Ragam Fiksi

KEIKHLASAN

Oleh OCTA ALFIA RACHMAN

Namaku Andira, dan orang-orang biasa memanggilku Dira. Aku tak tahu tanggal lahir asliku, namun yang pasti tanggal lahir palsuku adalah 6 Januari 1997, yang baru dibuat dua tahun silam saat aku akan mengikuti ujian SD.

Aku hidup bersama kedua orang tua yang sangat aku sayangi. Memang, rumahku bukanlah rumah mewah minimalis yang sedang tren saat ini, atau mungkin rumah-rumah peninggalan Belanda dengan arsitektur yang benar-benar indah. Rumahku adalah rumah gubuk yang berdiri di padang sawah, dengan tembok kayu yang hampir lapuk dan atap dedaunan yang dirajut satu persatu dengan sabar. Miris memang. Bahkan, barang-barang mewah pun aku tak punya. Tapi aku senang, sungguh. Impianku adalah menjadi seorang arsitek terkenal dan akan membuatkan orang tuaku rumah mewah bertingkat, agar mereka tidak lagi kehujanan dan kedinginan seperti saat ini.

Bapak yang duduk tiba-tiba di sampingku membuat lamunan tentang hidupku hilang. Beliau membawa cangkul. Kaki beliau kotor karena menginjak tanah di persawahan belakang rumah yang becek. Bapak tampak kelelahan dan mengibas-ngiabaskan camping tuanya. Aku turun dari bukit kecil yang dibuat bapak untuk mengambil minum untuk beliau.

“Ini, Pak. Diminum dulu,“ aku menyodorkan segelas air putih. Bapak menerimanya dengan gembira.

“Terima kasih.“ Beliau langsung meminum air yang aku berikan tadi.

Cuaca siang ini benar-benar panas. Pantas saja Bapak sangat lelah. Keringat yang bercucuran mengalir deras sampai memenuhi semua bagian wajah Bapak.

“Dira… “ Bapak memnaggilku dengan suara yang parau. Sepertinya beliau sedang bersedih. Aku segera mendekat dan naik ke bukit kecil dari padi yang sudah digiling.Sawah belakang rumahku itu adalah sawah milikl Pak Habib, seorang saudagar kaya di desaku. Bapaklah yang mengerjakan lahan seluas 2 hektare tersebut. Itu adalah pekerjaan Bapak sehari-hari. Tapi bila Pak Habib mengambilnya, terpaksa Bapak menganggur dan harus mencari pekrjaan lain. Beliau memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Ibuku pun sama. Sekarang, ibu bekerja sebagai pembuat tikar pandan.

“Iya…?

“Maafkan bapak ya, Nak. Bapak tidak bisa beli baju baru buat Dira…” Bapak menatap langit sedih. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Aku tak sanggup mengucapkan kata ‘tidak apa-apa’. Kata-katanya seperti tersangkut di tenggorokan. Aku tahu, Bapak dan Ibu pasti ingin melihat aku memakai baju baru saat lebaran.

“Bapak dan Ibu, kan sudah bekerja keras menabung untuk sekolah Dira nanti, anggaplah saja ini pengorbanan Dira agar sukses di masa depan,“ air mataku mengalir tiba-tiba dengan sendirinya, bahkan tanpa kusadari air mata itu mengalir dengan deras hingga membasahi semua wajahku.

***

Aku berjalan menyusuri sawah yang ramai karena suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan. Aku memandang bukit padi tempat aku menangis tadi. Tak apa-apa, hanya peristiwa kecil. Tak akan terulang lagi, aku janji.

“Assalamu’alaikum …” Tak ada suara sahutan sama sekali. Hanya suara detik jam yang kejar mengejar begitu cepat. Aku langsung masuk dan meletakkan Al-Qur’an di atas meja belajarku di ruang tamu. Aku melangkah pelan agar tidak terdengar suara apapun dari sendal yang kupakai. Tapi, aku mendengar sesuatu. Tampaknya suara tangisan. Tapi aku merasa mengenal suara itu. Sambil berjinjit dan berjalan pelan, aku mendekati suara tangisan itu. Ternyata berasal dari kamar. Pintunya juga sedikit terbuka, jadi aku bisa mengintinya.

“Ya Allah … Maafkan hamba, suami hamba, dan anak hamba, ya Allah …“ Itu suara Ibu! Benar. Tapi … mengapa ibu menangis?

“Tolong jangan buat anak hamba menangis, ya Allah … karena hamba tidak bisa membelikan anak hamba baju baru, ya Allah …”

Air mataku mengalir lagi, malah lebih deras dari yang aku kira. Aku sempat melihat mukena yang Ibu pakai tadi. Sudah tampak kusut dan banyak robekan-robekan kecil di bagian bawahnya. Aku langsung menarik kepalaku.

Jangan menangis! Jangan menangis! Tapi … mengapa air mataku terus saja mengalir? Malam ini, jam ini, menit ini, aku menangis kembali. Aku menangis bukan karena Bapak tak bisa membelikan aku baju baru, tetapi karena melihat mukena Ibu yang bahkan aku anggap sudah tak layak pakai. Padahal mukena Ibu sudah sebegitu lusuhnya, mengapa masih bersikeras membelikan aku baju baru?

***

Lonceng berbunyi setelah berdoa dan berjabat tangan dengan Pak Guru, aku janji akan pulang bersama Rima naik angkot keliling alun-alun. Setidaknya, dengan berjalan-jalan, kesedihanku tadi malam bisa terobati.

“Ayo …” Rima langsung menggandeng tanganku. Ia langsung melambaikan tangan pada sopir angkot langganannya, kemudian berlari menuju angkot tersebut. Aku tertawa melihat lagak binggung sang sopir melihat kami menembus kerumunan orang. Kesedihanku tadi malam sudah menurun.

“Kamu mau tahu di mana toko yang menjual baju-baju baru?“ tanya Rima sambil mengguncang badanku. Aku menoleh padanya, kemudian mengangguk.

“Itu … itu yang warnanya biru. Toko itu, menjual perlengkapan lebaran.” Aku lihat Rima begitu gembira. Aku senang melihat sahabatku ini, tingkahnya benar-benar membuat semua kesedihanku hilang.

“Lebaran masih 5 minggu lagi …” aku berkomentar. Tapi sepertinya dia tidak memperhatikan ucapanku. Dia malah melihat-lihat sekeliling dengan asyiknya.

“Bang, berhenti di sini, Bang!“ Aku kebinggungaan melihat lagaknya. Cuaca sepanas ini dia mau mengajakku keliling? Untung bukan bulan puasa.

Kami melewati berbagai toko. Ada toko mainan, roti, ala-alat sekolah, fotokopi, dan ada juga pedagang kaki lima di situ. Tapi, dari semua toko yang ada, aku tertarik pada toko biru yang menjual perlengkapan lebaran yang Rima tunjukkan padaku. Di sana terpampang mukena biru yang indah. Itu pasti cocok untuk Ibu.

“Hey! kenapa tak aku belikan Ibu mukena saja? pasti Ibu senang!“ Aku segera mengajak Rima pulang. Ia tampak kebinggungan dengan sikapku ini. Biarlah, yang pasti, aku ingin membuat Ibu bahagia.

***

Aku membuka pintu kamarku, memandang ke sana kemari. Yeah, Bapak dan Ibu sudah tidur. Itu yang aku harapkan. Aku segera membanting celengan ayamku. Pyarr!! Kuhitung sejumlah uang yang mulai aku tabung semenjak kecil dulu. Seribu, sepuluh ribu, seratus ribu … Aku benar-benar bahagia sekarang! Uangku berjumlah Rp175.000,00, cukup banyak sekarang, impianku untuk membahagiakan ibupun tercapai. Yeah! Besoklah waktunya!

Hari ini begitu menyenangkan. Hari yang penuh tangisan kemarin sudah hilang. Hari yang menggembirakan pun datang, karena aku membuat ibu bahagia hari ini. Bragkk!! Pulukan kelas Fitri, Sang bendahara, membuatku kaget. Ia memandangku sinis. Aku begitu kenal pandangan itu, pandangan saat ia meminta uang gedung padaku.

“Apa?“ Aku bertanya dengan ketakutan. Fitri semakin marah.

“Kau belum membayar uang gedungmu! Semuanya Rp175.000,00 Sudah berapa bulan kau tidak membayarnya?

“Astaghfirllah!! Rp175.000,00! Nafasku terasa sesak. Uang itu, jumlah uang itu sama dengan uang gedung yang belum aku bayar! Bagaimana ini!

Tiba-tiba Fitri mengambil dompetku di saku kiriku. Aku berusaha mengambilnya, tapi tanganku tak sampai. Uang itu jangan sampai melayang ketangan Fitri! Bagaiman dengan mukenanya?

“Uang ini … Jumlah sama! Ini dompetmu!“ Tidak! Apa-apaan ini?

“Jangan uang itu! Kumohon …!“ Aku sampai berlutut dan memegang kakinya erat-erat.

“Tidak!“ Fitri membentakku cukup keras.

“Aku pasti akan membayarnya! Aku janji! Tapi tolong jangan gunakan uang ini! Tolong!“ Aku benar-benar tak ingin kehilangan uang itu.

“Kau pasti tidak membayarnya! Orang miskin sepertimu tidak pernah menepati janji!“ Uangku …! Mukena biru …! Semuanya hilang terbawa angin. Hilang tak tersisa, hilang ditelan bumi. Semuanya hilang bertebaran bagai debu. Sekarang, ini tinggal sebuah kenangan.

Aku menangis sendirian di kamar ini. Menangis meratapi kejadian pilu tadi pagi. Apa-apaan ini? Ini benar-benar tidak adil! Itu uangku! Jadi, aku bebas menggunakannya! Aku menatap foto ibu, sedih rasanya. Sangat sedih. Maafkan aku, Ibu … maafkan aku …

***

“Dira … Dira … “ Aku segera mengelap air mataku. Aku tidak boleh terlihat sedih di hadapan ibu. Aku harus gembira!

“Dira … Terimakasih, Nak! Terimakasih!“ Ibu memelukku erat. Ada apa ini?

“Dira … Mukena ini … Mukena biru ini … kata Pakde kamu, ini untuk ibu, Nak! Pasti kamu yang minta kan?“ Tunggu-tunggu-tunggu! Ada yang aneh di sini. Mukena biru? Sejak kapan aku bilang pada Pakde?

“Lihat, Nak … Ini, di sini tertulis nama Pakde atas namamu … “

“Benarkah?“ Aku benar-benar girang hari ini, Pakde masih ingat dengan janji Pakde kemarin, bila aku mendapat juara I, Pakde akan membelikan Ibu mekena. Bahkan, mukenanya juga sama persis dengan mukena biru di toko itu!

Tak terasa, air mataku mengalir perlahan. Aku menangis lagi, untuk yang ketiga kalinya. Tetapi kali ini, aku menangis bahagia, tak apa uang yang aku tabung bertahun-tahun hilang hanya karena aku belum membayar uang gedung. Allah memberiku jalan yang benar-benar mengejutkan! Terimakasih Bapak, Ibu! Terimakasih karena kalian telah memberikan aku arti keikhlasan yang sesungguhnya! Keikhlasan untuk menerima cobaan hidup ini, keikhlasan untuk melewati jalan berliku yang begitu panjang bernama HIDUP.

_________________________________________________________

OCTA ALFIA RACHMAN, siswi SMP Negeri 1 Batang

Cerpen ini meraih Juara I pada Lomba Cipta Cerpen FLSSN Kab. Batang

Tahun 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s