksa ke suatu tempat sambil diikat kedua tangannya. Berhari-hari ayahnya tidak pulang, dan ternyata termasuk yang dimasukkan di sumur maut dekat di sini (menunjuk ke luar desa), bersama 108 orang. Sarman tertulis di nomor 48 dalam daftar di monumen tersebut.

Masih di Kediri, yakni penculikan disertai pembunuhan, terjadi pasca-G30S/PKI. Korbannya adalah Imam Mursyid dan kawannya, termasuk Kiai Zaenuddin. Atas kesaksian Djaini bin Ramelan (65), adik kandung korban Imam Mursyid. Menurut salah seorang yang ikut mengubur, ia cuma bilang bahwa Imam Mursyid dicegat di tengah jalan kemudian dibawa ke Desa Besowo, dioper ke sana-kemari, sampai akhirnya diikat terus dimasukkan ke jurang sungai. Sungainya sangat curam, setinggi pohon kelapa. Penculikan terjadi sekitar 10 Oktober 1965. Keadaan mayat, badannya masih utuh, tapi diikat kencang. Perkiraan saksi, korban dimasukkan di sumur itu saat masih hidup, kemudian ditimbuni tanah.

Kasus Takeran (Sumur Kenongo Mulyo) terungkap atas kesaksian Kaelan Suryo Martono (73), beralamat di Desa Giringan, pekerjaan sebagai petani di Jawa Timur. Peristiwa Takeran terjadi pada 1948. Keterangan kasus Takeran diperkuat salah seorang saksi korban bernama Hadi Syamsuri (80), pensiunan naib (petugas pernikahan) di Takeran. Ia diculik dan digiring ke Desa Baeng dan ditahan di sana. Di situ sudah ada sekitar 80 orang Muslim ditahan. Selama 40 hari ia ditahan di Baeng. Di tempat tawanan ditemui sejumlah lurah yang juga ditawan. Selama ditahan, mereka tidak diberi makan. Sebagian kawan lain ditahan di Desa Cigrok. Selama di tahanan, orang-orang PKI itu merampas kerbau dan sapi milik warga. Tiap hari mereka memotong kerbau atau sapi untuk pesta yang berjaga di Baeng. Pada saat tentara Siliwangi datang, mereka yang ditahan di Desa Cigrok dibunuh semua oleh PKI. Sedangkan, yang di Baeng berhasil menyelamatkan diri.

Kasus Kresek, Madiun, terungkap berdasarkan kesaksian K. H. Ahmad Junaedi, anak kandung salah seorang korban bernama K. H. Barokah Bachruddin. Sejumlah kiai diculik dan dibunuh. Diduga kuat sebelum dibunuh, mereka dianiaya. Menurut para saksi, para kiai itu ada yang matinya ditembak, dipenggal lehernya, dipukul dengan benda tajam. Kiai Shodiq satu-satunya yang dibunuh dengan cara didorong ke lubang dalam keadaan tangan terikat kemudian diurug (ditimbun tanah). Husnun, salah seorang saksi, mendapat keterangan dari para saksi lain bahwa para penculiknya waktu itu membawa parang, tali, benda tumpul, selain senjata api.

Terungkapnya kasus pembantaian di Markas Gebung, Ngawi, Jawa Timur, berdasarkan keterangan para saksi korban penculikan di Desa Gebung. Korbannya ditahan 12 hari, hampir-hampir tidak diberi makan. Mereka terkurung di dalam rumah yang terkunci, lalu rumah dibakar. Orang-orang PKI tetap siaga di luar rumah, lengkap dengan senjata tajam sehingga tawanan yang mencoba kabur ditangkap lagi dan dimasukkan ke dalam api atau dibunuh langsung. Setelah peristiwa usai, kemudian dibersihkan, ditemukan banyak mayat, tujuh orang di antaranya dipindahkan ke Makam Pahlawan Ngawi.

Persoalan-persoalan di atas tentunya masih memiliki ruang untuk didiskusikan tentang kevalidan datanya. Namun, harus diakui bahwa itu merupakan bagian dari sejarah kita. Tinggal sekarang, apakah catatan kelam sejarah itu bernilai atau tidak, tergantung pada kita memaknainya. Sungguh, kerugian besar bagi suatu bangsa jika tidak dapat mengambil pelajaran dari sejarah bangsanya.

Daftar Pustaka

Amaria, Lola. 2015. “Dialog Para Eksil yang Terhenti”. Kompas, terbit Minggu, 4 Oktober 2015.

Anwar, Marzani. 2015. “Pelanggaran HAM oleh PKI” dimuat di http://www.republika.co.id, tanggal 30 September 2015.

Schaefer, Bernd dan Baskara T. Wardaya (Ed.). 2013. 1965: Indonesia and The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

http://www.antaranews.com/berita/95225/kandidat-doktor-teliti-eksil-tragedi-1965, diunduh tanggal 11 Oktober 2014 pukul 10.58 WIB.