Mengomentari Dialog

Narasumber dalam dialog interaktif adalah seseorang yang dianggap ahli atau memiliki kompetensi yang berkaitan dengan topik dialog. Misalnya, seorang dokter menjadi narasumber dalam dialog yang bertopik pencegahan demam berdarah, pakar ekonomi menjadi narasumber dialog yang bertopik pengembangan ekonomi, pakar pendidikan sebagai narasumber dalam dialog peningkatan mutu pendidikan, dan lain-lain.

Meski demikian, sebagai pendengar atau pemirsa dialog interaktif, ada kalanya kita kurang atau bahkan tidak sependapat dengan pendapat yang disampaikan narasumber. Di alam demokrasi seperti sekarang ini, hal itu tentu bukanlah sesuatu yang aneh. Bahkan dalam dialog interaktif, keterlibatan pendengar atau pemirsa dalam memberikan pendapat atau komentarnya melalui telepon sangatlah diharapkan.

Dalam pembelajaran kali ini, kalian akan berlatih memberikan komentar terhadap pendapat yang disampaikan narasumber dalam sebuah dialog interaktif. Agar dapat memberikan komentar, terlebih dahulu kalian harus dapat mendata pendapat narasumber dalam dialog tersebut. Hal-hal yang perlu diingat dalam memberikan komentar adalah bahasa, tata cara penyampaian, dan pemberian alasan yang logis.

Bahasa yang digunakan hendaklah bahasa yang baik dan santun, tidak menyinggung perasaan narasumber maupun pendengar atau pemirsa lainnya. Tidak kalah pentingnya, cara pengucapan atau penyampaian juga perlu diperhatikan. Volume suara, tempo, intonasi, dan tekanan dalam penyampaian komentar hendaklah yang baik dan sopan. Hindarkanlah kata dan kalimat yang bersifat menghujat.

Bobot suatu komentar sangat ditentukan oleh alasan yang mendasarinya. Komentar yang disertai alasan yang logis menunjukkan penalaran berpikir orang yang memberi komentar.

Contoh:

Pendapat

Narasumber

Komentar

Ujian nasional perlu dihapus dari dunia pendidikan kita karena banyaknya pelanggaran yang terjadi selama penyelenggaraan ujian nasional.

Pendapat narasumber tentang penghapusan ujian nasional karena banyaknya pelanggaran yang terjadi selama ujian sangat saya hargai. Namun perlu diingat bahwa ujian nasional adalah amanat undang-undang untuk mengetahui kualitas pendidikan kita. Menurut saya, bukan ujiannya yang dihapus tetapi perbaikan penyelenggaraan dan pemberian sanksi yang tegas terhadap semua bentuk pelanggaran.

Komentarilah pendapat narasumber berikut!

Pendapat

Narasumber

Komentar

Gas metana terkandung dalam biogas, yakni melalui pembusukan  dibantu dengan unsur mikroba atau bakteri yang mempercepat pembentukan gas tersebut. Gas metana berasal dari hasil limbah peternakan dan pertanian.
Suatu area peternakan dan pertanian luas dapat digunakan sebagai sumber energi biogas alternatif. Caranya, kotoran dan limbah pertanian ditampung dalam tangki tertutup yang bentuknya seperti lonceng terbalik. Melalui proses itu, akan dihasilkan gas metana yang dapat mengeluarkan energi untuk kebutuhan pemanasan.
Energi alternatif yang dihasilkan tergolong energi terbaru. Energi itu tidak merusak lingkungan sehingga kita tidak bergantung pada energi dari fosil bumi atau minyak bumi. Energi tersebut juga tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan, seperti polusi atau pencemaran.
Saya kira penggunaan dan pembuatan biogas untuk kebutuhan sehari-hari secara ekonomi masih terjangkau. Dananya relatif murah dengan catatan tersedia banyak bahan baku biogas. Semakin banyak sumber alam, produksi energi biogas yang dihasilkan juga semakin banyak. Tentu, hal itu akan lebih hemat biaya karena energi listrik dari biogas tidak memerlukan kabel untuk memasok listrik.

Selain memberikan komentar atas pendapat narasumber, kalian hendaknya dapat memberikan komentar atau penilaian secara menyeluruh dialog interaktif yang didengar atau dilihat. Berikut adalah contoh laporan yang dibuat oleh seorang siswa setelah menyimak dialog interaktif di televisi.

Laporan Dialog Interaktif

 

  1. Nama acara                                    : Kick Andy
  2. TV yang menayangkan         : Metro TV
  3. Pembawa acara                           : Andy F. Noya
  4. Narasumber                           :
    1. Karina de Vega (pemilik Panti Asuhan Eklesia)
    2. Fredollin Djoebere (finalis Idola Cilik II, penghuni Panti Asuhan Eklesia)
    3. Martin (penghuni Panti Asuhan Eklesia)
    4. Maria Fransiska Bira (penghuni Panti Asuhan Eklesia)
    5. M. Agus Gofurur Rochim (pemimpin Pondok Pesantren Madinnatunajah)
    6. Ardian Malawat (murid di Madinnatunajah)
    7. Yusuf (murid di Madinnatunajah)
    8. Agustina/Stien (pendiri Panti Asuhan Pniel)
    9. Emma Rachel (penghuni Panti Asuhan Pniel)
    10. Jelvan (penghuni Panti Asuhan Pniel)
    11. Arba (pengelola Panti Asuhan Al-Habibah)
    12. Ichsan Malik (aktivis perdamaian)
    13. Fitri Fausiah (psikolog lulusan UI)
  5. Waktu penayangan               : Jumat,  24 Juli 2009, pukul 21.30 – 23.00
  6. Topik                                               : Anak-anak Korban Konflik di Ambon
  7. Isi dialog                                       :

Fredollin Djoebere, atau biasanya dipanggil Olin, menceritakan pengalaman hidupnya saat terjadi konflik besar di Ambon. Saat itu Olin masih kecil ketika konflik terjadi. Ia terpaksa kabur ke hutan dan tinggal di sana selama 2 bulan, tetapi akhirnya dipindahkan ke barak pengungsian.

Perjuangan Olin tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengaku sering bernyanyi saat hujan deras di malam hari untuk mengabaikan rasa lapar. Ia berbuat seperti itu karena bila ia bernyanyi lantang untuk mengalahkan suara hujan, ia akan kelelahan dan tertidur, sehingga rasa lapar terlupakan. Akhirnya Olin dan teman-temannya ditemukan oleh Ibu Karina de Vega, yang memang membangun panti asuhan untuk melindungi dan merawat anak-anak korban konflik di Ambon. Olin telah berjanji untuk tidak pernah menyerah dalam menggapai mimpinya dan ia pun meraih kesuksesan. Dengan usaha dan kemauan yang kuat, Olin telah berhasil mendapatkan peringkat 10 di acara Idola Cilik II, mengalahkan lebih dari 12.000 anak lainnya.

Selain Olin, Martin, yang juga merupakan anak asuh Ibu Karina, memiliki kenangan yang sangat buruk dalam peristiwa konflik di Ambon. Ia menyaksikan ibunya ditembak di depan matanya sendiri. Awalnya ia sempat merasakan dendam yang sangat mendalam, tetapi dengan bimbingan Ibu Karina ia percaya bahwa ia harus mengampuni orang lain. Martin mengatakan bahwa ia akan belajar keras agar menjadi orang sukses, lalu ia akan kembali ke Ambon untuk membangun tempat kelahirannya itu.

Ibu Karina juga ikut menceritakan pengalamannya bersama anak-anak asuhnya. Pada saat awal ia mulai merawat anak-anak korban konflik tersebut, ia menyadari banyak di antara mereka yang terluka secara fisik. Ada yang telinganya menjadi tuli dan banyak anak yang terkena serpihan bom. Ia menyatakan bahwa anak-anak yang terkena serpihan bom itu awalnya baik-baik saja, tetapi lama-kelamaan mulai mengeluh bahwa beberapa bagian tubuh mereka sakit. Untungnya ia segera membawa mereka ke dokter dan mereka semua bisa disembuhkan. Sampai sekarang ia masih merawat dan mendidik mereka agar kelak mereka dapat menjadi orang yang baik. Ia berpesan bahwa untuk berbuat baik kita tidak perlu menjadi orang kaya, yang penting kita tulus dan ihklas dalam membantu orang lain.

Menurut Bapak Ichsan Malik yang merupakan seorang aktivis perdamaian, pemicu konflik di Ambon saat itu adalah Indonesia yang sedang mengalami krisis ekonomi. Keadaan ekonomi sedang tidak stabil dan akhirnya muncul ricuh di mana-mana. Ia mengatakan bahwa untuk mencegah hal semacam itu terulang lagi, masyarakat harus belajar untuk menghargai perbedaan dan meningkatkan integrasi bersama.

Lalu ada juga cerita lain dari Ibu Agustina (biasanya dipanggil Ibu Stien). Pertama kali ia mendirikan Panti Asuhan Pniel dengan tujuan menampung anak-anak korban konflik di Ambon. Namun begitu panti asuhan mulai berjalan, ia sempat merasa putus asa dan hampir menyerah karena anak- anak itu begitu sulit untuk diatur dan tidak berdisiplin. Padahal ia sudah berpengalaman dalam bidang tersebut karena ia juga memiliki panti jompo. Tetapi akhirnya seiring dengan berjalannya waktu anak-anak itu sudah bersikap lebih baik.

Mereka mengisi waktu luang mereka dengan bernyanyi dan bermain musik, dan kelompok paduan suara mereka pernah tampil dalam kampanye salah satu pasangan capres-cawapres belum lama ini. Semua anak yang pernah menjadi korban konflik yang hadir di situ mendambakan perdamaian agar tak ada lagi yang memiliki pengalaman pahit seperti mereka.

Penilaian        :

  • Acara

Acara Kick Andy selalu memberikan inspirasi bagi orang-orang yang menontonnya. Topiknya juga tidak membosankan dan disajikan dengan data yang jelas, lengkap dengan para narasumber dan pakar di bidang yang sedang dibahas. Saya mendapat banyak pengetahuan dari menonton acara ini, contohnya tentang kasus kematian David, seorang murid di sekolah NTU, Singapura. Juga mengenai derita yang dialami anak-anak yang mengalami korban konflik di Indonesia dan berbagai informasi lainnya.

  • Pembawa acara

Menurut saya, Pak Andy itu berkarisma dan pintar bertanya pada para narasumbernya untuk mendapatkan informasi. Penontonnya menjadi mengerti akan masalah yang dibicarakan dan apa yang dialami para narasumber. Ia juga membawakan acara dengan santai seperti berbincang-bincang dengan teman, sehingga para narasumbernya tidak terlalu tegang dan gugup.

  • Narasumber

Semua anak yang diundang dalam acara Kick Andy kali ini memiliki cita-cita dan mimpi yang mulia; mereka ingin membangun kembali Ambon dan mereka menginginkan perdamaian. Mereka tak mau melihat orang lain menderita seperti mereka karena mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Mereka telah membuktikan bahwa mereka pun mampu meraih prestasi gemilang dan menjadi pribadi yang utuh walau kehidupan tak selalu adil pada mereka.

  • Isi

Secara keseluruhan, acara ini sangat baik untuk disaksikan menurut saya. Kick Andy ditampilkan dengan menarik dan dapat ‘membuka’ mata kita akan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita. Acaranya juga tidak hanya wawancara terus, kadang diselingi lagu-lagu (seperti penampilan paduan suara dalam acara kali ini) sehingga penontonnya tidak bosan.

  1. Nilai hidup                :

Konflik dan perang hanya akan membawa penderitaan. Jangan pernah menyerah walau pun keadaan dan lingkungan sangat tidak mendukung, sebab bila kita terus berusaha, kita bisa meraih kesuksesan kelak.

Fani IX C / 30

SMP Santa Ursula BSD

6 thoughts on “Mengomentari Dialog”

  1. monyet kau anjing bak u

  2. Bagus 2 thank ,tlah m’m bantu tugas saya..:-)

  3. artikel nya keren, terima kasih ya udh ngebantu pr b.indo di rumah.

  4. Angga (tikong) said:

    Thanks udah membatu tugass kuringgg. 9e

  5. Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s